Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
175. Ingin Membalas Dendam


__ADS_3

Singapura.


Seorang pria tengah menikmati hidupnya. Dia akan menetap di sana dan sudah menjual semua aset yang dia miliki di Indonesia. Lebih tenang hidup di negeri Singa dibandingkan dengan Jakarta.


Menikmati masa senja seorang diri tak membuat dokter Eki sedih. Dia malah senang Bisa bermain wanita muda. Seperti malam ini, dia menginginkan seorang perempuan yang masih perawan. Dia rela membayar mahal untuk itu.


"Masa tuaku hanya untuk bersenang-senang. Lebih senang lagi melihat Jingga gila. Anak pembawa sial. Anak yang seharusnya tidak lahir ke dunia ini."


Suara bel terdengar. Dokter Eki segera membuka pintu apartemennya. Matanya melebar ketika dia melihat ada dua orang perempuan muda yang datang. Terlihat perempuan itu sepertinya masih di bawah umur.


"Apa Om yang memanggil kami?"


Wow, mata dokter Eki tidak bisa berkedip melihat keindahan duniawi yang kedua perempuan itu suguhkan. Memakai minidress dengan belahan dada sangat rendah membuat gairahnya membuncah. Dia merangkul dua perempuan itu dan membawa mereka masuk ke dalam.


Dia menciumi wajah dua wanita itu secara bergantian. Sedangkan salah satu dari wanita itu sudah menyuruh Eki meminum wine untuk semakin memanaskan suasana.


Dokter Eki sangat menikmati wajah dua perempuan muda itu. Dia terus mencumbu dua wanita yang seharusnya menjadi cucunya. Mereka sudah melepaskan semua yang ada di tubuh mereka bertiga. Sungguh hasrat kelelakiannya tidak bisa tertahan.


Napasnya sudah menderu. Hembusan napasnya sudah terengah-engah. Dia ingin menuntaskan semuanya. Dia meloemat bibir merah Cherry si perempuan itu. Benar-benar mengasyikkan. Ketika dia hendak beralih ke bagian tubuh yang lain, perempuan muda itu menahannya.


"Tatap mata aku dulu, Om."


Perempuan itu menangkup wajah dokter Eki. Alhasil dokter Eki menatap manik cantik perempuan itu. Awalnya dia tersenyum, tetapi lama kelamaan semua kelakuannya semasa dia muda ada di sana. Dia seakan dibawa masuk ke masa lalu.


Terlihat, dia sedang mencampur teh hangat dengan sebuah serbuk dan setelah tercampur, dia membawa teh hangat itu kepada seorang wanita yang sedang terduduk lemas tak berdaya.


"Je-jessi."


Perempuan muda di sampingnya itu tersenyum. Tiba-tiba wajahnya berubah dan di mata dokter Eki sekarang, perempuan muda itu adalah Dea. Dia benar-benar syok dan ketakutan.


"Kakek hampir membunuh Bunda," ucap Dea. Dokter Eki menggeleng dan mencoba untuk menjauh. Namun, perempuan yang satunya lagi menahan tubuh dokter Eki. Dia terus menghalangi dokter Eki untuk tidak kabur.


"Jangan pergi dan lari tanggung jawab, Opa. Tontonlah semua perbuatan Opa yang kejam ini."


Setiap kejadian masa lalu dokter Eki diputar kembali. Sikap buruknya terhadap Jingga dan Jessi tak ayal menjadi inti cerita. Selalu mengikuti ide jahat dari ibunya sendiri untuk melenyapkan siapa saja yang menjadi aib keluarga. Termasuk kembarannya sendiri.

__ADS_1


Dentuman keras, teriakan seorang anak terdengar sangat jelas di telinga dokter Eki. Dia menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.


"Bunda!"


Dokter Eki menggeleng, dokter Eki tidak ingin mendengar suara itu. Suara yang sangat menyayat hati. Suara yang menjadi awal mula kesedihan Jingga Andhira.


"Kenapa Opa tidak berani melihatnya? Kenapa Opa takut?" tanya Dea.


"Bukankah itu yang sudah Opa rencanakan. Menghabisi nyawa Oma karena Opa tidak ingin melihat Mami aku bersedih karena sudah tidak memiliki ibu. Kematian ibu dari Mami ku pun karena perbuatan Opa 'kan. Opa menganggap Oma ku aib akhirnya Opa memberikan racun paling ampuh dan akhirnya Oma meninggal di rumah sakit jiwa. Sampai Mami meninggal, rahasia ini tidak pernah terungkap."


Segala dosa yang telah dokter Eki perbuat diputar di sana. Dokter Eki hanya bisa berteriak bagai orang gila. Memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya.


"Lihatlah, Opa," perintah Dea. "Betapa kejamnya Opa kepada aku dan sekarang Opa malah bersikap kejam kepada adikku dan juga Bunda."


Dea menatap tajam ke arah dokter Eki. Matanya berubah menjadi merah dan terlihat menyeramkan.


"Kamu sudah mati, pergi!"


Perempuan yang satunya lagi pun kini menunjukkan wajah seseorang yang sepertinya pernah dokter Eki lihat.


"Ya, kami anak Bunda Jingga. Kami akan menuntut pembalasan dan menginginkan dua kaki Opa agar kami bisa hidup dengan normal seperti anak lainnya."


"Tidak! Tidak!"


.


Aleesa berlari ke rumah sang Mimo. Dia harus berbicara apa yang sudah dia lihat. Menekan bel berulang dengan napas yang tidak teratur. Pelayan membukakan pintu dan tanpa aba Aleesa segera masuk ke dalam rumah yang sudah gelap. Sekarang menunjukkan pukul sebelas malam. Aleesa mengendap-endap keluar rumah dan meminta bantuan teman-temannya yang tak terlihat.


Kamar Aska yang dia tuju. Bukan tanpa sebab, dia harus berbicara dengan sang paman. Ketukan pintu membuat Aska yang baru saja terlelap membuka matanya kembali. Dia tidak ingin anak dan istrinya terbangun.


Dia terkejut akan kehadiran Aleesa di depan pintu kamarnya. Dia segera menarik tangan Aska menuju halaman samping. Di mana dia bisa leluasa berbicara banyak hal kepada sang paman.


"Ngapain tengah malam ke sini?"


Aleesa tak banyak bicara. Dia menyuruh Aska memegang pundaknya. Tanpa banyak bicara Aska mengikuti perintah Aleesa.

__ADS_1


Aska terkejut ketika dia melihat dokter Eki yang terus berteriak bagai orang gila di sebuah kamar tanpa sehelai benang pun. Apapun dia lempar ke arah depannya.


Aleesa menyuruh Aska untuk menurunkan tangannya kembali. Tenaganya cukup terkuras dalam hal ini. Sang paman menatap penuh tanya ke arah Aleesa.


"Ada yang ingin membalaskan rasa sakit hati Kak Jing-jing kepada mertua Om."


Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan dari Aleesa. Dia semakin tidak mengerti.


"Siapa?" tanya Aska. Dia benar-benar penasaran. Ucapan Aleesa seperti clue yang harus dia pecahkan.


"Cucu-cucunya sendiri."


"Cucu?" ulang Aska. Aleesa pun mengangguk.


"Dea?" tanya Aska.


"Dua cucunya, bukan hanya satu."


Jawaban Aleesa membuat Aska pusing memikirkannya. Dia terus mendesak Aleesa, tetapi tetap saja Aleesa tidak membuka suara.


"Lihatlah satu Minggu ke depan, Om."


Aleesa berkata dengan begitu santainya. Dia pun memilih meninggalakan sang paman dan menuju dapur. Mengambil minuman dingin kesukaannya yang pastinya selalu ada di lemari pendingin rumah sang Mimo.


"Lah tuh bocah," geram Aska. Dia mengikuti Aleesa dari belakang.


Aska terus memaksa Aleesa untuk membuka suara. Namun, anak itu malah semakin terbungkam.


"Kakak Sa tidak ingin mendahului Tuhan, tetapi Kakak Sa cukup memberitahukan apa yang kakak Sa ketahui sekarang. Hanya untuk berjaga-jaga ke depannya."


"Apa ada hubungannya dengan Ayna?" tanya Aska lagi.


"Kakak Sa pernah bilang, Ayna adalah pondasi kebahagiaan Om dan Kak Jing-jing. Apapun yang terjadi, kehadiran Ayna adalah jalan menuju kebahagiaan Om dan Kak Jing-jing sesungguhnya."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2