
Terlihat dua orang pria tengah duduk di sebuah meja yang terletak disudut caffe. Dengan pemandangan lalu lalang kendaraan, dapat di saksikan melalui jendela kaca besar yang berada di sampingnya. Tangannya terulur meraih secangkir kopi yang telah di pesannya. Kemudian menyerupunya perlahan.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya seorang pria di hadapannya.
Di letakannya kembali cangkir kopi ke atas meja. "Memangnya mau rencana apa lagi." jawabnya sambil menyenderkan punggungnya.
"Ya setidaknya harus ada rencana. Bukankah ibumu tak menyukai jika kamu dekat dengan perempuan?"
"Iya. Tapi tidak selamanya kan, aku harus hidup sendirian tanpa seseorang yang menemani ku dihari tua nanti."
"Cih. Sekarang baru terpikirkan itu kan."
Seorang wanita datang menghampiri mereka yang duduk di meja sudut caffe itu, dengan membawakan sebuah cemilan sebagai pelengkap mereka untuk mengobrol. "Nih, khusus untuk kalian. Gratis."
"Makasih sayang."
"Ck. Jangan mengumbar kemesraan di hadapanku."
"Jangan dengerin Akhtar ngomong. Sini deh duduk bareng."
Beno menarik tangan istrinya untuk duduk disampingnya. Dania pun ikut bergabung bersama mereka. Sangat jarang bagi Dania bisa berkumpul dengan teman semasa kuliahnya dulu.
Di ketahui bahawa sudah sejak lama Akhtar dan Beno duduk berdua di caffe milik Dania. Bukan tanpa alasan Akhtar berada disana. Dia sengaja datang untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
"Arumi kenapa nggak di ajak sekalian, Tar." tanya Dania
"Di rumah ada ibu jadi nggak mungkin dia mau ikut juga." jawab Akhtar. Ia kembali menyeruput sisa kopinya.
"Ibu? Maksudmu mama kamu? Lho nggak apa-apa ninggalin mereka berdua dirumah?"
Dania sangat tahu betul sifat dari orang tua Akhtar. Mungkin karena dia telah mengenal Akhtar sejak lama juga, jadi dia tahu jika orang tua Akhtar lebih tepat mamanya, sangat benci dengan wanita dekat dengan anaknya itu.
Itu juga merupakan alasan Akhtar, mengapa sampai sekarang ia belum mengenalkan istrinya secara resmi kepada mamanya. Ia takut jika Arumi akan kena amukannya. Karena sebuah trauma yang mendalam hingga membuat kondisi kejiwaan mamanya terganggu. Penyebab mamanya seperti itu karena dulu papa Akhtar berselingkuh dibelakangnya dengan seorang wanita muda. Akibatnya hal itu membuat mama Akhtar sangat terpukul hingga kondisi kejiwaannya terganggu. Jadi mamanya tak ingin anak satu-satunya juga direbut oleh wanita lain, karena hanya Akhtar lah yang ia miliki didunia ini.
"Bukanlah, Nia. Kalau itu juga aku mana berani ninggalin dia sendirian. Itu ibunya Arumi yang datang ke rumah."
"Owh, kirain. Hmm, jadi kapan kamu mau kenalkan Arumi pada mama mu? Nggak mungkin kan, kamu nggak mempertemukan keduanya?"
"Sayang, Akhtar sudah ada rencana kok untuk mempertemukan mereka. Dia hanya mencari waktu yang tepat saja."
Benar yang dikatakan Beno, selain sekedar untuk ngopi bersama Akhtar juga bercerita tentang masalah yang ia hadapi terkait mamanya.
"Iya. Aku lagi cari waktu yang tepat juga. Mungkin saat mama ulang tahun."
"Eh, kapan tante Tania ulang tahun?"
"Lusa."
"Owh, jadi kamu udah ada rencana."
__ADS_1
"Kamu sudah kasih tahu Arumi kah?" tanya Beno sambil mencomot cemilan yang dibawakan Dania tadi.
"Belum."
"Lah kok belum. Harusnya kasih tahu dia lebih awal-awal dong. Nanti kalau dia syok dengan reaksi mama kamu gimana? Trus kalau dia masuk rumah sakit lagi gimana? Aku yakin dia juga bakal ninggalin kamu." pekik Dania yang merasa kesal dengan sikap tenang Akhtar.
"Sayang tenangkan diri dong, kasihan sama baby kamu kalau kayak gitu. Lagian Arumi nggak mungkin ninggalin Akhtar hanya masalah itu." ucap Beno yang berusaha menenangkan istrinya.
"Lho, kamu hamil Nia?"
"Hehehe, iya. Baru seminggu kok." sahut Beno. Sedangkan Dania diam tak menjawabnya.
"Selamat ya. Hati-hati saat pertama kehamilan."
"Aku juga tahu, Tar. Aku kan dokter."
"Ya kan, aku hanya mengingatkan aja."
"Pokoknya kamu harus kasih tahu Arumi dari awal, agar dia juga bisa menerima kondisi tante Tania yang seperti itu." seru Dania yang kembali pada topik pembahasan mereka, kemudian dia beranjak dan pergi meninggalkan dua orang lelaki yang terheran dengan sikapnya.
"PMS, dia?"
"Sembarangan, kan istri aku lagi hamil mana mungkin PMS."
****
Karena hari ini Ningrum akan pulang, jadi Arumi berniat akan membawakannya makanan sebagai bekal dan supaya ibunya tak perlu repot lagi untuk memasak dirumah, jika tiba nanti.
"Ibu kok sudah bangun. Ini kan masih pagi sekali." tegur Arumi ketika ia melihat Ningrum menghampirinya di dapur.
"Ibu kan memang biasa bangun pagi. Sini biar ibu bantu juga di dapur."
"Eh, nggak usah Bu. Biar aku saja, ibu duduk saja di kursi makan. Lagian ini bentar lagi selesai."
"Ya sudah. Tapi kamu kenapa masak banyak sekali, Nak? Ibu kan makannya juga nggak banyak-banyak amat." tegur Ningrum saat melihat hasil masakan anaknya.
"Hehe. Sengaja, Bu. Nanti biar ibu bawa pulang sebagian juga."
Arumi terlihat begitu cekatan didapur. Meski mulutnya sedang berbicara, tapi tangannya tak tinggal diam. Ia berbicara sambil menyelesaikan masakannya yang terakhir.
"Tuh, ibu jadi merepotkan kamu kan."
"Nggak kok, Bu. Aku nggak merasa direpotkan, lagi pula ibu jarang-jarang kan datang kesini trus makan masakan aku."
"Mbak ini saya bawa ke meja makan, ya?" tanya Ririn. Ia menunjuk pada beberapa hidangan yang telah siap sebelumnya di atas meja dapur.
"Oh iya, bawa semua ke meja makan." jawab Arumi.
Ririn dengan segera memindahkan hasil masakan Arumi ke meja makan. Ia juga menyiapkan peralatan untuk makan seperti piring, sendok, dan gelas yang sudah berisikan air putih juga seceret air putih sebagai tambahan.
__ADS_1
"Suamimu belum bangun?"
"Belum, Bu. Biasa Mas Akhtar kalau lagi libur, nggak dibangunin ya nggak bangun."
Akhirnya Arumi menyelesaikan masakan terakhirnya. "Rin, ini bawa ke meja makan juga ya."
"Iya, Mbak."
Setelah itu Arumi mencuci peralatan dapur yang telah ia gunakan terakhir, karena yang sebelumnya telah dicuci bersih oleh Ririn.
"Kalau gitu ibu mau mandi dulu, ya."
"Ah, iya Bu. Arumi juga mau bangunkan Mas Akhtar." Ningrum pun segera kembali ke kamarnya untuk mandi, begitu juga Arumi.
Setelah masuk kamar, Arumi langsung membuka lebar tirai jendela karena di luar sudah terlihat terang. Kemudian ia mendekati ranjang tidurnya, disana terlihat Akhtar yang masih terlelap tanpa terganggu sedikit pun dengan sorot cahaya yang masuk dari luar.
"Mas. Bangun udah pagi, katanya mau antar ibu ke terminal. Ayo cepat bangun."
Arumi menggoyang-goyangkan tangan suaminya agar segera bangun. Namun hasilnya nihil, suaminya belum juga ada tanda-tanda untuk bergerak.
"Maass. Ayo bangun. Aku siram pake air nih, ya."
Meski telah diancam tapi Akhtar juga tak kunjung bangun. Begitulah Akhtar kalau tahu akan libur kerja, pasti paginya susah sekali dibangunkan. Arumi memilih menyerah membangunkannya dengan suara, karena sejak tadi tak ada respon sama sekali. Akhirnya ia menggunakan metode yang lain.
Arumi mendekatkan wajahnya pada wajah Akhtar. Kemudian menciumnya dari kening, mata, kedua pipi, hidung dan terakhir bibinya. Tapi sepertinya Arumi telah salah perhitungan, karena saat bibirnya mendarat pada bibir Akhtar, sontak tangan Akhtar bergerak menahan tengkuknya dan malah berbalik menciumnya. Tak sekedar itu, Akhtar juga melumat bibir mungil istrinya.
Akhirnya mau tak mau, Arumi pun membalas perlakuan suaminya. Setelah keduanya berciuman hingga kehabisan nafas, barulah Akhtar melepas panggutannya.
"Iih, Mas nakal banget deh." protes Arumi dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu yang nakal, pagi-pagi udah godain aku. Bagaimana kalau kita main dulu, hmm?"
"Nggak ya. Udah cepat bangun, katanya mau antar ibu ke terminal. Entar telat lho. Cepat bangun mandi, trus kita sarapan."
"Mandi bareng gimana?"
"Jangan aneh-aneh, Mas. Aku udah mandi juga. Cepat sana, atau aku pergi sendiri sama ibu."
"Iya, iya. Aku bangun."
Akhtar pun beranjak dari tidurnya dan segera ke kamar mandi, tapi sebelum itu ia menarik Arumi dan langsung mencium bibirnya singkat. Kemudian berlari masuk ke kamar mandi. Hal itu sontak membuat Arumi memekik.
"MAS AKHTAR..!!!"
*
*
*
__ADS_1