
"Bang As."
Jingga menghampiri suaminya tergesa. Matanya berarir dan menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Bu-bukan Bang As 'kan." Tangannya sudah menyentuh noda bercak darah di kemeja sang suami.
"Jangan khawatir, Jingga. Suami lu tidak akan mengotori tangannya," jelas Ken yang ternyata ada di belakang Aska.
"Dia mah main aman, kecuali sama lu," lanjut Juno seraya tertawa.
Jingga masih menatap tak percaya. Bukankah sahabat itu bisa bersekongkol. Apalagi persahabatan Aska, Ken dan Juno sudah sangat lama.
"Kita saksinya kok. Sumpah gak boong!" Ken sampai mengacungkan dua jarinya hingga membentuk huruf V.
"Benar, Jingga." Tangan kanan sang mertua sudah membuka suara. "Fajar memang sudah mati, tapi bukan Aska yang menghabisi."
Perkataan itu teramat serius. Namun, Jingga masih menuntut penjelasan juga jawaban dari suaminya itu.
"Aku hanya memukulnya saja. Itupun atas seijin bos kecil ini." Aska mengusap lembut rambut Gavin.
"He lost, Uncle."
"Yeah." Anak itu bersorak kegirangan. Terlihat betapa gembiranya anak dari Aksara itu.
"Jangan main-main makanya," geram Gavin dengan wajah lucunya.
.
Perlahan kondisi Aksa pun membaik. Semuanya pun sudah kembali normal lagi. Sekarang Jingga tahu bagaimana kondisi keluarga suaminya. Ternyata banyak musuh yang ingin mencelakai mereka. Itulah alasan kenapa Gavin memiliki.sopir pribadi. Ternyata bukan hanya sopir, tapi juga merangkak sebagai bodyguard.
Kondisi kandungan Jingga semakin membesar. Sudah sulit untuk berjalan. Perutnya terasa sangat berat. Ditambah kakinya yang bengkak.
"Ayah," panggil Jingga ke arah suaminya yang tengah memakai dasi.
"Kenapa, Bun?" Aska membantu Jingga untuk berjalan ke arahnya. Ada rasa kasihan di hati, tapi Jingga tidak mau dikasihani. Sudah kodrat seorang perempuan seperti ini.
"Bunda ingin bertemu dengan ayah Eki."
Sebenarnya Aska tidak melarang Jingga menemui ayahnya. Namun, semenjak kejadian penusukan sang Abang, pekerjaan Aska semakin banyak. Waktu untuk bersama sang istri pun sudah sangat sedikit.
"Akhir pekan saja, ya. Kayaknya kontrol Abang ke Singapura terakhir Minggu ini." Jingga mengangguk mengerti. Dia tidak boleh egois. Suaminya bekerja keras untuknya.
Bosan sebenarnya berdiam diri di rumah terus. Namun, apalah daya jalan ke ruang keluarga pun langkah terasa berat. Mengandung empat jabang bayi dengan berat badan masing-masing bayi sehat membuat langkahnya terhambat.
"Ikut berjuang dengan Bunda ya, Nak. Lahirlah ke dunia ini dengan selamat dan sempurna. Jadilah kebahagiaan untuk Ayah dan Bunda." Tangannya sudah mengusap perut buncit dengan sangat lembut.
Ada bahagia di hati, juga ada rasa cemas di dada. Bagaimana tidak, Jingga takut jikalau anak yang dilahirkannya nanti mengalami kecacatan seperti anak pertama.
Sudah dua malam ini Jingga bermimpi bertemu dengan Dea juga Ayna. Mereka memiliki fisik sempurna dan sangat ceria. Namun, ada salah satu ucapan yang membuat Jingga kepikiran.
__ADS_1
"Bunda, bahagialah dengan Ayna. Dea 'kan bukan anak Bunda. Jadi, Dea gak bisa ikut Bunda." Anak itu berucap tidak dengan kepiluan. Melainkan dengan ekspresi yang sangat ceria.
"Ada apa lagi ini?" gumamnya seraya mendesah berat.
Tengah asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, suara pintu terbuka membuatnya terkejut. Matanya memicing ketika melihat sang suami sudah kembali ke rumah. Padahal jam masih menunjukkan pukul dua siang.
"Kok udah pulang?" Jingga mencoba untuk berdiri, tapi dilarang oleh sang suami.
"Kita ke Bandung."
Jingga tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Aska. Dia benar-benar tidak menyangka. Baru tadi pagi suaminya mengatakan akan pergi jika weekend tiba. Namun, sekarang mengatakan hal yang berbeda.
"Beneran?"
"Benel dong." Suara anak kecil menimpali ucapan dua orang dewasa tersebut. Jingga tersenyum bahagia ketika melihat keponakan tampannya lagi. Sudah lebih dari seminggu ini dia tidak bertemu dengan Gavin.
"Anteu kangen." Gavin berlari ke arah Jingga dan memeluk tubuh istri dari pamannya.
"Kok Anteu makin gendut." Wajah bahagia Jingga ditekuk seketika. Anak itu malah menatap Jingga tanpa berdosa.
"Ini kaki manusia apa kaki gajah. Bengkak." Aska malah tertawa sedangkan Jingga jangan ditanya bagaimana bentuk wajahnya.
"Kok makin ke sini kamu makin ngeselin sih." Jingga mulai mencubit gemas pipi putih Gavin hingga dia berteriak minta ampun.
Mereka berdua melepas rindu membuat Aska tersenyum bahagia. Sengaja Aska akan berangkat menjelang Maghrib agar sampai Bandung malam. Esok paginya kembali lagi ke Jakarta. Masih banyak pekerjaan yang menunggunya.
"Uncle, kapan belangkat ke Bandungnya? Mas ingin pakai kulsi loda Kakek." Tujuan Gavin merengek ingin ikut ya itu. Dia penasaran dengan kursi roda yang digunakan dokter Eki. Dia ingin mencobanya.
"Anteu, ini dedek-dedeknya kapan lahil?" Tangan mungil itu tengah menyentuh perut Jingga yang mulai mengencang karena tendangan-tendangan si jabang bayi.
"Tiga mingguan lagi," jawab Jingga. Dia malah mengusap lembut rambut halus milik Gavin.
"Nendang!" Anak itu terlihat sangat bahagia. "Ayo cepat kelual. Kita main bola baleng-baleng. Mas gak ada teman, semuanya main boneka. Menyebalkan."
Bukan hanya Jingga yang tertawa. Aska pun ikut terbahak mendengarnya. Ada rasa kesepian di hati bocah yang akan menginjak usia lima tahun. Di mana dia butuh teman dengan gendre yang sama. Itulah yang membuat Gavin sangat senang bermain dengan Rangga.
"Tenang Boy, nanti kamu akan ada temannya."
"Benelan?"
"Tapi boong. Semua dedek-dedeknya cewek."
"Uh, menyebalkan." Gavin melipat kedua tangannya di atas dada dan bibir yang terus berkomat-kamit bagai Mbah dukun.
Aska malah tergelak dan Jingga memeluk tubuh sang keponakan dengan begitu erat. Menciuminya dengan sangat gemas
"Kenapa kamu lucu banget sih?" Gavin hanya terdiam dan dia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan dua orang dewasa ini.
"Uncle, Mas lupa bawa iPad. Boleh pinjam HP-nya?" Gavin sudah mengeluarkan jurus maut andalan. Dijamin tidak ada yang bisa menolak.
__ADS_1
Aska membuka laci. Dia masih menyimpan ponsel lawas. Dia serahkan kepada putra dari abangnya itu.
"Hp tahun kapan ini, Uncle?" Anak itu seakan mengejek sang paman. "Samsul lagi meleknya."
"Jangan salah dan jangan meremehkan," sanggah Askara. "Di dalamnya banyak permainannya."
"Apa iya?" Aska pun berdecak kesal. Selain menggemaskan keponakannya ini teramat menyebalkan.
"Nih." Aska mulai mengisi daya ponsel dan dia hidupkan. Mata anak itu berbinar. Apa yang dikatakan sang paman memang benar.
"Mas pinjam!" Gavin segera merebut ponsel tersebut dan mulai asyik memainkannya. Namun, sebelumnya Aska mengisi daya baterai dengan power bank saja agar tidak.membahayakan sang keponakan.
"Empin, dedek-dedek bayinya ingin lihat Empin dikuncir boleh?"
"Iya."
Jarang-jarang anak ini mengiyakan dengan cepat. Tanpa minta imbalan berupa uang dollar. Aska dan Jingga sedikit terkejut. Namun, Jingga buru-buru melakukan keinginannya. Dia dibuat penasaran karena Riana sering mengatakan ketika Empin dikuncir itu seperti boneka.
"Anteu kuncir, ya." Anak itu dengan mudahnya mengangguk.
Jingga dengan sepenuh hati menguncir rambut lebat sang keponakan. Anak itupun begitu anteng.
"Anteu," panggil Gavin.
"Iya, Sayang."
"Kalau dedek-dedek bayinya udah lahil. Apa Anteu masih sayang sama Mas?"
"Tentu dong. Anteu akan selalu sayang sama Empin."
"Benel?" Anak itu pun menoleh dan Jingga benar-benar speechless dengan apa yang dia lihat.
"Masya Allah!" Jingga benar-benar takjub. Dia harus mengabadikan momen langka ini.
"Ish! Pelempuan itu aneh," omelnya. "Gak Mommy gak Anteu, sama aja."
"Ganteng banget kamu, Mpin. Seriusan." Jingga benar-benar bahagia dan terus mengambil gambar anak itu.
"Dali dulu Mas emang ganteng."
"Set dah percaya diri banget lu, Tong." Aska tak percaya dengan jawaban sang keponakan yang dia dengar.
"Emang kenyataannya begitu. Pala pelempuan aja yang belebihan," tukasnya.
Tiba-tiba anak itu meletakkan gawainya. Menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. "Ya Allah, ketika Mas besal nanti peltemukanlah dengan pelempuan yang belbeda. Pelempuan yang tidak menganggap Mas tampan. Amin."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komennya mana ini?
Bagi yang gak suka alur lambat silahkan skip aja atau boleh juga unfavorit. Baca di sini gratis, usahakan jarinya jangan terlalu sadis.