
Sudah tiga hari ini kondisi tubuh Jingga mulai melemah. Mulutnya terasa pahit dan jalan pun bagai tak bertulang. Aska yang sudah terbangun tak tega melihat istrinya.
"Apa semalam terlalu menyakitkan?" tanya Aska.
"Bukan hanya sakit, Ayah. Poeting Bunda lecet, punya bayi gede yang rakus. Belum lagi dua gunung Bunda merah semua. Untungnya anak-anak minum susu formula," sahut Jingga dengan perkataan ketus.
Aska terkekeh dan mencium kening Jingga dengan begitu dalam. "Maafkan Ayah, ya. Habisnya makin ke sini punya Bunda makin enak. Service Bunda juga memuaskan sekali."
Mencari kesempatan ketika keempat anaknya diajak berlibur ke Bogor oleh kakek dan nenek mereka. Seperti pagi ini, istrinya masih lemah. Namun, Aska seperti tidak mau mengerti.
"Mumpung belum mandi, Bunda. Udah tegang lagi ini."
Ya Tuhan ...
Ingin rasanya Jingga berteriak. Namun, tubuhnya sudah ditindih oleh Aska yang sudah bergerak maju-mundur cantik. Jingga ingin menolak, tapi dia juga sangat menikmati gerakan sang suami.
"Aduh ...."
Hanya suara itu yang keluar dari mulut Jingga. Dia merasa sudah tidak tahan sekali.
"Keluarin aja, Sayang." Aska meraih bibir Jingga dan tangannya memberikan rangsangan yang luar biasa hingga Jingga berteriak.
__ADS_1
Aska menghentikan gerakannya. Dia memberi napas kepada sang istri. Jika, sudah begini istrinya akan lemah. Maka dari itu, Aska mulai bermain dengan lidah tak bertulang juga jari untuk memberikan kenikmatan untuk kedua kali.
"Yah, lemas."
Bibir bisa berkata seperti itu, tapi tubuh sudah meliuk-liuk bagai ular. Aska pun tersenyum ketika biji almond sudah mengeras.
"Cepatin, Yah." Aska tersenyum penuh kemenangan. Dia pun mengikuti perintah dari sang istri. Ketika teriakan Jingga mulai keluar, Aska langsung menancapkan anacondanya ke dalam hingga istrinya menjerit untuk kedua kalinya.
"Enak, gak?" tanya Aska dengan nada nakal.
"Heeh."
Jingga terkapar lemas dan Aska masih bekerja rodi. Dia masih berusaha mengeluarkan susu kental manis. Erangan pun terdengar dan ada rasa hangat yang Jingga rasakan di bawah sana.
"Mau dibawain sarapan apa?" tanya Aska.
"Bunda mau buah aja." Aska pun mengangguk. Sebelum dia turun, dia membersihkan tubuh istrinya terlebih dahulu. Memakaikan istrinya baju rumahan.
"Kalau masih lemas, nanti malam panggil dokter, ya." Jingga pun mengangguk. Sebuah kecupan hangat Aska berikan di kening Jingga. Dia keluar dari kamar dengan senyum yang mengembang. Bersiul layaknya orang yang sangat tak memiliki beban.
Langkahnya terhenti ketika melihat ada kedua orang tuanya sudah ada di meja makan.
__ADS_1
"Mom-my ... Dad-dy ...."
Aska terlihat terkejut dengan apa yang dia lihat. Kedua orang tuanya sudah ada di rumah.
"Kenapa? Puas banget kayaknya gak ada anak-anak kamu," sindir Ayanda.
"Jangan keseringan dan kebanyakan, istri kamu pun butuh istirahat." Sang ayah sudah membuka suara.
"Anak-anak mana?"
"Jangan mengalihkan ucapan Mommy dan Daddy, Askara!" Sang ibu sudah mengeluarkan nada tinggi. "Kami sedang menasihati kamu!"
Aska pun hanya menunduk. Ada yang janggal, dari mana kedua orang tuanya tahu tingkah lakunya ini?
"Omelin aja, Mimo!" Suara seorang anak kecil terdengar. Siapa lagi jika bukan Gavin.
"Mas dengar sendiri kalau Uncle gak pernah bisa buat Anteu tidur nyenyak selama si kuampret gak ada."
Glek! Aska menelan salivanya. Dari mana anak itu tahu?
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...