Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
SIUMAN


__ADS_3

Lia Sedang memasak meyiapkan makanan untuk makan malam keluarganya, lalu Makmun menghampiri Lia


"Sayang sudah selesai masaknya, Mamah mana kok aku gak lihat" tanya Makmun sambil melihat sekeliling


"Tadi sih bilang kepalanya pusing, coba deh Kamu tengok" Makmun pun bergegas pergi ke kamar Ibunya untuk melihat keadaan sang Ibu.


Setelah masuk kamar, Makmun melihat Ibunya sedang berbaring di atas kasur, lalu Makmun menyapa


"Mah.. tadi kata Lia Mamah sakit kepala" Bu Alya menoleh karena mendegar suara Makmun dan berkata,


"Iya nih Mun mungkin kolestrol Mamah naik, Kamu jangan pergi kemana-mana ya, Papah kan sedang tidak ada di rumah belum pulang kerja" mendegar permintaan Ibunya Makmun jadi teringat permintaan Lia yang ingin menengok Asri di Rumah Sakit, dalam hati Makmun berkata,


"Aduh bagaimana ini, Lia meminta ingin menengok Asri, sedangkan Mamah tak ingin di tinggal sendiri" ucap gerutu Makmun


Lalu Makmun memberikan obat sakit kepala untuk Ibunya dan menawarkan apakah ingin di periksa ke Dokter, tapi Bu Alya menolak untuk pergi ke Dokter


"Gak usah Mun Mamah dirumah saja, yang penting Mamah ditemani sama Kalian disini" ucap Bu Alya yang berharap agar anaknya menemaninya, setelah memberikan obat kepada Ibunya, Makmun mengajak Ibunya untuk makan malam.


Makanan pun sudah siap di meja makan, tapi Lia belum melihat Makmun dan Bu Alya keluar dari kamar, Lia pun berinisiatif untuk melihat Ibu Mertuanya itu


"Mah.. makanannya sudah siap, yuk Kita makan soalnya Lia sama Makmun habis makan mau..." belum selesai Lia bicara Makmun langsung memegang tangan Lia dan memberi isyarat untuk berhenti bicara.


Lia tak mengerti maksud dari isyarat itu, lalu Lia langsung menyuruh Makmun untuk keluar kamar dengan suara berbisik-bisik


"Mun maksud Kamu tadi apa, suruh Aku diam untuk bicara, Aku kan mau ijin sama Mamah"


"Sayang Kita jenguk Asri besok lagi ya, tadi Mamah pesan sama Aku, Mamah gak ingin ditinggal Mamah ingin Kita menemaninya sampai Papah Aku pulang" Lia menghela nafas lalu terdiam dengan raut wajah merajuk, tanpa bicara lagi Lia langsung pergi ke kamarnya, melihat Lia merajuk Makmun pun mengejarnya


"Lia Aku mohon tolong Kamu mengerti, Kamu jangan marah dong"


"Gak.. Aku gak marah kok, Mamah Kamu kan lebih penting jadi ya sudah" ucap Lia dengan nada yang ketus


"Kalau gak marah kenapa seperti itu wajahnya, dan kalau gak ngambek berarti Kita makan dulu dong, ayo..." ajak Makmun kepada Lia, tapi Lia menolak, Lia menjawab,


"Aku gak nafsu makan, mau tidur sudah ngantuk" Makmun hanya terdiam melihat sikap Istrinya yang sedang marah karena tak jadi menengok sahabatnya.


Asri sedang beristirahat lalu Dokter yang menangani Asri masuk kedalam ruang rawat untuk memeriksa Asri


"Selamat sore Mbak Asri, badannya apa masih sakit"


"Lumayan Dok.. sudah gak begitu sakit Oh ia Saya sudah boleh pulang belum Dok?"


"Kalau dilihat dari kondisi keseluruhan, Mbak Asri sudah boleh untuk pulang sore ini juga" Asri dan Sam pun tersenyum mendegar kabar baik ini, setelah di periksa.. Dokter pun keluar lalu Sam dan Asri bersiap untuk pulang


"Eh Sam, tunggu Mamah Aku kan belum tahu kalau Kita boleh pulang, Aku telepon Mamah dulu ya" Sam menganggukkan kepala sambil membereskan kasur tidur pasien, namun telepon Asri tak di angkat oleh Bu Anita


"Kok Mamah gak angkat telepon Aku ya" ucap Asri dengan rasa bertanya-tanya

__ADS_1


"Masih meeting kali sayang, Kita pulang saja sekarang, sambil di jalan Kamu terus telepon Tante Anita" Asri tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.


Sebelum pulang Asri juga Sam menemui Chadra juga Juvi yang sedang menunggu Rahma siuman


"Chandra..."


"Asri, Kamu sudah kuat untuk berdiri" ucap Chandra dengan rasa khawatir


"Aku sudah boleh pulang kata Dokter, kalau untuk berjalan biarpun memakai tongkat, tapi Aku bisa kok" Chandra pun tersenyum mendengar Asri merasa dirinya sudah lebih baik, lalu Asri bertanya mengenai Rahma,


"Rahma belum siuman juga" Chandra tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah bersedih, kemudian Asri mencoba menghibur dengan mengatakan,


"Kamu yang sabar ya Chan, Aku yakin Rahma wanita kuat Dia pasti sebentar lagi siuman" setelah Asri mengatakan hal itu tiba-tiba Rahma siuman alarm ruangan Rahma berbunyi, kemudian 2 suster dan Dokter langsung masuk untuk memeriksa keadaan Rahma, Chandra dan yang lainya hanya bisa menunggu kabar dari Dokter.


Setelah Dokter keluar Dokter membuka maskernya kemudian berkata,


"Alhamdulillah pasien sudah siuman, keadaannya saat ini stabil, tapi tetap Kita akan pantau perkembangan pasien" Chandra pun tersenyum senang begitu juga dengan kedua orang tua Rahma


"Alhamdulilah jadi Saya bisa lihat Istri Saya Dok sekarang"


"Silahkan Pak, tapi maksimal 2 orang ya" Asri pun senang Rahma sudah siuman, dan Asri meminta untuk dirinya yang melihat Rahma dahulu, namun karena Dokter hanya membolehkan 2 orang saja, jadi Chandra dan Asri yang masuk ke dalam ruangan Rahma


"Sam Aku masuk sebentar ya"


"Tapi kaki Kamu bagaimana?" ucap Sam kemudian Chandra menyahuti dan berkata,


"Aku akan jaga Asri, biar Aku bantu Kamu, Mah.. Pah Aku dan Asri dulu ya yang masuk, setelah itu baru Mamah dan Papah" ucap Chandra terhadap kedua Orang Tua Rahma.


Tapi kini Bu Yanti percaya pada Chandra Dia pasti akan menjaga perasaan rahma saat ini, sementara Juvi yang mengamati raut wajah Sam pun berkata,


"Sudah.. singkirkan ego dulu, di saat seperti ini Lo ga usah cemburu Sam" Sam melirik Juvi namun sambil menunduk kepalanya dan berkata,


"Siapa yang cemburu, Gue percaya Asri kok" Juvi hanya tersenyum jahil mendengar ucapan Sam.


Saat di dalam ruang ICU Chandra langsung menyapa Rahma yang sudah tersadar


"Rahma Aku senang sekali Kamu sudah siuman, Aku tunggu Kamu dari tadi"


Rahma melihat Chandra juga Asri disampingnya, Dia pun tersenyum bahagia, apalagi ketika mendengar bahwa Chandra menunggunya untuk sadar dari pingsan


"Aku senang Chan mendengar Kamu mengkhawatirkan Aku, artinya Aku masih berharga untuk hidup Kamu" Rahma pun melihat luka di lengan Asri yang sudah di perban


"Asri luka Kamu apakah parah" tanya Rahma, Asri pun menangis ketika Rahma menanyakan tentang lukanya


"Kamu masih bertanya tentang Aku, padahal Kamu yang terluka parah Rahma, Aku sungguh khawatir dengan keadaan Kamu, apalagi ketika Kamu harus melakukan operasi, Aku merasa sangat bersalah Rahma, karena ini semua terjadi karena orang itu ingin melukai Aku, Aku gak tahu kalau Kamu gak datang waktu itu, mungkin Aku sudah.... Sudah mati" Ucap Asri sambil menangis kecil


"Kamu jangan merasa bersalah, buktinya Aku selamat" namun seketika Rahma tadi mendegar bahwa dirinya melakukan operasi, Rahma pun bertanya pada Chandra

__ADS_1


"Chan.. Aku operasi... apa luka Aku sebegitu parahnya sampai harus operasi?" ucap Rahma sambil memegang tangan Chandra.


Chandra terdiam Dia pun bingung harus bicara jujur mengenai rahimnya atau kah pura-pura tak tahu, Chandra takut Rahma jadi bersedih lalu depresi seperti waktu itu, Asri pun melihat dan memandang Chandra mengapa Ia belum bicara juga, lalu Asri menepuk pundak Chandra sambil berkata,


"Chan... Kok Kamu diam, Kamu bilang dong sama Rahma soal rahim itu" melihat wajah Chandra dan Asri yang begitu serius, Rahma pun jadi penasaran apa yang sebenarnya Chandra dan Asri bicarakan


"kalian kenapa sih" saat bicara Rahma memegang perutnya lalu Ia merasakan sakit di bagian luka bekas jahitan


"Aduh...." melihat Rahma kesakitan Chandra pun berkata


"Kamu gak apa-apa Rahma, jangan Kamu pegang dulu ya, luka bekas jahitannya belum kering Kamu harus sabar" Rahma menganggukan kepala sambil memejamkan mata merasakan perih luka bekas jahitan, Rahma pun ingat dengan pertanyaannya yang belum di jawab


"Chan... jawab dulu, Aku kenapa harus operasi lukanya dalam sekali ya" tanya Rahma membuat Chandra semakin bingung, dan akhirnya Chandra memutuskan untuk mengatakan kebenaran itu nanti saja, jika Rahma kondisinya sudah pulih


"Gak ada yang parah kok, Kamu jangan banyak gerak ya" Asri melihat Chandra mengapa Chandra tak ingin mengatakan kebenaran itu ucap dalam hati Asri, namun karena Sam sudah menunggu lama di luar Asri pun berpamitan untuk pulang


"Chandra, Rahma, Aku pulang duluan ya, Dokter sudah membolehkan Aku pulang, dan Sam juga sudah menunggu lama di luar"


"Iya Asri, Kamu hati-hati di jalan semoga Kamu dan Sam segera dipersatukan ya" ucap Rahma membuat Chandra terdiam seperti orang sedang berfikir, Chandra pun menyahuti


"Ya Asri, terimakasih ya Kamu sudah menengok Rahma Ayo Aku antara keluar, Kaki Kamu kan belum lancar berjalan, Rahma sebentar ya Aku antar Asri dulu" Asri pun keluar berjalan dengan di bantu Chandra.


Saat sedang berjalan tiba-tiba kaki Asri merasa sakit hingga Asri hampir terjatuh, namun langsung di tangkap Chandra dengan sigap


"Aduh..." dan Mereka pun saling menatap memandang, pemandangan itu pun dilihat Sam sontak saja Sam berpura-pura batik


"Ekhem.... " lalu Asri berusaha untuk berdiri tegak kemudian Sam langsung mengambil alih tangan Asri


"Biar Gue yang bantu Asri, lebih baik Lo temani Rahma Dia pasti butuh Lo" Sam berkata dengan suara sedikit ketus, Asri hanya menatap dengan rasa bingung melihat sikap Sam, lalu Asri berpamitan dengan Juvi


"Juvi Aku pulang yah, makasih ya Kamu sudah menemani Chandra Sam dan Aku, disini tak ada lagi sahabat seperti Lo" Asri memeluk Juvi karena menganggap Juvi sebagai sahabat yang paling baik


"Iya Asri sudah jangan peluk Gue, nanti yang di sebelah cemburu" Asri pun melirik Sam


"Oh... jadi tadi Ekhem Ekhem itu artinya cemburu ya Juv" ucap Asri yang sedang menyindir Sam, Sam merasa tersindir Dia pun menyahuti ucapan Asri


"Aku gak cemburu kok sayang, Aku cuma gak ingin Kamu di pegang-pegang sama laki-laki lain, apalagi Chandra" mendegar ucapan Sam Asri pun tertawa jahil


"Sekarang cemburunya sudah hilang" tanya Asri sambil tersenyum lalu Asri mendekati wajah Sam


"Kamu nih ya, sudah yuk pulang nanti keburu malam, gak lapar apa" bicara soal lapar, Juvi pun jadi teringat tadi Dia sempat membeli makanan untuk Sam juga Chandra


"Oh iya Sam, ini makanan tadi Gue beli buat Lo sama Chandra, tapi Gue lupa kasih ke Lo.. di bawa yah lumayan kan" kemudian di ambil lah makanan tersebut, dan Asri pun kini pamit kepada Bu Yanti juga Pak Rohman


"Tante Yanti Pak Rohman, Aku pamit ya mau pulang semoga Rahma cepat pulih dan cepat sembuh"


"Iya Asri terimakasih atas doanya, Kamu juga ya, semoga cepat sembuh dan bisa berjalan dengan baik lagi, salam dengan Bu Anita"

__ADS_1


"Mamah sedang meeting di Kantor, nanti Aku sampaikan salamnya Tante, Kita permisi dulu Assalamualaikum"


Bu Yanti dan Pak Rohman pun langsung masuk ke ruangan Rahma, setelah Asri dan Sam pergi, dan Chandra hanya bisa memandangi Mereka dari belakang.


__ADS_2