Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
205. Acara Untuk Ayah


__ADS_3

Boleh minta komennya gak? Sepi amat kaya kuburan.


...****************...


Aska akan kalah telak jika sudah diejek oleh sang keponakan. Dia hanya bisa menahan dongkol di dalam hati. Tidak mungkin dia menghajar keponakan tampannya itu. Sungguh dia tidak tega.


"Bunda tunggu di rumah, ya."


Sambungan video call pun terputus. Jingga turun ke lantai bawah untuk ikut bersama empat keponakannya. Dia melihat jika sang mertua Tenga memuji keempat keponakannya.


"Pipi Mas sama Anteu," adu Gavin. Ayanda pun tertawa mendengarnya. Dia mengambil tisu basah untuk mengelap pipi sang cucu yang masih merah bekas lipstik.


"Aska masih di mana?" tanya Ayanda kepada Jingga.


"Kelihatannya masih di kantor, Mom." Ayanda mengangguk mengerti.


Jam tujuh malam tiga orang pria datang ke rumah besar. Juga seorang ibu muda cantik yang tengah menggendong bayi menggemaskan.


"Kalian sudah datang?" Wajah Ayanda sangat bahagia dan segera mengambil sang cucu cantik yang gembul.


"Istri Adek di mana, Mom?" tanya Aska.


"Ayah," panggil Jingga dan segera memeluk tubuh Aska dengan begitu erat.


"Kok jijik ya dengarnya." Suara yang datang bukan dari tiga pria itu. Melainkan dari pria yang baru saja tiba.


"Sirik nih ye," ejek Aska yang semakin erat memeluk tubuh istrinya.


"Truk aja gandengan, masa situ enggak." Tawa semua orang pun tercipta. Suasana rumah itupun mendadak ramai jika sudah ada Rion dan Aska. Akan saling mengejek tanpa batasan.


"Anak-anak gak nakal?" Jingga hanya tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut perutnya.


"Mereka asyik bermain dengan si triplets." Senyum Jingga menular kepadanya.


Namun, kehadiran empat keponakan Aska membuat Aska terkejut begitu juga dengan yang lainnya.


"Ayo ikut kami," ajak Aleesa.


Semua orang yang berada di sana saling pandang. Mereka saling lirik karena bingung.


"Ya udah, ikutin aja apa kata si krucil," titah Ayanda.


Mereka semua pun ikut ke mana langkah si triplets dan juga Gavin. Langkah mereka terhenti ketika melihat halaman belakang yang sudah didekor dengan begitu indahnya.


"Selamat hari Ayah," ucap mereka secara bersamaan.


Aksa dan Radit pun tersenyum mendengarnya. Ada keharuan di hati mereka. Namun, tak mereka tunjukkan. Beda halnya dengan Echa dan juga Riana. Mata mereka sudah berkaca-kaca.


Teringat masa kecilku


Kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu


Buatku melambung


Di sisimu terngiang


Hangat napas segar harum tubuhmu

__ADS_1


Kau tuturkan segala


Mimpi-mimpi serta harapanmu


Suara Aleena yang sangat merdu membuat hati semua orang tersentuh. Apalagi Aleena membawakannya dengan penuh ketulusan.


Kau ingin ku menjadi


Yang terbaik bagimu


Patuhi perintahmu


Jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan


Dalam waktu ku beranjak dewasa


Jangan sampai membuatku


Terbelenggu, jatuh, dan terinjak


Kini, mata Aleena sudah berkaca-kaca seraya menatap wajah ayahnya yang masih sangat tampan.


Tuhan, tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku t'rus berjanji


Takkan khianati pintanya


Ayah, dengarlah


Betapa sesungguhnya ku mencintaimu


'Kan kubuktikan


Ku mampu penuhi maumu


Aleena yang sudah tidak tahan segera berlari memeluk tubuh ayahnya. Diikuti oleh kedua adiknya. Tanpa semua orang tahu, tadi pagi Radit pergi ke makam sang ayah. Dia menangis bagai anak kecil yang kehilangan induknya. Ini kali pertama Radit merayakan hari ayah tanpa sosok seorang ayah.


Andaikan detik itu


'Kan bergulir kembali


Kurindukan suasana


Basuh jiwaku


Yang haus akan kasih dan sayangmu


'Tuk wujudkan segala


Sesuatu yang pernah terlewati


Riana melanjutkan nyanyian ketiga keponakannya dan menatap sedih ke arah sang ayah yang berada tak jauh dari sampingnya.


Rion menghampiri Riana dan memeluk tubuh putrinya yang kini sudah menjadi seorang ibu untuk kedua putra-putrinya.

__ADS_1


"I love you, Ayah. Sehat terus."


Keharuan tercipta di halaman samping ruang Giondra. Ayanda dan Gio hanya saling pandang dengan senyum yang mengembang.


"Daddy ..."


Suara Gavin membuat semua orang kini melihat ke arah taman buatan yang empat anak itu buat.


"Telimakasih sudah membelikan kasih sayang yang banyak untuk Mas dan Adek. Sudah mengajalkan banyak hal kepada Mas." Kalimat Gavin pun terjeda. Dia menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkan.


"Mas tahu, Daddy itu capek kalau pulang kelja, tapi Daddy selalu bilang sama Mas kalau Daddy tidak apa-apa dan selalu menemani Mas belmain dan belajal. Tak pelnah bosan menjawab peltanyaan Mas yang mengganggu Daddy. Sekali lagi, telimakasih Daddy. Mas janji, Mas akan jadi pelindung untuk Mommy dan Adek. Mas sayang Daddy, Mommy dan Adek."


Aksa sudah merentangkan tangannya dan anak berusia empat tahun itupun berlari ke arah sang ayah.


"Love you, Daddy."


"Love you more, Mas."


Jingga sudah sesenggukan melihat Gavin yang sangat berani dan pandai mengungkapan perasaannya kepada sang ayah. Aska tersenyum dan merangkul pundak sang istri tercinta.


"Doakan aku, ya. Semoga kelak aku bisa menjadi ayah yang hebat seperti mereka." Jingga pun tersenyum dan mengaminkan dengan suara beratnya.


Pandangan Jingga kini tertuju pada layar putih di belakang taman indah buatan si triplets dan Gavin. Satu per satu foto semasa si triplets bayi dihadirkan. Terlebih ketika mereka bersama sang ayah.


"Baba ... terima kasih atas segala kasih sayang yang telah Baba berikan kepada kami. Terimakasih sudah menjadi ayah yang baik, ayah yang pengertian dan selalu ada untuk kami walaupun kami tidak meminta. Baba selalu menjadi pelindung kami, penjaga kami dan juga penyelamat kami."


Aleena yang berkata untuk pertama kali. Radit tidak berkata apapun dengan merangkul pundak ketiga putrinya sambil menatap video yang ketiga putrinya itu buat.


"Hanya kata terima kasih yang mampu kami ucapkan. Tidak bisa kami membalas apapun yang sudah Baba lakukan dan perjuangkan untuk kami semua. Baba adalah ayah yang luar biasa hebatnya. Selalu mengajarkan kami banyak hal dan ilmu. Baba juga yang membuat Kakak Sa percaya diri dengan kelebihan yang Kakak Sa miliki."


Rasi mengecup ujung kepala Aleesa dan Aleena. Ketika dia menangis di hari penuh makna ini, ada segelumit bahagia yang dia terima.


"Baba, Dedek tidak tahu apa yang harus Dedek katakan. Bagi Dedek, Baba adalah satu sosok yang paling sempurna. We love you, Ba."


Radit tersenyum bangga melihat tumbuh kembang si triplets yang sekarang sudah hampir ABG. Radit menarik tangan Echa juga dan mereka berpelukan layaknya Teletubbies.


Seorang pelayan membawakan kue kepada si triplets dan juga keluarga kecilnya.


Happy Father's day.


Sebuah kalimat yang mampu membuat Radit terenyuh hatinya. Dia mencium lagi ujung kepala ketiga anaknya.


"Mas juga punya hadiah untuk Daddy," ujarnya tak mau kalah sambil berlari ke dalam rumah. Semua orang hanya menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian Gavin membawa sebuah buket bunga yang berisi uang dan diserahkan kepada sang ayah. Mata semua orang melebar melihat apa yang Gavin bawa.


"Untuk sementala, Mas kasih ini dulu, ya," tuturnya. Buket bunga itu berisi dua puluh lembar uang seribu dollar Singapura.


"Nanti, kalau Mas udah kelja, udah kaya apapun yang Daddy minta akan Mas kasih. Daddy cukup di lumah kaya Mimo dan Pipo yang keljaannya jalan-jalan telus uangnya gak -abis." Lagi-lagi mereka tertawa mendengar celotehan Gavin.


"Empin, kalau hadiahnya begitu mah Uncle mau deh jadi ayah Empin. Lumayan buat ganti mobil itu uangnya," ucap Aska.


"Engkong juga mau kalau begitu mah," sambung Rion.


Sang cucu hanya menggelengkan kepala. Tak lama kemudian, dia berkata, "dua laki-laki pelit bin kele. Cemenlah!"


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2