Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
HAMPIR CELAKA


__ADS_3

Lalu Rahma menjawab ucapan Tini


"Tini itu dulu, sebelum Aku merasakan sendiri kebaikan Asri, dan waktu itu Aku sengaja berkata seperti itu, supaya Kamu termakan ucapan Aku, tapi Aku tidak tahu kalau ternyata Sam benar-benar punya hubungan dengan Asri, sebaiknya Kamu coba rubah sikap Kamu yang kurang menghargai suami Kamu, supaya Dia bisa kembali untuk Kamu" Tini semakin naik pitam ketika mendegar ceramah dari Rahma


"Sebaik apapun Asri yang Kamu katakan itu, buat Aku tetap Dia adalah seorang perebut suami orang, dan Kamu tahu kalau ucapan Kamu dulu yang sengaja agar Aku membenci Asri agar Aku yang mencelakai Asri, Aku kasih tahu Kamu Rahma, ya.... Itu semua benar karena sekarang, aku hanya memikirkan bagaimana menyingkirkan Asri dari hidup Sam selamanya" Rahma tercengang untuk keduakalinya mendegar ucapan Tini.


Dia merasa Tini adalah orang yang sangat berbahaya, lebih licik darinya waktu dulu, karena tak ingin lebih jauh lagi Rahma berurusan dengan Tini, akhirnya Rahma memutuskan untuk pulang


"Maaf Tini, Aku harus pulang, Mamah pasti sudah menunggu Aku" Tini tak menjawab Dia hanya melengos dengan wajah sinis.


Rahma tak ambil pusing dengan sikapnya itu, Rahma pun langsung masuk mobil dan pulang.


Tini hanya menatap tajam melihat Rahma dari kejauhan.


Di dalam mobil Rahma mengingat ucapan Tini yang membuatnya cukup menakutkan lalu Rahma berkata pada dirinya sendiri"


Apa yang akan Tini lakukan kepada Asri, dari ucapannya Tini seperti sedang melakukan sebuah rencana, semoga semuanya baik-baik saja" ucap Rahma dalam hatinya.


Juvi pun masuk ke dalam ruangan Chandra


"Hey.. Makan siang pakai lauk apa?" Chandra menoleh ke arah suara ternyata Juvi sudah datang, Chandra langsung menyapa dan menyuruh Juvi untuk makan bersamanya


"Juv... Sini.. Tadi Rahma bawa bekal makan siang, biasalah bekalnya kebanyakan, kan mubasir kalau terbuang"


"Haha... Lo tahu ga sih, Gue sudah kaya pacar Lo tahu gak, di ajak makan bareng terus berdua lagi, makanannya dari bekal pula, ya ampun.. Romantis banget deh Kita.." Chandra jadi tertawa mendegar kata-kata gurauan Juvi "Ya gak apa-apa lah, keliatan seperti pacaran kan Lo sahabat Gue gimana sih" sambil mencicipi masakan Rahma Juvi pun bicara


"Lagian Lo kenapa sih, gak suruh Rahma temenin Lo makan gitu" mendegar ucapan juvi kini Chandra tak menjawab hanya diam tak bergeming, lalu Dia memakan lagi lauk yang di bawa Rahma


"Heh.. Jawab" ucap Juvi sambil menyenggol bahu Chandra dengan lengannya, Chandra melirik Juvi lalu berkata,


"Gue gak tahu Juv, Gue ngerasa seperti belum bisa untuk berbuat hal yang indah-indah, atau romantis gitu lah, Karena ya Lo tahu dong Gue belum seutuhnya mencintai Rahma, Gue seperti merasa masih berjarak sama Dia, walaupun ya memang Gue bersikap baik haduh Gimana ya, Gue bingung menjelaskannya" ungkap suara Chandra mengenai perasaannya, Juvi pun menghentikan makanya, lalu berkata,


"Ya Gue paham kok Chan, dan Gue juga gak bisa kasih komentar apa-apa sama Lo, sudah deh Kita makan saja yuk, nanti jam makan siang habis lagi" setelah itu Juvi dan Chandra pun kini makan dengan tenang.


Kini sore hari pun tiba, para Karyawan Retro pun menghentikan segala pekerjaan untuk pulang ke rumah


Asri pun sudah di antar pulang oleh Sam, lalu Asri turun dari mobil dan Sam mengatakan,

__ADS_1


"Sayang Kamu jangan telepon Aku dulu ya, sesampainya Aku di rumah pasti Tini akan bahas hubungan Kita, Aku harus selesaikan masalah ini, Kamu jangan marah ya" ucap lembut Sam terhadap Asri


"Iya Sam Aku paham kok, semoga masalahnya cepet selesai, Aku sebenarnya sudah tak enak di posisi ini Sam, Kamu juga paham kan maksud Aku" lalu Sam membelai rambut Asri dan mengatakan,


"Iya sayang, Aku paham ya sudah Aku pulang ya, salam sama Tante Anita" Asri menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Sam pun pulang lalu Asri berjalan ingin masuk rumah tapi tiba-tiba motor dengan pengendara berjaket kulit hitam dan helm hitam serta memakai masker kembali ingin mencelakai Asri.


Dan kini aksinya berhasil jedar.... Asri terjatuh untungnya Asri hanya terserempet tak begitu parah, namun kakinya terluka lagi hal ini menyebabkan Asri jadi sulit berjalan


"Aduh..... Auu..." Asri melihat si pengendara dari kejauhan, Dia mengingat sosok itu lah yang tadi siang ingin menabraknya.


Bu Anita mendegar teriakan Asri dari dalam, lalu Bu Anita berlari untuk keluar dan melihat, Bu Anita kaget ternyata Anaknya sudah tergeletak di pinggir jalan, Bu Anita langsung menghampiri


"Ya ampun sayang .. Ini kenapa Kamu kok disini, loh kaki Kamu luka Nak" ucap khawatir Bu Anita, lalu Bu Anita mengajak Anaknya untuk ke Rumah Sakit, tapi Asri menolak untuk di bawa ke Rumah Sakit, Dia hanya ingin di obati di rumah saja.


karena Asri tetap kekeh tak mau di bawa ke Rumah Sakit Bu Anita pun mengiakan saja keinginan Asri.


Asri langsung di obati oleh Bu Anita dengan menggunakan perlengkapan obat seadanya


"Nak.. Ini kalau bengkak Kamu harus ke Rumah Sakit loh" ucap Bu Anita yang mencoba membujuk Asri lagi


"Kamu kenapa Asri, 2 kali loh, Kamu hampir tertabrak motor, tadi pagi terus sekarang" Bu Anita tak tahu saja yang lebih ekstrim adalah kejadian tadi siang, namun Asri tak ingin memberitahu karena takut jika Mamahnya akan lebih cemas dan khawatir berlebihan.


"Mamah tenang ya, Aku gak papa Mah... Mamah tak perlu khawatir" ucap lembut suara Asri terhadap Mamahnya dengan sopan dan hangat.


Ketika Sam sudah pulang, Sam langsung menuju kamarnya, namun Sam tak melihat Tini ada di dalam, Sam kemudian berganti baju, lalu Tini pun datang dan Tini memandangi Sam sambil menyender di pintu, Ia memandangi Sam dengan begitu tajam setelah Sam selesai berganti baju Tini pun berbicara,


"Sejak kapan Kamu berhubung dengan wanita murahan itu"


"Asri... Dia punya nama, namanya Asri" Tini melengos dengan sinis dan berkata,


"Dia lebih cocok dengan panggilan nama itu Murahan, sejak kapan Sam jawab..?" Tini bertanya dengan nada sedikit meninggi, kini Sam menjawab dengan sejujurnya


"Seminggu setelah Asri jadi Asisten Aku, Aku mulai mencintainya, Aku mulai nyaman dengannya, dan Aku sangat mencintainya" Sam berkata dengan tegas agar Tini sadar jika rumah tangganya sudah tidak bisa di perbaiki.


Mata Tini mulai berkaca-kaca saat mendengar bahwa Sam sangat mencintai Asri


"Terserah Kamu Sam, Kamu sangat mencintai Dia atau tidak, yang jelas Aku tidak Akan pernah terima semua ini, Aku pastikan kekasih Kamu itu tidak akan pernah hidup tenang, Aku.... Aku yang akan membuat hidupnya menderita" Tini berkata sambil menatap tajam wajah Sam penuh dendam

__ADS_1


"Jangan sekali-sekali Kamu coba sakiti Asri, karena Kamu akan berhadapan sama Aku Tin" Tini seperti ingin marah, tapi kemarahan itu Ia simpan dahulu, karena Ia takut Sam akan pergi lalu meninggalkannya


"Kalau papah tahu soal ini, Aku gak bisa jamin Sam, orang yang Kamu cintai itu akan hidup tenang, Kamu tahu Papah kan seperti apa" lalu Sam tiba-tiba tertawa sinis kemudian menjawab,


"Haha... Silahkan Tin Kamu bilang sama Papah Kamu, itu malah bagus supaya Aku bisa cepat keluar dari rumah ini" mendengar hal itu Tini jadi terdiam, Tini berfikir lagi dalam hatinya


"Sebaiknya Papah gak perlu tahu masalah ini, Karena Aku gak mau kehilangan Sam dan memberikan Sam untuk perempuan itu" ucap Tini dalam hatinya.


lalu Sam keluar kamar ingin ke dapur membuat kopi, tak senagaja Dia bertemu Bu Heni di dapur.


Sam tahu pasti Dia akan di tegur oleh Ibu mertuanya itu, tapi Ia tak takut dan meneruskan membuat kopi, dan benar saja Bu Heni langsung bertanya,


"Sam.. Mamah dengar Kamu berselingkuh di belakang Tini, apa itu benar Sam..?" lalu Sam menjawab dengan sopan dan tenang


"Mah.. sekali lagi sebelumnya Aku minta maaf sama Mamah, karena Aku sudah menyakiti Anak Mamah, tapi harus Mamah tahu dari dulu Sam ingin bercerai dari Tini, tapi Mamah juga tahu kan semua itu gagal karena Papah Herman, dan akalnya Tini, Mah... Aku tahu Aku salah, tapi perasaan ini Mah gak bisa di bohongi" Bu Heni menyimak dengan baik ucapan Sam


"Tapi kenapa harus berselingkuh, Kamu bisa kan gugat Tini dulu, lalu Kamu menjalin hubungan dengan yang lain" Sam pun tertawa mendegar ucapan Bu Heni lalu Sam menjawab,


"Mah... apa kalau Aku gugat Tini saat ini, Tini mau.. dan Pak Herman gak akan melakukan sesuatu di luar dugaan, Mamah tenang sebentar lagi juga Aku akan pergi dari sini dan Aku akan gugat Tini secepatnya" ucap Sam dengan tegas terhadap Ibu mertuanya, lalu Sam pergi ke teras untuk bersantai sambil ngopi.


Chandra turun dari mobil, tak lama mobil Rahma muncul dari luar, Chandra memandangi mobil Rahma dan melihat Rahma turun dari mobil


"Kamu habis dari mana, tumben sore pulangnya"


"Aku habis dari supermarket biasa belanja kebutuhan dapur, tolong bantu Aku dong sayang" mendegar kata sayang dari mulut Rahma, Chandra merasa sangat asing sekali.


Lalu Chandra membantu membawakan perlengkapan yang baru saja di beli oleh Rahma.


Ibu Yanti sangat bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Anaknya, lalu Bu Yanti menyapa menantu, juga Anaknya "Kalian kok pulang nya barengan sih Mamah seneng deh lihat Kalian seperti ini"


"Kita gak bareng kok Mah, ketemu di luar cuma Aku minta tolong Chandra suruh bawa ini belanjaan" bicara sambil menunjuk semua belanjaan yang dibawa


"Ya sudah Aku mau ganti baju dulu, mau mandi bersih-bersih" Rama langsung menepis ucapan Chandra,


"Eh tunggu mau aku buatkan air hangatnya"


"Gak perlu... Kamu lebih baik bantu Mamah saja di dapur ya" Chandra bicara dengan suara lembut terhadap Rahma, tentu saja hal ini sangat membuat Rahma bahagia, Rahma pun tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2