
Tak lama Andi pergi, Herman mendapatkan panggilan dari anak buahnya yang sedang mencari informasi mengenai properti milik Pak Faris
"Halo... informasi apa yang Kamu dapat?"
tanya Herman dengan wajah yang serius
"Pak Faris punya gudang penyimpanan barang di daerah Langon, dan Ia punya pabrik tekstil Pak, yang di kelola oleh orang kepercayaannya"
"Lalu Fahmi itu pekerjaannya apa?"
"Yang Kami tahu, Fahmi tidak pernah menurut dengan perintah Pak Faris, namun Pak Faris selalu memberikan apa yang di minta oleh Fahmi, dan Fahmi kesehariannya hanyalah mabuk-mabukan dan menghamburkan uang Orang Tuanya"
"Bagus.."
Herman kini tersenyum jahat, sepertinya ide jahatnya telah muncul dalam benaknya
"Saya ingin Kamu lakukan rencana, tapi ini harus dilakukan secara rapih, Saya tidak ingin polisi bisa melacak Kalian"
"Baik Pak.. memangnya Kami harus berbuat apa?"
"Kalian bakar gudang penyimpanan barang milik Pak Faris, dan Kalian harus rusak alat di pabrik tekstil, harus diam-diam terserah mau dengan cara apa saja"
"Kami mengerti Pak.."
panggilan pun di akhiri dan Herman yakin jika Faris bangkrut otomatis Fahmi akan gila, karena tidak dapat lagi menghamburkan uang, dan jika jatuh miskin, mau tak mau pasti semua akan berada dalam genggaman Herman.
Segerombolan preman itu pun memulai rencana untuk membagi dua kelompok, yang satu ke gudang penyimpanan dan yang satu ke tempat pabrik tekstil.
Setelah selesai makan siang, Sam pamit untuk kembali ke kantornya
"Bu.. Aku berangkat kerja lagi ya"
"Ya Sam.. hati-hati"
sebelum Sam memasuki mobil Tini memanggil dan menghampiri Sam
"Ada apa?"
tanya Sam dengan nada ketus
"Tidak.. Aku hanya ingin mengatakan selamat bekerja, dan cepat pulang"
namun Sam tidak terlalu menanggapi perkataan Tini, Ia hanya menjawab ya saja dengan singkat.
Setelah Sam jauh dari rumah, Bu Fatma berkata,
"Kalau ingin mengambil hati Sam, mungkin akan butuh waktu lama, karena rasa cintanya, saat ini tidak untuk Kamu, Kamu harus sabar untuk hal ini"
Tini hanya melirik ke samping sambil mendengarkan perkataan Bu Fatma, dalam hati Tini berkata,
"Ibu tenang saja, Aku akan berusaha agar Sam mau menggauli Aku walau itu hanya dusta"
Tini hanya menunggu perintah Papahnya untuk menjalankan rencana yang sudah di buat, tak lama ponsel Tini berbunyi dan itu panggilan dari Herman
"Pah..."
Tini melihat situasi sepertinya Bu Fatma sudah masuk ke dalam rumah jadi Ia memutuskan untuk bicara disini saja
"Tini Papah sudah menjalankan rencana, Kamu lihat nanti besok atau lusa Kamu akan dengar kalau yang namanya Fahmi itu, akan jatuh miskin"
"Papah menjalankan rencana apa memang?"
"Itu urusan Papah, sekarang Kita atur rencana Kamu, saat ini yang Kamu takutkan adalah Kamu takut akan hamil anak bajingan itu bukan?"
"Iya Pah.. lalu bagaimana rencananya Pah"
"Kamu beri obat tidur untuk Sam saja, jika mencari obat yang Kamu cari waktu itu, sepertinya akan sulit Tini, jadi Kamu beri obat tidur saja, lalu Kamu buka semua pakaian Sam seolah-olah Kalian telah melakukan hubungan suami Istri"
"Aku mengerti Pah.. baik.. terimakasih ya Pah untuk rencananya, semoga rencana ini Sam tidak akan pernah tahu"
"Dia tidak akan tahu, Kamu tenang saja"
Obrolan pun selesai, Tini tersenyum senang, Dia pun akan pergi ke apotik saat ini juga, untuk membeli obat tidur dan melaksanakan rencananya malam ini.
"Kamu mau pergi lagi Tini?"
"Iya Bu.. sebentar saja, Ibu mau Aku belikan apa?"
"Terserah Kamu saja Tini, Kamu hati-hati"
Tini pun pergi dengan wajah yang merona bahagia, Dia merasa yakin jika rencana Papahnya akan berhasil lagi seperti rencana Herman saat membuat Sam tak jadi menggugatnya.
Di kantor Pak Faris berbicara pada Sam melalui telepon Kantor
"Sam.. jangan lupa acara launching lusa nanti, oh ya, Kamu harus ajak Istri Kamu ya, Karena Pak Ammar berkata, akan lebih baik membawa keluarga walau hanya satu, supaya keluarga bisa tahu dan berkenalan dengan banyak klien"
__ADS_1
Sam terdiam, dalam hatinya sebenarnya tak ingin mengajak Tini, tapi jika Ia tidak mengajak Tini, Pak Faris pasti akan banyak bertanya
"Baik Pak.. Saya mengerti"
mau tak mau Sam akan membawa Tini ke acara launching pembukaan hotel di Bandung.
Sore hari pun tiba, sudah saatnya Chandra pulang dan seperti biasa Ia menghampiri Asri untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang masih tertunda.
"Assalamualaikum"
di bukakanlah pintu oleh Asri
"Chandra... silahkan masuk"
"Sepertinya Kamu sudah mahir dalam berjalan"
"Ya.. Lumayan Chan, Rahma bagaimana apa Dia marah pada Aku?"
"Marah.. marah kenapa..? tidak kok, Dia tidak mungkin marah, Kamu tenang saja"
"Ya sudah mana, pekerjaan yang harus Aku kerjakan"
Saat tengah mengerjakan pekerjaan Asri pun bercerita mengenai Andi dan Kasih
"Jadi Mereka akan segera Menikah?"
"Iya.. tapi Aku juga belum tahu kapan dan tanggal berapa"
"Lalu Kamu bagaimana sudah ada perusahaan yang melirik CV Kamu"
Asri pun tertawa kecil saat mendengar ucapan Chandra
"Chan.. Kamu tuh ngawur ya, jangankan di lirik, baru melihatnya saja, semua Perusahaan pasti akan menolak"
"Loh.. kenapa, Aku pikir soal Kaki tidak akan jadi masalah"
"Bukan Kaki.. tapi daftar hitam nama Aku"
Chandra baru teringat jika nama Asri sudah masuk daftar hitam
"Aku hampir lupa soal itu, jadi itu benar dan semua perusahaan tidak ada yang ingin menerima Kamu bergabung"
"Ya begitulah..."
"Jadi ini alasan Kamu pulang lebih cepat tadi"
"Iya Mah.. maaf ya Aku belum sempat bicara sama Mamah"
"Ya gak apa-apa Asri, jadi sekarang Kamu sudah tidak bisa bekerja di perusahaan mana pun?"
Asri terdiam karena bingung untuk menjawabnya
"Mah.. mungkin bukan rezeki aku, saat ini Aku sudah pasrahkan hidup Aku akan menjadi seperti apa kedepannya, Aku hanya butuh doa Mamah untuk Aku dan calon anak ini hidup bahagia"
Candra merasa sedih mendengar perkataan Asri, rasa-rasanya jika di bolehkan untuk beristri lagi, Ia ingin sekali menikahi Asri bertanggung jawab menjadi Ayah untuk Anak dalam kandungan Asri.
hampir jam 5 sore, Andi mendatangi Rumah Makmun
"Assalamualaikum.. Kasih"
Makmun baru saja datang sehabis pulang dari kantor, lalu Ia melihat sosok andi di depan pintu rumahnya, Ia pun jadi mengingat ketakutan Kasih soal kejadian malam itu.
Makmun berdiri terdiam di belakang Andi, saat Andi menoleh Ia kaget akan kehadiran Makmun yang sudah berada tepat di belakangnya
"Ya ampun Makmun, Lo mengagetkan Gue"
"Maaf Andi, Aku baru saja datang Lo mencari Kasih ya"
"Ya.. Gue ingin fitting baju pengantin, karena Gue mau Dia tampil cantik saat jadi bidadari Gue"
semakin besar rasa bersalah Makmun terhadap Andi, bagaimana jika Andi tahu jika dirinya telah merenggut kesucian Kasih, Andi sudah pasti akan membencinya tapi bukan itu yang Makmun pikirkan Ia memikirkan bagaimana nasib Kasih jika rahasia ini terbongkar.
"Makmun..."
Andi memanggil Makmun berkali-kali, pikiran Makmun sedang kemana-mana, Ia kini terdiam melamun seperti orang kehilangan arah, lalu Andi menepuk pundak Makmun, hingga Makmun tersadar dari lamunannya
"Eh iya..ada apa Andi?"
"Lo kenapa sih..?"
"Gak.. mungkin Gue capek, Gue panggilkan Kasih sebentar ya"
Makmun pun masuk dan memanggil Kasih menghampiri Kasih di dapur
"Kasih.. ada Andi di depan"
__ADS_1
"Andi.."
Kasih segera mencuci wajahnya lalu Ia berkaca dan melihat di sekitar matanya
"Sembab, Andi curiga tidak ya"
Kasih bicara pada dirinya sendiri, lalu Kasih pergi dengan berjalan cepat menemui Andi.
"Andi.."
Andi menoleh dan tersenyum
"Hay..."
Andi sedikit memperhatikan wajah Kasih
"Mata kamu kenapa, seperti habis menangis"
Kasih merasa gugup jika sudah ditanya seperti ini, tapi Kasih harus tetap terlihat biasa saja agar Andi tak mencurigainya
"tadi terkena debu sedikit, lalu Aku menggaruknya karena gatal, jadi beginilah mata Aku sembab"
"Yakin ... karena debu, bukan yang lain"
"Bukan Andi.. oh ya, Kamu datang kesini ada apa?"
Andi tersenyum ketika Kasih bertanya maksud kedatangannya
"Aku mau mengajak Kamu fitting baju pengantin"
Kasih terdiam seperti ingin menangis saat Andi mengatakan hal itu, namun Ia sekuat tenaga menahan tangisnya dan tersenyum seakan ikut bahagia
"Oh ya.. berarti Aku harus berganti baju dulu ya"
"Ya sayang.. Aku tunggu ya jangan lama-lama"
Kasih segera meminta izin pada Bu Alya untuk keluar sebentar bersama Andi
"Kamu ingin fitting baju pengantin"
"Iya Bu.. Aku permisi dulu"
Kasih yang biasanya bersemangat pergi bersama Andi, namun sekarang semangatnya menurun, Ia berbicara pun hanya seadanya kepada Bu Alya
"Kasih.. hati-hati ya.. Ibu doakan supaya pernikahan Kamu lancar"
Kasih hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi dari rumah Makmun
"Ayo Kita berangkat"
ajak Kasih terhadap Andi.
Di sepanjang jalan Kasih hanya terdiam membisu tak seperti biasanya, hal itu membuat Andi menjadi bertanya-tanya ada apa dengan Kasih
"Sayang.. Kamu kenapa sih?"
Kasih melirik Andi, merasa bersalah karena sudah membohonginya, karena Kasih tak menjawab pertanyaan Andi, Andi pun memarkirkan mobilnya ke pinggir, untuk meminta penjelasan atas perubahan sikapnya yang aneh ini
"Sayang.. Kasih.. Kamu kenapa, Kamu tidak bahagia akan menikah dengan Aku?"
"Tidak.. bukan begitu Andi, Aku hanya bersedih tapi bahagia, Kamu mengerti kan, bahagia karena Aku dan Kamu akan bersama lagi, bersedih karena Papah Kamu tak kunjung merestui Kita"
"Jadi karena itu Kamu terlihat bersedih"
"Andi, jika Aku melakukan kesalahan besar apa Kamu akan memaafkan Aku"
pertanyaan yang sungguh aneh bagi Andi
"Apapun kesalahan Kamu aku pasti maafkan asal jangan kesalahan menduakan Aku, Aku tidak akan pernah memaafkan itu, karena Aku sudah berkorban sejauh ini untuk Kamu, jadi tolong jangan khianati Aku ya"
Kasih bersedih dengan jawaban Andi, Ia memang tak pernah menduakan nya tapi dengan tak sengaja Ia sudah mengkhianatinya
"Hey.. Kamu kenapa sih, sepertinya ada yang sedang menjadi beban pikiran Kamu"
tiba-tiba Kasih memeluk Andi dengan erat, dalam hatinya selalu berkata maafkan Aku berulangkali. Andi merasa sangat heran dengan sikap Kasih saat ini
"Sudah ya.. jangan menangis lagi, Kita kan ingin fitting baju, Aku ingin Kamu saat di foto terlihat cantik, bukan sembab seperti ini"
Kasih pun tersenyum saat Andi bergurau
"Ya.. baik.. Aku akan hapus air mata ini, Aku mencintai Kamu Andi"
"Sama...Aku juga"
Akhirnya Mereka sampai di tempat fitting baju pengantin, Kasih sejenak melupakan masalah tentang kesuciannya, yang terpenting bagi Kasih Dia akan menikah dengan orang yang memang dari dulu Ia sangat cintai.
__ADS_1