Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
284. Ungkapan Hati Anak-anak


__ADS_3

Jika sore hari, keempat anak Aska akan berada di ruang keluarga untuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Tentunya ditemani.oleh sang bunda. Merek mengerjakan tugas dengan tertib, tidak ada keributan. Juga saling membantu satu sama lain jika di antara mereka tidak ada yang mengerti. Jingga merasa bangga kepada keempat anaknya. Selama berada di Singapura, keempat anaknya sudah tidak pernah berbutan barang ataupun mainan.


Suara deru mesin mobil terdengar. Keempat anak Aska saling pandang. Begitu juga dengan Jingga.


"Tumben Ayah pulang masih sore," ucap Balqis.


Wajar jika mereka heran kenapa sang ayah pulang di jam lima sore. Biasanya sang ayah akan pulang ketika larut malam dan hampir menjelang pagi.


"Mungkin pekerjaan Ayah sudah selesai," sahut sang Bunda.


Balqis hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin berlari menghampiri sang ayah, tapi dia dituntut untuk tidak manja. Balqis pun lebih memilih untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku tulisnya.


"Assalamualaikum."


Suara yang terdengar sangat gembira dan ceria. Wajah sang ayah pun terlihat berbinar dan juga bercahaya. Tidak seperti hari-hari biasanya.


"Tumben udah pulang?" tanya Arfan.


"Enggak senang kalau Ayah pulang cepat?"balik tanya Aska yang masih menyunggingkan senyum. Dia menatap ke arah ke empat anaknya yang masih fokus pada buku di atas meja.


"senang, kok," jawab anak pertamanya, Abdalla.


"Apang juga senang," sahut Arfan.


Ahlam tidak berbicara. Dia hanya tersenyum dengan begitu manisnya, dan Balqis dia hanya mengangguk menandakan dia juga senang. Sedangkan sang istri sudah melengkungkan senyum yang begitu lebar. Dia menyambut Aska dengan begitu mesra. Meskipun di depan anak-anak mereka.


"Setelah mengerjakan tugas, kita makan di luar ya," ajak sang ayah.


"Kalian mau makan di mana? tanya Aksa kepada keempat anaknya.


"Terserah Ayah saja." Begitulah jawaban Balqis.

__ADS_1


Selama ini mereka tidak banyak menuntut kepada kedua orang tua. Mereka tahu di sini mereka hanya sskeluarga, tidak memiliki sanak saudara. Beda halnya ketika mereka di Jakarta. Mereka bisa meminta tolong kepada sang bubu, kepada Uncle kepada aunty dan kepada para sepupu mereka. Jika, di sini mereka harus dituntut menjadi anak yang baik anak yang tidak nakal. Juga harus menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tua mereka. Walaupun ada tekanan batin yang mereka terima.


Sesuai dengan ucapan Aska mereka berenam sudah tiba di sebuah restoran yang bisa dibilang mahal, tetapi enak. Ini adalah restoran yang sering mereka kunjungi di sana.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Aska.


Kelima anaknya pun menunjuk menu apa yang mereka inginkan. Semua pesanan sudah ada di meja lengkungan senyum masih mengembang di wajah Aska sedari tadi. Jingga sudah curiga. Namun, dia belum sempat bertanya.


Ada acara apa sih, Yah? tanya Jingga. Tidak biasanya di hari kerja seperti ini Aska mengajak mereka keluar rumah.


"Kemasi barang-barang Bunda dan anak-anak, ya." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Aska.


Si kuartet yang tengah menikmati makanan yang mereka pesan pun terdiam. Mereka mulai menatap ke arah sang ayah dengan begitu lekat.


"Kita mau ke Jakarta?" tanya Ahlam begitu datar.


"Iya. Tugas Ayah di sini sudah selesai. Kita akan tinggal bersama Mimo dan pipo lagi. Juga semuanya yang ada di Jakarta." Aska berharap anak-anaknya bisa tersenyum bahagia. Namun dugaannya salah. Keempat anaknya hanya terdiam dan begitu datar.


"Bukannya nggak senang,," jawab Arfan. "Apang capek jika harus dibohongi terus. Apang lelah jika kita mengemasi barang hari ini, besok harinya kita disuruh tetap di sini. Cuma nyapein doang," sahut Arfan. Baru kali ini dia menimpa di ucapan sang ayah dengan kalimat yang cukup lebar


Aska terdiam mendengar ucapan Sang putra yang menusuk ulu hatinya. Dia menatap ke arah jingga dan Jingga pun mengedipkan bahu menandakan dia tidak tahu perasaan anak-anaknya selama ini seperti apa. Jujur setelah ulang tahun yang kedua di Jakarta sikap anak-anaknya sangat berubah drastis. Mereka menjadi anak yang mandiri dan juga tidak pernah menjadi anak yang merepotkan


"Jangan buat janji kepada Aqis lagi, Yah." Kini, Balqis yang menjawab. "Aqis sudah sering kecewa ketika kita tidak jadi terus ke Jakarta. Aqis rindu Kak Ghea, tapi jika ayah tidak bisa Aqis tidak akan memaksa tapi jangan buat janji itu terus. Aqis akan semakin merindukan Kak Ghea." Balqis akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Beberapa kali gagal untuk pulang ke Jakarta ternyata menimbulkan rasa kecewa yang teramat dalam bagi putri bungsunya.


"Iam mah nunggu besok ajalah, Yah. Kalau emang beneran jadi pulang ke Jakarta. Baru Iam beresin. Udah sering di PHP-in jadi udah berbalik malas," tambah Ahlam.


Baru kali ini Aska mendengar kalimat yang seperti ungkapan hati anak-anaknya yang terdalam. kini Aska menatap ke arah Abdalla.


"Benar kata Mas Gavin, Jangan pernah menjanjikan sesuatu jika pada akhirnya tidak bisa menepati janji itu. Rasanya lebih sakit rasanya berlipat-lipat lebih kecewa."


Makanan yang menggugah selera di depan mata pun menjadi makanan yang tidak.membawa selera untuk Aska. Ungkapan hati keempat anaknya membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia merasa teramat bersalah kepada anak-anaknya. Walaupun kesalahannya itu bukanlah disengaja.

__ADS_1


"Anak-anak hanya tidak ingin kecewa lagi, Yah. Bukannya tidak ingin pulang," ralat sang istri.


"Bukan Hanya mereka yang kecewa ketika tidak jadi kembali ke Jakarta. Bunda pun merasakan hal yang sama." Sebuah senyum Jingga berikan kepada sang suami yang sudah terlihat sendu.


Maafkan ayah suara yang begitu lirih keluar dari mulut Askara. sorot matanya pun begitu sembuh terlihat bahwa Aska tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Dia juga meretuki kebodohannya karena tidak menyadari kesalahannya kepada anak-anaknya.


"Tidak ada yang salah, Yah," sahut Abdalla. "Ini hanya masalah waktu saja. Kami yang belum bisa menerima waktu dan keadaan. Walaupun sudah lama menetap di sini, tapi masih belum bisa beradaptasi."


"Semalaman ini Aska tidak bisa tidur. Matanya enggan sekali untuk terpejam. Kalimat demi kalimat yang diungkapkan oleh keempat anaknya membuat dadanya semakin sesak. Rasa bersalahnya semakin menjadi. Meskipun keempat anaknya tidak menyalahkan dirinya, tetap saja semuanya adalah kesalahannya. Dia gagal menjadi seorang ayah untuk sekarang.


Aska merenung di dalam ruang kerjanya seorang diri dengan keadaan lampu yang dimatikan. Dia memejamkan mata untuk sesaat. Menghembuskan nafas kasar berkali-kali hanya untuk meredakan rasa sesak yang masih menempel di dada. Selalu menutupi kebodohannya karena tidak peka terhadap keempat anak-anaknya.


Satu nama yang terlintas di kepala Aska sekarang. Raditya Addhitama yang tak lain adalah Abang iparnya. Dia segera mengambil ponsel. Tak dia pedulikan jam berapa sekarang. Dia menghubungi kakak ipar pertamanya tersebut.


Makian lah yang Aska terima di tengah malam dari mulut pedas sama Abang. Namun tak dia hiraukan. Dia langsung bercerita tentang apa yang tadi anak-anaknya ungkapkan. Radit mendengarkan tanpa menyela sedikitpun cerita dari Aska.


"Anak-anak lu itu adalah anak-anak yang ekspresif. Hanya satu yang pasif, si Abdalla. Gua udah merasakan kejanggalan dari mereka ketika gua jenguk kalian beberapa tahun yang lalu. Mereka sangat berubah, gua seperti tidak kenal mereka." Aska masih mendengarkan.


"Perubahan yang cepat untuk anak di bawah 5 tahun itu sangat tidak wajar bagi gua. Gua sangat melihat sikap mereka itu tidak natural. Ada banyak hal yang harus mereka tahan padahal hal itu adalah yang mereka sukai."


"Kenapa lu gak bilang ke gua?" hardik Aska.


"Perubahan sikap anak-anak lu itu gak membahayakan. Mereka hanya tidak ingin menyusahkan kalian. Mereka sadar, di sana mereka tidak punya siapa-siapa. Sepertinya mereka juga sering melihat Jingga kelelahan. Makanya mereka melakukan itu. Gua juga gak mau menambah beban pikiran lu. Gua tahu, lu juga sedang berada di posisi tertekan." Aska lun menghela napas kasar.


"Ucapan anak-anak lu tadi itu adalah ungkapan dari hati mereka yang terdalam selama 7 tahun ini mereka pendam. Mereka sudah berada di titik lelah mereka sudah tidak ingin berpura-pura lagi." Aska masih mendengarkan.


"Untuk sekarang lu udah tahu kan, apa yang anak-anak lu rasakan selama tinggal di Singapura. Mereka seperti itu karena tidak ingin membuat kedua orang tua mereka semakin kelelahan juga kewalahan. Harusnya lu berdua bersyukur karena memiliki anak-anak yang mampu menahan keinginan, merubah jati diri selama 7 tahun hanya untuk menjadi orang lain demi untuk untuk membahagiakan kedua orang tua mereka." Hati Aska mencelos mendengarnya.


"Lu jangan salahin diri lu terus. Lu gak salah, mereka juga gak salah, Jingga juga gak salah. Justru mereka menjadi pondasi kesuksesan lu. Jika, anak-anak lu menjadi diri mereka yang sesungguhnya gua yakin lu gak akan pernah membuat Wiguna Grup Singpore berdiri tegak seperti sekarang ini. Anak-anak lu adalah kunci keberhasilan lu sekarang." Aska pun tersenyum. Apa yang dikatakan oleh sang Abang memang benar.


"Gua tunggu lu di Jakarta."

__ADS_1


__ADS_2