Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
185. Kuncir Empat


__ADS_3

Bukan hanya di triplets yang menjadi korban dari ngidamnya Jingga. Gavin pun ikut menjadi korban. Anak itu diperlakukan bagai anak perempuan oleh Jingga. Ingin rasanya dia menangis. Namun, Mommy dan Daddy-nya menyuruhnya untuk mengikuti semua kemauan sang Tante.


"Cantik," ucap Jingga sambil bertepuk tangan. Usia kandungan Jingga baru tiga bulan, tetapi nampak seperti enam bulan. Sudah terlihat jelas baby bump-nya.


Bibir Gavin memang tersenyum, tetapi hatinya menangis keras.


"Aku ini cowo, bukan cewe."


Setiap kali istrinya melakukan sesuatu hal dengan keponakannya, sudah pasti dia yang akan terkena sial. Setelah dikuncir bagai Masha and the bear oleh sang Tante, Gavin meminta diantar kepada sopir pribadi kedua orang tuanya untuk pergi ke kantor sang paman. Mang Engkar pun menuruti perintah dari tuan mudanya. Namun, dia juga harus meminta ijin kepada Nyonya besar, siapa lagi jika bukan Riana.


Setelah ijin dikantongi barulah mereka menuju ke kantor Wiguna Grup. Namun, hari ini sang ayah tidak ada di sana. Aksa tengah berada di Bandung. Hanya ada sang paman juga kakeknya di sana.


Mang Engkar mengantar Gavin menuju lantai di mana Aska berada. Semua mata tertuju pada anak usia empat tahun itu. Dia menjadi pusat perhatian semua karyawan. Namun, matanya yang tajam juga wajahnya yang garang membuat semua karyawan enggan menyapanya. Gavin adalah titisan Ghassan Aksara Wiguna. Di mana kemarahannya akan membawa petaka untuk mereka semua.


"Mas, kuncirannya Mang Engkar buka, ya," cetus Mang Engkar. "Biar Mas gak dilihatin sama mereka," lanjutnya lagi.


"Bialin. Bial jadi bukti."


Anak itu sudah berbicara sedikit tegas. Kecadelannya sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit.


Fahrani mengerutkan dahi ketika melihat sopir dari keluarga Sultan datang. Matanya melebar ketika anak Sultan sudah memasang wajah garang. Namun, Fahrani tengah menahan tawa karena Gavin terlihat amat lucu dikuncir seperti itu. Bagai karakter di film kartun."


"Jangan ketawa!" omel anak itu. "Aku bilang ke Daddy. Bial dipecat."


Tawa Faharani pun pecah. Masih kecil saja sudah pandai mengancam. Bagaimana sudah besar. Dia mencubit pipi Gavin dengan sangat gemas hingga meninggalkan warna merah di sana.


"Sakit!" serunya. Tatapannya masih tajam, tetapi tak membuat Fahrani takut. Dia malah lebih takut kepada ayah dari Gavin.


"Aku mau ketemu Uncle."


"Uncle kamu ada di dalam. Silahkan masuk."


Fahrani membiarkan keponakan Aska mengganggu atasannya. Itu sudah sering terjadi. Pintu ruangan kerja Aska terbuka. Dahinya mengkerut ketika melihat Mang Engkar yang mendorong pintu. Namun, ada seorang bocah cilik yang masuk dan melangkahkan kaki menuju ke arahnya.


Aska malah tertawa puas melihat rambut Gavin. Sungguh hiburan baginya di kala kepalanya tengah pusing karena sebuah pekerjaan. Sangat lucu dan imut. Sangat menggemaskan.


Anak itu sudah berkacak pinggang. Namun, Aska masih saja tertawa.


"Tanggung jawab!" serunya.


"Lah, kok minta pertanggungjawabannya ke uncle," elaknya.


"Anteu isteli siapa?" tanya balik Gavin. "Telus, itu dedek bayi siapa?"

__ADS_1


Aska pun terdiam. Anak itu sudah sangat pandai sekali menimpali ucapan Aska. Sang paman pun menghela napas kasar. Dia mengangkat tubuh sang keponakan dan memangkunya.


"Empin mau apa?" tanya Aska.


"Ganti lugi."


Jawaban yang sangat tegas dan tanpa maaf. Aska masih tersenyum menimpali ucapan dari sang keponakan.


"Kenapa Uncle harus ganti rugi? Beri alasannya."


Anak itu menghembuskan napas kasar. Dia menatap ke arah sang paman dengan sangat tajam.


"Anteu ambil foto aku. Telus, dia post di sosial media. Itu melanggal hak cipta. Halus bayal loyalti. Apalagi post tanpa seijin aku."


Askara menggelengkan kepala tak percaya mendengar jawaban dari sang keponakan. Anak ini sudah semakin pintar.


"Siapa yang mengajarkan hal ini?" tanya Aska bingung.


"Pipo. Aku belajal Dali Pipo."


Aksa berdecak kesal. Pelajaran yang Ayahnya berikan sudah setara dengan pelajaran orang dewasa. Namun, anak ini mampu mencerna dengan sangat cepat.


"Ya udah, Uncle harus ganti rugi berapa?" tanya Aska.


"Satu kuncilan sepuluh dollal."


"Jangan mahal-mahal lah," tawar Aska.


"Jangan kaya nawal sayul. Ini udah halga pas."


Mulut anak ini benar-benar pintar sekali. Aska saja yang biasanya mematikan orang dengan mulutnya malah kalah. Gavin perpaduan dirinya dan juga Aksara. Mulutnya pedas dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


"Ngutang, ya."


Mata Gavin mendelik kesal. Dia menatap tajam ke arah sang paman dengan tangan yang dia lipat di atas dada.


"Kele amat, uang segitu ngutang," cibir Gavin. Aska hanya dapat mengelus dada. Sungguh pedas sekali ucapan anak ini.


"Pokonya halus ganti lugi." Bocah itu tidak mau tahu. Jika, perihal uang anak itu tidak bisa diajak kompromi.


Kedatangan Gio membuat Aska dan Gavin menoleh. Gio pun tertawa melihat rambut Gavin. Anak itu turun dari pangkuan sang paman dan mengadu kepada sang kakek.


"Ini semua pelbuatan anteu," adu Gavin kepada sang kakek. Gio segera menggendong tubuh sang cucu yang cukup berat. Hidungnya sudah kembang-kempis membuat Gio mengusap lembut rambut Gavin.

__ADS_1


"Maklumin aja, ya. Mungkin anak-anak yang ada di perut Anteu ingin kenalan sama Mas," ucap lembut Gio.


"Tapi, Anteu langgal hak cipta. Foto aku dipasang di sosial media."


Aska menatap tajam ke arah sang ayah. Kepalanya pun menggeleng membuat Gio tertawa.


"Terus Mas minta ganti rugi?" Gavin pun mengangguk.


"Tapi, gak dikasih. Maunya dihutang," katanya.


Gio menatap tajam ke arah sang putra. Sungguh keterlaluan putra bungsunya itu.


"Mas mau ganti rugi berapa?" tanya Gio.


"Satu kuncilan sepuluh dollal."


Gio menghitung kunciran yang ada di rambut Gavin. Dia menurunkan tubuh sang cucu, lalu mengeluarkan dompetnya.


"Satu kunciran sepuluh dollar. Kunciran yang ada di rambut Mas ada empat. Jadi, jumlahnya ada berapa." Gio akan memberikan uang kepada Gavin dengan metode belajar menghitung.


Anak itu memegang kunciran di kepalanya. "Sepuluh dollal." Kemudian, dia berpindah ke kunciran lainnya.


"Sepuluh ditambah sepuluh," ujar


Gio. Anak itu pun menghitung.


"Sepuluh di mulut, sepuluh di tangan," ucap Gavin. Begitulah metode berhitung yang Gio berikan. Anak itu sangat serius berhitung.


"Dua puluh." Aska tercengang mendengar jawaban dari keponakannya itu. Sungguh encer kepalanya.


"Lanjutin lagi," titah Gio. Anak itu benar-benae cerdas. Terus menghitung dan menghitung.


"Empat puluh," seru Gavin dengan begitu bahagia.


Aska ikut bertepuk tangan mendengar jawaban dari Gavin. Sedangkan Gio sudah tersenyum bangga kepada sang cucu.


Gio mengambil uang dollar Singapura dari dalam dompetnya "Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh." Gio memberikan empat lembar uang bernominal seribu Dollar kepada sang cucu.


"Asyik! Makasih Pipo." Wajah anak itu terlihat sangat bahagia.


"Ini, Pipo tambah seribu dollar lagi. Jadi, berapa?" tanya sang kakek.


Gavin terus menghitung jarinya. "Lima puluh dollal."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2