
"Apa jangan-jangan ...." Pikiran jelek sudah mengitari kepalanya.
Aska mencoba untuk melangkahkan kaki menuju ranjang pesakitan yang dikerumuni banyak orang. Dalam hatinya terus merapalkan doa.
"Ada apa?" Suara Aska menggema dan membuat semua orang menoleh. Jingga yang tengah bersama Fahrani bergegas menghampiri sang suami yang baru saja datang. Pelukan erat Jingga berikan.
"Kenapa dengan Ayah Eki?" tanya Aska.
Tidak ada jawaban dari Jingga. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Askara. Rasa penasaran membuatnya perlahan mengurai pelukan istrinya. Namun, kini dia beralih menggenggam erat tangan Jingga dan melangkah semakin dekat ke arah ranjang pesakitan.
Keterkejutan yang Aska dapatkan. Dia melihat sebuah keajaiban. Dia pun memandang Jingga. Hanya wajah sendu dengan nektra bahagia yang istrinya tunjukkan.
"Ya, Ayah membuka mata," ucap Jingga dengan begitu lemah.
Ada rasa bahagia di dada. Aska berharap dokter Eki merubah sikapnya. Dia juga ingin melihat istrinya bahagia karena bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya yang selama ini tidak pernah Jingga rasakan.
__ADS_1
Tatapan mereka berdua masih tertuju pada para dokter yang menangangi dokter Eki. Radit hanya mengamati dari belakang. Ternyata dugaannya benar. Ada sebuah mukjizat yang diperoleh oleh dokter Eki. Bisa jadi itu adalah kesempatan kedua untuknya.
Setelah pemeriksaan selesai. Dokter pun menghampiri Jingga dan Aska. Menyampaikan apa yang terjadi dengan dokter Eki. Mereka berdua mengangguk mengerti.
"As-ka," panggil dokter Eki dengan sangat pelan.
Aska pun menoleh begitu juga dengan Jingga. Wajah penuh penyesalan dokter Eki tunjukkan. Terlebih kondisinya sangat mengenaskan.
"Ma-af-kan, Ayah."
Suara yang begitu dalam dengan napas yang pendek. Aska melihat ke arah sang istri yang juga ikut terdiam mendengar suara sang ayah yang begitu memilukan.
"Aku senang Ayah sudah kembali sadar." Ucapan yang begitu tulus yang keluar dari mulut Aska, dan mampu membuat dokter Eki terenyuh hatinya.
"Sehat terus ya, Ayah. Saksikan anak-anak kami lahir ke dunia."
__ADS_1
Apa yang dikatakan Gio memang benar. Aska adalah anak yang luar biasa. Hatinya sangatlah lembut. Mampu memaafkan dirinya yang sudah sangat jahat kepada menantunya tersebut. Jingga masih belum bisa berkata. Dia hanya bisa memandang wajah ayahnya dengan tatapan nanar.
"Ma-ka-sih su-dah ma-u men-ja-ga A-yah." Hanya seulas senyum yang Aska berikan. Dia pun mengusap lembut punggung tangan Jingga hingga sang istri pun menoleh. "Ini berkat kehadiran Bunda yang membuat Ayah Eki sadar." Jingga masih membeku. Namun, sorot matanya tak bisa berdusta.
"Bunda, Tuhan memberikan kesempatan kedua ini kepada kita. Jangan pernah menyia-nyiakannya," papar Aska di depan semua orang termasuk dokter Eki. "Lupakanlah apa yang telah terjadi, mulai perbaiki diri kita sendiri agar menjadi manusia lebih baik lagi. Menjaga juga merawat satu sama lain. Pada hakikatnya ikatan darah itu tidak bisa dilepaskan atau dihentikan. Tetap akan mengalir hingga akhir hayat."
Mata Jingga berkaca-kaca mendengarnya. Dokter Eki sudah tidak bisa membendung laju air matanya. Betapa sangat tulus menantunya tersebut. Jingga sangat beruntung bersanding dengan pria yang tidak hanya berparas tampan, tapi juga memiliki hati yang menawan.
Aska membawa tangan Jingga untuk menggenggam tangan mertuanya. Raut wajah Jingga berubah begitu juga dengan dokter Eki.
"Ma-af-kan A-yah, Nak. A-yah su-dah ba-nyak sa-lah." Suara yang terbata-bata sangat lirih terdengar. "A-yah me-mang ja-hat."
Jingga menggeleng dengan cepat. Air matanya sudah tak tertahan dan dia pun memeluk tubuh sang ayah dengan begitu erat.
"Maafkan aku juga, Ayah. Aku sayang Ayah."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...