Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
MEMBERI UNDANGAN


__ADS_3

Rasa gugup kini menjumpai perasaan Chandra ketika Rahma mendekatinya


"Rahma.. Aku capek sekali, Aku ingin istirahat"


Chandra bicara sambil menjauh sedikit dari Rahma


"Oh.. capek.. kalau wanita itu yang memakai pakaian ini, apa Kamu menolak Dia?"


Chandra terdiam menatap Rahma dengan sangat dalam, Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Rahma


"Kamu Bicara apa?"


"Tidak.. lupakan saja, baiklah kalau Kamu capek, tidak apa-apa Aku tidak akan meminta"


Rahma langsung menarik selimutnya dan tidur menghadap ke samping, Dia masih penasaran kemana Chandra pergi hari ini dan dengan siapa, namun Rahma pikir belum saatnya harus mengatakan ini, Dia ingin mencaritahu dulu dengan usahanya sendiri.


Chandra hanya terdiam merasa tak enak karena telah menolak Rahma, lalu Ia berusaha mengajak ngobrol Rahma, namun Rahma tak menghiraukannya dan berpura-pura tidur.


Adzan subuh berkumandang, Sam terbangun dari tidurnya, Ia memegangi kepalanya seakan merasakan sakit kepala, saat Ia sudah membuka mata, berapa terkejutnya Sam saat melihat dirinya tak berpakaian sehelai pun apalagi saat melihat Tini ada di sampingnya, Sam benar-benar syok


"Kenapa Tini ada disini, dan Aku.. tidak.. ini tidak mungkin"


tiba-tiba Tini ikut terbangun, Ia membuka mata, lalu tersenyum pada Sam seolah-olah Ia menganggap hal ini biasa saja


"Tini.. kenapa Kita seperti ini?"


Tini duduk dan memulai aktingnya


"Kenapa Sam, semalam kan.. Kita habis bercinta"


Tini memegang pundak Sam, namun Sam menepis tangan Tini seakan tak terima dan tak percaya jika dirinya telah menggauli tini semalam


"Tidak mungkin, ini gak mungkin"


"Kenapa gak mungkin Sam, Kita suami istri loh gak ada yang salah dengan ini semua"


"Diam Kamu... Tini gak mungkin Aku melakukan itu ke kamu, jangankan menyentuh Kamu Aku melihat Kamu saja, sudah enggan rasanya"


"Sam.. Kamu keterlaluan, Aku bisa terima Kamu selalu mengacuhkan Aku, tapi tidak untuk ini Sam, Kamu manusia biasa yang bisa saja khilaf, lagi pula Aku ini istri Kamu, tidak ada yang salah dengan apa yang Kita lakukan"


Sam terdiam tetap tak percaya dengan ini semua, kemudian Sam bangun dan menuju kamar mandi, Ia berdiri menghadap cermin, dan tiba-tiba Ia menonjok kan tangannya ke dinding kamar mandi hingga tangannya terluka.


Tini kaget mendegar benturan itu, namun Ia tak peduli, yang penting baginya rencananya berhasil, Tini tersenyum puas.


"Sepertinya Sam benar-benar frustasi, itu artinya mau tidak mau, Kamu akan mengakui kalau Kamu memang meniduri Aku"


ucap Tini dalam hatinya


Sam sungguh kecewa pada dirinya sendiri, Dia sungguh merasa benci pada dirinya sendiri, Dia benar-benar sudah mengkhianati cintanya


"Maafkan Aku Asri, Aku pikir Aku menerima pernikahan ini lagi, Aku bisa menjaga diriku, tapi... apa yang sudah ku lakukan"


Sam jadi teringat Asri dan bersedih.


Chandra menduduki meja makan untuk sarapan pagi, lalu Rahma bertanya lagi apakah hari ini akan lembur lagi atau tidak, Chandra menjawab,


"Tidak.. Aku tidak lembur hari ini, karena besok Aku harus ke Bandung menghadiri acara launching pembukaan grand hotel milik Pak Ammar"


"Ke Bandung.. bersama Papah juga?"


Pak Rohman menyahuti


"Tidak Rahma, Papah tidak ikut, paling Pak Herman yang ikut"


lalu Chandra menjawab ucapan Pak Rohman


"Jadi Pak Herman yang datang"


"Ya Chan, Kamu tidak ajak Rahma"


"Tidak Pah.. acaranya sebentar, Aku tidak ingin lama-lama disana, jadi lebih baik Rahma tidak usah ikut, Kamu gak apa-apa kan di rumah saja"


"Iya tidak apa-apa kok, Chan.. nanti malam, Kita makan malam bagaimana Kamu mau tidak?"


Rahma meminta dan mengajak Chandra di hadapan kedua orangtuanya membuat Chandra tak bisa menolak


"Iya.. nanti malam, Kamu siapkan baju untuk Aku dan tampil secantik mungkin, ya sudah Aku berangkat sekarang, Pah... Aku duluan ya"


"Ya Chan.. hati-hati"


Rahma tersenyum bahagia, akhirnya dinner yang Ia tunggu-tunggu kesampaian juga, lalu Bu Yanti mengajak Rahma ke salon supaya nanti malam, Chandra semakin cinta terhadapnya.


Bu Anita tengah bersiap dan tidak lupa Ia menyiapkan sarapan untuk putrinya


"Sayang.. Mamah duluan berangkat ya, Kamu sarapan saja dulu sendiri"


"Iya Mah... Aku mau mencari pekerjaan hari ini, insyaallah Aku mau lepas tongkat ini Mah"


"Loh.. memangnya bisa?"

__ADS_1


untuk meyakinkan Bu Anita Asri pun berdiri, Bu Anita takjub melihatnya


"Masha Allah.. jadi saat ini Kamu sudah bisa melepas tongkat Kamu"


Asri tersenyum memperlihatkan, bagaimana rasa bahagianya terhadap Mamahnya.


"Lalu Kamu mau melamar pekerjaan dimana?" "Aku gak tahu Mah.. sepertinya bukan di Perusahaan karena nama Aku sudah tidak diterima dimana pun"


"Ya sudah.. yang penting Kamu hati-hati, jangan memaksakan diri ya, kalau begitu Mamah berangkat"


Asri bersaliman dengan Bu Anita, Bu Anita pun pergi berlalu.


Saat di kantor Chandra menghubungi Asri memberitahu jika hari ini Ia tak lembur, dan Chandra meminta Asri untuk prepare ke Bandung besok


"Besok ya.. Aku sampai lupa"


"Iya.. besok, Kamu siap-siap ya"


"Iya Chan.."


Chandra pun memulai pekerjaannya begitupun Asri berangkat dengan menaiki taksi dan menuju dealer terbesar di Jakarta.


Sementara Sam terdiam tak bicara sedikitpun di meja makan, membuat Bu Fatma bertanya-tanya ada apa dengan Putranya itu


"Sam.. Kamu kenapa?"


Sam hanya melirik Ibunya, namun Ia tak menjawab, tiba-tiba Tini berbicara


"Dia syok Mah.. semalam habis tidur dengan Aku, dan Dia tidak percaya jika Kita sudah melakukan hubungan Suami istri"


Bu Fatma terkejut hingga Ia memegang dadanya


"Apa...?"


Sam menjadi khawatir saat Ibunya berkata sambil memegang dadanya


"Ibu.. Ibu gak apa-apa?"


Bu Fatma melihat luka di jari jari Sam


"Tidak apa-apa Sam, Ibu hanya kaget mendegar ucapan Tini, tangan Kamu kenapa Sam, Kamu.."


"Tangan ini tidak seberapa sakit Bu, Sudahlah Bu.. Aku juga tidak tahu, kenapa bisa terjadi semalam"


"Kamu mabuk..?"


Tini hanya menyimak percakapan Mereka berpura-pura seolah kejadian semalam, memang Sam menghendakinya


"Sam.. Kamu kenapa sih masih saja bingung, Kita suami istri, hal wajar buat Aku"


"Memang wajar jika saling mencintai, tapi Aku sungguh tidak menyadari hal semalam, jadi tolong jika berbicara Kamu pikirkan dulu, sebelum berucap"


Bu Fatma masih tak percaya jika Sam melakukan itu, walaupun memang hal wajar, tapi sungguh Bu Fatma mengenal Putranya.


"Sudah.. sudah.. Kalian ini bertengkar terus, Sam kalau memang semalam itu terjadi, Kamu laki-laki normal, Ibu menganggap mungkin saja itu terjadi"


Di dalam hati Sam sebenarnya ingin menyangkal ucapan Ibunya, tapi Dia tak ingin berdebat


"Sudah Bu.. tolong jangan bicarakan ini lagi, Aku berangkat kerja Sekarang"


Sam pun pergi dengan perasaan yang masih ragu akan hal semalam.


Saking tak percayanya, Sam sampai tak fokus bekerja, memikirkan kenapa hal itu sampai terjadi


"Bodoh... kalau Tini hamil lagi, akan semakin sulit untuk Aku melepaskannya"


Sam mengusap-usap wajahnya seperti orang yang sedang depresi, lalu datang sekretaris Pak Faris, yang ingin meminta tandatangan Sam


"Iya ada apa..?"


"Saya ingin minta tanda tangan Pak..Pak Faris tadi menitip pesan jangan lupa untuk besok di siapkan ya Pak yang perlu di bawa"


"Iya Mbak Risa, Saya mengerti"


Sam berpikir jika terus-menerus begini, akan sangat mengganggu pekerjanya, lalu Ia memutuskan ke pantry membuat kopi supaya pikirannya fresh dan tidak stres lagi.


Andi mendatangi kantor Retro membawakan undangan untuk Chandra, Juvi Makmun juga Pak Herman, setelah itu.. Ia akan mendatangi kediaman Rumah Herman mengantarkan undangan untuk Papahnya juga Bu Heni, Saat di koridor Ia berpapasan dengan Juvi


"Pak Andi.. ada disini?"


"Iya.. Saya sedang ada urusan, oh iya Pak Juvi ini Saya ingin mengantarkan undangan pernikahan Saya, tolong hadir ya jika ada waktu"


Juvi pun menerima undangan tersebut


"Kalau begitu Saya permisi dulu ya Pak Juvi"


Kini Andi memasuki ruangan Makmun, tapi di ruangan tak ada siapapun karena makmun belum datang


"Jam segini belum datang, mungkin Dia di rumah sakit sepertinya"

__ADS_1


ucap Andi dalam hatinya, lalu Ia memutuskan untuk pergi ke ruang kerja Chandra


"Permisi Pak.."


Chandra menoleh dan menjawab,


"Andi.. ada apa?"


"Pak Chandra tidak usah jutek seperti itu Pak, Maafkan Saya jika Saya punya kesalahan dengan Anda"


Chandra terdiam menatap Andi tak menjawab


"Begini Chan... Gue datang kesini, untuk memberikan ini"


Chandra menerima undangan tersebut lalu membuka dan membacanya


"Kamu mau menikah Rabu besok"


"Ya.. Gue sudah mempersiapkan semuanya, walaupun tidak mewah, tapi acaranya sesuai dengan permintaan Kasih"


"Ya.. selamat ya, semoga acaranya lancar, tidak ada halangan"


"Baik.. kalian begitu, Gue ingin ke ruangan Pak Herman, Lo datang ya salam dengan Istri Lo"


Chandra yang memang tak baik hubungannya dengan Andi Dia hanya menganggukkan kepala, dan tersenyum kecil sebagai bentuk rasa menghargai Andi.


Saat ingin mengetuk pintu ruangan Herman, Andi merasa gugup di dalam hatinya, Andi membuka pintu dan memberi salam terhadap Herman


"Assalamualaikum permisi"


Pak Herman menoleh, lalu tersenyum melihat keponakanya datang ke kantornya


"Andi.. silahkan masuk, ada apa Kamu kesini, atau Kamu ingin kembali pulang ke rumah"


"Om.. tolong ga perlu bahas masalah ini lagi, Aku kesini ingin memberikan ini untuk Om"


Pak Herman menerima dan membacanya, betapa kagetnya Herman saat melihat isi surat tersebut


"Apa.. ini tanggal pernikahan Kamu dengan Kasih"


"Iya Om...nanti Om datang ya"


"Kamu gila ya Andi, jadi Kamu benar-benar ingin menikah tanpa restu Papah Kamu"


"Om... kemarin kan Aku sudah bilang, jika Aku akan tetap menikah meskipun tanpa restu Papah"


"Lalu Papah Kamu bagaimana sudah tahu hal ini"


"Belum.. ini juga Aku akan mendatangi Papah dan Tante Heni, Aku permisi dulu ya Om"


Andi pergi begitu saja, sedangkan Herman masih terdiam tak percaya bahwa keponakanya akan senekat ini


"benar-benar di luar dugaan, perang akan terjadi lagi pasti"


ucap Herman dalam hatinya tentang masalah undangan yang akan Andi beri kepada Papahnya.


Andi kini sampai di kediaman Herman, Andi menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan perlahan


"Bismillah.. semoga Papah mengerti dengan pilihan Aku"


ucap Andi pada dirinya sendiri dengan suara yang pelan


"Assalamualaikum.. Tante.. Papah.."


Bu Heni keluar menghampiri asal suara


"Andi... ya ampun.. Kamu kesini Nak.. mana kasih"


"Aku tidak bersama Kasih Tante, Aku sengaja kesini karena..."


belum selesai bicara Heri datang dan langsung berbicara


"Karena apa...?"


Bu Heni dan Andi menoleh


"Papah... apa kabar Pah?"


"Andi.. sudah tidak usah basa-basi, Kamu kemari ada apa?"


sepertinya rasa marah Heri terhadap Andi masih ada, hingga Andi datang pun Heri sangat tidak ramah terhadapnya


"Heri.. ini anak Kamu, yang ramah sedikit kenapa?"


"Pah.. Tante.. Aku kesini ingin memberikan ini"


"Ini apa Andi"


Bu heni membuka dan membacanya, betapa terkejutnya saat Bu Heni tahu jika surat ini adalah undangan pernikahannya dengan Kasih.

__ADS_1


__ADS_2