Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
182. Rifal


__ADS_3

Kebahagiaan Aska dan Jingga berbanding terbalik dengan kondisi sang sepupu. Keysha, dia tengah memandangi aliran sungai yang begitu jernih dan juga bersih, yakni sungai Aaree yang berada di Kota Bern, Swiss.


Sungai Aare adalah sungai terpanjang di Swiss, yang membentang sejauh 288 kilometer dan mengalir ke seluruh Swiss. Sungai ini sudah diakui sebagai salah satu warisan dunia, dan tercatat di Situs Warisan Dunia UNESCO.


Mengalir di tiga sisi kota Bern, airnya yang berwarna biru kehijauan, sebening kristal, menjadikan sungai ini sebagai arena favorit bermain air bagi para perenang di musim panas.


Itulah yang menjadikan sungai ini memberikan ketenangan untuk hatinya yang tidak sedang baik-baik saja. Hatinya yang masih sakit tak berdarah dan terus menangis di dalam diam.


Alasannya menghilang karena dia tidak ingin terus menjadi bulan-bulanan pertanyaan orang lain. Dia ingin menyembuhkan lukanya yang mungkin akan sulit disembuhkan. Masih terasa sakit walupun sudah hampir satu tahun berlalu.


"Bagaimana kabarmu? Pasti kamu sudah bahagia bersama istri Solehah kamu. Pasti sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah."


Gumaman yang teramat menyayat hati. Keysha hanya bisa memegang dadanya. Ingin sekali dia mencari tahu perihal mantan kekasihnya itu, tetapi hatinya pasti tidak akan sanggup.


"Kamu pasti sudah bahagia di sana. Sedangkan di sini, aku masih terluka dan mungkin luka itu akan terus menganga."


Perempuan itu adalah makhluk yang paling rapuh. Disakiti saja bisa rapuh. Luka dari sakit itu akan terus membekas hingga mereka menutup mata.


Arus sungai Aaree bagaikan alunan melodi yang menenangkan baginya. Ingin sekali dia menenggelamkan kenangannya bersama Rifal agar terbawa arus sungai Aaree yang cukup deras.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Keysha. Dia merutuki kebodohannya karena belum bisa melupakan sosok yang kini menyakitinya.


"Apa aku terlalu cinta kepada kamu?"


.


Di negara yang berbeda, seorang pria dewasa menatap langit senja yang begitu indah. Enggan rasanya untuk kembali pulang. Dia bagai terkurung di kerangkeng besi. Tidak bisa pergi ke mana-mana karena sang kakak juga adiknya sudah mengatur semuanya.


Rumahku, istanaku. Itu tidak berlaku bagi Rifal. Rumahnya bagai neraka untuknya. Dia sangat muak melihat Ellyna yang masih ada di rumah sang ayah.


Setiap pulang bekerja, sudah pasti dia akan disambut aroma makanan yang lezat. Namun, perutnya sama sekali tidak menggubris apa yang dimasakkan oleh Ellyna. Seakan semuanya tidak menggugah selera.


Meskipun begitu, Ellyna terus membuatkan makanan untuk suaminya. Itulah kewajibannya, berujung di tempat sampah itu sudah biasa. Itu tidak akan menjadi masalah besar untuknya.


Seperti malam ini, Rifal pulang cukup larut malam. Ellyna masih menunggunya di ruang tamu dengan lampu yang dipadamkan. Ketika mendengar suara deru mesin suaminya, dia segera bangkit dan masuk ke dalam kamarnya. Dia hanya memastikan bahwa suaminya pulang malam ini.


Suara langkah tedengar memasuki rumah yang cukup besar. Tempat yang pertama kali Rifal datangi adalah dapur. Dia mengembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Kebiasaan!"


Dia berlalu begitu saja, menuju kamarnya. Di atas tempat tidur sudah ada piyama yang Ellyna siapkan. Namun, tak pernah sekalipun Rifal menggunakannya. Dia akan memilih bajunya sendiri.


"Norak!"


Kamar dua manusia itu memang terpisah. Itupun diketahui oleh Radit, tapi tidak dengan Rindra. Jika, Rindra tahu sudah pasti Rifal akan disuruh angkat kaki dari rumah itu.


Setelah tujuh hari kepergian Addhitama. Tercetus ide di mana Rifal akan menceraikan Ellyna. Wanita berhijab itu diajak berbincang berdua.


"Kamu tahu pernikahan kita ini salah," ujar Rifal. Ellyna hanya terdiam. Dia menatap wajah suaminya dengan seksama. Hatinya sudah berdegup tak berirama.


"Kamu juga mengetahui siapa wanita yang aku cintai. Wanita yang masih ada di kepalaku sampai saat ini. Wanita yang terluka karena pernikahan tak jelas ini."


Hati Ellyna sakit mendengarnya. Namun, dia tidak boleh terlihat rapuh di mata Rifal. Pernikahan tak jelas, bukankah itu terlalu menyakitkan untuknya. Tidak ada pernikahan. Semua pernikahan itu suci di mata Tuhan.


Rifal menyodorkan secarik kertas. Di mana di atas kertas itu tertulis sebuah perjanjian. Juga tertulis sebuah kata TALAK.


"Tanda tanganlah!"


"Apa Mas sama sekali tidak akan memberiku kesempatan?" tanya Ellyna tanpa ragu. "Kenapa Mas selalu menutup pintu hati, Mas?"


Dari tidak berani, kini dia berani mengungkapkan semuanya. Dia benar-benar mengeluarkan semua unek-unek yang ada.


"Kenapa kamu tanya apa yang sudah kelas jawabannya?" sergah Rifal. "AKU TIDAK MENCINTAI KAMU!"


Kalimat yang penuh dengan penekanan. Ingin rasanya Ellyna mengusap dadanya, tetapi malah bibirnya yang terangkat sedikit. Menandakan bahwa terlalu sakit perkataan Rifal yang tidak manusiawi itu.


"Jangan mempersulit perceraian ini," tekan Rifal. "Aku ingin bahagia dengan wanita yang aku cinta."


"Mas, aku juga ingin bahagia hidup bersama kamu. Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan ini. Aku tidak ingin melanggar janji suci pernikahan kita."


Hanya hatinya yang dapat menimpali ucapan Rifal. Mulutnya terlalu Kelu untuk menjawab semua itu. Tenggorokannya tercekat ketika ingin membuka suaranya.


"Aku meminta waktu," ucap Ellyna.


Rifal pun berdecih kesal. Dia menatap nyalang ke arah Ellyna.

__ADS_1


"Waktu? Untuk apa?" sergahnya. "Kamu ingin mengukur waktu. IYA!"


Suara Rifal semakin meninggi. Ellyna hanya dapat tertunduk dalam. Apakah pernikahannya harus berakhir seperti ini. Jangankan melakukan ritual malam pertama, Rifal juga tidak memberikan ruang perkenalan kepada dirinya.


"CEPAT TANDA TANGAN!"


Rifal memberikan bolpoin kepada Ellyna. Dia hanya ingin wanita di depannya menandatangi surat tersebut dan besok dia akan menyerahkan berkas perceraiannya itu ke pengadilan.


Ketika tangan Jingga sudah meraih bolpoin yang disodorkan oleh Rifa, seseorang merampas surat yang ada di meja itu. Dia membaca dengan seksama sedangkan Rifal sudah melebarkan matanya.


"Apa-apaan!" seru Rindra.


Tangannya dengan mudah merobek kertas tersebut menjadi empat bagian.


"Bodoh!"


Rifal hanya terdiam. Dia juga menunduk dalam. Apalagi tatapan tajam dari abangnya membuat nyali Rifal menciut.


"Apa dengan cara ini kamu membalas jasa Papih?" seru Rindra dengan suara lantangnya.


"Di mana hati lu Rifal?" tanya Rindra dengan penuh kemurkaan.


Rifal tidak bisa berkata apa-apa. Begitu juga dengan Ellyna. Dia hanya bisa menunduk dalam.


"Kuburan Ayah saja belum kering. Lu udah berbuat aneh-aneh. Di mana otak lu, Fal?"


"Aku hanya mencintai Keysha, Bang. Keysha!" Rifal berani menimpali ucapan Rindra tersebut.


"Baiklah."


Suara Rindra sudah mulai merendah. Namun, tatapannya masih tajam seperti mata elang.


"Kalau itu kemauan lu, silahkan lakukan," ucap Rindra. "Tapi, jangan pernah lu anggap gua sebagai kakak lu."


Perkataan yang membuat Rifal melebarkan mata. Dia tidak menyangkan kakaknya akan bicara seperti itu.


"Lu juga akan gua coret dari daftar pewaris Addhitama Grup."

__ADS_1


__ADS_2