Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
174. Kebenaran


__ADS_3

Jingga masih terus menangis. Namun, Aska masih membiarkannya saja. Dia memberikan ruang kepada istrinya untuk mengeluarkan segala keresahannya. Sekarang dia tahu bahwa ada luka yang ternyata belum sembuh. Ada luka yang menganga begitu lebar. Biarlah dia menjadi tempat bersandar juga tempat mengadu untuk istrinya.


Malam ini, Jingga dan Aska tidur di ruang tamu. Ayna tidur dengan mimo dan piponya. Tangan Jingga tak mau lepas dari Aska. Merangkulanja lengan Aska dengan begitu eratnya. Seakan dia butuh perlindungan.


"Sedih sekali nasib kamu, Sayang."


Aska membenarkan rambut yang menutupi wajah Jingga. Dia tak henti mengecup kening Jingga dengan begitu dalam.


"Aku akan selalu ada di sisi kamu."


Keesokan paginya, Jingga dikejutkan dengan kehadiran Riki di rumah itu. Riki tersenyum hangat kepada Jingga. Namun, Jingga masih seperti orang ketakutan.


"Maafkan Om, Jingga."


Kalimat permohonan maaf yang keluar dari mulut Riki. Dia benar-benar tulus mengatakan hal itu.


"Kenapa Om tidak mengatakannya pada waktu itu? Kenapa harus menunggu aku terluka dulu? Kenapa harus menunggu aku berderai air mata dulu? Kenapa?" Suara Jingga bergetar hebat. Aska terus menenangkannya dan mengusap lembut punggung tangan Jingga.


Ayanda dan Gio tidak menyangka dengan ucapan dari Jingga tersebut. Mereka dapat merasakan betapa hancurnya seorang Jingga Andhira hanya dengan mendengar suaranya.


Riki, dia hanya terdiam. Menatap Jingga dengan rasa bersalah yang luar biasa. Keponakannya yang malang, keponakannya yang dibuang.


"Hidup aku hancur, Om. Anak yang harusnya mencari jati diri malah diharuskan menafkahi diri sendiri. Terombang-ambing dalam kekejaman dunia nyata. Hanya bisa berpasrah dan menangis kepada sang maha kuasa."


Hati Ayanda sangat sakit mendengarnya. Perjuangan Jingga ternyata sangat berat sekali setelah ibunya tidak ada.


"Aku datang dan memohon kepada Ayah, aku datang dan memohon kepada Nenek, tapi tetap saja tidak ada sikap baik yang mereka tunjukkan. Padahal, aku hanya butuh tempat untuk pulang. Aku hanya butuh pelukan juga rangkulan. Namun, secara mentah-mentah mereka menolakku. Aku diusir untuk kesekian kalinya dan memilih bernegosiasi dengan Tuhan adalah jalan terakhirku. Setiap aku hendak tidur, aku meminta kepada Tuhan jangan lah bangunkan aku lagi. Aku ingin pergi untuk selamanya. Bertemu Bunda dan bersama Bunda untuk selamanya."

__ADS_1


Ayanda memeluk tubuh sang menantu. Luka yang Jingga derita amatlah banyak. Luka yang sulit untuk sembuh karena luka itu tidak pernah mendapatkan penawarnya. Hanya dibiarkan begitu saja hingga luka itu membusuk tanpa mengeluarkan bau. Hanya meninggalakan jejak kesakitan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ayanda ikut sakit walupun hanya mendengarnya saja.


"Maaf, Jingga. Selama di dalam penjara tidak ada ruang sedikit pun untuk Om berbincang dengan orang luar. Semua akses yang Om miliki ditutup. Sama seperti kamu, Om juga hanya bisa pasrah."


Riki menatap lurus ke depan. Pikirannya berputar ke sepuluh tahun yang lalu.


"Dibuang dan dianggap aib. Tidak boleh berkembang karena sebuah keterbatasan. Meminta bagai pengemis jalanan, tetapi diusir dengan kasar bagai hewan yang menjijikan," terangnya. "Bukankah itu lebih sakit? Bukankah itu lebih melukai batin? Selama Om hidup Ini tidak pernah mendapatkan sentuhan hangat dari ibu kandung Om." Riki mentap Jingga dengan sangat dalam.


"Kita sama-sama terluka. Kita sama-sama menjadi korban mereka berdua. Hanya luka yang mereka berikan yang mampu kita kenang hingga akhir hayat nanti." Senyum hambar melengkung di wajah Riki.


Suasana pun mendadak hening. Ayanda masih memeluk erat Jingga. Dia tidak ingin melepaskannya karena dia sangat tahu tubuh Jingga sangatlah ringkih.


"Tugas Om sudah selesai. Om sudah menyampaikan kebenaran yang ada. Semuanya balik lagi ke tangan kamu. Apakah kamu akan menuntun balik ayah kamu atau tidak, itu ada di tangan kamu. Om hanya bertugas menyampaikan kebenarannya."


Jingga hanya terdiam. Dia tidak menjawab apapun karena bisa dibilang dia masih syok dengan mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Semuanya terungkap ketika dia sudah bahagia bersama anak dan suaminya.


"Kalau begitu, saya pamit."


Kalimat itu mampu membuat keluarga Gio terkejut. Apalagi Riki sudah berdiri dengan menggunakan kruk-nya.


"Terima kasih sudah mau menerima saya. Terima kasih sudah mendengarkan ucapan saya." Senyum penuh ketulusan Riki berikan.


"Jingga," panggil Riki. Jingga pun menoleh dan menatap Riki dengan tatapan tak bisa dibaca.


"Kekurangan fisik anakmu bukanlah aib. Malah, itu adalah anugerah yang tak terkira yang Tuhan berikan kepada kamu." Jingga tidak merespon apapun. Namun, hatinya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Riki.


"Tidak ada larangan untuk kamu membenci ayahmu. Juga tidak ada larangan untuk kamu memaafkannya. Ikutilah apa yang hatimu kamu katakan."

__ADS_1


Riki memberanikan diri menyentuh Jingga walaupun hanya mengusap ujung kepalanya. Meskipun begitu, dia tetap tersenyum bahagia.


"Bahagialah terus, keponakanku. Sudah waktunya kesedihan kamu itu berakhir. Sudah waktunya kamu bahagia dengan pria yang tepat. Pria yang pastinya mencintai kamu dengan teramat tulus. Om yakin, dia akan selalu ada bersama kamu."


..


Selepas kepergian Riki Jingga masih terdiam. Dia masih mencerna perkataan pamannya tersebut. Menjebloskan ayah kandungnya ke dalam penjara. Apa bisa? Sedangkan sudah hampir sepuluh tahun berlalu.


"Semua keputusan ada di tangan kamu. Daddy akan mendukung apapun keputusan kamu."


Jingga menatap ke arah sang ayah mertua. Tatapan penuh kepiluan juga kesedihan.


"Bunda sudah tenang di surga. Biarlah perbuatannya menjadi pelebur dosa untuk Bunda," jawab Jingga. "Aku yakin, segala perbuatan yang sudah dia lakukan, pasti akan menemukan karmanya."


Dia yang dimaksud oleh Jingga adalah dokter Eki. Mulutnya sudah tidak Sudi memanggil dokter Eki dengan sebutan ayah. Bukan hanya dia yang dokter Eki sakiti. Bundanya pun lebih tersakiti malah mati karena ulah dokter Eki sendiri.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Aska.


"Aku sudah bahagia hidup bersama kamu dan Ayna. Masuk ke dalam sebuah keluarga besar yang sangat hangat. Aku tidak ingin merusak kebahagiaanku ini hanya karena seorang yang pantasnya masuk ke dalam api neraka." Aska memeluk tubuh Jingga yang masih pucat. Membubuhkan kecupan teramat dalam dan hangat di kening Jingga. Tangan Jingga pun melingkar di pinggang Aska.


Jingga menyerahkan hukuman untuk ayah kandungnya kepada pengadil yang benar-benar adil, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia sudah ikhlas akan kepergian bundanya. Dia hanya ingin hidup bahagia untuk sekarang ini.


Dia juga tahu, bahwa dokter Eki akan kalah jika melawan mertuanya. Namun, dia tidak ingin menang dalam hal ini. Kemenangannya tidak akan mengembalikan Bundanya. Tidak akan menghapus rasa sakit juga luka yang dia derita.


"Aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu. Mulai hari ini, aku sudah menganggap dia mati."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ..,


__ADS_2