
Andi pun sampai di bandara, Ia melihat di sekelilingnya mencari sang Ayah, kini Pak Heri terlihat dari kejauhan, Andi tersenyum melihat Papahnya sudah di depan mata, akhirnya Mereka pun bertemu dan saling tersenyum
"Pah.. Apa kabar" tanya Andi dengan rasa bahagia
"Baik Nak.. Kamu sendiri.. Om Herman dan yang lain semua sehat...?"
"Sehat semua Pah.." Pak Heri pun memeluk Putranya dengan penuh kasih sayang
"Ayo Kita berangkat" ajak Pak Heri untuk segera pulang ke rumah Herman.
Di dalam perjalanan Andi memberanikan diri bertanya mengenai Kasih Istri yang sudah lama Ia tinggalkan, respon Pak Heri sangat tak enak di dengar, Ia menjawab jangan pernah sebut nama itu lagi karena bagi Heri Kasih lah yang menyebabkan Istrinya meninggal.
"Pah.. tapi kan Mamah punya riwayat penyakit jantung, Aku pikir ini bukan salah Kasih"
"Lalu Kamu pikir salah siapa.. salah Kamu..?" Andi pun terdiam ketika mendengar ucapan itu
"Sudahlah Andi, memangnya Kamu belum bisa melupakan Dia, apa sih kehebatannya hingga Kamu tidak bisa melupakan Dia"
"Pah.. ini bukan masalah melupakan atau tidak, kalau Aku di tanya soal itu, sudah pasti Aku memang masih mencintainya, tapi ini soal keadilan Pah.. Aku rasa ini sangat tidak adil untuk Kasih, Aku menikahinya lalu pergi tanpa kabar, Aku merasa Aku bukan laki-laki yang baik Pah.." Pak Heri pun memandang Andi dengan seksama
"Lalu.. mau Kamu apa" Andi pun dengan percaya diri mengatakan,
"Aku ingin menghubunginya lagi, dan memperbaiki hubungan Kita yang sudah lama terbengkalai" Pak Heri terkejut mendengar permintaan Andi
"Apa.. Kamu ingin kembali dengan perempuan itu?" tatapan Pak Heri sungguh sangat sinis
"Tidak Andi.. Kamu boleh menghubunginya dan meminta maaf padanya, tapi tidak untuk kembali lagi, sampai kapanpun Papah tidak akan merestui Kalian"
"Tapi Pah.."
"Sudah.. Papah tidak mau berdebat lagi, sekali tidak.. tetap tidak"
Andi pun terdiam tak bergeming saat Papahnya mengatakan hal itu.
Akhirnya sampai juga di rumah kediaman Herman Sanjaya
"Mas Herman.." panggil Heri dengan suara lantang
"Heri.. ya ampun, Kamu kembali juga ke Jakarta ya, apa kabar.. perusahaan bagaimana..?" tanya Herman dengan rasa bahagia
"Baik.. perusahaan juga sangat baik.. jadi ini rumah baru Kalian?"
"Iya..ini Aku beli baru, karena waktu itu rumah yang dulu pernah ada sangkutan"
"Ini bagus... Retro bagaimana, semakin jaya" Herman pun tertawa
"Pasti dong semakin jaya.. Kamu mau sampai kapan disini?" tanya Herman
"Sekitar 2 bulan, urusan kantor Saya sudah serahkan pada orang kepercayaan Saya"
"Mas Heri.. Papah.. ngobrolnya lanjut nanti ya, Kita makan malam dulu yuk.." ajak Bu Heni terhadap semuanya.
Dokter datang memeriksa Asri lalu Dokter mengatakan jika Asri sudah boleh pulang besok
"Besok sudah boleh pulang, tapi tetap ya latihan berjalan di lakukan setiap hari"
"Baik Dok.. Saya mengerti"
"Kalau begitu Saya permisi ya Bu"
Bu Anita sangat senang besok sudah bisa pulang, dan Asri bisa rawat jalan di rumah.
"Mah.. kepala Aku pusing sekali, Aku mau minum obat pusing Mah"
__ADS_1
"Jangan Nak.. Kamu gak bisa minum obat sembarangan"
"Loh..kenapa..? hanya obat pusing bukan obat aneh-aneh" Bu Anita hampir mengatakan tentang kehamilan Asri
"Ya pokoknya Kamu tidak boleh minum obat sembarangan, apalagi Kamu masih lemah seperti ini" Asri merasa aneh dengan sikap Ibunya yang begitu berlebihan.
Asri pun kembali beristirahat, ketika Ia hendak tiduran kalung pemberian Sam terputus dengan sendirinya
"Ya ampun.. kenapa bisa putus?" tanya Asri dengan suara pelan
"Kenapa Sayang..?"
"Ini Mah.. kalung Aku putus"
"Oh.. bagus.. lebih baik putus, jadi Kamu gak perlu lagi ingat Sam" Asri hanya terdiam mendengar ucapan Ibunya.
Merasa Lia sudah ada yang menunggu Kasih kini pamit untuk pulang
"Bu Irma, Mas Makmun, Aku pamit pulang ya"
"Iya Kasih.. terimakasih ya sudah mau menunggu Lia" lalu Bu Irma bertanya pada Makmun
"Mun.. Kamu belum pulang ke rumah ya..?"
"Iya Mah..belum.. kenapa?"
"Pulang dong.. Kasihan orang tua Kamu pasti mencari"
"Gak Mah.. Aku malas pulang, malas melihat Mamah di rumah" lalu Kasih menyahuti ucapan Makmun
"Mas.. gak boleh seperti itu dong, biar bagaimanapun Dia Ibu Mas yang harus tetap di hormati" Makmun terdiam saat dirinya di nasihati oleh Kasih
"Ya sudah begini saja, Kamu pulang dulu ya, mandi, ganti baju, sekalian bawa baju ganti Lia Mun, lagi pun supaya Kamu terlihat fresh"
"Ya sudah Mah.. nanti Aku kesini setelah isya, Mamah mau di bawakan makanan apa?"
Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, Kasih bertanya mengenai perasaannya terhadap Ibunya
"Aku sebenarnya gak membenci Mamah, tapi jika ingat kejadian itu, rasanya Aku geram lihat Mamah"
"Aku mengerti Mas.. perasaan Kamu, tapi Mas.. sebaiknya Mas meminta maaf sama Ibu, karena Dia itu Ibu Mas, mungkin Ibu bersalah tapi Ibu pasti tidak berniat untuk mencelakai Mbak Lia" Makmun memandangi Kasih denagn seksama, Kasih merasa aneh di perhatikan seperti itu, Kasih pun bertanya,
"Mas.. kenapa, ada yang aneh ya, dari Aku.. kok memandangi Aku seperti itu" Makmun pun tertawa dan menjelaskan
"Aku hanya heran, wanita sebaik Kamu selembut Kamu, bisa-bisanya Andi itu meninggalkan Kamu"
"Andi tidak sengaja meninggalkan Aku, Dia hanya di hadapkan pilihan yang sulit, Aku masih mengerti hal itu" Makmun terdiam mendengar bertapa menyedihkan kisah cintanya
"Aku salut dengan Kamu, Kamu jauh-jauh dari kampung memberanikan diri datang kesini, hanya untuk mencari Suami Kamu" Kasih tertawa pelan dan menjawab,
"Karena hati Aku masih tertinggal disini Mas" Makmun hanya tersenyum mendengar pribahasa yang di ucapkan Kasih.
Sesampainya dirumah Makmun turun dari mobil, sambil berpikir tentang ucapan Kasih tentang hati yang harus berdamai dengan Ibunya, saat Kasih turun dari mobil, rok kasih terjepit pintu mobil, dan saat hendak melangkah rok itu pun sobek.
"Aduh.. " Makmun langsung melihat ketika Kasih berteriak
"Ada apa..?"
"Rok Aku Mas.. sobek, Aku ceroboh"
"Ya ampun Aku pikir kenapa, sini pakai jas Aku untuk menutupi bagian belakangnya" lalu Makmun memakaikan jas tersebut di lingkar pinggang Kasih.
Saat melakukan hal itu, wajah Makmun dekat dengan wajah Kasih, sehingga Kasih memandangi Makmun dengan tidak sengaja, saat Makmun tersadar, Ia pun menatap mata Kasih dan terjadilah saling berpandangan, entah apa yang Mereka rasa, tapi keduanya terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Maaf.. sudah... Kamu bisa berjalan dengan nyaman sekarang"
"Terimakasih Mas.. nanti Aku kembalikan jasnya setelah di cuci" Kasih pun berjalan duluan, sedangkan Makmun masih terdiam memandang Kasih dari belakang.
Dia tak menyangka apa yang baru saja terjadi barusan, Dia pun seketika teringat Lia
"Maafkan Aku sayang, harusnya Aku tidak memandang wanita lain berlama-lama, Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Makmun dalam hatinya, lalu Makmun masuk untuk mandi dan menyiapkan baju ganti untuk Lia.
Setalah di dalam rumah, Makmun berpapasan dengan Bu Alya, dengan tanpa ragu, Makmun menyapa sang Ibu
"Mamah.. " Bu Alya pun tersenyum senang lalu Ia menoleh dan menjawab sapa dari Anaknya
"Iya Nak.. Kamu sudah mau menyapa Mamah"
"Mah.. maafkan Makmun ya, karena Makmun sudah menyakiti hati Mamah dengan ucapan yang kasar dan tuduhan yang..." Bu Alya langsung menyahuti
"Gak Nak.. Mamah yang salah, Mamah yang sudah membuat Lia menjadi koma, dan kehilangan Anak Kamu" Makmun pun menangis tersedu, lalu memeluk sang Ibu dengan erat
"Aku memang berduka atas kehilangan janin yang ada di perut Lia, tapi demi Allah Aku tidak berniat untuk membenci Mamah" Bu Alya pun ikut menangis terharu
"Mamah janji, kalau Lia sadar, Mamah tidak akan pernah menyindir soal pekerjaan dan menyuruh Lia melakukan pekerjaan yang berat, Mamah janji Mun" ucap janji Bu Alya dengan sungguh-sungguh Makmun tersenyum bahagia mendengar Ibunya mengatakan hal itu
"Iya... Aku percaya Mamah, kalau begitu Aku mau mandi dulu, lalu menyiapkan baju ganti Lia"
"Ya Nak.. Mamah akan masak, nanti Kita makan sama-sama ya" dan Makmun pun memasuki kamarnya.
Kasih terdiam duduk di atas kasur, Ia memikirkan hal tadi, seperti tersenggol hatinya dengan tatapan Makmun.
"Aduh.. Aku mikir apaan ya, gak... hati ini miliki Andi gak segampang itu menyukai pria lain, apalagi Mas Makmun Dia itu Istri dari majikan Kamu Kasih" Kasih berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah itu Kasih mandi lalu setelah mandi berniat memasak untuk makan keluarga, namun setelah selesai mandi dan Kasih menuju dapur, ternyata Bu Alya ada di dapur sedang memasak.
"Loh Bu.. biar Kasih yang memasak, Ibu tunggu saja di ruang makan"
"Gak Kasih.. tadi Makmun sudah mau menyapa Ibu, Ibu sangat bahagia jadi saat ini Ibu ingin memasak makanan kesukaan Makmun" Kasih ikut bahagia mendengarnya, ternyata Mas Makmun hatinya tidak sekeras yang dipikirkannya
"Aku ikut senang Bu mendengarnya"
"Oh ya.. lebih baik.. Kamu ke kamar Makmun ambil baju ganti Lia, nanti Kita sama-sama jenguk Lia"
"Tapi Bu.. Aku gak enak masuk kamar Mas Makmun"
"Ya Kamu ketok dong pintunya, kalau Makmun yang siapkan takut tidak sesuai dengan yang Lia butuhkan" mau tak mau Kasih menuruti perintah dari Bu Alya, Kasih pun bergegas menuju kamar Makmun
"Mas Makmun.. ini Aku kasih" tak ada jawaban apapun dari dalam kamar
"Mas..." namun ketika Ia memegang gagang pintu ternyata pintu tak di kunci, dan terbuka sedikit
"Tidak di kunci, Aku masuk saja kali ya, mungkin saja Mas Makmun sendang tidur"
Lalu Kasih memberikan diri untuk masuk, saat di dalam ruangan Makmun tak terlihat, tetapi Ia mendegar suara air keran bercucuran
"Oh.. pantas.. tak ada jawaban Ternyata, Mas Makmun sedang mandi" setelah itu Kasih membuka lemari Lia
"Sepertinya ini lemari Mbak Lia, kata Ibu lemari Mbak Lia berwarna biru" ucap Kasih berbicara pada dirinya sendiri.
Tak lama Makmun keluar dari kamar mandi, Kasih pun spontan teriak ketika melihat Makmun hanya menggunakan handuk setengah badan
"Aaaa..... " karena teriakan itu Makmun tak sengaja menjatuhkan handuknya karena kaget
"Kasih... Kamu kok di Kamar Aku.." Kasih langsung membalikkan badannya dan menutup matanya dengan kedua tangannya
"Mas.. maaf.. Aku dari tadi sudah ketuk pintu, tapi tak ada jawaban, dan pintu terbuka jadi Aku masuk deh"
__ADS_1
"Oh.. memang mau apa..?" Makmun bicara sambil merapihkan handuknya dan memakai celana juga baju
"Aku di suruh Ibu mengambil pakaian ganti untuk Mbak Lia, kata Ibu.. kalau Mas Makmun yang menyiapkan takut tidak sesuai dengan kebutuhan Mbak Lia" Kasih berbicara dengan masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.