
Merawat empat anak rupanya tidak mudah. Jingga benar-benar kewalahan. Apalagi tiga anaknya yang laki-laki sangat rakus dalam meminum susu.
"Selamat sore anak-anak, Ayah." Keempat anak Aska sudah tampan dan cantik. Mereka tengah asyik meminum susu.
Dia tersenyum ketika melihat istrinya hanya mengenakan daster batik bak ibu-ibu komplek. Dia pun mencium puncak kepala Jingga..
"Bunda belum keramas," adunya kepada sang suami.
"Gak apa-apa, Bunda Sayang." Aska akan memakluminya. Mengurus Ayna saja repot, apalagi ini empat.
"Ayah mandi dulu, ya. Nanti, Bunda bisa berendam. Menghilangkan lelah di badan."
Baby sitter itulah yang sebenarnya Jingga butuhkan. Namun, akhir-akhir ini dia menolaknya. Biarlah dia yang mengurus si quartet sendiri. Dia tidak ingin melewati perkembangan empat anaknya.
Selesai mandi, Aska bergegas turun ke lantai di bawah. Ternyata sudah ada tiga keponakan cantik yang tengah bermain bersama di quartet.
"Hai guys, kami si triplets lagi main sama si quartet." Aleeya berkata ke arah kamera. Dia pun mengarahkan kamera kepada keempat sepupunya.
"Kenalin nih, yang cewek ini namanya Bala-Bala," kata Aleesa sambil memainkan pipi tembem Balqis.
"Ini nih yang paling tampan menurut aku, namanya Mas Gehu." Aleena mencium gemas pipi Abdalla.
"Yang ini si bayi hidungnya mancung namanya Bang Cireng. Ganteng banget sih kamu." Aleesa mengunyel pipi Alham.
"Dan yang terakhir, Kakak Cimol," ucap mereka bertiga. "Mereka dari keluarga gorengan."
Aska berdecak kesal dan menarik rambut belakang ketiga keponakannya.
"Sembarangan!" omel Aska. "Nama bagus-bagus malah diganti sama nama gorengan," sungutnya lagi.
"Namanya susah, Om. Jadi, ambil jalan mudah." Aleeya nyengir kuda membuat Aska menggelengkan kepala.
"Emaknya si quartet mana?" tanya Aska.
__ADS_1
"Noh, lagi beli gorengan," tunjuk Aleesa ke arah Jingga yang berada di depan pagar rumah besar. Terlihat ada tukang gorengan bergerobak biru. Kebetulan si quartet sedang santai di depan teras.
Jingga terlihat bahagia dengan rambut yang dia Cepol ke atas. Dua kantong plastik sudah dia bawa.
"Ini!" Jingga menyerahkan kepada tiga keponakannya dan mereka malah duduk di lantai. Aska malah menggelengkan kepala.
"Ngapain sih jajan gorengan pinggiran. Mending bikin." Namun, tangan Aska malah mencomot gorengan yang masih panas tersbut.
"Itu ngapain tangan nyomot," kata Aleeya.
"Nyobain."
Si quartet malah diabaikan begitu saja. Untung saja Aleesa membawa pasukan perhantuan untuk menjaga si quartet.
"Lah, ini cuma ada tiga macam doang?" protes Aska. Padahal dia yang melarang, tapi dia yang ketagihan.
"Ini favorit Bunda. Jadi, gak beli yang lain." Aska pun menggeleng. "Cireng, Gehu, bala-bala." Dia menyebutkan satu per satu.
"Hah?"
Jingga terlihat sangat menikmati gorengan yang dia beli. Seperti menemukan makanan enak seantero dunia.
"Pantes aja anak-anak Ayah dipanggil macam-macam gorengan. Emaknya maniak gorengan. Mana pas banget lagi," oceh Aska.
"Apa sih? Bahagia Bunda itu sederhana. Makan ginian juga udah bahagia banget." Sungguh wanita yang jarang ditemukan.
"Jangan mengganggu kebahagiaan kita lah, Om," ucap Aleeya.
"Masih untung loh punya istri kayak Kak Jing-jing gini," ujar Aleesa.
"Coba kalau kayak Aunty, auto tambah kismin," ejek Aleeya.
"Siall!" Mereka pun tertawa. Terdengar suara klakson mobil. Mereka sangat hafal itu mobil siapa. Siapa lagi jika bukan anak Sultan.
__ADS_1
"Dih, bolos," ucap Aleesa ketika melihat pintu mobil terbuka. Sepupu tampannya turun dari mobil.
"Apaan? Olang enggak," elaknya. "Ini balu pulang les."
Pak Tino membawa kardus pizza berukuran cukup panjang.
"Buset dah, enak nih." Aska menggoda sang keponakan.
"Itu emang buat Uncle, tliplet dan Anteu," sahutnya. "Mas bosan ngemil pizza Mulu." Bukannya sombong, tapi memang kenyataan.
Anak itu malah mengambil cimol yang belum disentuh oleh siapapun. Juga mengambil bakwan dari dalam plastik.
"Tukel ini, ya."
Semua orang terkejut dengan tingkah konyol Gavin. Menukar pizza yang berukuran satu meter lengkap dengan minum hanya dengan cimol lima ribu seplastik dan bakwan seribuan.
"Sering-sering aja ya kayak gini." Aska berterik karena sang keponakan sudah masuk ke dalam mobil..
"Iya!" balasnya degan berteriak juga.
"Rejeki anak baik," ujar Aleesa. Mereka berlima pun tak sabar membuka pizza satu meter tersebut.
"Widih, mantap bener," kata Aska yang sudah tidak sabar. Masih hangat dan terlihat nikmat. Mereka sudah memegang satu pizza di tangan masing-masing. Melakukan cheers sebelum memakannya.
"Cheers!"
Ketika pizza hendak masuk ke mulut ada suara menggelegar dan sontak membuat mereka terdiam dan saling pandang. Aroma bunga rafflesia Arnoldi menyeruak membuat si triplets meletakkan pizza itu kembali.
"Quartet!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1