
Lalu Tini bertanya atas nama siapakah yang memesan baju couple ini
"Sebentar ya Bu Saya cek dulu" ucap Pegawai lalu mengecek di komputer toko, setalah ketemu hasil datanya Pegawai menjelaskan
"Pesanan baju couple ini atas nama Bapak Ray Sam dengan nomor telepon 088887775555, tapi disini Kita tidak meminta data wanitanya Bu, hanya yang memesan saja Kami catat" Tini tak menyangka dengan semua ini, ternyata Suaminya telah berselingkuh di belakangnya.
wajah Tini pun berubah menjadi sedih dengan mata yang terbelalak lebar serta berkaca-kaca, Tini langsung pergi dari Toko menuju Kantor Retro untuk melabrak Asri juga Sam.
"Mbak... terimakasih infonya boleh saya minta salinan datanya tolong kirim ke ponsel Saya Mbak" setelah selesai menyalin data Tini langsung bergegas pergi.
Sam baru tiba di Retro Dia masuk ruang kerjanya, lalu Dia melihat Asri sudah berada di ruangan
"Kamu kenapa gak kabari Aku sih kalau berangkat sendiri" Sam mulai sedikit kesal
"Maaf... Aku lupa" Sam melengos kan wajahnya dan berkata,
"Kamu bilang Kamu sudah gak marah sama Aku, Kamu kok bisa sih lupa kasih kabar ke Aku" Asri sebenarnya sudah tidak marah, tapi Ia masih kesal prihal kehamilan Tini kemarin
"Kamu juga lupa kan sama komitmen Kita, kok bisa sampai Tini hamil" ucap ketus Asri dengan nada sinis, Sam terdiam mendegar kata-kata Asri Dia merasa tersinggung dengan ucapan Asri lalu Sam mengatakan,
"Sayang.. tolong Kamu percaya sama Aku, Aku masih pegang komitmen itu, tapi ini kecelakaan sayang, Aku benar-benar terbawa suasana waktu itu" Asri memejamkan matanya seakan tak mau mendegar lagi kata-kata yang di ucapkan Sam.
Sam menaruh tas kerjanya di meja, lalu Dia langsung menggenggam tangan Asri dan berkata,
"Aku mohon maafkan Aku, tolong Kamu jangan seperti ini Asri" tak lama Tini datang baru saja ingin masuk kedalam Tini melihat Asri dan Sam sedang mengobrol.
Tini pun melihat Sam menggenggam tangan Asri, lalu Tini Mendekat sedikit ke arah pintu untuk mendengarkan percakapan Mereka.
"Sam.. Aku sayang sama Kamu, Aku bahkan akan menunggu Kamu sampai status Kamu benar-benar sendiri, tapi kalau seperti ini Aku harus bagaimana Sam?" Asri merasa khawatir dengan hubungannya
"Mungkin Aku bisa melepas Tini tapi menunggu sampai Anak itu lahir" Tini yang sedang menguping kaget mendengar ucapan Sam
"Ini gak bisa di biarkan" ucapnya dalam hati, langsung saja Tini masuk dengan membanting pintu Berg........ suara pintu terbuka Sam dan Asri terkejut Tini ada di balik pintu
"Kamu tega Sam bicara seperti itu, Aku dengar semuanya, Aku dengar..... " Tini bicara dengan berteriak, Sam merasa suara Tini akan membuat heboh isi kantor, lalu Sam menarik tangan Tini untuk masuk, dan menutup pintu
"Kenapa... Kamu takut... Kamu malu.. kalau sampai semua Karyawan disini tahu soal hubungan Kalian" kini Tini berkata dengan amarah yang memuncak
"Tini... Maafkan Aku, Aku mencintai Sam" lalu Sam langsung angkat bicara
__ADS_1
"Ok... Tini kamu dengar baik-baik, Karena Kamu sudah terlanjur tahu Aku gak akan sembunyikan ini lagi" Tini menatap tajam wajah Sam dan Sam pun melanjutkan ucapannya
"Ya... Memang Aku ada hubungan lebih dengan Asri, Aku mencintai Asri dan Aku sudah berulang kali bilang sama Kamu, kalau Aku sudah ingin bercerai dari Kamu, tapi gugatan itu dulu terhalang oleh paksaan Papah Kamu, dan sekarang Aku gak mau sembunyikan apapun dari Kamu" Tini pun semakin terlihat marah, Dia menatap tajam wajah Asri juga Sam lalu Dia mengatakan sesuatu yang kasar juga memaki terhadap Asri
"Dasar perempuan murahan Kamu, sudah sejauh mana hubungan kalian, dari awal Saya sudah curiga sama Kamu Asri, ternyata benar" ucap Tini seperti ingin menagis.
Tini terus menatap wajah Asri dengan sangat tajam, Tiba-tiba plak....... tamparan keras menghampiri pipi Asri, Asri langsung memegang pipinya merasa kesakitan, tapi Asri tak mengatakan apapun walau sudah kena tampar dari Tini.
Sam melihat adegan itu merasa sudah tidak beres, Dia tahu sifat Tini yang akan melakukan apapun jika sedang marah dan benci terhadap seseorang.
Dan ketika Tini ingin menampar lagi untuk yang kedua kalinya, saat itu lah tangan Tini langsung di tepis oleh Sam
"Cukup Tin.. " Sam menatap wajah Tini dengan rasa amarah, begitupun Tini Mereka berdua kini bertatapan mata penuh degan kebencian
"Kita bisa bicarakan ini di rumah Aku minta Kamu pulang"
"Kenapa... Kamu takut, semua orang akan tahu, Kamu..." belum selesai Tini bicara Sam langsung memotong ucapan Tini
"Aku gak takut dengan semua itu, bahkan bila perlu Aku akan pergi sekarang dari rumah Kamu dan keluar dari Kantor ini" Asri Langsung memandang Sam Dia berfikir apa yang di ucapkan Sam itu benar atau hanya menggretak Tini saja.
Tini langsung terdiam tak bergeming ketika mendengar Sam akan pergi dari rumah, Dia merasa takut kalau benar Sam akan meninggalkannya
Setelah di rasa Tini sudah jauh dari ruang kerja Sam langsung mendekati Asri lalu membelai pipi Asri dan mengatakan,
"Apakah sakit Asri, maafkan Aku.. Aku yang membuat Kamu seperti ini, Kamu kenapa tidak melawan Tini tadi, Kamu malah diam saja" lalu Asri melepaskan tangan Sam dari pipi nya dan berkata,
"Memangnya Aku harus bagaimana, semua yang dikatakan Tini benar kok, Aku... Aku ini wanita murahan" Asri berkata dengan terisak menangis, Sam langsung memeluk Asri
"Aku janji... Aku akan selesaikan ini semua, tolong Kamu percaya Aku" Asri diam namun Ia merasa sedih hingga air matanya jatuh menetes.
Lalu tiba-tiba ada seseorang datang mengetuk pintu ruang kerja Sam, Sam langsung menjawab,
"Siapa?" Chandra pun masuk kedalam ruangan
"Ini Gue.. sorry Gue ganggu, Gue cuma bawakan laporan untuk bazar Minggu besok Sam" Sam sampai lupa bahwa ada proyek bazar dengan Pak Fadli Minggu besok
"Ya ampun.. Ia Gue Sampai lupa, thanks ya Chan.. nanti Gue pelajari" Chandra agak bingung mengapa Asri tak melihatnya tapi hanya menghadap ke arah Sam saja, lalu Chandra berusaha menyapa Asri
"Asri.. Kamu sedang apa?" Asri masih mengusap air matanya, Dia merasa Chandra tak boleh tahu tentang masalahnya ini, lalu Sam langsung menyahuti ucapan Chandra "Asri lagi bersedih, Dia teringat lagi soal Papahnya" lalu Asri langsung menoleh ke arah Chandra dan berkata,
__ADS_1
"Aku gak lagi apa-apa kok Chan.. Biasa tadi Aku lagi cerita sama Sam" Chandra tak ingin membahas lebih jauh tentang kecurigaannya soal kemarin, jadi Dia langsung pamit kembali ke ruangannya.
Setelah Chandra pergi Sam langsung meminta Asri untuk membuatkan isi acara bazar Minggu besok
"Sayang.. Kita lupakan dulu ya masalah Tini, ini proyek Pak Fadli, proyek yang Aku pikir proyek terakhir yang Aku pegang, tapi malah semuanya jadi begini"
"Gak apa-apa kok, ya sudah Aku kerjakan sekarang ya, Aku harap Kamu benar-benar selesaikan masalah Kamu dengan Tini setelah pulang kerja ini" lalu Asri kembali duduk di kursi kerja nya dan mengerjakan tugas yang di minta Sam.
Sesampainya Tini di rumah Dia marah-marah dan mengamuk sejadi jadinya
"Dasar murahan Kamu Asri... Aku benci Kamu.. Aku benci..." ucap Tini sambil menangis, lalu Tini berkata lagi
"Kamu jahat Sam, kenapa Kamu selingkuh, Aku pikir biarpun Kamu tidak pernah mencintai Aku, Kamu gak akan pernah melakukan ini" Tini pun langsung membanting semua benda-benda yang ada di dekatnya prang... prang... prang... suara benturan benda tersebut terdengar hingga ke kamar Bu Heni.
Bu Heni kaget mendegar suara benturan tersebut, Dia langsung bangkit dari tempat tidur dan mencari tahu dari mana asal suara tersebut.
Saat keluar kamar suara itu semakin terdengar kencang, Bu Heni menoleh ke arah kamar Tini Dia merasa suara itu dari kamar Tini, langsung saja Bu Heni menghampiri ke kamar Anaknya.
Ketika di buka pintu kamar Bu Heni kaget sejadi-jadinya
"Ya ampun Tini apa yang sedang Kamu lakukan, Kamu acak-acak semua isi kamar Kamu" Tini menoleh ke arah Bu Heni lalu Tini memeluk Ibunya
"Mah... bagaimana Aku bisa tenang Mah, Aku gak bisa lihat Sam selingkuh di belakang Aku" mendegar kata-kata itu mata Bu Heni terbelalak kaget lalu Bu Heni menjawab,
"Apa... apa yang Kamu katakan sayang, coba jelaskan sama Mamah" lalu Tini menjelaskan semuanya dari tentang kalung, hingga baju couple, Sampai insiden di kantor Dia ceritakan semua kepada Ibunya, Bu Heni sungguh terkejut dengan kabar ini
"Mamah benar-benar tak menyangka, jadi kecurigaan Kamu selama ini itu benar"
"Iya Mah.. Dan Aku gak akan tinggal diam dengan semua ini, kalau Aku gak bisa dapatkan cinta Sam, atau memilikinya, Aku pastikan perempuan itu juga gak akan pernah bisa miliki Sam, Aku akan buat perhitungan dengan perempuan itu Mah.. Dia harus terima akibatnya karena berani berhadapan dengan Tini" ucap Tini dengan rasa yang amat sangat benci terhadap Asri.
Bu Heni memperhatikan raut wajah Anaknya, Bu Heni takut Tini melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri, lalu Bu Heni berkata,
"Kamu tenang Tini, Kamu jangan bertindak bodoh, apa Papah tahu Masalah ini" Tini melihat wajah Ibunya lalu menggelengkan kepalanya
"Belum" ucap singkat Tini yang kini mulai depresi dengan masalahnya
"Papah harus tahu Tini, biar Papah yang urus masalah ini"
"Jangan Mah... Jangan dulu, Aku takut kalau Papah tahu Papah akan usir Sam, itu sama saja artinya Aku kehilangan Sam Mah, Aku sedang hamil Mah, Aku yakin Sam tidak akan bisa menceriakan Aku Mah, karena pengadilan pasti akan menolak gugatan cerai jika istrinya sedang hamil" Tini berbicara sambil menangis, tak tertahankan rasa sakit hatinya Ia bicara sampai terisak-isak .
__ADS_1