
Aska sedikit terkejut ketika melihat istrinya di pagi hari. Jalannya sudah normal seperti sedia kala.
"Mujarab juga tuh obat," gumam Aska.
"Pantes aja si Riana sehat Wal afiat terus. Walaupun digempur habis-habisan sama Abang mesooem gua. Ini toh rahasianya."
Jingga dan Aska bergabung di meja makan. Di sana sudah ada keluarga kecil dari Aksara. Sekilas Aksa melirik ke arah Jingga, dan bibirnya terangkat sedikit.
"Lu jadi pindah sore nanti?" tanya Aska.
"Jadi. Nunggu Ayah dan Kak Echa pulang ngantor dulu."
Aska mengangguk pelan. Kemudian, dia menatap ke arah sang keponakan. Dia pasti akan merindukan sosok Gavin Agha Wiguna yang tampan ini.
"Empin gak sedih bakalan ninggalin Uncle sama anteu?"
Kepala anak itu menggeleng. Dia tengah melahap sosis yang tengah viral bermerek kezeler. Sang paman pun mendengkus kesal sedangkan anak itu tak peduli sama sekali.
"Kamu jahat banget sih," ucap Aska dengan wajah mengiba.
"Dak Utah lebai," ucapnya dengan mulut penuh.
"Antel Puna Tati, Puna mobil, bita te lumah atu. Matih bita main Tama atu."
Judes sekali mulut Gavin, dia berbicara tanpa basa-basi dan langsung pada inti. Sontak membuat Jingga tertawa.
"Empin, gak boleh begitu," ujar Riana memperingati.
"Boleh, My. Hidup danan banak dlama."
Aksa pun tersenyum bangga dan mengajak Empin untuk bertos ria. Ajaran sang ayah sangat melekat pada anak tiga tahun itu.
"Makan siang nanti Empin ke kantor Anteu bisa?" tanya Jingga dengan wajah berseri.
"Mau apa?" tanya Gavin serius.
"Anteu mau ajak Empin makan sama beli mainan."
"Mau!" seri Gavin tanpa ragu.
"Giliran mainan sama makanan aja cepet," sungut Aska.
"Pasti ajaran lu nih, Bang." Dahi Aksa mengkerut mendengar ucapan Aska. "Lu pasti ngajarin anak lu jadi tukang palak," lanjutnya lagi.
"Sembarangan!" sembur Aksara.
"Belisik!"
Bocah tiga tahun sudah berseru. Tatapannya sangat tajam sekali.
"Talo matan Danan bitala."
Orang dewasa yang berada di rumah Gio ataupun Rion akan terdiam jika mulut anak itu sudah terbuka. Bisa yang dimiliki anak itu sungguh ganas. Tanpa rasa bersalah anak itu mengunyah sosis kembali.
.
__ADS_1
Jingga yang awalnya ingin bekerja, memilih berbincang bersama sang kakak ipar. Dia menghampiri Riana yang tengah menemani Gavin menonton acara televisi.
"Mbak, udah siap-siap buat pindahan?" tanya Jingga.
Dahi Riana mengkerut. Kemudian, dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jingga. Dia hanya tersenyum.
"Gak ada yang perlu aku bawa. Aku cukup bawa badan aja karena di sana sudah disediakan semua. Jadi, barang-barang yang di sini ditinggal. Kalau aku nginep jadi gak usah bawa baju."
Sultan sesungguhnya dan mantan rakyat jelata yang baru menanjak jadi Sultan itu sangat berbeda cara berpikirnya. Jingga pikir, pindahnya Riana ke rumah baru akan mengangkut semua barang yang mereka miliki dengan mobil bak terbuka. Pindahan orang-orang pada umumnya. Ternyata tidak seperti itu, Bestie.
"Di rumah itu sudah tersedia semua. Makanya seminggu kemarin aku sama Daddy-nya Empin sibuk nyari pengisi rumah."
Jingga pun mengangguk. Rumah Riana juga Aksa sangatlah besar. Dia juga melihat barang-barang di sana barang mahal semua. Terkadang Jingga penasaran dengan jumlah nominal uang di rekening Aksara.
"Donat kamu udah sembuh?" tanya Riana. Jingga menganggukkan kepala.
"Berkat obat yang dikasih Bang Aksa."
Riana pun tersenyum. Sebenarnya Riana yang menyuruh sang suami memberikan obat tersebut kepada Jingga. Namun, Aksa malah memberikannya kepada Askara.
"Mbak, caranya agar gak kewalahan gimana sih?"
Riana tertawa kembali. Adik iparnya sepertinya sangat serius ingin berguru kepadanya.
"Jam terbang kali, ya," jawab Riana. "Aku 'kan menikah udah empat tahunan. Pasti udah tahu cara bermain suami aku kaya gimana. Apa yang dia mau, apa yang dia gak suka. Sebisa mungkin kalau di ranjang jadi yang dia mau."
Jingga pun mengangguk. Terkadang, dia menjadi manusia pasif jika ada di ranjang. Sedangkan yang dia tangkap dari obrolan dengan sang kakak ipar, pria itu lebih suka dengan wanita yang agresif.
"Nanti deh kita ke mall dan aku tunjukin apa yang suami aku suka."
.
Riana boleh pergi atas seijin sang suami. Itu juga karena ada Jingga bersama istrinya. Gavin sudah bersama Tini dan Riana sudah memberikan kartu permainan yang selalu di TOP UP besar oleh sang suami. Anak itu jika sudah main di zona waktu tidak akan pernah mau berhenti.
Sedangkan Riana dan Jingga memilih masuk ke setiap toko baju. Jingga mengkerutkan dahinya ketika melihat sang kakak ipar mengambil celana pendek di atas lutut.
"Ini baju sehari-hari aku," ujarnya. "Daddy Empin lebih suka aku pakai ini jika lagi di kamar berdua." Riana juga menunjukan baju tanpa lengan dengan belahan yang sangat rendah.
Dada Jingga terasa sesak mendengarnya. Sungguh direktur WAG grup di luar ekspektasinya. Istrinya dibuat sesopan mungkin di depan umum, tetapi di kamar dia menyuruh istrinya memakai baju setengah haram.
"Lebih mesoem dari Bang As ternyata," batinnya.
Riana menjadi wanita kalap, dia juga menyuruh Jingga untuk memilih baju yang dia inginkan. Riana yang akan membayarnya. Ketika membayar, mata Jingga hampir keluar dari tempatnya mendengar total belanjaan yang hampir dua puluh juta.
"Mbak, aku bayar belanjaan aku aja, ya." Rasa tidak enak hati Jingga tunjukkan. Namun, dengan cepat Riana menggelengkan kepala.
"Sekali-kali bayarin adik ipar gak apa-apa 'kan." Jingga merasa tersentuh mendengar ucapan dari Riana. Apalagi senyum kakak iparnya itu terlihat sangat tulus.
"Sering-sering juga gak apa-apa, Mbak." Ingin Jingga berkata seperti itu, tetapi dia tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri.
Mereka berdua pun menuju toko baju khusus jeroan. Mata Jingga melebar ketika Riana mengambil baju yang tidak layak dipakai. Sangat tipis dan bagai gorden penutup etalase warteg.
"Ini untuk kamu."
Mulut Jingga menganga ketika Riana memberikan baju itu kepadanya.
__ADS_1
"Pasti suamimu suka."
Tuhan, sungguh kakak iparnya memiliki dua kepribadian yang berbeda. Ingin Jingga menolak, tetapi Riana sudah membawa baju itu kasir. Dia juga membeli baju yang sama dengan Jingga.
"Siap-siap gak bisa jalan ini mah," batinnya.
Riana membawa Jingga ke sebuah restoran di mana Tini dan Gavin sudah berada di sana.
"Mommy!"
Riana tersenyum ke arah putranya. Jingga segera mencium gemas keponakannya itu.
"Mainnya seru gak?" tanya Jingga.
"Iya, tapi Mommy tuluh atu wat matan dulu."
Jingga baru tahu jika Riana seroyal ini. Semua makanan enak di restoran itu dia pesan. Jujur, Jingga juga menyukai makanan yang Riana pesan.
Disela mereka makan, dua pria berwajah sama dengan memakai baju yang berbeda masuk ke dalam restoran dan menghampiri meja Riana juga Jingga.
Aksa mengecup kening Riana begitu juga dengan Aska yang mengecup kening Jingga. Dua lak-laki yang sangat manis.
"Mommy belanda Banat banet," adu Gavin kepada sang ayah.
"Gak apa-apa, Mas," sahut Aksara. "Kalau Mas belanja mainan banyak Mommy marah gak?" tanya sang ayah. Anak itupun menggeleng.
"Kamu belanja juga?" tanya Askara. Dia melihat ke arah paper bag merk ternama yang ada di samping istrinya.
"Aku dibelanjain sama Mbak Ri," jawab Jingga.
"Sering-sering aja, Ri." Mata Jingga melebar mendengar ucapan suaminya. Bukannya merasa malu. malah Aska bahagia.
"Dak modal!" seru Gavin.
Aksa dan Riana hanya tertawa. Mereka berdua tidak akan meributkan perihal uang.
"Anteu, atu dak mau beli mainan."
Ucapan anak itu membuat Jingga mengerutkan dahi. Berbeda dengan Askara yang mengucapkan syukur Alhamdulillah.
"Kenapa?" tanya Jingga. Dia sudah sangat niat untuk membelikan Gavin mainan.
"Atu mau minta mentahna ada," ucapnya.
"Perasaan gua udah gak enak," kata Aska.
"Telibu dollal."
"Bangkrut gua bangkrut," erang Askara sambil menjambak rambutnya.
Gavin sudah menengadahkan tangannya ke arah sang om dan kedua alisnya dia gerak-gerakkan.
"Besok-besok kaga usah belanjain bini gua dah," sungut Askara. "Lu mah miara tuyul berambut hitam yang selalu malakin dompet gua."
...****************...
__ADS_1
Komennya mana?