
Pagi-pagi sekali Arumi bersama Ririn pergi ke pasar tradisional. Biasanya hanya Ririn yang akan pergi ke pasar dengan meninggalkan selembar catatan yang telah Arumi tulis sebelumnya. Namun beda kali ini, Arumi juga ikut pergi bersama karena dia ingin memilih sendiri segala sesuatu yang akan dibelinya.
Mereka kembali ke rumah saat waktu menunjukan pukul 8. Banyak sayur mayur, ikan juga daging dan beberapa keperluan dapur lainnya yang mereka beli. Arumi memang sengaja menyetok banyak sayuran dan membeli beberapa kilo daging, karena ia ingin menjamu ibunya yang akan datang nanti dengan masakan lezat dan tentu juga sehat.
Saat kembali, Arumi mendapati sarapan di meja makan yang telah ia buat sebelum pergi tadi, telah habis tanpa sisa. Itu artinya suaminya telah bangun dan sarapan, juga sudah berangkat bekerja. Arumi memang pergi ke pasar tadi sangat pagi sekali, sebelum Akhtar bangun.
"Rin, apa kamu sudah siapkan kamar diatas yang saya minta bereskan kemarin?" tanya Arumi dengan tangannya sibuk memotong sayur.
"Iya, sudah Mbak. Ini apa lagi yang mau saya bantu di dapur?" Ririn sangat tahu majikannya yang satu ini, jika sudah turun tangan sendiri di dapur maka harus dirinya sendiri yang mengerjakannya. Jadi sebelum melakukan sesuatu, Ririn bertanya terlebih dahulu.
"Di dapur cukup saya saja. Kamu bereskan rumah. Tapi kalau capek kamu kerjakan setengahnya saja, soalnya rumah ini juga terlalu besar."
"Ah, iya. Saya tinggal bersih-bersih ya, Mbak."
"Oke sipp."
Ririn pergi mengerjakan tugasnya, sedangkan Arumi segera mengeksekusi masakannya.
Entah berapa lama bergelut di dapur, kini Arumi telah menyelesaikan masakannya. Beberapa hidangan telah tersusun rapi di meja makan. Hari ini Arumi sungguh membuat banyak masakan, padahal mereka hanya tinggal bertiga dirumah.
Setelah membereskan bekas aktivitasnya yang lumayan berantakan, Arumi segera membersihkan dirinya. Kini hanya sisa menunggu kedatangan ibu, juga suaminya untuk makan siang.
Sementara itu, Ririn juga telah menyelesaikan tugasnya. Bekerja bersama Arumi itu sangat enak sekali menurut Ririn, apa lagi dengan gaji yang lumayan besar. Kenapa demikian? Karena Ririn hanya boleh mengerjakan sesuatu yang diperintahkan saja, jika tidak ada perintah maka ia akan bersantai.
Sebenarnya Arumi yang mengerjakan sendiri pekerjaan rumah, baik memasak, mencuci pakaiannya ataupun bersih-bersih rumah. Memang Arumi lah yang meminta demikian. Sedangkan Ririn di pekerjakan hanya untuk menemani Arumi di rumah agar tidak merasa kesepian. Tentu Ririn tak akan berdiam diri juga, ia akan membantu sedikit demi sedikit agar Arumi teringankan.
Ting.. Tong...
Mendengar suara bell rumah berbunyi, dengan sigap Ririn membukakan pintu. Disana nampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri dengan tas berukuran sedang di tangannya. "Ibunya, Mbak Arumi ya?" tanya Ririn yang memang belum pernah melihat wajah Ningrum.
"Iya, saya ibunya Arumi." jawab Ningrum dengan tersenyum.
Senyumnya mirip banget sama Mbak Arumi, ibu dan anak jadi wajarlah. Batin Ririn.
"Ayo, Bu. Silahkan masuk. Sini tasnya saya bawakan."
Ririn berniat membawakan tas milik Ningrum, tapi ditolaknya. "Tidak apa-apa, biar saya saja yang bawa."
Kemudian mereka pun masuk dengan Ririn yang membimbingnya hingga ke ruang keluarga. "Ibu duduk dulu, Mbak Aruminya ada dikamar saya panggilkan dulu."
Ningrum tersenyum dan mengangguk. Ririn pun segera berlalu dan mengetuk pintu kamar Arumi.
Tok.. Tok... Tok....
"Iya sebentar.." sahut Arumi dari dalam. Tak lama ia keluar. "Kenapa Rin?" tanyanya
__ADS_1
"Itu, ibunya Mbak Arumi sudah datang."
"Lho, beneran ibu sudah datang? Kok nggak panggil saya sih Rin."
Lah ini juga lagi dipanggil, Mbak ee. Batin Ririn.
"Baru saja datang Mbak."
"Sekarang dimana ibu?"
"Ada di ruang keluarga."
Dengan segera Arumi menghampiri ibunya. "Ibu.!" pekik Arumi. Lantas ia langsung memeluk ibunya untuk melepaskan rasa rindu yang telah menggunung.
"Ibu kenapa nggak bilang kalau sampe terminal tadi, kan aku bisa jemput."
"Tidak apa, Nak. Lagian ibu sudah sampe sini juga kan."
"Iya, tapi kasihan ibu dong datang malah aku nggak jemput. Ibu sini, kakinya aku pijitin." Arumi dengan hati-hati menaikan kaki Ningrum ke sofa dan menselonjorkannya.
Dengan lembut Arumi mulai memijit kaki ibunya. "Ini, ibu tidak capek kok. Udah jangan di pijit lagi."
"Nggak, ibu pasti capek. Biarkan aku pijit, Bu. Sudah lama sekali aku nggak pernah mijitin ibu kayak gini kan."
"Ya sudah. Kalau itu memang keinginanmu. Ngomong-ngomong suamimu mana?"
Kemudian Ririn datang dengan membawakan sepoci teh untuk mereka. "Permisi, Mbak Arumi ini tehnya untuk ibunya Mbak."
"Oh iya, simpan aja di meja. Minta tolong juga ya, Rin. Bawakan cemilan yang di kulkas."
"Iya, Mbak." Ririn langsung kembali kedapur untuk mengambil cemilan.
"Itu ART kamu?"
"Iya, Mas Akhtar yang carikan. Sebenarnya aku nggak mau pake jasa ART karena aku bisa lakukan semuanya sendiri, tapi Mas Akhtar maksa jadi ya, mau tak mau aku nurut aja."
"Tapi itu kelihatan masih muda banget, ya."
"Hehehe, iya. Umurnya memang masih 20an. Tapi ibu tenang saja, Ririn baik kok dan sopan juga. Jadi nggak perlu khawatir."
"Mikir apa kamu itu. Ibu bilang masih muda itu karena kasian aja. Diumurnya yang masih muda gitu harusnya dia masih menyelesaikan pendidikannya."
"Hehehe, kirain Bu. Iya sih, tapi mau gimana lagi sekarang kan ekonomi yang rendah jadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Untung ya Bu, aku masih bisa lanjut kuliah sampe selesai waktu itu."
"Iya. Sekarang banyak-banyak bersyukurlah, karena terkadang apa yang kita miliki orang lain tidak memilikinya. Nah, jika kita punya rezeki lebih kita juga harus saling berbagi juga."
__ADS_1
"Hehehe, iya Bu."
"Sini kita minum teh dulu."
Arumi menghentikan pijatannya, kemudian menuangkan teh untuk ibunya. "Mbak ini cemilannya." ucap Ririn. Ia langsung meletakan beberapa cemilan dan kue ke atas meja.
"Eh, kamu datang kayak hantu gitu Rin. Bikin saya kaget aja."
"Hehe, maaf Mbak sudah ngagetin. Tapi saya benar-benar tidak sengaja."
"Ahh, nggak apa kok. Santai aja."
"Nak, Ririn sini duduk dengan kita. Minum teh bareng."
"Eh, tidak usah Bu. Saya mau kembali kebelakang saja."
"Udah duduk sini Rin. Kamu juga ke belakang mau ngapain, kan nggak sudah nggak ada kerjaan."
"Hehe, iya." dengan sungkan akhirnya Ririn ikut bergabung, duduk bersama dengan majikannya.
Mereka bercerita dan bergurau bersama. Sekilas mereka terlihat seperti keluarga, ibu dengan kedua anak perempuannya. Ririn merasakan kehangatan saat berkumpul bersama kedua majikannya. Ternyarta ibu majikannya juga sama baiknya seperti anaknya. Mereka tidak pernah memandang rendah orang kecil seperti Ririn yang hanya sebagai ART saja. Sangat bersyukur bisa bekerja bersama mereka.
Tak lama Arumi beranjak dari duduknya, menuju dapur. Karena hampir jam makan siang, ia harus menyiapkan semua. Ririn ingin membantu tapi dilarang dengan Arumi dan menyuruhnya untuk menemani ibu saja.
Tak lama setelah itu Akhtar datang. Ia kemudian menyalami Ningrum. "Ibu kapan datangnya?"
"Sudah dari tadi, Nak. Kamu baru pulang kerja?"
Akhtar celingak celinguk mencari keberadaan istrinya. "Iya, Bu. Lho Arumi mana, Bu. Kok tidak temani ibu."
"Itu lagi di dapur. Tidak apa, sudah Ada Ririn juga yang temani ibu."
"Baru datang, Mas." ucap Arumi yang baru saja kembali dari dapur. Ia menyalami tangan suaminya dan mengambil alih tas kerjanya juga.
"Iya. Kamu kenapa malah ninggalin ibu."
"Nggak kok. Tadi abis cerita-cerita sama ibu dan Ririn, aku kedapur buat nyiampin peralatan makan."
"Oh. Kamu jangan terlalu capek, lho."
"Iya, iya. Ya sudah, yuk kita makan siang. Ibu ayo kita makan dulu."
Ningrum merasa bahagia melihat interaksi anak dan menantunya yang sudah tidak canggung lagi seperti pertama kali. Akhtar juga terlihat begitu sangat menyanyangi Arumi, itu membuat Ningrum merasa lega.
Akhirnya mereka pun makan bersama. Berbagai hidangan telah tersedia di atas meja dan terlihat begitu menggoda. Tentu saja, karena Arumi lah yang memasaknya.
__ADS_1
***
jika banyak salah kata atau ada yang nggak nyambung harap maklum.. hehe soalnya baru belajar nulis juga...😁😁😁