
Keputusan Aska untuk memutus hubungan antara istrinya dan ayah mertuanya adalah jalan terbaik. Kejadian yang menimpa dokter Eki hanya diketahui oleh para pria. Tidak sampai pada telinga wanita.
Gio selalu memantau kondisi dokter Eki melalui orang suruhannya. Itulah karma yang harus dia terima. Dia juga sengaja membungkam mulutnya agar Jingga bisa bahagia. Dia tidak ingin melihat menantunya sedih berkepanjangan. Apalagi dia sedang berbahagia dengan tingkah Ayna yang menggemaskan.
Setiap hari rumah Ayanda bagai playgrup. Ada Ghea, Ayna dan juga Gavin yang sudah bersekolah. Anak itu meminta sekolah seperti ketiga kakak sepupunya.
"Attalamualitum."
Suara Gavin sudah terdengar. Dia menyalimi tangan Jingga dan juga sang mommy. Tak lupa juga dia ke dapur mencari sang nenek tercinta.
"Mimo, Mas boleh matan mie?" Pertanyaan Gavin membuat Ayanda tertawa.
"Boleh, Sayang."
"Asyik! Telulna tida, ya."
Ayanda menggelengkan kepala jikalau sudah menyangkut telur. Empat cucunya senang sekali dengan yang namanya telur. Jika, berkumpul semua sudah pasti stok makanan yang harus ada adalah telur. Apalagi si triplets.
"Ganti baju, Mas. Cuci tangan, baru ajakin Adek main."
"Tiap, My."
Anak itu berlari ke kamarnya yang ada di rumah sang nenek. Mengganti pakaiannya dan kembali ke ruang keluarga. Di mana kedua adiknya berada.
"Belajar apa hari ini?" tanya sang ibu. Jingga hanya memperhatikan cara mengasuh Riana agar bisa dia praktekkan pada putrinya kelak.
"Cuma nani, Nani dan Nani," keluh Gavin. "Mas inin Puna pe-el taya tata tembal tida."
Jingga dan Riana pun tergelak mendengar ucapan Gavin. Usianya masih kecil, tetapi menginginkan pelajaran anak SD.
"Belum waktunya, Mas. Ada tahapnya," terang sang ibu.
"Mas, mau minta adalin Pipo ada."
Anak itu beranjak dari ruang keluarga dan mencari sang kakek yang berada di ruang kerja. Biasanya, seorang kakek itu tidak bisa menolak keinginan cucu tercintanya. Benar saja, Gio mulai mengajarkan Gavin mengenal angka dan huruf. Ternyata anak itu sangat pandai.
Ada kebanggaan tersendiri melihat cucunya seperti ini. Baru kali ini dia melihat tumbuh kembang sang cucu tercinta secara langsung yang diajarkan olehnya.
Di ruang keluarga, Riana dan Jingga sedang berbincang santai. Namun, mata mereka sedikit melirik ke arah mertua mereka. Ada hal yang ingin mereka bicarakan. Namun, takut terdengar oleh ibu mertua mereka.
"Jingga," panggil Riana pelan. Jingga pun menoleh. Dia menatap kakak iparnya dengan intens.
__ADS_1
"Kamu udah-"
"Empin ke mana, Ri?" Suara Ayanda membuat Riana dan Jingga menoleh. Mereka memamerkan senyum canggung mereka.
"Katanya tadi mau ke Pipo, Mom."
Ayanda pun menyusul ke ruang kerja sang suami. Sudah pasti Gavin ada di sana. Riana dan Jingga menatap punggung ibu mertua mereka. Setelah tidak terlihat, barulah mereka mulai berbincang.
"Ada apa, Mbak?" tanya Jingga.
"Kamu udah melakukan hubungan suami-istri?" tanya Riana tanpa berbasa-basi.
Jingga terdiam sejenak. Namun, semburat merah terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Pertanyaan aku salah, ya," imbuh Riana. Jingga menggelengkan kepalanya. Riana pun tertawa. "Harusnya aku bertanya, berapa ronde kalian melakukannya?"
Mata Jingga melebar dan dia pun berdecih kesal. Kakak ipar yang dia anggap alim ternyata jauh berbeda. Namun, dia bahagia karena dia bisa terbuka perihal apapun kepada Riana. Jika, kepada Echa dia masih canggung. Ditambah Echa sibuk dengan pekerjaannya.
"Kapan pertama kali kamu melakukannya?" Riana masih penasaran dengan hubungan ranjang adik iparnya ini. Apakah Aska sama seperti Aksa?
"Dua hari selesai nifas langsung ditengokin. Katanya kangen." Sontak Riana tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar kembar identik," ujar Riana. Dahi Jingga mengkerut mendengar ucapan dari Riana.
"Apa perut kamu tidak kenapa-kenapa?" Riana khawatir karena persalinan Jingga dilakukan dengan cara Caesar.
"Mbak tenang saja," ujar Jingga. "Sebelum kami memutuskan untuk berhubungan suami-istri, kami sudah berkonsultasi dengan dokter Gwen." Mata Riana melebar mendengar ucapan dari Jingga.
"Benarkah?" Jingga pun mengangguk. Sungguh super sekali sepasang suami-istri ini.
"Gimana rasanya?" Sungguh Riana kakak ipar yang kepo.
"Makin enak."
Mereka pun tertawa bersama. Malah bercerita perihal hal ranjang yang membuat mereka tertawa bersama.
.
Empat bulan sudah usia Ayna. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan juga lucu. Semua orang sangat menyukainya. Kabar perihal dokter Eki pun tidak tembus ke telinga Jingga. Hanya para pria saja yang tahu akan hal itu. Mereka semua tidak ingin melihat Jingga bersedih kembali. Terutama Gio dan juga Aska. Mereka berdua teringat akan ucapan Jingga tempo hari. Jikalau, dia sudah menganggap dokter Eki mati.
Hari ini, tubuh Jingga terasa pusing. Kepalanya sangat berat hingga dia tidak sanggup bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Sayang, Ayna belum mandi itu," ujar Aska ketika dia keluar dari kamar mandi. Istrinya masih berada di bawah selimut tebal.
"Aku pusing, Bang. Kepala aku berat banget."
Mendengar itu semua membuat Aska sedikit panik. Dia segera mengahampiri istrinya dan mengecek suhu tubuh Jingga dengan punggung tangannya.
"Panas banget, Yang." Aska segera memakai baju dan menuju lantai bawah. Dia akan memanggil sang ibu tercinta.
"Mom!"
Aska berteriak cukup kencang. Ayanda yang tengah membuatkan kopi untuk sang suami menghampiri putranya.
"Kenapa kaya Tarzan?" sergah Ayanda.
"Jingga demam, Mom. Ayna belum mandi." Ayanda segera menuju kamar sang putra. Dia mengecek suhu tubuh Jingga yang ternyata benar sangat tinggi.
"Mommy akan mengurus Ayna dan menyuruh dokter keluarga datang untuk memeriksa Jingga." Ayanda hendak keluar dan sudah menggendong Ayna, tetapi dicekal oleh Jingga.
"Gak usah panggil dokter. Aku hanya butuh istirahat. Sudah tiga malam ini Ayna selalu menangis dan tidak mau tertidur."
"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" sergah Aska kepada istrinya.
"Aku gak mau ganggu Bang As. Bang As pasti lelah karena lembur terus menerus."
Ayanda tersenyum ke arah menantunya. Dia bangga pada Jingga yang tidak manja.
"Ya udah, minum paracetamol aja dulu, ya. Terus istirahat. Kalau demamnya tidak kunjung turun, kamu harus mau diperiksa oleh dokter." Perkataan Ayanda tidak bisa terbantahkan.
"Iya, Mom."
"Ya udah, Ayna Mommy bawa ke kamar Mommy, ya. Kamu istirahat." Jingga pun mengangguk. Dia sangat berterimakasih kepada ibu mertuanya yang sangat luar biasa ini. Mampu mengerti dia walaupun dia tidak berkata apapun.
Aska tidak tega meninggalakan Jingga seorang diri. Hari ini, ada pertemuan penting dan Aska sudah diancam oleh sang Abang.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya." Jingga pun mengangguk. Aska mengecup kening Jingga dengan sangat dalam.
.
Ting!
Bang, aku pengen mangga muda sama sambal rujaknya.
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....