
Lampu yang menandakan bahwa operasi sedang berlangsung, masih saja menyala. Padahal sudah tiga jam berlalu namun, sampai sekarang operasi belum usai juga.
Akhtar dengan penampilannya yang sudah berantakan nampak gelisah dan sangat cemas. Tak henti-hentinya ia berjalan kesana kemari tepat di depan pintu ruang operasi yang sedang menangani Arumi. Ia tak menyangka pertemuannya dengan istrinya akan sedramatis seperti ini.
Akhtar mulai berasumsi bahwa kecelakaan Arumi adalah karena dirinya. Kemungkinan Arumi telah lama berada di kafetaria itu dan tak disangka ia mendengar pembicaraan dirinya bersama Bella.
Bella adalah mantan kekasih Akhtar yang dulu sangat ia cintai. Namun, entah mengapa Bella malah meninggalkan dirinya dan memilih menikah bersama orang lain. Hingga mereka bertemu kembali saat Bella kebetulan sedang menjenguk temannya yang dirawat di rumah sakit tempat Akhtar bekerja.
Awalnya ia tak ingin menerima ajakan Bella yang memintanya untuk ngopi bersama, karena merasa tak enak jika menolak akhirnya ia menerimanya. Dan ia tak akan menyangka Bella akan berkata seperti itu hingga Arumi mendengarnya dan merasa tersakiti.
Ah, padahal hari ini Akhtar berniat untuk menjemput Arumi untuk pulang kerumah mereka, tapi ia tak menyangka akan terjadi seperti ini.
"Bagaimana keadaan Arumi?" tanya Beno. Ia baru saja datang bersama Dania.
Ketika mendengar kabar Arumi kecelakaan, ia juga begitu terkejut dan segera bergegas kerumah sakit. Hari ini Beno libur jadi ia berada di rumah sepanjang hari menemani istrinya yang sedang hamil.
"Belum tahu, sudah tiga jam operasinya berlangsung tapi sampe sekarang belum juga usai." jawab Akhtar. Matanya memerah seperti menahan sesuatu agar tak keluar.
Beno dan Dania baru melihat penampilan Akhtar yang begitu kacau seperti ini. Rambutnya acak-acakan, kekhawatiran tertulis jelas di wajahnya dan ada juga rasa penyesalan yang amat mendalam.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini sih, Tar? Kamu bertengkar sama dia?" tanya Dania.
"Nggak Nia, aku saja baru bertemu dia tadi dan berakhir seperti ini. Hiks..hiks.."
Tak dapat lagi tertahankan, airmata yang sedari tadi tertahan akhirnya terjatuh. Beno dengan sigap memeluk sahabatnya, ia baru melihat sisi terlemah seorang Akhtar hingga meneteskan airmata.
__ADS_1
Dania sendiri sangat prihatin melihat kondisi Akhtar, ia tak mampu bersuara lagi. Akhtar menumpahkan kekecewan akan kebodohannya dalam dekapan sahabatnya. Beno tahu inilah sisi Akhtar yang lainnya, sisi terlemahnya yang jarang ia perlihatkan.
"Yakinlah, semua akan baik-baik saja." ucap Beno. Ia berusahan untuk menenagkan sahabatnya.
Akhtar tak lagi mampu berbicara, ia hanya diam menatap pintu ruang operasi yang tak kunjung terbuka. Ingin rasanya ia memberontak dan masuk untuk melihat keadaan istrinya.
Namun, sebelum hal itu terjadi, pintu ruang operasi itu terbuka. Akhtar dengan segera menghampiri seorang perawat yang baru saja keluar. "Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Akhtar yang tak sabar.
Perawat itu melepas maskernya. "Ibu Arumi mengalami pendarahan dan hampir kehabisan darah, sekarang kami membutuhkan darah dengan golongan AB+ sesegera mungkin."
"Bukankah di bank darah ada?" tanya Beno.
"Maaf pak, golongan darah AB+ saat ini sedang kosong."
"Nggak apa-apa, kalau pun cocok kamu juga tidak bisa memberikannya karena kamu sedang hamil." ucap Akhtar.
"Maaf aku juga tidak bisa, golongan darah ku juga tidak cocok. Bagaimana dengan kamu?"
"Aku bahkan yang suaminya tidak dapat membantunya." tunduk Akhtar kesal.
"Dania kamu temani Akhtar disini, aku akan mencarinya di tempat lain. Kalian tunggulah, aku akan segera kembali."
Beno pun pergi dengan cepat, tanpa menunda lagi. Ia segera mencari golongan darah yang sama dengan Arumi dan harus menemukannya dengan segera.
Perawat yang tadi juga kembali masuk keruang operasi. Kini tinggal Akhtar dan Dania dengan penuh harap-harap cemas. Akhtar sendiri masih seperti sebuah setrika berjalan, ia sangat-sangat khawatir saat ini dan ia selalu berdoa agar semua berjalan lancar.
__ADS_1
Tak lama kemudian lampu ruang operasi tiba-tiba mati, pertanda operasi telah berakhir. Tapi, bukankah mereka tadi mengatakan butuh darah? Kecemas Akhtar semakin menjadi, saat pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter yang menangani Arumi juga keluar.
"Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Akhtar.
Seperti ada keraguan di wajah dokter itu, saat akan mengucapkan sesuatu. Namun, bagaimana pun juga ia harus mengungkapkan hasilnya.
"Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin..."
"Apa? Tidak mungkin kan Dok?" dengan penuh emosi dan kekhawatiran Akhtar menarik kra baju dokter tersebut.
"Akhtar tenang, jangan terbawa emosi. Maaf Dok, mungkin dia sedikit terguncang." ucap Dania. Ia menarik tangan Akhtar yang berada di kra baju dokter itu hingga terlepas.
"Saya memakluminya. Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Pasien mengalami pendarahan yang hebat pada kepala dan juga perutnya, sehingga kami tidak bisa menyelamatkan keduanya. Saya turut berduka cita."
Akhtar terkejut mendengar pernyataan dokter itu hingga membuatnya terhiyung kebelakang. Ia sungguh tak mempercayai semua pernyataan itu. Tapi tunggu, tadi dokter bilang tidak bisa menyelamatkan keduannya? Apa maksudnya?
"Apa maksud dokter tidak bisa menyelamatkan keduanya?" tanya Akhtar.
"Maaf pak, sepertinya pasien sedang hamil dan usia kandungannya di perkirakan sudah 5 bulan."
"Apa? Bagaimana mungkin..."
Akhtar terjatuh dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Ia tak menyaka jika sebenarnya ia akan menjadi seorang ayah. Tapi itu hanya mimpi belaka. Kini ia telah kehilangan orang yang sangat dicintainya dan bahkan calon anaknya yang baru ia ketahui.
***
__ADS_1