Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
186. Sudah Mati


__ADS_3

Jingga menghabiskan harinya hanya dengan bedrest di rumah. Itu adalah saran dari dokter Gwen karena kandungan Jingga masih rawan. Sedangkan keluarganya menginginkan keempat janin itu lahir semua ke dunia. Sebagai manusia, dokter Gwen hanya bisa melakukan yang terbaik. Hasilnya biarlah Tuhan yang menentukan.


Terbesit bayang wajah sang ayah di kepalanya. Dia pun terdiam. Remote masih dia pegang tanpa dia tekan tombol apapun. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa aku harus mengingat orang itu?" gumamnya.


Dia masih sering berkomunikasi dengan pamannya yang bernama Riki. Namun, Riki pun tidak pernah membahas perihal dokter Eki. Dia maupun Jingga memiliki rasa sakit hati yang sama.


Jingga memilih untuk tidur dari pada pikirannya melayang ke sana ke sini. Ayanda akan terus memantau Jingga. Dia akan bolak-balik ke kamar Jingga memastikan menantunya baik-baik saja.


Hembusan napas lega keluar dari mulut Ayanda. Lengkungan senyum terukir di wajahnya. Dia sangat bahagia melihat menantunya yang semakin hari semakin ceria.


Jika, melihat Jingga dia teringat kepada putri pertamanya. Untung saja, mantan suaminya tidak sekejam dokter Eki. Itulah yang membuat Ayanda menyayangi Jingga seperti anaknya sendiri. Ditambah Jingga juga memiliki kepribadian yang baik.


Ayanda segera ke dapur, dia melihat ada stok camilan sehat apa di sana. Dia sendiri yang akan membuatkan cemilan untuk sang menantu dan juga empat calon cucunya.


Jam dua siang Jingga baru terbangun. Perutnya terasa lapar. Dia segera mencuci wajahnya dan menuju lantai bawah.


"Udah bangun menantu Mommy." Jingga tersenyum dan memeluk tubuh Ayanda dari samping.


"Mau dimasakkin apa?" tanya Ayanda.


"Aku pengen capcai sama cumi tepung, Mom."


Ayanda tersenyum, sesibuk apapun dia jika sudah menyangkut permintaan sang menantu pasti akan dia laksanakan.


"Aku bantuin, ya." Ayanda mengangguk. Namun, Ayanda tidak membiarkan Jingga melakukan hal yang berat. Tugas Jingga hanya memotong sayuran.


Setelah semuanya selesai, Ayanda lah yang memasaknya khusus untuk sang menantu tercinta. Menunggu sang mommy masak, biasanya Jingga akan memakan buah anggur hijau.

__ADS_1


Sedang asyik menikmati buah anggur, seorang pelayan menghampiri Jingga. Dia mengatakan bahwa ada tamu dan mencari dirinya.


Dahi Jingga pun mengkerut. Siapa yang mencarinya? William tidak mungkin, dia sedang ditugaskan ke Singapura. Walaupun hendak ke rumah, dia akan menghubungi Jingga terlebih dahulu.


"Siapa?" tanya Jingga. Pelayan itu hanya terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa.


"Nyonya keluar saja," ujar Jingga.


Rasa penasaran pun membuncah. Jingga keluar menemui tamu yang katanya ada di teras. Jingga pun merasa aman karena banyak cctv yang terpasang di rumah besar itu.


Pelayan itu hanya mengantar Jingga hingga ke depan pintu. Setelah itu dia segera meninggalakan Jingga.


Dahi Jingga mengerut ketika melihat ada kursi roda di depannya. Di atasnya sudah duduk seorang pria dengan posisi kursi roda itu membelakanginya.


"Maaf, Anda siapa?"


Suara Jingga membuat orang yang berada di kursi roda itu menggerakkan roda dari kursi roda itu dengan menggunakan tangan agar bisa berbalik arah ke arah suara Jingga. Mata Jingga melebar ketika melihat siapa yang ada di depannya.


Jingga menelisik tubuh pria itu dari atas hingga bawah. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Apa secepat ini karma itu datang?


"Maafkan Ayah, Jingga." Bulir bening menetes di pelupuk mata pria itu. Sedangkan Jingga hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Tidak ada jawaban dari Jingga. Hanya tatapan tajam yang Jingga berikan kepada ayahnya. Tatapan penuh kebencian walaupun kondisi ayahnya sudah tidak seperti dulu lagi.


"Ayah menyesal, Jingga."


"Penyesalan Anda sudah terlambat. Penyesalan Anda tidak akan merubah kenyataan pahit yang sudah saya derita. Tidak akan mengembalikan apa yang sudah saya punya," balasnya dengan begitu ketus.


Dokter Eki mengayuh kursi rodanya mendekati Jingga. Namun, Jingga melarangnya.

__ADS_1


"Jangan mendekat kepada saya!" larangnya penuh penekanan.


Dokter Eki pun menghentikan kursi rodanya. Dia menatap Jingga dengan kepiluan yang mendalam.


"Ini Ayah kamu, Jingga," ucapnya.


"Masih berani Anda menyebut diri Anda Ayah saya," sentak Jingga. Wajahnya penuh dengan kemarahan yang mendalam.


"Tidak ada seorang Ayah yang bahagia melihat anaknya menderita, dan tidak ada seorang ayah yang dengan sengaja membunuh ibu dari anaknya hanya karena anaknya yang lain sudah tidak memiliki ibu. Apa manusia seperti itu pantas disebut Ayah!" Suara Jingga sudah meninggi. Wajahnya sudah merah padam.


Dokter Eki terdiam mendengar ucapan Jingga. Dia tidak menyangka bahwa Jingga mengetahui semuanya.


"Anda sangat tidak suka kepada dua cucu Anda yang memiliki fisik tidak sempurna. Tanpa Anda sadari, ketidaksempurnaan itu menurun dari ibu Anda. IBU ANDA, DOKTER EKI MANDALA."


Deg.


Eki pun terdiam. Apa yang dikatakan oleh Jingga memang benar. Keluarga ibunya memang memiliki gen difabel.


"Anda sangat jijik kepada Dea dan juga Ayna. Sekarang, Anda merasakan bagaimana menjadi kaum difabel," cibir Jingga. "Apakah enak? Apakah bisa leluasa seperti manusia normal pada umumnya?" sergah Jingga.


"Jaga mulut kamu, Jingga!" bentak dokter Eki.


"Bagaimanapun saya ini ayah kamu. Ayah biologis kamu," ucap dokter Eki penuh penekanan. Dia tidak menyangka bahwa Jingga akan berbicara kasar seperti itu.


Jingga berdecih kesal ke arah dokter Eki. Ingin sekali dia meludahi wajah dokter Eki tersebut. Namun, dia masih memiliki tata Krama.


"Ketika Anda seperti ini, baru Anda mengakui bahwa Anda adalah ayah biologis saya. Ketika fisik Anda masih sempurna, ke mana Anda? Apakah Anda menganggap saya anak Anda? Apakah Anda memperlakukan saya seperti seorang anak? Bukankah Anda memperlakukan saya bagai bank berjalan saja." Jingga sudah benar-benar geram. Apa yang dia rasakan dia utarakan.


"Asal Anda tahu, ketika Anda menyumpahi anak saya dengan kata-kata teramat menyakitkan. Dari situlah saya sudah menganggap Anda mati. MATI!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2