
Aska masuk ke dalam kamar di mana istrinya sudah duduk di tepian ranjang. Dia ikut duduk di samping sang istri dan memeluk mesra pinggang Jingga.
"Aleena udah di rumah?" Aska mengangguk.
"Ya udah sekarang Ayah mandi gih. Bunda udah siapin air hangatnya."
Aska bagai anak kecil yang menurut saja apa yang dikatakan oleh Jingga. Dia dapat bernapas lega Jingga sudah melupakan hal semalam. Namun, kepalanya berdenyut hebat ketika kedua kakaknya mengambil keputusan yang membuat Aska tidak yakin akan berhasil atau tidak.
Sambil berendam Aska berpikir keras. Bagaimana membujuk istrinya. Sedangkan istrinya keras kepala luar biasa. Tak terasa satu jam berlalu, Aska baru keluar dari kamar mandi. Jingga menatap tajam ke arah suaminya.
"Ayah mandi apa tidur?" Pertanyaan yang membuta Aska malah tertawa. Dia mencubit gemas pipi Jingga yang semakin chubby.
"Keringkan rambut Ayah dong, Bun," pintanya. Jingga pun menuruti apa kata sang suami.
Aska merasakan tendangan-tendangan dari anak-anaknya yang cukup kencang.
"Anak-anak kita aktif ya, Bun," ujar Aska.
"Banget," jawab Jingga.
Terbesit siluet Ayna dan juga Dea di kepala Aska. Bagaimana jika nanti anak-anaknya bernasib seperti kedua kakak mereka? Apa dia akan sanggup menerimanya?
"Pasti Ayah takut 'kan kalau anak-anak lahir akan berfisik tidak sempurna seperti kakak-kakak mereka." Jingga seakan tahu apa yang tengah dia pikirkan. Aska pun membalikkan tubuhnya dan menatap intens wajah Jingga.
"Ayah hanya takut jika Ayah tidak bisa ikhlas menerimanya," sahut Aska. Jingga merespon dengan senyuman.
"Keikhlasan akan datang dengan sendirinya," balas Jingga. "Jikalau, Tuhan memberikan anak-anak yang tidak sempurna lagi, Bunda tidak akan marah, Bunda ikhlas. Anak hanyalah titipan dan sebagai orang tua kita harus bisa menjaga juga merawatnya."
Sebuah jawaban yang sangat menenangkan. Terlebih ucapan itu terdengar sangat tulus.
"Bunda yakin, kita akan bisa merawat dan membesarkan mereka terlepas keadaan mereka sempurna atau tidak," lanjutnya. "Jangan mau kalah sama orang-orang yang hidupnya pas-pasan malah cenderung kekurangan, tapi mampu menjaga dan merawat anak-anak yang tidak sempurna yang Tuhan titipkan. Sedangkan kita ... diberi rezeki lebih sama Tuhan, pasti bisa dan sanggup merawat mereka semua."
Lengkungan senyum terukir di wajahnya. Dia merasa menjadi pria yang sangat beruntung karena bisa memperistri Jingga. Wanita yang benar-benar berbeda dengan wanita yang lain.
Suara gedoran pintu terdengar, Aska yang baru hendak mencium bibir sang istri mengerang kesal. Ketika pintu kamar dibuka dahinya mengkerut melihat keponakan tampannya digendong oleh sang ayah dengan wajah yang pucat.
"Kurang baterai?" sergah Askara.
"Anteu, Mas mau Anteu," ucap anak yang berisi empat tahun lebih itu dengan suara lemas.
"Dari gua pulang kerja ini anak pengen ke bini lu terus, gak mau minum obat juga," terbang Aksara.
Aska tidak tega dan mengambil alih Gavin dari gendongan Aksa. "Makan apa sih nih anak, udah kaya karung beras aja," gerutu Aska.
"Jangan lupa biaya menginap satu malam. Transfer sekarang juga." Kelakuan Aska yang tidak mau rugi kepada kakaknya sendiri. Itu menandakan bahwa keempat keponakannya menuruni tingkah laku Aska. Jadi, jangan salahkan mereka jika terus memalak sang paman.
__ADS_1
"Loh?" Jingga nampak khawatir ketika melihat Gavin digendong oleh suaminya.
"Jangan minta gendong Anteu, ya. Kasian Dedek bayinya." Anak itu hanya mengangguk pelan.
Tangan Jingga menyentuh dahi Gavin. Dia cukup terkejut karena suhu tubuh Gavin terbilang panas.
"Dia demam?" Aska mengangguk dan menidurkannya di atas ranjang.
"Katanya nih anak pengen ke kamu terus, gak mau minum obat juga," terang Aska.
"Ya ampun, kasihan sekali."
Jingga sudah mengambil termometer yang ada di tempat P3K. Mengukur suhu keponakan tercinta. Setelah termometer berbunyi, dia melihat angka yang tertera di sana.
"Tiga puluh delapan koma dua," ucapnya. Aska ikut melihat termometer tersebut dan keponakannya benar-benar sakit.
Ketukan pintu terdengar lagi, Aska membukanya kembali dan sang Abang menyerahkan tas Gavin ke Aska.
"Set dah! Enak amat lu!" sungut Aska.
Aksa menunjukkan ponselnya dan terlihat bukti transferan ke rekening miliknya senilai lima belas juta. Matanya pun berbinar.
"Cakep dah Abang gua kalau begini mah." Aksa hanya mendelikkan matanya dan menoyor kepala sang adik.
"Mata duitan!"
"Ini ada obat penurun panas, ada plester demam juga," ujar Aska. Tangannya sudah mengeluarkan obat-obatan yang ada di dalam tas.
"Ayah, beliin bubur dulu gih," titah Jingga. Dahi Aska pun mengkerut.
"Sebelum Empin minum obat, harus makan dulu." Sebenarnya Aska malas keluar, tetapi demi sang keponakan dia rela karena sudah dibayar cash oleh sang Abang tercinta.
Sebelum dia pergi, dia menghubungi Aleena. Dia penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada keponakannya. Setahu dia Kalfa adalah teman dekat Aleena. Sang keponakan pun sudah ada di depan pagar rumahnya. Aska menyuruh Aleena naik dan menuju tukang bubur. Tidak ada obrolan di sana. Hingga tiba di tukang bubur mereka bisa berbincang berdua. Berhubung antrian masih panjang, mereka memilih untuk berbincang saja.
"Itu anak tadi gak dibawa kalong Wewe maghrib-maghrib ke rumah." Aska sudah membuka suara. Aleena hanya tersenyum menimpali ucapan sang paman.
"Om, kenapa ya terkadang orang yang baru dikasih rejeki banyak sama Tuhan malah bersikap sangat sombong," ujarnya. Aleena sudah menatap ke arah sang paman.
"Maksud kamu orang gak punya dikasih kaya?" Aleena mengangguk.
"Mereka itu kaget," jawab Askara. "Dari cuma megang uang dua ribuan sekarang dua puluh jutaan. Bedanya jauh 'kan."
"Harta yang kita miliki itu 'kan hanya titipan, Om." Aleena menimpali ucapan dari sang paman.
"Namanya juga orang yang baru kaya, beda halnya dengan orang kaya beneran. Dari sekilas aja kamu pasti bisa bedain, terutama sikap." Aleena mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Semuanya tergantung cara didik orang tua, Na. Kalaup kita selalu dididik untuk membumi. Coba kalau orang lain mah, mana mau orang kaya jajan bubur ayam gerobakan? Mana mau jajan telur gulung seribuan."
Aleena malah tertawa dan menatap tajam ke arah sang paman. Dia merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh pamannya. Aleena sangat hobi makan telur gulung.
"Itulah alasan kenapa Kakak Na gak mau sekolah di sekolah mahal. Jajanannya gak enak," kelakarnya.
Mereka berdua malah tertawa. Itulah alasan anak-anak Giondra dan tiga cucu Ayanda memilih sekolah di sekolah biasa. Alasannya utamanya karena makanan.
Aska memesan bubur cukup banyak. Sudah pasti kembaran Aleena pun datang ke rumah besar. Belum lagi engkong dari keponakannya ini yang sangat hobi dengan makanan gratisan. Bohong jika Aksa tidak menghubungi mertuanya.
"Mau telur gulung gak?" Aleena mengangguk dengan cepat.
"Lima puluh ribu ya, Bang." Aska hanya tersenyum melihat keponakannya yang tidak jijik-an jajan di pinggir jalan. Malah terlihat begitu senang. Hari ini juga Aska menjelma menjadi manusia yang tidak perhitungan.
Tibanya di rumah, lantai bawah terasa sepi dan ketika masuk ke kamar Aska melebarkan mata ketika semua orang sudah ada di sana.
"Lama amat," omel Jingga.
"Pasti mampir dulu," tebak sang ibu.
Aska dan Aleena hanya tersenyum. Aska menyerahkan satu steroform bubur ayam kepada Jingga.
"Mas, makan dulu, ya." Anak itu pun patuh kepada sang Tante. Ada kebahagiaan di hati Jingga melihatnya.
Jingga menyuapi Gavin dengan telaten. Tidak sedikit pun anak itu mengeluh. Dia terus melahap bubur hingga tak tersisa. Aska malah menggelengkan kepala tak percaya.
"Nih anak sakit juga gak dikasih makan sama emaknya."
Plak!
Punggung Aska dipukul oleh Ayanda dan juga Rion. Dia ditatap tajam oleh kakek dan nenek Gavin.
"Nih bocah kalau lagi sakit emang susah makan," omel Rion kepada Aska.
"Dia hanya ingin makan ketika banyak orang seperti ini." Aska mengangguk mengerti mendengar penjelasan sang mommy.
"Minum obat ya, ganteng." Gavin pun mengangguk. Setelah minum obat anak itu malah turun dari tempat tidur dan meraih bungkusan plastik yang ada tusukannya. Membawanya kabur keluar dari kamar Askara.
"Empin! Telur gulung Kakak Na!"
Terjadilah kekacauan di mana para cucu Ayanda dan Rion berebut telur gulung. Aska hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kalau tuh anak sakit tinggal beliin telur gulung aja. Pasti sembuh."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....