
Keysha membalas pelukan Rifal. Dia sangat tahu bagaimana hancurnya Rifal saat ini. Ternyata, keputusan Rifal menerima pernikahan dadakan dengan wanita yang ayahnya pilihkan itu memang keputusan yang sangat tepat.
"Kakak yang sabar, ya."
Bukan hanya Rifal yang menitikan air mata. Elyna pun ikut menyeka ujung matanya. Ada rasa ngilu di hatinya. Ada rasa sakit, tapi tak berdarah yang dia rasakan.
"Om Addhitama sudah bahagia di surga, bertemu dengan Mamihnya Kakak. Beliau juga sudah lega karena sudah menyaksikan Kakak menikah dengan wanita pilihannya," papar Keysha, seraya mengusap lembut punggung Rifal.
"Kalau Kakak memilih Key, pasti Papih Kakak akan sedih karena belum menyaksikan Kakak melepas masa lajang Kakak hingga sekarang."
Rifal tidak bisa menjawab apapun. Pelukan Keysha membuatnya merasa tenang. Kano dan Sheza hanya saling pandang. Mereka pun menatap ke arah Elyna yang terlihat sedih. Sheza memberanikan diri untuk menghampiri Elyna.
"Maaf, kamu istrinya Rifal?"
Teguran itu membuat Elyna segera menyeka ujung matanya. Dia tersenyum ke arah Sheza. Wanita yang sangat mirip dengan Keysha.
"Maafkan anak saya yang sudah lancang membalas pelukan suami kamu," ujar Sheza dengan begitu sopan. Elyna hanya tersenyum hambar.
"Anak saya hanya sekedar menenangkan Rifal. Saya pastikan, anak saya tidak akan pernah merebut Rifal dari kamu. Dia akan pergi jauh dari Rifal."
Elyna terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibunda Keysha. Rasa takut di hatinya seketika menguap. Apakah benar? Itulah yang masih menjadi pertanyaan di hati Elyna. Bukankah, setelah mertuanya tiada Keysha bisa dengan mudah mendapatkan Rifal?
Radit dan Rindra sudah mengurus pemakaman. Di mana sang ayah ingin dimakamkan satu liang lahat bersama mendiang sang ibu tercinta. Sebenarnya Radit menginginkan ayahnya dimakamkan di pemakaman elite. Namun, setiap ayahnya ziarah ke makam sang mamah. Beliau selalu mengatakan ingin dimakamkan bersama sang istri. Tidak mau berpisah dengan istrinya.
Dua pria senja yang memiliki kekuatan juga kekuasaan kini sudah tiada. Tuhan sudah memanggil mereka karena Tuhan yakin tugas mereka berdua di dunia ini sudah selesai. Tidak ada gunanya lagi mereka berada di dunia ini.
Setelah selesai dimandikan juga disholatkan, jenazah dibawa ke tempat pemakaman umum di mana ibunda dari Radit dikebumikan. Untuk saat ini air mata mereka sudah surut.
Ketika keranda digotong menuju liang lahat yang masih kosong. Rasa hancur itu mulai hadir kembali. Sekuat tenaga anak-anak Addhitama tidak menitikan air mata. Namun, ketika jenazah diturunkan ke liang lahat. Dihadapkan ke kiblat dan mencium bumi. Di sanalah kerapuhan tiga pria dewasa itu hadir. Mereka bertiga membalikkan tubuh mereka agar air mata tidak terjatuh pada sang jenazah.
Deras sekali air mata mereka melaju. Perih sekali hati mereka saat ini. Tumpuan mereka telah pergi. Panutan mereka telah tiada. Ke mana mereka harus berlabuh. Apalagi mereka tahu pasti akan banyak ombak dan badai yang akan menerpa mereka.
Di atas liang lahat, para istri dari tiga pria itupun ikut menangis. Mereka sangat tahu bagaimana kedekatan ketiga pria itu dengan sang ayah mertua.
Satria memberikan kode kepada ketiga keponakannya untuk melanjutkan pemakaman, kasihan jenazah.
Adzan sedang Radit kumandangkan. Suaranya terdengar bergetar dan sangat berat. Dadanya sesak dan seakan tak sanggup melanjutkan. Namun, dia terus memaksakan. Setelah adzan dikumandangkan, dilanjut dengan iqhamah.
...
__ADS_1
Allahuakbar Allahuakbar
Laa ilaaha illallah
Tak terasa bulir bening menetes lagi di pelupuk mata Radit. Ini adalah adzan dan Iqamah kedua yang mampu membuat Radit menangis. Pertama, ketika dia megadzani ketiga anaknya yang lahir ke dunia sepuluh tahun yang lalu. Air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Beda halnya dengan sekarang. Air mata kesedihan yang Radit rasakan.
Tanah merah yang ada di pinggiran liang lahat mulai diturunkan. Ada rasa sakit yang mereka bertiga rasakan. Lelehan air mata masih menetes walaupun sudah tak sederas tadi. Sekarang, tubuh Addhitama sudah tertimbun tanah merah. Di atasnya hanya ditancapkan batu nisan kayu untuk sementara waktu.
Untaian doa mereka panjatkan. Air mata masih berjatuhan. Sekuat-kuatnya hati anak lelaki, tetap saja mereka rapuh. Hampir di seluruh usia mereka hidup bersama sang ayah dan kini ayah mereka pergi untuk selamanya.
Ketiga anak Radit memeluk tubuh Radit. Begitu juga dengan Rio yang sudah memeluk tubuh Rindra. Rifal, dia malah memeluk tubuh Keysha untuk kesekian kalinya. Tak dia pedulikan Elyna di sana. Elyna bagai makhluk astral yang tidak nampak oleh matanya.
Echa dan Nesha tidak memikirkan hal lain selain suami dan anak-anak mereka. Keluarga besar mereka tengah berduka, yang ada di kepala mereka sekarang adalah kehilangan ayah mereka untuk selama-lamanya. Kepergian yang abadi dan tidak akan pernah kembali.
Elyna, sekuat hatinya tidak menitikan air mata melihat suaminya memeluk tubuh perempuan lain. Namun, tetap saja hatinya tidak bisa berdusta. Di saat seperti ini siapa yang akan peduli. Mereka semua tengah bersedih. Kehilangan orang yang sangat berarti. Harusnya Elyna sadar diri, siapakah dirinya saat ini tanpa Addhitama.
Ketika Addhitma dinyatakan meninggal sudah dapat dibayangkan bagaimana nasibnya setelah ini. Dia akan dibuang karena sedari awal suaminya memang terpaksa menikahinya. Jikalau, sang mertua tidak terus mendesak sudah dipastikan suaminya itu tidak akan menyetujui pernikahan ini. Apalagi, mantan kekasih suaminya sangatlah cantik berbeda jauh dengan dirinya yang hanya anak yang dibesarkan di panti asuhan dengan pendidikan yang sangat minim.
Elyna pun merasa jika kedua iparnya seakan acuh kepadanya. Padahal, pada nyatanya Echa juga Nesha memiliki kesibukan masing-masing. Echa yang memang menjabat sebagai owner A&R bakery dan Nesha yang tengah membangun bisnis rumah makan. Maka dari itu, selama hampir sebulan membina rumah tangga bersama Rifal, tidak pernah sekalipun sang ipar perempuan Elyna mendatangi rumah Addhitama. Hanya ada Rindra juga Radit yang datang. Itupun hanya untuk membicarakan bisnis dengan mertuanya.
"Kamu pasti kuat, El," gumamnya.
Acara pemakaman pun sudah selesai. Semua pelayat sudah pulang. Kini, hanya menyisakan keluarga Addhitama, Giondra juga Rion Juanda.
"Radit masih membutuhkan Papih."
Ketiga anak Radit memeluk tubuh ringkih sang ayah. Mereka baru melihat ayahnya serapuh ini. Berbeda dengan kedua om mereka yang terlihat lebih tegar.
"Lebih baik kita pulang. Papah akan bantu kamu menyiapkan acara tahlilan." Giondra sudah berucap kepada Radit. Bagaimanapun Addhitama adalah sahabat dari ayahnya. Dia akan membantu hingga semuanya selesai.
Di sepanjang perjalanan, Keysha merasa tidak enak kepada istri dari Rifal. Namun, Rifal seakan tidak mau melepaskan genggaman tangannya kepada Keysha. Elyna sedari tadi memalingkan wajahnya, tidak ingin melihatnya sama sekali.
Tibanya di kediaman Addhitama. Elyna segera turun dari mobil. Keysha hanya dapat menghembuskan napas kasar. Dia menghentikan langkahnya ketika Rifal menarik tangannya untuk masuk ke dalam. Rifal menatap ke arah Keysha dengan penuh tanya. Dahinya pun mengkerut.
"Tunggu di sini," ujar Keysha.
Perempuan itu malah masuk ke dalam dan dia mencari Elyna. Ternyata wanita berhijab itu ada di dapur.
"Maaf, Mbak," ucap Keysha. Elyna pun hampir tersedak melihat keberadaan Keysha di sampingnya.
__ADS_1
"Boleh ikut saya sebentar?" Keysha bersikap sopan dan mengajak Elyna keluar. Namun, Elyna masih terdiam. Dia masih ragu.
"Aku bukan orang jahat kok, Mbak." Keysha menunjukkan wajah seriusnya. Akhirnya Elyna mengikuti ajakan Keysha. Hatinya sudah pasrah.
Ketika sampai di depan rumah, mata Rifal melebar melihat Keysha membawa Elyna.
"Kenapa dia-"
"Kak Rifal tenang dulu," potong Keysha. Dia mencoba menenangkan Rifal dan menarik tangan Elyna agar mendekat kepadanya.
Sekarang, Keysha sudah berada di tengah-tengah mereka berdua. Keysha melihat ke arah Rifal dengan hangat. Dia juga tersenyum penuh kehangatan kepada Elyna.
"Kak, Key datang ke sini untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Om Addhitama. Sekaligus Key ingin berpamitan kepada Kakak."
Jantung Rifal terasa berhenti berdetak mendengar penuturan dari Keysha sekarang ini. Kedua alisnya menukik sangat tajam.
"Key akan menetap di salah satu negara di benua Eropa." Rifal sangat terkejut mendengar ucapan Keysha.
"Di negara mana?" tanya Rifal dengan begitu cepat. Elyna hanya tersenyum kecut, sudah pasti suaminya itu akan menanyakannya.
"Key tidak akan memberitahukannya kepada siapapun," sahut Keysha dengan senyum manisnya.
"Cintailah istri Kakak. Jangan sakiti dia karena Key sangat yakin, bahwa cinta di antara kalian akan hadir seiring berjalannya waktu."
Tanpa Rifal dan Elyna duga, tangan Keysha mempersatukan tangan Rifal dan juga Elyna.
"Jangan buat Papih Kak Rifal kecewa di surga sana. Menikah itu bukan untuk main-main, tetapi janji sehidup semati di depan Tuhan dan juga para saksi."
Elyna tercengang mendengar ucapan dari Keysha. Dia menatap penuh haru ke arah Keysha yang terlihat sangat berlapang dada. Dia juga melihat ke arah bawah. Di mana tangannya bertaut dengan tangan sang suami.
"Semoga kalian berbahagia." Senyum manis Keysha ukirkan. "Key, pamit."
Tubuh Rifal menegang dan Keysha pun melangkah menjauhi dua insan manusia tersebut. Di tengah perjalanan menuju mobil yang sudah menjemputnya, Keysha membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan kepada sepasang suami istri yang masih menautkan tangan mereka.
Keysha melanjutkan langkahnya dan ketika dia masuk ke dalam mobil, air matanya menetes.
"Sudah?" tanya sang ayah. Keysha mengangguk dan segera memeluk tubuh ibunya.
"Apa yang kamu lakukan sekarang ini menandakan bahwa kamu itu wanita terhormat. Kamu wanita hebat. Mau melepaskan walaupun terasa amat menyakitkan."
__ADS_1
...****************...
Yang minta crazy uP, gak komen aku Sentil nih ...