
"Aku permisi."
Rangga pergi begitu saja meninggalkan Aleena yang masih menatapnya dengan mata yang nanar. Aleena masih menatap punggung Rangga yang semakin menjauhi dirinya. Tak sedikit pun Rangga menoleh kepada Aleena.
"Bukan aku yang bicara seperti itu, Rangga," ucapnya dengan begitu pelan. Kepalanya menunduk dalam ketika kejadian itu singgah di hatinya.
#flashback on.
Setelah Rangga sembuh, Radit merealisasikan janjinya dan mengajak semua anak panti pergi ke sebuah wahana permainan yang berada di Jakarta. Seluruh keluarga Wiguna juga Rion Juanda pun ikut dalam acara tersebut. Termasuk Kalfa yang memang tengah berada di Jakarta.
Aleena sangat senang karena Kalfa ikut dengan mereka. Aleena pun sudah bersikap biasa ketika Aleeya dekat dengan anak laki-laki yang semakin hari semakin tampan itu.
"Kalfa, kamu duduk sama aku, ya."
Aleesa segera menoleh kepada Aleena. Hanya seulas senyum yang Aleena berikan. Namun, Aleesa meyakini bahwa ada kesedihan yang Aleena rasakan. Dia sangat tahu jika kakaknya itu tidak suka bergaul dengan laki-laki, kecuali Kalfa.
Ketika di dalam bus Kalfa duduk di kursi dua dengan Aleeya. Aleesa dengan Yansen dan Aleena hanya sendiri. Tak dia duga ternyata ada dua orang yang duduk dengannya. Aleena menoleh ke arah sampingnya dan ternyata Gavin juga Rangga yang duduk di sana.
"Gak apa-apa 'kan aku duduk di sini?" Rangga bersikap sangat sopan kepada siapapun. Aleena hanya menganggukkan kepalanya.
Di kursi seberang ada tatapan tajam dari seorang Kalfa. Apalagi dia melihat Aleena tersenyum sangat manis kepada anak laki-laki yang memang tampan. Hanya saja kulitnya sedikit gelap karena setiap matahari tepat berada di atas kepala, Rangga berangkat kerja. Terkadang dia berjalan kaki hanya demi menghemat uang. Apalagi ketika tanggal tua. Di mana uang bantuan dari para donatur sudah semakin menipis. Rangga harus bisa membantu memenuhi kebutuhan adik-adiknya agar bisa makan makanan yang bergizi.
Tibanya di wahana permainan, Gavin terlihat sangat antusias. Baru kali ini dia datang beramai-ramai seperti ini. Biasanya hanya dengan tiga sepupunya juga keluarganya saja.
Aleena masih berbincang dengan Rangga sambil menggenggam tangan Gavin agar anak itu tidak hilang. Sesekali Aleena pun tertawa begitu juga dengan Kalfa.
"Aleena!"
Suara anak laki-laki itu membuat Aleena menoleh begitu juga dengan Kalfa dan Gavin.
"Kita foto bareng, yuk." Kalfa menarik tangan Aleena dengan cukup keras hingga genggaman tangannya pada Gavin terlepas. Cukup keras Kalfa menarik tangan Aleena hingga anak itu mengaduh kesakitan.
Ketika sampai di spot yang bagus, ternyata di sana ada Aleeya juga. Aleena hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kakak Na, tolong fotoin Dedek." Aleeya sudah menyerahkan ponselnya kepada sang kakak. Banyak sekali pose yang Aleeya lakukan. Namun, Kalfa bagai patung. Tak ada reaksi apapun hanya memandangi Aleena saja.
Rangga menatap iba kepada Aleena, tetapi dia juga sadar diri. Dia ini siapa. Rangga menghembuskan napas kasar dan mampu didengar oleh Gavin. Anak itu menatap bingung ke arah Rangga. Kemudian, dia mengikuti arah pandangan Rangga yang tertuju pada Aleena.
"Ayo, Kak. Kita main itu aja," ajak Gavin. Namun, ibu panti menghampiri Rangga. Dia menyuruh Rangga untuk menjaga adik-adinya yang berjumlah dua puluh tiga.
Tidak ada penolakan dari Rangga. Dia selalu mematuhi apa yang ibu panti perintahkan. Dia ingin berbakti kepada wanita yang dengan tulus dan ikhlas merawatnya juga adik-adiknya yang lain.
Sesekali Rangga menatap ke arah Aleena yang tengah berjalan dengan empat anak seusianya. Ingin rasanya bergabung, tapi dia ragu. Circle-nya berbeda dan Rangga tidak masuk ke dalam lingkungan mereka.
Tak Rangga sangka, Aleena memanggilnya juga Gavin. Sepupu dari Aleena segera menarik tangan Rangga agar bergabung dengan mereka. Ada tatapan berbeda dari Kalfa juga Aleeya ketika Gavin membawa Rangga. Beda halnya dengan Aleesa dan Yansen yang menerima Rangga dengan terbuka.
"Aku mau beli es krim, mau nitip gak?" Yansen bersuara. Aleesa mengacungkan tangannya begitu juga dengan yang lain.
"Kamu mau gak, Mas?" tanya Yansen. Sepupu Aleesa itu mengangguk. Dia juga menyerahkan uang seratus ribu kepada Yansen.
"Kamu mau nitip gak?" tanya Yansen kepada Rangga.
"Aku ikut beli, boleh?" Yansen tertawa dan menepuk pundak Rangga.
Yansen dan Rangga pun pergi sedangan yang lainnya menunggu di sana. Adik-adik Rangga pun sedang asyik naik wahana yang tak jauh dari mereka. Lagi pula banyak penjaga yang Radit bawa.
Rangga kira membeli es krim di gerobakan, ternyata di kedai es krim dengan harga yang tidak masuk akal. Rangga melihat ke arah harga yang dipasang di sana. Sedangkan di sakunya hanya ada uang dua puluh lima ribu. Harga es krimnya tiga puluh lima ribu.
"Aku ke sana dulu, ya." Rangga berbicara kepada Yansen dan dijawab anggukan oleh anak itu.
Rangga mencari es krim yang biasa ada di minimarket. Sedari tadi dia memperhatikan Aleena yang tak berhenti memakan cokelat. Dia sangat yakin Aleena sangat suka dengan cokelat.
Cukup jauh mencari akhirnya dia menemukan es krim itu. Tentu saja di tempat seperti itu harganya dua kali lipat lebih mahal. Rangga harus mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk membeli es krim berbentuk cone tersebut. Itu akan dia berikan kepada Aleena.
Ketika tiba di tempat yang tadi, Gavin sudah mencecar Rangga dengan banyak pertanyaan. Pasalnya Rangga baru tiba sedangkan Yansen sudah sedari tadi.
"Aku beli es krim untuk Aleena dulu," jawab Rangga dengan sangat jujur. Tangannya sudah memberikan es krim tersebut kepada Aleena.
__ADS_1
Kalfa tersedak dan menatap tajam ke arah Rangga. Bukannya Aleena yang meraih es krim itu melainkan Kalfa.
"Mana doyan Aleena es krim kaya gini," cibir Kalfa. "Mana udah meleleh," tambahnya.
Aleena melebarkan mata ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Kalfa. Dia tidak menyangka jika Kalfa bisa sejahat itu. Ingin Aleena meraih es krim tersebut, tetapi Kalfa lebih dulu membuang es krim itu ke tempat sampah.
"Kelapa!" bentak Aleesa.
"Apa sih, Sa," sahut Kalfa. "Anak itu gak pantas gabung sama kita."
Rangga hanya tersenyum merespon ucapan Kalfa tersebut. Dia juga tidak menunjukkan wajah marah maupun tersinggung.
"Maaf, kalau kehadiran aku mengganggu kalian." Kalimat yang memiliki banyak makna. Aleena menatap nanar ke arah Rangga.
"Ya jelas ganggulah," sahut Kalfa.
"Bisa diam gak mulut lu!" Aleesa sudah menunjuk Kalfa dan menatap tajam ke arah Kalfa. Dia tidak suka dengan cara bicara Kalfa. Ingin rasanya dia mengungkit siapa dia sebelum masuk ke dalam keluarga Satria.
"Sekali lagi aku permisi. Maaf, sudah membuat gaduh."
Anak laki-laki itu pergi meninggalakan mereka semua. Ada luka yang Rangga terima dari kalimat yang dilontarkan Kalfa.
"Apa harus jadi anak orang kaya dulu agar bisa bermain dengan mereka?" batinnya.
Gavin yang sedari tadi diam kini mulai membuka suara. Menatap tajam ke arah Kalfa yang menurutnya sudah keterlaluan.
"Jangan pelnah menganggap olang lain lendah hanya kalena status sosialnya, bisa jadi dia memiliki sikap yang lebih baik dali anak olang kaya macam kamu KELAPA!"
#off.
"Maafkan aku, Rangga."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...