
Untuk kesekian kalinya Asri lolos dari maut, Asri di selamatkan oleh seorang Pria Dia tinggi besar berkulit sawo matang Dia adalah Andi sepupu Tini yang tinggal Singapura, dan saat ini Dia datang ke Indonesia karena untuk membantu Pak Herman dalam mengelola Retro advertising.
Asri shock terjatuh saat di tarik dari belakang oleh Andi, ketika Tini gagal Tini menghentikan mobilnya sejenak, Dia ingin tahu siapa yang menyelamatkan Asri dari kejarannya ketika Tini tahu bahwa orang itu adalah Andi Tini pun kaget seketika.
"Andi... itu Andi, kapan Dia ada disini" ucap Tini merasa keheranan, tak lama Tini pun langsung melaju dengan cepat karena takut ada yang melihat.
Setelah itu Asri berusaha bangun dan berdiri, Andi pun membantunya dengan perlahan, Asri langsung membersihkan tangannya kemudian bajunya yang terkena debu jalanan.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Andi dengan penasaran ingin melihat wajah Asri
Asri masih menundukkan kepala, membersihkan bagian yang kotor, karena rambut Asri menutupi wajahnya, sehingga Andi pun tak dapat melihat dengan jelas wajah Asri, setelah di rasa sudah bersih Asri pun merapihkan rambutnya membuka agar terlihat wajahnya.
"Terimakasih ya.. sudah menolong Aku" lalu Asri memberikan senyuman kepada Andi, Andi pun terkesima dengan senyuman Asri yang begitu manis, Andi terdiam seketika memandangi wajah Asri dengan melongo.
"Mas... halo Mas.. Mas kenapa ya, Saya berterimakasih banget Kamu sudah menolong Saya" setelah itu Andi tersadar dan langsung menjawab,
"Em.. iya sama-sama, Kamu gak apa-apa kan, apa ada yang luka"
"Alhamdulillah Aku gak apa-apa, tadi makasih banyak ya, kalau Kamu gak bantu Aku mungkin Aku sudah tertabrak mobil itu" Andi hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
Kemudian taksi lewat Asri pun langsung menyetop taksi tersebut, lalu Asri pamit mengatakan,
"Aku duluan ya, sekali lagi terimakasih karena sudah menolong Aku" Asri pun masuk mobil dan mobil pun kini melaju, Andi masih memandangi mobil taksi itu, sambil berkata, "Manis sekali.. " lalu Dia pun tersenyum-senyum sendiri kemudian Dia masuk ke kantor Retro.
Rahma dan Bu Yanti menunggu Chandra di parkiran, setelah Chandra sampai Chandra turun lalu menghampiri Mereka.
"Maaf Aku telat ya?" tanya Chandra dengan nafas terengah-engah
"Gak Chan... Kamu kenapa kok sepertinya capek sekali" Chandra pun tersenyum lalu berkata,
"Aku lari tadi, takut Kamu marah" Rahma pun tersenyum mendengar ucapan Chandra
"Ya ampun... Maaf ya, Aku buat Kamu jadi susah" kemudian Chandra langsung menyuruh Rahma juga Bu Yanti untuk masuk mobil.
Setelah sampai di rumah Chandra membersihkan kamar dan membantu Rahma berbaring di kasur, Rahma pun terharu dengan sikap Chandra yang membantu dan melayaninya dengan sangat baik, meski setelah pulang kerja Dia belum mandi bahkan belum makan, tapi Dia mau membantu Istrinya yang sedang lemah.
"Kamu istirahat ya, Aku mau mandi dulu" ucap Chandra dengan suara lembut, lalu Rahma menahan tangan Chandra dan berkata,
"Chan.. makasih ya, Kamu bersikap baik sekali sama Aku, apa ini artinya Kamu sudah mencintai Aku..?" pertanyaan ini cukup membuat Chandra bingung sebetulnya Chandra sendiripun tak tahu perasaan dirinya yang sebenarnya, rasa Cinta dan menghargai sangatlah tipis perbedaannya.
Chandra hanya tersenyum lalu mencium kening Rahma setelah itu Chandra masuk ke kamar mandi tanpa berkata apapun, Rahma senang Chandra mencium keningnya tapi Dia merasa belum puas jika belum mendegar kata Aku mencintai Kamu dari mulut Chandra langsung.
Andi sudah menunggu lama di depan kantor Retro lalu Pak Herman pun tiba juga.
"Andi.. kenapa Kamu gak masuk saja, jadi menunggu kan di luar"
__ADS_1
"Gak apa-apa om... disini taksi jarang lewat ya om" tanya Andi berbasa-basi kepada Pak Herman
"Kenapa.. kok tanya soal taksi, memangnya Kamu gak bawa mobil" lalu Andi pun menceritakan kejadian soal Asri tadi yang hampir di tabrak mobil
"Untung Aku lewat tadi, kalau tidak Dia pasti sudah tertabrak om" Mereka berbicara sambil berjalan menuju parkiran, Pak Herman pun bertanya-tanya siapa wanita yang di maksud Andi ini
"Namanya siapa wanita itu, apa Dia karyawan Retro?" tanya pak Herman dengan wajah serius
"Ah... itu Dia om Aku gak sempat tanya siapa namanya, tapi Dia manis sekali om, senyumnya menyejukkan hati, Aku rasa Dia orang baik" ucap pendapat Andi mengenai Asri wanita yang baru saja Dia kenal.
Pak Herman tak terlalu mendengarkan ucapan Andi, Dia merasa tak ingin tahu siapa yang sedang di ceritakan oleh Andi
"Ya sudah.. ini sudah sore, sebaiknya Kita pulang, sampai ketemu di rumah ya Andi" ucap Pak Herman lalu masuk ke dalam mobil, kini mereka pulang menuju rumah kediaman Herman Sanjaya.
Lia pun duduk sejenak di atas kasur karena rasa pusing di kepalanya kumat lagi, Makmun melihat hal itu pun langsung bertanya,
"Sayang Kamu pusing lagi" Makmun bertanya dengan rasa khawatir, Lia masih terus memijat keningnya lalu berkata,
"Ya nih... Oh ya, Aku mau ke dapur dulu ya, mau masak buat Kita makan malam nanti" melihat kondisi Lia yang seperti ini, Makmun pun melarang
"Lia.. lebih baik Kamu gak usah masak dulu, kalau Kamu gak enak badan seperti ini"
sebenarnya Lia juga tak ingin memaksakan diri, namun Dia takut kalau Ibu mertuanya nanti akan menyindir Dirinya pemalas dan lain sebagainya.
"Gak apa-apa sayang, Aku masih kuat kok" ucap Lia tak ingin mengatakan jika yang sebenarnya adalah Dia tak enak dengan mertuanya.
"Aduh.. ini kenapa ya, kok sepertinya bau bawang ini gak enak banget bikin pusing kepala" Lia pun mengeluh kemudian Bu Alya datang
"Lia... mau Mamah bantu?" ucap Bu Alya menawarkan bantuan
"Boleh Mah.. oh ya... makasih ya Mah makan siang untuk Aku tadi" Bu Alya pun tersenyum
"Ya.. rasanya enak kan..?" Lia tak ingin menjawab rasa masakan Ibu mertuanya asin, Lia pun berbohong dengan berkata,
"Enak kok Mah .. Aku suka..."
Bu Alya merasa aneh dengan jawaban itu, sebenarnya Dia memang sengaja menambahkan sedikit garam di masakan itu, tapi mengapa Lia menjawab rasanya enak, Bu Alya jadi merasa bersalah telah mengerjai menantunya sendiri, padahal Lia menghargai masakan Ibu mertuanya.
Setelah selesai masak Bu Alya berbicara pada Lia
"Lia... Mamah minta maaf ya, kalau banyak salah sama Kamu" Lia bengong terdiam, apa ada yang salah dengan Ibu mertuanya ini
"Mah.. Mamah masih sakit ya" tanya Lia dengan wajah serius
"Mamah sehat kok Lia, ya Mamah merasa banyak salah saja sama Kamu, pokonya maafkan Mamah ya" Lia pun tersenyum bahagia dan mengatakan,
__ADS_1
"Ya Mah.. gak ada yang perlu di maafkan, ya sudah Aku mandi dulu ya" kemudian Lia pergi sambil tertawa kecil.
Sebenarnya Lia tahu Ibu mertuanya itu pasti minta maaf karena tadi siang membuat masakan itu jadi asin, setelah itu Lia pun mandi untuk membersihkan badannya.
Tini sedang duduk dengan Bu Heni sambil menonton televisi, kemudian Pak Herman dan Andi pun sampai di rumah, Mereka masuk lalu memberi sopa orang di rumah
"Mah.. sedang apa?" tanya Pak Herman lalu Bu Heni menoleh, betapa terkejutnya Ia melihat ada Andi disini
"Andi... ya Allah Kamu sejak kapan ada di Indonesia?" tanya Bu Heni dengan rasa bahagia, lalu Bu Heni memeluk keponakannya ini dengan penuh kasih sayang, Bu Heni berkata kepada Tini
"Tini... sini Kamu masih ingat kan Sama Andi" Tini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Aku rindu sekali sama Tante dan sekeluarga, Tin... Lo gak mau peluk Gue" tanya Andi dengan wajah senang
"Ogah ah... Gue sudah lihat Lo kok duluan di Retro tadi" Tini keceplosan bicara, kemudian pak Herman menyahuti ucapan Tini
"Kamu di Retro kapan, kalau tadi pagi ya memang Papah lihat Kamu, tapi kan Andi datang jam 4 tadi, terus Kamu kapan ada di Retro" Tini pun mulai gugup sekarang
Tini beralasan jika sedang lewat saja tadi sempat melihat Andi di pinggir jalan dengan Asri, Andi pun langsung berkata,
"Oh.. jadi perempuan itu namanya Asri, indah... cocok seperti namanya pemandangan yang indah dan sejuk"
mendengar pujian untuk Asri Tini memberikan wajah malasnya kepada Andi, lalu Pak Herman yang menyimak perkataan Andi tadi berkata,
"Jadi wanita yang Kamu bilang senyumnya manis itu adalah Asri"
"Iya om.. Dia.. Dia hampir di tabrak oleh mobil, tapi aku gak bisa lihat siapa orangnya dan plat nomornya" Pak Herman kini menatap wajah Tini dengan tajam sepertinya Pak Herman mengerti siapa yang sengaja ingin menabrak Asri itu.
Karena Asri adalah musuh bagi Tini juga Pak Herman, maka Tini pun kesal jika Andi terus saja menceritakan tentang Asri apalagi sampai memujinya.
"Lebih baik Lo gak usah kenal lebih jauh siapa Asri itu, Dia gak pantas untuk keluarga Kita, sudah ah... Aku mau ke atas dulu" Tini pun langsung pergi dengan wajah kesalnya, lalu Bu Heni berkata kepada Andi
"Andi.. Kamu maklumi ya kalau Tini agak kasar ucapannya, mungkin Dia masih stress dengan masalahnya" Andi tak mengerti dengan maksud ucapan Bu Heni
"Masalah... memangnya Tini punya masalah apa Tante?" tanya Andi kini jadi penasaran, lalu Pak Herman menyahuti dan berkata,
"Sam selingkuh di belakang Tini" Andi merasa kaget dengan ucapan Pak Herman, lalu Pak Herman melanjutkan ucapannya
"Dan Kamu tahu siapa selingkuhan Sam itu, Dia itu adalah perempuan yang sedang Kamu ceritakan saat ini" kini Andi semakin terkejut lalu berkata,
"Apa... perempuan tadi selingkuhan Sam"
Andi merasa tak percaya lalu Bu Heni menjelaskan semua tentang Tini juga Sam, Andi hanya terdiam sebegitu rumitnya rumah tangga sepupunya itu, dan Bu Heni juga menjelaskan bahwa Minggu depan sidang pertama perceraian Mereka, lalu Pak Herman mengatakan
"Ya.. jadi Kamu sudah tahu kan sekarang, kalau Kamu ketemu Dia lagi lebih baik jauhi saja, Mah... Papah mau ke kamar dulu mau ganti baju"
__ADS_1
Pak Herman pun masuk ke dalam kamarnya, kini Andi mengerti mengapa Tini kesal saat Dia memuji Asri di depannya, lalu Andi menanyakan keberadaan Sam saat ini, namun Bu Heni pun tak tahu dimana Sam berada sekarang.