
Merekapun masuk ke dalam, lalu Andi dengan segera memilih baju yang cocok untuk Mereka pakai saat berada di pelaminan, pegawai butik datang lalu bertanya,
"Ada yang bisa Kami bantu Mas, Mbak..?"
"Mbak Kami sudah punya janji untuk fitting baju pengantin dengan fotografer di Butik ini, tapi Kami masih bingung memilih baju pengantin yang cocok untuk Kami"
"Oh baik.. bagaimana kalau yang ini, ini terlihat lebih elegan Mas, dan sangat cocok untuk di pakai pada waktu malam hari"
"Sayang bagaimana Kamu suka?"
Andi bertanya pada Kasih namun Kasih terdiam melamun
"Kasih.."
Kasih pun tersadar dan langsung bangun dari sofa
"Iya Andi, kenapa?"
Andi terdiam memperhatikan Kasih, Dia melihat Kasih tapi seperti bukan Kasih
"Kamu kenapa sih sejak tadi sering sekali melamun"
"Andi.. maaf mungkin Aku hanya kecapean, maafkan Aku ya, kalau Aku tidak fokus dengan hal ini"
Andi masih terdiam mencerna alasan yang Kasih ucapkan
"Ya sudah.. gaun ini menurut Kamu bagaimana Kamu suka atau tidak?"
Kasih melihat gaun yang indah nan elegan itu, Ia pun terpana dan tersenyum bahagia, Andi pun ikut tersenyum ketika melihat Kasih tersenyum
"Aku suka Andi, ini sangat bagus sekali cantik..."
"Baik.. kalau Kamu suka, Mbak Kita akan fitting pakai baju ini ya"
"Baik Mas.. untuk acara akad nikahnya Saya sarankan pakai yang ini, ini terlihat lebih sopan, dan anggun"
"Boleh Mba Saya juga suka yang ini"
Kasih langsung memberikan komentarnya sebelum Andi bertanya
"Kalau Saya ikut pilihan calon Istri Saya saja"
Karena pakaian sudah dipilih Merekapun kini prewedding, Kasih terlihat sangat cantik bagaikan bidadari hingga Andi terpana ketika melihat sang pujaan hatinya memakai gaun yang elegan itu.
"Kamu sangat cantik Kasih"
"Terimakasih Andi, Kamu juga tampan bagai pangeran berkuda"
Merekapun tertawa bersama dalam kemesraan cinta yang begitu hangat.
Tini kini sampai di apotik Ia pun segera masuk dan langsung bertanya pada apoteker
"Mbak.. Saya ingin membeli obat tidur dosis tinggi
"Sudah ada resep dokter kah Bu?"
Tini bingung harus menjawab apa, lalu Ia berbicara berbisik dengan si apoteker
"Mbak.. Saya butuh obat itu, untuk diri Saya karena sudah 2 hari Saya tidak bisa tidur, Saya belum dapat resep dokter, tapi Saya akan beli 2 kali lipat"
Tini memberikan uang 2 kali lipat dari harga sebenarnya, siapa yang tak tergiur ketika melihat uang banyak, akhirnya apoteker memberikan apa yang di minta oleh Tini
"Terimakasih ya Mbak, kalau Saya butuh lagi, Saya akan Kasih lebih untuk Mbak"
si apoteker hanya tersenyum senang melihat sejumlah uang yang Tini berikan
"Oke Mbak.. terimakasih ya"
Tini pun segera pergi dan kembali pulang.
Rahma seperti tak tenang hatinya, wangi parfum itu selalu mengganggu pikirannya, Iapun menghampiri Papahnya dan bertanya perihal pekerjaan lembur yang sedang di jalani oleh Chandra
"Ya Dia lembur di kantor Rahma, memangnya kenapa?"
"Tidak ada Pah.. Aku hanya rindu saja Chandra lembur akhir-akhir ini"
__ADS_1
lalu Bu Yanti memberikan solusi jika sebaiknya Rahma mendatangi kantor Chandra membawakan makan malam untuknya
"Apa Chandra tidak marah Mah, jika Aku datang kesana?"
"Tidak akan marah Rahma, Mamah siapkan ya bekalnya, tunggu sebentar"
Setelah selesai menyiapkan bekal, Bu Yanti memberikan bekal itu kepada Rahma, lalu dengan segera Rahma menyusul ke kantor Retro membawakan makan malam untuk Chandra.
Beberapa menit berlalu, Rahma pun sampai di Retro, Ia memasuki gedung berjalan dengan perlahan, lalu Ia bertemu satpam yang sedang duduk santai di loby, lalu satpam itu bertanya,
"Maaf Bu.. mau mencari siapa?"
"Saya ingin bertemu suami Saya, Pak Chandra katanya beliau sedang lembur"
Satpam agak bingung dengan pernyataan Rahma, sebab hari ini tidak ada karyawan lembur dan kantor pun akan segera Ia tutup, lalu Satpam menjelaskan mengenai Karyawan lembur hari ini.
"Apa.. hari ini tidak ada yang lembur?"
Rahma begitu kaget mendengar hal ini, lalu pikiran negatif pun muncul dalam benaknya
"Lalu kenapa Chandra mengatakan jika hari ini Ia lembur, jadi.. Dia berada di mana sekarang?"
ucap Rahma dalam hatinya
"Terimakasih Pak atas informasinya, kalau begitu Saya permisi pulang dulu"
setelah itu Rahma memutuskan untuk pulang saja, saat hendak melangkah Rahma melupakan sesuatu lalu Ia berkata pada satpam
"Pak.. Saya minta tolong, besok jika bertemu Pak Chandra jangan katakan Saya mencarinya malam ini ya"
"Oh begitu Bu.. Iya baik Bu"
Rahma pun segera kembali pulang, namun karena hati yang masih penasaran kemana kiranya Chandra berada saat ini, Rahma akhirnya menghubungi Juvi, sahabat terdekat Chandra
"Halo Juv.."
"Halo Rahma, kenapa tumben telepon Gue?"
"Gue...ingin bertanya tapi tolong, Lo jawab jujur ya"
"Ingin tanya apa?"
Rahma sedikit gugup pertanyaan ini apakah akan memberikan jawaban yang memuaskan atau tidak untuknya
"Aku ingin bertanya apa Chandra ada di tempat Kamu?"
Juvi pun teringat bahwa Chandra sudah hampir 4 hari ini mengunjungi Asri, dengan dalih lembur bekerja
"Chandra tidak berada disini, mungkin Dia di kantor"
"Aku saat ini sedang berada di kantor tapi satpam menjelaskan jika tidak ada karyawan yang lembur hari ini, maka dari itu, Aku menghubungi Kamu"
Juvi kini mulai bingung harus menjawab apa, lalu Ia mengatakan,
"Rahma sebaiknya Kamu hubungi Chandra dan Kamu tanyakan langsung keberadaannya"
"Kalau Aku hubungi Dia, Dia pasti akan mengelak, Juv.. apa mungkin ya, Chandra berselingkuh di belakang Aku"
Juvi terkejut mendengar ucapan Rahma
"Rahma.. Kamu gak boleh seperti itu, Kamu harus tanyakan dulu kenapa Dia bilang lembur namun tak ada di kantor, Kamu harus mendengarkan penjelasannya dahulu"
"Aku tidak tahu Juv, sudah tiga hari ini, Aku selalu mencium bau parfum wanita sehabis Ia pulang bekerja, hatiku jadi curiga, apa mungkin saat ini Dia sedang bersama Asri"
Juvi semakin merasa bersalah mendengar ucapan Rahma, seakan Ia mendukung kebohongan Chandra yang Ia tahu, tapi Juvi merasa ini bukan urusan Juvi, jadi Dia tak ingin ikut campur dengan urusan Rumah Tangga Chandra dan Rahma.
"Ya sudah kalau begitu Aku tutup ya teleponnya Terimakasih Kamu sudah mau mendengarkan cerita Aku, maaf ya kalau jadi curhat"
"Tidak apa-apa Rahma, Aku hanya bisa menyarankan sebaiknya Kamu tanyakan dahulu dan mendegar penjelasan Chandra"
panggilan pun di akhiri.
Bu Anita lupa kalau sore ini Ia akan bertemu dengan Dokter Farhan seseorang yang mencarinya, lalu Bu Anita dengan segera menghubungi Tika manajer tokonya
"Halo Tika, maaf ya Saya tidak jadi datang ke toko, oh ya apa Dokter itu masih mencari Saya?"
__ADS_1
"Tidak Bu, Dia tidak datang"
"Bagus deh.. Saya jadi tidak perlu tidak enak, kalau begitu Saya tutup ya"
Tak lama Dokter Farhan datang lagi ke toko, Tika terkejut baru saja tadi Bu Anita meneleponnya
"Permisi apakah Bu Anita ada di toko sekarang"
Tika pun menghampiri sang Dokter
"Maaf Dokter Bu Anita sedang tidak bisa ke toko hari ini, tadi beliau baru saja menghubungi Saya"
Dokter Farhan sedikit kecewa karena tak dapat bertemu dengan Anita yang sangat Ia ingin temui
"Oh.. kalau besok apa Bu Anita akan ke toko"
"Biasanya besok pasti ke toko di jam 9 dam 10 pagi Pak"
"Baik.. tolong sampaikan pada Bu Anita, Saya ingin bertemu di jam makan siang, ini no telepon Saya, tolong ya Mbak.. Saya ingin sekali bertemu Bu Anita"
"Baik Dok.. nanti Saya sampaikan pesan Dokter"
Tika menjadi penasaran mengapa Dokter itu sangat ingin bertemu Bu Anita.
Tini sudah berada di rumah, Ia merasa gugup untuk menjalankan rencana ini, Ia menunggu kedatangan Sam, tak lama terdengar suara mobil milik Sam, Tini pun tersenyum.
"Assalamualaikum"
Bu Fatma menjawab salam dari Chandra lalu Tini keluar kamar dan menjawab salam dari Sam, Sam hanya terdiam melihat Tini yang menyambut dirinya tak seperti biasanya
"Kamu mandi dulu, lalu Kita makan bersama ya"
Sam terdiam tak menjawab sambutan Tini, Ia langsung masuk kamar untuk mengambil baju ganti, Saat tengah memilih baju, Ia baru teringat foto kenangan bersama Asri dan juga baju couple yang Ia simpan di laci sudut lemari, lalu Ia berusaha untuk mengambilnya namun betapa kagetnya saat Sam melihat di laci sudut lemari tak ada isi apapun didalamnya.
Ia terus mencari hingga menurunkan semua pakaiannya namun foto kenangan dan baju couple itu tidak ditemukan, Ia melirik ke kanan, ke kiri dan Ia menemukan ponsel Tini, dengan segera Ia mengambilnya, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, lalu Sam membuka dan melihat chat WhatsApp, dan tentu saja Ia temukan percakapan antara Tini dengan Chandra, saat di buka percakapan tersebut Sam kaget bukan kepalang, ternyata Tini sudah merusak satu-satunya kenangan terakhir Dia bersama Asri, Sam terlihat sangat marah, matanya yang terbelalak, dan otot-otot tubuhnya terlihat seperti menahan kemarahan, Sam sungguh bersedih, melihat video Tini yang merusak dan membakar kenangannya bersama Asri, Sam tidak tahan lagi Iapun membanting ponsel Tini ke kasur dengan kencang.
"Brengsek.. Tini..."
Sam teriak sekuat tenaga memanggil Tini, Tini yang mendengar dari dapur pun merasa kaget akan suara Sam, begitupun juga Bu Fatma
"Ya ampun Sam kenapa Tini?"
"Aku gak tahu Bu.."
"Sudah sana Kamu temui Sam, biar Ibu yang lanjutkan masak"
Tini segera menuju kamar menemui Sam
"Ada apa Sam..? Kamu berteriak seakan Aku berada jauh dari Kamu"
"Kamu merusak dan menghancurkan kenangan terakhir Aku dengan Asri?"
Tini terdiam kini hatinya yang merasa ketakutan, karena kejahatannya kini diketahui oleh Sam
"Sam.. Aku.."
belum selesai bicara Sam langsung membantah ucapan Tini
"Sudah Aku katakan berulang kali, ini kamar Aku, semua barang disini milik Aku, kenapa Kamu hancurkan kenangan itu"
Sam berbicara dengan begitu emosi
"Sam.. salah Aku apa, Aku istri Kamu, Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang masuk dalam Rumah Tangga Kita"
"Cukup Tini.. Kamu tidak perlu mengelak atau beralasan seperti ini, Asri sudah ada sejak lama di hatiku juga dihidupku, hey dengar... Aku tidak pernah meminta Kamu untuk tinggal disini"
"Sam.. hentikan semua ini, tolong Sam Kita bisa mulai dari awal lagi"
"Tidak ada awal dari hubungan ini, Aku sudah akhiri ini semua sejak lama, kalau bukan karena nyawa Ibu.. Aku tidak akan pernah sudi kembali lagi bersama Kamu"
Sam berbicara dengan nada yang cukup tinggi dan di depan wajah Tini.
"Aku perbolehkan Kamu tinggal disini tapi tidak untuk mengacak-acak barang pribadi Aku, Aku benci Kamu Tini, Aku benci Kamu.."
deg... Tini terdiam terbelalak matanya, rasa sakit hatinya tak tertahankan lagi, matanya mulai memerah tak lama air mata menetes di pipinya.
__ADS_1