
Melihat Tini yang sedang menangis dan memohon kepada Pak Herman, Bu Heni pun bertanya,
"Tini, Papah ada apa ini" Bu Heni keheranan melihat Anaknya menangis
"Mah... Papah mau mengusir Sam dari rumah, tolong Mah hentikan Papah, Aku mencintai Sam Mah, Aku gak ingin Sam pergi" Tini merengek nangis terhadap Ibunya.
Sam selesai mengepak pakaian di koper, dan saat ingin pergi Pak Herman mengatakan sesuatu,
"Jangan Kamu bawa apapun dari rumah ini serahkan semua fasilitas yang pernah Saya berikan" Pak Herman berkata sinis terhadap Sam, Sam merasa semakin jengkel dengan sikap angkuh dan juga sombong Pak Herman
"Bahkan saya tidak pernah mau berhutang Budi kepada Anda" lalu Sam mengeluarkan semua kartu kredit fasilitas dari Retro.
Sam juga mengambil jam tangan mewah, batu zamrud dari luar negeri di lemarinya
"Ini semua Pak... Saya kembalikan ke Anda barang yang pernah Anda beri untuk Saya, sedikitpun belum pernah Saya pakai, jadi Anda tak perlu khawatir, satu lagi Anda harus tahu, mobil yang Saya pakai setiap hari, 8ty adalah mobil milik Saya, Saya beli dari hasil keringat Saya, bukan fasilitas Retro jadi Saya berhak membawanya" mendegar perkataan Sam Pak Herman tertawa sinis dengan wajah sedikit di angkat menunjukan kesombongannya.
Tiba-tiba Tini pun histeris teriak
"Sam ... gak Sam Kamu gak boleh pergi Sam, tolong Sam jangan pergi" Tini berusaha menggapai tangan Sam, namun Sam menepis tangan Tini
"Tolong jangan persulit Aku Tini, Aku sudah lelah dengan semua ini, Kita bertemu di pengadilan" tentu saja Tini semakin menangis mendengar kata itu dari mulut Sam.
Bu heni hanya bersedih tak tega melihat Anaknya seperti ini
"Tini ya Allah sudah Nak... Biarkan Sam pergi" tak terima Sam di usir Tini pun marah dengan Papahnya
"Papah jahat, Sam adalah cintaku Pah" Tini mengejar Sam namun Sam sudah terlanjur pergi meninggalkan rumah kediaman Herman.
Tini terus berlari mengejar Sam, saat melewati tangga Tini tak sengaja terpeleset jatuh, Ia pun terguling hingga ke bawah, tini pun berteriak
"Aaaaa......." mendegar Teriakan Tini Pak Herman dan Bu Heni langsung mengejar Tini.
Betapa kagetnya Mereka saat melihat Tini sudah berada di bawah dalam keadaan tertidur menyamping sambil memegang perutnya karena kesakitan.
"Astagfirulloh Tini" ucap Bu Heni, Ia langsung turun dari tangga untuk melihat keadaan Tini, pak Herman pun ikut turun
"Tini Kamu kenapa, apa yang terjadi" ucap Pak Herman dengan rasa cemas melihat keadaan Anaknya
"Aku jatuh dari tangga Mah, Pah sakit Mah.. perut Aku sakit" Tini meringis kesakitan sambil memegang perutnya, Bu Heni yang begitu khawatir pun langsung menyarankan supaya Tini segera di bawa ke dokter
"Pah... sebaiknya Kita bawa Tini ke dokter, Mamah takut terjadi sesuatu dengan kandungan Tini" Bu Heni membantu Tini untuk bangun, ketika berdiri ternyata Tini mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Tini dan Bu Heni pun terkejut
"Ya Allah Tini Kamu banyak mengeluarkan darah Nak.."
Tini tak kuat berdiri Dia mulai merasa pusing lalu tiba-tiba Ia terjatuh pingsan, Pak Herman pun kaget dan langsung menggendong putrinya itu masuk ke mobil untuk di bawa ke Rumah Sakit.
Sementara menunggu hasil operasi Rahma, Juvi menelpon Bu Anita.
Mendegar suara ponsel berbunyi Bu Anita pun menghentikan aktifitasnya lalu mengangkat panggilan tersebut
"Halo juv, ada apa ya, kok tumben telepon Tante"
"Begini Tante, Asri sekarang berada di Rumah Sakit Harapan Bunda" belum selesai Juvi berbicara Bu Anita langsung bertanya,
__ADS_1
"Rumah Sakit, memangnya Asri kenapa Juv, Dia sakit apa?" Bu Anita bertanya dengan rasa khawatir, lalu Juvi menjelaskan insiden yang di alami Asri, tentu saja Bu Anita kaget mendengarnya
"Ya Allah tapi Asri baik-baik saja kan juv, Tante akan segera kesana, tunggu Tante" dan panggilan pun di putus. Lalu Bu Anita bersiap menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Asri.
Sehabis menelepon Bu Anita, kemudian Sam datang
"Juv sory ya kalau Gue lama, Asri gimana..?"
"Asri sedang tidur beristirahat, oh ya Gue tadi sudah kabarin Tante Anita, mungkin sebentar lagi Tante Anita datang"
Sam duduk sambil termenung seperti sedang ada yang difikirkan, tiba-tiba Juvi bicara
"Sam Lo harus sabar, oh ya gimana soal mata-mata Pak Herman"
"Iya ternyata benar, Dia memang suruhan Pak Herman untuk memata-matai Gue dan Asri"
"Hah... jadi beneran itu orang suruhannya Pak Herman, terusss..." Juvi kini penasaran dengan kelanjutan cerita dari Sam.
Sam pun menceritakan bahwa Pak Herman sudah mengetahui hubungannya dengan Asri sebagai sepasang kekasih, dan Ia menceritakan tentang Dirinya yang di usir dari rumah Herman, Juvi semakin kaget mendengar berita itu
"Terus Lo gimana Sam, Lo kehilangan pekerjaaan dan..." belum selesai Juvi bicara Sam langsung menyahuti ucapan juvi
"Lo tenang saja Juv, soal kerjaan Gue masih bisa cari, dan Gue juga sudah siapkan tabungan untuk Ibu Gue dan soal tempat tinggal kebetulan kemarin Gue bertemu sama Pak Ammar lalu Pak Ammar memberikan hadiah untuk Gue satu unit apartemen dan itu gratis atas nama Gue" Juvi tersenyum lega mendegar sahabatnya ada tempat untuk tinggal
"Gue senang dengarnya Sam, tadinya kalau Lo belum ada tempat tinggal Lo bisa tinggal di rumah Gue" Sam tertawa kecil mendegar tawaran Juvi
"Makasih ya Juv atas simpati Lo" lalu Bu Anita datang dan langsung bertanya keadaan Asri kepada Sam
"Sam Asri dimana, Tante mau bertemu Asri"
Ketika melihat kondisi Asri yang begitu tragis Bu Anita pun menangis kecil sampai terisak-isak
"Ya Allah Nak kenapa bisa sampai begini, siapa yang sudah tega melakukan ini terhadap Kamu" tanya Bu Anita sambil menangis
"Kita sedang mencari pelakunya Tante, semoga cepat tertangkap"
Lalu Sam mengatakan sesuatu pada dirinya sendiri
"Sampai terbukti kalau Kamu dalang di balik semua ini, Aku benar-benar akan membalas Kamu Tini" ucap Sam dalam hatinya.
Mendegar ada suara tangisan Asri pun membuka matanya, ternyata ada sang ibu di sampingnya
"Mamah.. Mamah kapan kesini?" tanya Asri dengan suara yang lemas
"Sayang, Mamah sangat khawatir Nak dengan keadaan Kamu, lihat Kamu sekarang, Kamu lemah tak berdaya" Bu Anita terus menangis tak berhenti.
Asri berusaha untuk bangun, karena ingin memeluk Ibunya, namun rasanya badan Asri sakit semua
"Mah.. Aku ingin peluk Mamah, tapi Aku gak bisa, badan Aku baru terasa sakit semua, tadi gak sesakit ini" Sam kini terenyuh melihat keadaan Asri, Sam membantu Asri untuk bangun dan duduk
"Aku bantu sayang" setelah bisa duduk Akhirnya Asri langsung memeluk Bu Anita, Ia bersedih hingga meneteskan air mata
"Mamah jangan sedih, Aku gak apa-apa Mah besok-besok juga sembuh"
tak tahan melihat kesedihan antara Asri dengan Ibunya, Sam kini rindu dengan Ibunya di kampung.
__ADS_1
Dia pun melihat ke atas langit-langit sambil mengedipkan mata supaya air matanya tak menetes, merasa tak kuat menahan air mata, Sam pun pergi dari ruangan
"Aku keluar dulu ya Tante, Asri"
tiba-tiba Sam memeluk Juvi sambil menangis kecil, Juvi pun kaget apa yang terjadi dengan Sam.
Setelah dirasa sahabatnya itu sudah tenang, Juvi pun bertanya,
"Sam Lo kenapa Gue belum pernah lihat Lo sesedih ini"
"Gue sedih melihat kondisi Asri Juv, dan yang buat Gue lebih bersedih saat Asri peluk Tante Anita, Gue teringat Ibu Gue Juv di kampung, Dia lagi sakit Juv tapi Gue gak ada di sampingnya" Juvi termenung sedih mendengar cerita Sam
"Lo yang sabar, Gue yakin setelah ini jalan menuju kebahagiaan Lo pasti akan terbuka".
Tak lama Chandra datang dan langsung bertanya mengenai operasi Rahma kepada Juvi
"Juv bagaimana operasinya sudah selesai"
"Belum Chan, Dokter belum keluar dari ruang Operasi" Chandra khawatir mengapa operasinya lama sekali.
Chandra takut terjadi sesuatu yang lain dengan Rahma, semoga saja itu hanya prasangka buruk Chandra saja, Juvi pun menanyakan tentang orang tua Rahma
"Oh ya Chan, Lo sudah beritahu orang tua Rahma"
Chandra memandang Juvi dan hanya menggelengkan kepalanya
"Sebaiknya Lo kabari Mereka, Mereka harus tahu kondisi Rahma" ucap Juvi berkata tegas pada Chandra
"Gue gak tahu reaksi Mamah Yanti bagaimana jika melihat keadaan Rahma begini" Juvi pun memberi nasihat kepada Chandra
"Gue tahu ini berat buat Lo Chan, tapi paling gak Lo sudah menjaga Rahma dengan baik kok"
Tiba-tiba Sam melihat Pak Herman berada di rumah sakit sedang membawa Tini yang sedang pingsan.
Tak sengaja pak Herman pun melihat Sam sambil berjalan Pak Herman terus memandangi Sam dengan tatapan penuh kebencian.
Juvi juga melihat Tini dan keluarganya berada di Rumah Sakit lalu Ia menanyakan hal itu kepada Sam
"Sam itu bukannya Tini dengan Pak Herman juga Bu Heni ya" Sam tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Chandra kini yang bertanya,
"Sepertinya Tini yang sedang ingin di periksa"
"Sudah lah biarkan saja, Gue yakin kok kalau itu berhubungan sama Gue pasti si Herman telepon Gue"
"Sam... Lo gak boleh begitu dong, biar bagaimanapun Tini masih istri Lo"
"Tapi Gue sudah di usir dari Rumah Herman, jadi buat apa Gue sibuk-sibuk urusin mereka" mendegar ungkapan itu, Chandra hanya menggelengkan kepalanya.
Pak Herman yang sedang khawatir dengan anaknya bertanya pada Dokter
"Dok.. Anak Saya kenapa?" Bu Heni juga bertanya mengenai kehamilan Tini
"Dok.. apakah kehamilannya baik-baik saja"
"Tenang Bu, Pak Kami akan segera memeriksanya" Tini pun di bawa masuk ruangan untuk di periksa, Pak Herman yang tak terima dengan keadaan Anaknya Dia pun berkata,
__ADS_1
"Kalau terjadi sesuatu terhadap Tini, Saya akan buat perhitungan dengan Sam" Bu Heni tak menjawab, Dia hanya mendengarkan gerutu suaminya itu, Bu Heni pun kini resah dengan keadaan Tini.