
Setelah itu Ia memutuskan untuk pulang dan tidak membeli apapun untuk keperluan dapur yang di minta Bu Fatma.
Sesampainya di rumah Ia langsung masuk dengan keadaan rambut yang acak-acakan dan baju lecek, Bu Fatma melihat Tini berjalan dengan cepat memasuki kamar, merasa penasaran Ia pun berbicara di balik pintu
"Tini .. Kamu kenapa.. kok tidak membawa belanjaan?"
Tini bingung harus menjawab apa, di dalam hatinya jangan sampai Bu Fatma tahu bahwa Ia habis di perkosa orang, bisa-bisa Sam akan jijik dan mengusirnya
"Maaf Bu.. Aku tidak jadi belanja, Aku mau istirahat dulu, tolong jangan ganggu Aku Bu"
Bu Fatma kebingungan dengan sikap Tini yang tiba-tiba aneh
"Kenapa sih Tini itu, tadi mau di suruh belanja tapi setelah pulang malah ingin istirahat, terus Aku gak masak ini" Bu Fatma menggerutu di dalam hati.
Tini bersedih harus bagaimana saat ini, Ia takut akan hamil nantinya
"Apa yang harus Aku lakukan, Aku takut Aku hamil anak bajingan itu nanti, sedangkan Sam sama sekali tidak pernah menyentuh Aku, Sam pasti akan curiga kalau Aku berselingkuh"
Tini menangis meratapi nasibnya yang sial ini, di dalam hatinya tidak mungkin jika Ia menceritakan tentang pemerkosaan ini pada Sam, Sam pasti akan bertanya mengapa bisa terjadi awalnya bagaimana, tetap ujungnya Aku yang akan di salahkan karena ingin memberikan obat perangsang untuk Sam.
"Papah... Aku harus bagaimana?"
Tini terpikirkan untuk menghubungi Papahnya dan meminta bantuan Papahnya untuk jalan solusi masalahnya, dengan segera Ia menghubungi Pak Herman untuk menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini.
"Halo Tini ada apa Nak..?" Tini menangis tersedu-sedu
"Tini.. Kamu kenapa.. Sam menyakiti Kamu"
"Tidak Pah.. bukan Sam"
"Lalu.. Kamu kenapa menangis"
"Pah.. Aku.. Aku..."
"Tini bicara yang betul"
Tini sejujurnya takut apakah Papahnya akan percaya atau malah membencinya, Ia sungguh dilema
"Tini.. Nak.. tolong Kamu bicara yang betul, apa masalah Kamu ceritakan"
"Tapi Papah janji tidak akan marah dengan Aku"
"Ya.. Papah janji"
Dengan perlahan Tini menceritakan tentang pemerkosaan dan niatnya yang ingin membeli obat perangsang untuk Sam, supaya Sam mau menyentuhnya
"Apa.....!!"
Pak Herman kaget bukan kepalang raut wajahnya sungguh marah besar, anak kesayangan telah di perkosa
"Siapa orang yang berani menyentuh Kamu itu Tini"
"Namanya Fahmi, Aku tidak tahu Dia Anak siapa, tapi Dia pernah bicara sewaktu Aku memberikan Dia uang, Dia bilang tidak butuh uang dari Aku, Aku tinggal meminta pada Papah saja pasti sudah di berikan uang yang banyak"
"Fahmi... Kamu bertemu Dia dimana?"
"Di pasar kota Pah, Dia suka mabuk-mabukan dan sering nongkrong di gang sebelah pasar"
"Baik.. Tini Kamu tenang, Papah akan buat orang itu menderita karena telah menyentuh Kamu, lihat saja nanti"
Tapi masalah besar yang akan Tini hadapi lebih dari masalah ini.
Pak Herman bingung tak mengerti dengan apa yang di maksud dengan ucapan Tini
"Aku takut hamil Pah.. Aku tidak mau Sam tahu bahwa ini anak hasil pemerkosaan, Sam tidak mungkin percaya Aku di perkosa, Sam pasti berfikir bahwa Aku berselingkuh untuk membalasnya"
Pak Herman pun tak terpikirkan sampai ke arah situ
"Tini.. untuk soal itu, Kita kan belum tahu Kamu hamil atau tidak, Semoga saja tidak Tini"
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika Ia Pah.. Aku harus mempersiapkan ini"
Kini Pak Herman bingung harus bagaimana membuat seolah-olah jika nanti Tini hamil itu adalah anak Sam bukan anak orang lain.
"Tini.. Kamu tenang, nanti Papah akan pikirkan caranya, sekarang lebih baik Kamu bersikap seperti biasa, jangan sampai Sam atau Bu Fatma jadi bertanya-tanya ada apa dengan Kamu"
"Iya Pah"
Tini menjawab dengan suara segukan, obrolan pun di akhiri, Tini merasa lega setidaknya ada yang membantu dirinya dalam menangani masalahnya.
Ketika Kasih sampai di apartemen Sam, Ia sungguh terpesona dengan pemandangan yang berada di luar jendela
"Wah.. bagus sekali ya Andi pemandangannya"
Kasih memang sedikit norak karena Ia belum pernah memasuki yang namanya apartemen
"Tapi kalau Kamu lapar bagaimana, harus turun ya cari makan, capek dong"
Andi tersenyum melihat kelakuan Kekasihnya, Kasih tidak beda masih sama seperti dulu, lugu dan polos
"Gampang.. Aku bisa pesan lewat telepon saja, atau.. lewat gofood" Andi mendekati Kasih lalu Ia menggenggam tangan Kasih
"Kasih.. Kita akan tinggal disini jika selama Kita masih punya urusan di sini, tapi...kalau Kita sudah tidak ada urusan di Jakarta Kita akan pindah ke rumah yang sudah Ku beli di daerah Kampung Kamu"
"Iya Andi"
"Insyaallah Kita akan segera menikah, Kamu ingin kapan Kita menikah?"
"Andi.. kapanpun Aku siap"
Andi tersenyum mendengar jawaban Kasih, lalu Mereka pun berpelukan.
Rapat kini akan di mulai membahas posisi Lia dan pekerjaan Lia, semua hadir dari direksi, Manager, termasuk Makmun kepala gudang karena Ia adalah suami dari Lia, jadi Makmun berhak tahu apa keputusan perusahaan.
"Baik.. semuanya sudah hadir Kita mulai ya" ucap Pak Herman dengan berwibawa
"Soal pekerjaan Saya sudah tugaskan kepada Pak Chandra untuk menghandle pekerjaan Lia selama Ia tidak masuk"
"Pak Chandra apa benar itu?" tanya Pak Herman
"Iya Pak..itu benar, dan Saya sudah membuat laporan keuangan mingguan juga laporan bulanan kemarin yang belum Lia selesaikan"
Chandra memberikan berkas tersebut kepada Pak Herman, dengan teliti Pak Herman melihat hasil tugas dari Chandra
"Baik.. ini tidak ada masalah, semua balance"
Namun Chandra merasa keberatan jika Ia terus mengerjakan pekerjaan Lia setiap hari
"Pak.. tapi Saya merasa berat sekali menjalankan dua pekerja dalam satu hari, Saya tidak mungkin melalaikan pekerjaan Saya hanya untuk mengerjakan pekerjaan Lia" lalu Pak Herman meminta solusi pada semua yang hadir di rapat ini
"Jadi bagaimana menurut Kalian..?" kemudian Pak Romi menjawab,
"Pak, Saya sudah berusaha memasang iklan penerimaan calon karyawan baru untuk posisi Ibu Lia, tapi sampai saat ini masih belum ada kandidatnya"
"Sudah pasang iklan yang benar Pak, masa orang sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan Retro"
"Sudah Pak.. di sosmed, di papan depan, bahkan di pinggiran jalan sudah Saya sebar iklan itu" lalu Pak Herman bertanya pada Makmun mengenai kondisi Lia saat ini
"Pak Makmun lalau bagaimana kondisi Ibu Lia saat ini, apakah ada kemungkinan Ibu Lia akan sadar hingga Minggu ini"
"Maaf Pak.. Saya juga tidak tahu sampai kapan Istri Saya akan koma seperti ini, Dokter sudah berusaha untuk tetap memasang alat-alat bantunya, tapi sampai saat ini belum ada respon dari Lia"
Kini Pak Herman kebingungan keputusan yang harus Ia ambil
"Pak Romi, kalau Saya memutuskan Ibu Lia sebaiknya di berhentikan saja dari Kantor ini, menurut Kalian bagaimana?" Makmun kaget akan keputusan Pak Harman
"Apa Pak Istri Saya di berhentikan?"
"Ya.. karena sempai saat ini tidak ada kepastian Pak Makmun, kalau seandainya nanti ada calon karyawan baru datang, menempati posisi Lia, lalu tiba-tiba Lia sadarkan diri, kasihan kan calon karyawan baru itu" Chandra pun ikut bicara
__ADS_1
"Mun.. Gue bukanya mendukung keputusan Pak Herman tapi.. apa yang di katakan Pak Herman itu ada benarnya, dan Aku tidak mungkin mengerjakan dua pekerjaan setiap hari"
Semua menyimak pembicaraan Chandra dan akhirnya keputusan di tetapkan jika Lia akan di berhentikan dari Retro.
Makmun bersedih dengan keputusan itu, walau bagaimanapun Lia ingin meniti karirnya disini, Dia dulu sangat senang bisa naik jabatan tapi karena musibah ini lah, yang membuatnya harus kehilangan pekerjaannya selamanya. dalam hati Makmun berkata,
"Aku memang ingin Kamu berhenti bekerja tapi buka dengan cara seperti ini Sayang"
Setelah selesai memberikan keputusan rapat pun di akhiri
"Baik.. sepakat ya, Ibu Lia di berhentikan dengan terhormat, Pak Romi nanti atur gaji dan pesangonnya, kalau begitu Saya akhiri selamat pagi"
Pak Herman segera pergi karena Ia harus ke ruang meeting di ruangan lain, untuk menemui Pak Faris.
Sementara Makmun terlihat sedih dengan keputusan Pak Herman, tapi mau tak mau semua keputusan memang ada di tangan Pak Herman, Chandra ikut prihatin dengan semua yang sedang di alami Makmun, Ia pun memberi semangat kepada Makmun untuk bersabar dan berlapang dada menerima semua yang sudah ditakdirkan oleh Allah.
"Ini sudah jalanya Mun, bukankah Kalian sering bertengkar karena Lia tidak ingin berhenti bekerja"
"Ya Chan.. Aku mengerti situasi ini, tapi aku juga tidak ingin seperti ini, Aku ingin benar-benar Lia resign karena hatinya yang memangil Dia, bukan karena terpaksa"
"Aku mengerti perasaan Kamu, Asri sangat merindukan Lia, nanti sore Kita akan menjenguk Lia.. bolehkan?"
"Ya boleh Chan.. silahkan, Juvi mana.. Dia tidak ikut hadir di acara rapat"
"Tidak.. Bu Manda yang hadir tadi, Dia kan atasan Juvi, ya sudah aku kembali ke ruangan Ku ya"
keputusan sudah di buat, jadi Makmun harus menerimanya dengan lapang dada.
Juvi penasaran dengan hasil rapat, Ia pun bertanya kepada Bu Amanda yang baru saja datang
"Bu.. hasil rapat bagaimana, Lia di pecat atau..."
"Iya.. Dia di berhentikan dari pekerjaannya di kantor dengan terhormat, lain dengan Asri yang waktu itu bermasalah dengan video skandalnya"
Juvi terkejut bahwa Lia harus di berhentikan, baru saja kemarin Ia menjenguk Lia, dan rasanya Juvi ingin sekali menjenguknya lagi
"Juv.. kerjakan ini ya, Saya mau ke luar sebentar"
"Baik Bu" Juvi pun mengerjakan tugas yang di berikan oleh Bu Manda.
Pak Herman memasuki ruang meeting lalu Ia langsung to the poin
"Silahkan tanda tangan disini Pak"
Pak Faris segera menandatangani berkas kontrak tersebut
"Baik.. sudah apalagi yang harus Saya Kerjakan" tanya Pak Faris terhadap Herman
"Tidak ada.. sudah.. kalau begitu Kita resmi bekerjasama ya Pak Faris" Mereka pun berjabat tangan.
Setelah itu, Pak Herman mengatakan jika Retro akan segera mentransfer sebagian uang untuk Produksi proyek yang di inginkan
"Pak Faris nanti atur pengirimannya soal iklan Anda tidak perlu khawatir, Retro akan mengaturnya"
"Baik.. kalau begitu, Saya permisi ya Pak kembali ke kantor"
"Ya Pak terimakasih"
Pak Faris kini pulang, namun saat di jalan Ia berpapasan dengan Chandra.
Chandra menatap sinis wajah Pak Faris, yang dulu telah menghina Asri di depannya, bahkan sekarang Ia menolak bekerjasama dengan toko Bu Anita hanya karena Asri adalah Anak dari Anita Rosadi
"Halo Pak Chandra, bagaimana kabar Anda?"
Pak Faris berbasa-basi terhadap Chandra, Chandra tak menjawab Ia tetap diam dengan terus memandangi Pak Faris dengan tajam
"Ayolah Pak.. lupakan soal masalah yang dulu, saat ini Saya sudah bekerjasama dengan Retro loh"
Chandra tetap diam tak ingin menjawab ucapan Pak Faris.
__ADS_1