Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
165. Kontraksi


__ADS_3

Kebersamaan tiga aki-aki harus terganggu ketika Ayanda menghubungi Gio. Mereka baru saja hendak mengghibah seseorang, tetapi panggilan dari ratu segala ratu meminta dijawab.


"Siapa?" tanya Arya.


Gio menunjukkan ponselnya. Arya hanya menggelengkan kepala. Ponsel Rion pun berdering. Dahinya mengkerut ketika sang putri menghubunginya.


"Iya," ucap Gio.


"Halo," kata Rion.


Arya menyesap kopinya dengan begitu nikmat sambil memainkan ponselnya.


"APA?"


Arya hampir tersedak mendengar Gio dan Rion berkata kompak. Dia melihat ke arah dua sahabatnya itu dan mereka berdua nampak panik.


"Gua ikut lu," kata Rion. Arya tidak mengerti. Sedangkan dua pria paruh baya itu sudah berdiri.


"Bayar, Bhas."


Sudah tidak aneh jika Rion berkata seperti itu. Duda karatan nan kikir. Sebutan itu yang harusnya tersemat untuk seorang Rion Juanda. Berhubung Arya penasaran setelah membayar dia segera mengikuti mobil Gio.


"Lah, ke rumah si Aksa."


Arya sedikit berpikir keras. Gio dihubungi Ayanda dan Rion dihubungi Echa. Puzzle itu kini tersambung.


"Riana!"


Walaupun Riana bukan anaknya, tapi dia sangat menyayangi anak-anak Rion. Dia sudah menganggap ketiga anak Rion seperti anaknya sendiri.


Mobil Gio sudah memasuki area rumah Aksa. Rion segera turun dari mobil dan Gio parkir disembarang tempat. Napas mereka sudah terengah-engah dan mereka melihat Riana tengah menarik napas pelan dan menghembuskan napasnya dengan pelan. Raut wajah Riana pun terlihat berbeda.


"Mom," panggil Gio.


"Sudah mulai kontraksi."


Rion segera mengambil Gavin yang menangis di dalam gendongan Jingga.


"Kamu gak boleh gendong Empin. Kasihan bayi di dalam kandungan kamu," omel Rion. Dia mengomel karena dia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi yang ada di dalam kandungan Jingga.


"Iya, Om." Jingga menjawabnya dengan begitu sopan.


Pertama kali melihat ayah dari Riana, Jingga menilai bahwa Rion adalah orang yang angkuh dan judes. Namun, dugaannya salah. Ternyata Rion Juanda adalah orang yang hangat dan mampu menyayangi Jingga seperti anaknya sendiri.


"Mommy, Ton. Mommy," ucap Gavin dengan berderai air mata.


"Mommy gak apa-apa ya, Mpin. Itu tandanya Adek di dalam kandungan Mommy sudah akan keluar."


Tangis Gavin pun terhenti. Dia menatap intens wajah sang kakek dengan dahi yang berkerut.


"Benaltah?"

__ADS_1


"Iya."


Sorakan bahagia keluar dari mulut Gavin. Arya yang baru saja masuk segera menyambar. "Udah brojol?"


"Lu kira menantu gua kucing," omel Gio.


Sontak semua orang yang berada di sana pun tertawa. Semakin tua mulut mereka bertiga semakin parah. Otak Arya pun semakin korslet. Mana ada sekali sakit perut sudah brojol.


Ayanda menyeka keringat di dahi Riana. Begitu juga dengan Jingga yang mengusap lembut perut sang kakak ipar. Echa belum hadir karena dia masih berada di Depok dan rapat belum selesai.


Untungnya Riana sudah memakai baju daster. Sepertinya dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Melihat ke arah jam, sekarang sudah pukul tiga sore. Kemungkinan persalinan Riana terjadi ketika malam hari.


"Mommy panggil dokter Gwen, ya." Riana menolak. Biarlah semuanya berjalan dengan normal.


"Ri, Daddy gak mau terjadi apa-apa dengan kamu juga bayi kamu. Daddy janji, kamu akan lahiran secara normal. Tugas dokter Gwen hanya memeriksa kamu. Sudah sejauh mana bayi itu mencari jalan keluar," terang Gio.


"Iya, Ri. Dengarkan mertua kamu. Ayah hanya ingin melihat kamu dan anak kamu selamat," tambah Rion sambil menggendong Gavin.


"Kagak usah jadi manusia ngeyel, Ri. Sifat buruk bapak moyang lu jangan diikutin," omel Arya.


Pria paruh baya ini bukannya menenangkan malah memarahi Riana. Benar dugaannya jikalau Riana adalah titisan Rion Juanda. Manusia ngeyel.


Akhirnya, Riana pun mau. Namun, dengan satu syarat jika sang suami tidak boleh diberi tahu. Riana tidak ingin mengganggunya karena Aksa mengatakan perusahaan itu berstatus genting.


Dokter Gwen tiba, kontraksi Riana sudah menghilang. Tetap saja dokter Gwen memeriksa. Dia hanya tersenyum.


"Gimana, Dok?" tanya Ayanda. Di dalam kamar Riana hanya ada Ayanda dan juga Jingga yang menemani Riana.


Riana tersenyum lega. Dia mengusap lembut perutnya yang membukit.


"Kita tunggu Daddy pulang ya, Nak."


Jingga menganga mendengar ucapan dari Riana. Dia menatap ke arah sang ibu mertua dengan penuh tanya.


"Anak-anak Aksara ini adalah anak luar biasa," jawabnya. "Empin lahir di saat ayahnya pergi tugas. Ketika kami hubungi Aksa dan Aksa bertolak ke sini anak itu tetap ingin menunggu ayahnya. Gavin seolah menginginkan Aksa melihat perjuangan Riana."


Riana pun tersenyum ke arah sang ibu mertua. Apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya memang benar adanya.


Dokter Gwen tersenyum ke arah Jingga. Dia mengusap pundak Jingga dengan lembut.


"Empat bulan mendatang kamu akan merasakan hal yang sama dengan Riana." Jingga tersenyum ke arah dokter Gwen.


"Mommy selalu berdoa untuk kalian berdua. Semoga Tuhan melindungi kalian dan anak kalian yang masih ada di dalam perut kalian. Semuanya disehatkan juga diselamatkan." Ayanda menatap ke arah Jingga dengan penuh cinta. Bagaimanapun dia tahu bagaimana hati Jingga yang sesungguhnya. Maka dari itu, Ayanda selalu memberikan perhatian lebih untuk menantunya ini.


"Makasih, Mom." Jingga tak segan memeluk tubuh Ayanda.


.


Di ruangan keluarga ketiga pria paruh baya diajak menonton tayangan kesukaan Gavin.


"Ini film kartun masih ada aja, ya. Dari zaman gua SD Ampe sekarang gak gede-gede. Kenapa sekarang gua yang lebih tua dari tuh karakter film," oceh Arya.

__ADS_1


Gio pun tertawa termasuk Rion. Siapa yang tidak tahu serial kartun Ninja Hatori dari negeri Sakura itu. Lagu pembukanya pun mereka hafal.


"Mendaki gunung lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman bertualang." Gio dan Rion ikut bernyanyi.


"Tempat yang baru belum pernah terjamah. Suasana yang ramai di tengah kota. Slalu waspadalah kalau berjalan. Siap menolong orang di mana saja." Kini, Arya yang bernyanyi seorang diri.


"Gozaru gozaru itulah asalnya. Pembela kebenaran dan keadilan. Hei ninja Gozaru." Mereka berempat ikut berdendang.


"Ninja baik hati yang mulai beraksi. Menjaga anak-anak bermain di taman. Bunga-bunga indah terbang ke awan. Membawa hati kita jadi gembira," lanjut mereka lagi.


"Dodalu dodalu itulah atalna. Pembela tebenalan dan keadilan. Hei ninda dodalu."


Tiga orang dewasa tertawa mendengar suara cadel Gavin bernyanyi. Apalagi dia tengah mengikuti gerakan Hatori.


"Empin," panggil Arya. Anak itupun menoleh.


"Empin mau jadi ninja?" Mata anak itu pun berbinar. Dia mengangguk dengan cepat.


"Ambil sarung gih biar Wawa bikinin," ucap Arya.


"Benelan?" Arya mengangguk cepat. "Talun?"


"Bukan karung, SA-RUNG," tekan Arya.


Plak!


Rion menggeplak kepala Arya hingga dia mengaduh. "Cucu gua cadel, blo'on!"


Arya pun tertawa. Dia lupa sedangkan Gavin sudah menatapnya dengan tajam.


"Maaf, Wawa lupa," ucap Arya.


"Datal tua!"


Gio dan Rion tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Gavin. Sedangkan Arya sudah bersungut-sungut.


"Tuh mulut bocah masih kecil aja udah berbisa banget. Gimana gedenya?" gerutu Arya. Dia tidak sadar bahwa sikap Gavin menurun dari dirinya juga. Mulutnya tidak memiliki saringan.


Anak itu sudah membawa dua buah sarung. Arya masih ingat bagaimana menjadi Ninja hanya dengan sarung. Itu permainan yang biasa dia lakukan sewaktu kecil. Rion mengambil sarung yang satunya lagi. Dia juga pernah menggunakan sarung untuk menjadi ninja.


"Selesai." Arya membenarkan sarung tersebut dan memperlihatkan Gavin pada cermin.


"Wah, telen," ucap Gavin bangga. Arya pun tersenyum.


"Gua keren gak?"


Arya, Gavin dan Gio yang tengah memainkan ponsel pun menoleh.


"Enton mah taya malin yan di tinetlon-tinetlon."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2