
Mendengar ucapan Chandra Asri juga ikut takut dalam hatinya, lalu Asri mengiakan untuk di antar Chandra sampai rumah, setelah Chandra dan Asri mulai jauh dari area kantor Andi hanya terdiam melihat Mereka dari kejauhan.
Andi merasa bersalah seharusnya Dia berkata jujur dari awal siapa Dia sebenarnya, namun semua sudah terjadi, Andi pun tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Asri jika dirinya tidak pernah berniat jahat justru sebaliknya Dia malah simpati dengan kisah cinta Asri.
Waktu terus berjalan, Lia membereskan meja kerjanya lalu bersiap untuk pulang, Dia pun mendatangi ruang kerja Makmun
"Sayang... Kamu pulang sendiri dulu ya" ucap Makmun terhadap Lia
"Kenapa.. Kamu marah ya gara-gara Aku membela Asri berlebihan" ucap Lia dengan nada juteknya, kemudian Makmun tersenyum lalu menjelaskan
"Gak kok Sayang.. Aku gak bisa pulang bareng Kamu karena Aku harus lembur, lagi banyak barang yang datang untuk acara launching produk Selasa depan" ucap Makmun dengan suara pelan supaya Lia tidak marah lagi
"Oh..ya sudah deh.. Aku naik taksi saja" namun sebelum Lia pergi Makmun berkata,
"Lia.. Kamu jangan pulang bersama Juvi ya" Lia hanya terdiam bingung dengan ucapan Makmun
"Kenapa memang..?" Makmun menghela nafasnya merasa mengapa Lia tak paham dengan maksud ucapannya
"Aku gak bisa lihat Istri Aku bersama Pria lain" ucap Makmun dengan bahasa perumpamaan, padahal yang sebenarnya Makmun akan cemburu jika Lia pulang bersama Juvi, kemudian Lia langsung berjalan pulang tanpa bicara lagi.
Lia pun berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lalu Juvi melihat Lia dan menyapa
"Lia.. Kamu sedang apa disini, Makmun mana?" tanya Juvi yang sedang berada di atas motornya
"Sedang menunggu taksi, Makmun lembur jadi Aku pulang sendiri" kemudian Juvi pun pamit untuk langsung pergi, sebenarnya Dia ingin sekali menawarkan diri untuk mengantar Lia namun Dia tahu jika Makmun seorang yang pencemburu
"Kalau gitu Gue duluan ya" ucap Juvi sambil menyalakan mesin motornya
Saat Juvi bicara kepala Lia terasa pusing lagi, Lia pun sempoyongan seperti ingin jatuh, melihat keadaan Lia Juvi pun langsung dengan sigap turun dari motornya untuk membantu Lia
"Kamu kenapa Li.. pusing lagi ya, Li.. sebaiknya Aku antar Kamu pulang ya" ucap Juvi kini berani menawarkan diri, Lia merasa memang tubuhnya kurang fit sejak Ia hamil, lalu Lia mengiakan untuk di antar Juvi sampai rumah.
Saat di perjalanan Juvi pun bertanya mengenai sakit kepala Lia yang sering Ia lihat selama di kantor
"Lia Lo sakit apa, kok gue lihat Lo sering banget pusing" tanya Juvi dengan suara yang kencang supaya Lia bisa mendengarnya
"Ya...sejak Gue hamil, gue sering banget pusing Juv.. kata Dokter ini bawaan hamil" mendegar kata hamil, Juvi reflek menginjak rem mendadak, Lia pun terdorong ke depan
"Aduh..." Lia merasa kaget
"Juv.. Lo konsen dong kenapa sih.." Juvi terdiam tak percaya Lia hamil, secepat itu ucap Juvi dalam hatinya
__ADS_1
"Ya.. sory ya... Gue reflek saja Lo hamil, gak kerasa banget sudah hamil saja, selamat ya Lia.. Gue doakan semoga Lo sehat selalu dan di lancarkan persalinannya"
Juvi mendoakan Lia dengan segenap perasaannya, perlahan hati Juvi pun mengikhlaskan Lia karena tak selamanya Ia memendam perasaan ini, dan ketika Dia mendegar Lia saat ini hamil, Juvi pun merasa sudah waktunya Ia melupakan perasaan cinta yang selama ini Ia pendam
"Makasih ya Juv.. Gue doakan juga semoga Lo akan bertemu jodoh yang mencintai Lo dengan tulus" Juvi mengaminkan doa Lia, dan berkata dalam hatinya
"Seandainya orang itu adalah Kamu Li" namun siapa yang tahu mengenai jodoh, hanya tuhan lah yang tahu Jodoh terakhir Mereka.
Ketika Lia sampai di rumah, Lia melihat Ibu mertuanya sedang membenahi ruang tamu, "Assalamualaikum" ucap salam Lia, lalu Bu Alya melihat dan menjawab salam Lia, kemudian Lia berkata,
"Mah.. sedang apa..?" Bu Alya yang masih marah dengan Lia menjawab dengan ketus
"Sedang beres-beres lah Li.. Kamu gak lihat" Lia pun merasa Ibu mertuanya belum redam amarahnya
"Sepertinya Mamah butuh pembantu untuk bantu Mamah di rumah, karena Mamah punya menantu juga, menantu Mamah sibuk kerja terus"
Lagi-lagi sindiran itu di ucapkan untuk Lia, Lia pun langsung memasuki kamarnya Tanpa bicara lagi, dan saat menutup pintu kamar Lia pun menangis tanpa suara
"Kenapa sih Mamah selalu bersikap seperti itu, kadang baik kadang nyakitin" ungkap keluh kesah hati Lia dalam hatinya
Setelah itu Lia meminum obat sakit kepalanya, Lia pun merasa lapar lalu Lia berjalan ke dapur, saat ingin mengambil makanan Ibu mertuanya datang dan melihat
"Mah.. Aku juga masih bisa kok beres-beres rumah, masak setelah pulang kerja, Aku juga lapar dan langsung makan karena sudah ada makanan di atas meja, tadinya juga Aku mau masak Mah.." Bu Alya sepertinya tak suka dengan ucapan Lia
"Mamah baru ingat Kamu kan lagi hamil, jangan melakukan pekerjaan rumah deh.. Mamah takut Makmun marah sama Mamah.. ya sudah Kamu mau makan kan.."
Ucapan tersebut bukanlah untuk menjaga kehamilan Lia, melainkan sedang menyindir Lia, karena Bu Alya masih marah dengan ucapan Makmun waktu itu, Lia kini tak selera makan Dia pun menelpon Ibunya untuk membawakan masakan Padang, dengan alasan Dia ngidam, tentu saja Bu Irma langsung bersiap untuk membeli masakan Padang untuk Putrinya.
Setalah dua jam menunggu, akhirnya bu Irma datang juga Bu Irma mengetuk pintu lalu di bukakan oleh Bu Alya, Bu Alya terkejut dengan kehadiran Bu Irma yang tiba-tiba, kemudian Lia menghampiri
"Mamah.. dari tadi.? Ayo masuk.. " ucap Lia dengan senang bahagia, lalu Bu Alya pun berkata,
"Silahkan masuk Bu .. mau kesini kok gak kabari Kita dulu" tanya Bu Alya sambil tersenyum
"Ini loh Bu.. Lia tadi telepon Saya, katanya Dia sedang ngidam masakan Padang, jadi ya.. Saya belikan untuk si jabang bayi" ucap Bu Irma sambil tertawa kecil, namun reaksi Bu Alya malah melirik Lia dengan tajam
"Paling Kamu ngambek karena ucapan Mamah tadi" Bu Alya berbicara dalam hatinya, kemudian Bu Alya bicara pada Lia
"Lia.. harusnya Kamu gak perlu merepotkan Mamah Kamu, disini kan ada Mamah kenapa Kamu gak minta saja ke Mamah untuk di belikan masakan Padang itu" lalu Bu Irma menyahuti ucapan Bu Alya
"Bu.. sudah.. jangan dimarahi ya Lia.. Kita sama-sama orang tua Lia, minta dengan siapa saja itu gak masalah kok Bu" ucap Bu Irma dengan sangat sopan, lalu Lia meminta maaf pada Ibu mertuanya
__ADS_1
"Maaf ya Mah.. Aku bukan gak mau bilang sama Mamah, Aku cuma ga enak jika menyuruh Mamah membeli" namun raut wajah Bu Alya seperti tidak terima dengan semua ini
"Kalau begitu Saya buatkan minuman dulu ya Bu di dapur, Lia Kamu makan deh masakan yang Mamah Kamu beli, kasian jauh-jauh kesini" ucap Bu Alya dengan suara lembut hanya untuk menutupi kemarahan dalam hatinya.
Sementara Bu Alya sedang di dapur Lia pun dengan lahap memakan masakan Padang itu, Bu Irma pun tersenyum melihat Putrinya makan dengan lahap
"Kamu seperti orang yang sedang lapar Lia, sebelumnya Kamu sudah makan apa belum Nak.."
Bu irma merasa heran biasanya orang ngidam itu hanya mencicipi sedikit saja makanan yang sedang ia inginkan, tapi melihat cara Lia makan, seperti orang yang sedang kelaparan, Lia pun tak ingin jika Ibunya tahu dengan masalah yang sedang di hadapinya, bisa-bisa Ibu mertuanya nanti akan semakin salah paham dengannya
"Aku kan sudah menunggu Mamah dari tadi, jadi ya.. Aku lahap dong" ucap Lia dengan alasan bohong kepada Ibunya, Bu Irma tak berpikiran negatif Ia pun percaya dengan apa yang di katakan Anaknya.
Sementara sedang mengaduk jus, Bu Alya melihat makanan di meja makan, belum ada yang menyentuh Bu Alya pun berpikiran jika Lia tadi tak jadi makan, dan Ia katakan dengan ngidam dengan masakan Padang itu hanyalah alasan Lia saja supaya Ibu Irma membawakan makanan untuknya kesini.
Kini Bu Alya merasa tidak di hargai, Dia sudah memasak makanan dengan capek tapi Lia malah minta makanan lain dengan dalih ngidam, tentu saja hal ini pun membuat Bu Alya semakin tak suka dengan Lia, kemudian Bu Alya membawakan minuman untuk Bu irama
"Silahkan di minum Bu.. " Bu Irma pun tiba-tiba bertanya kepada Lia
"Lia.. Kamu bahagia kan hidup bersama Makmun" Lia yang sedang makan pun menjawab
"Iya Mah.. pasti Aku bahagia dong" jawab Lia dengan wajah gembira lalu kemudian Bu Irma bertanya lagi
"Kalau Ibu Mertua Kamu selalu baik kan sama Kamu" pertanyaan kali ini membuat Lia tersedak makanan, Bu Irma pun langsung memberikan minum kepada Lia, lalu Lia terdiam seketika memandangi wajah Bu Alya, kemudian Bu Alya menyahuti ucapan Bu Irma
"Ya pasti lah Bu, Saya memperlakukan Lia seperti anak Saya sendiri, iya kan Lia"
Bu Alya ingin meyakinkan Bu Irma jika dirinya adalah mertua yang baik, Lia tak berbicara apa-apa megenai pertanyaan Ibunya itu, lalu Lia melanjutkan menyantap makanan tersebut.
Bu Irma sepertinya merasa aneh dengan sikap Lia, tentu saja insting seorang ibu itu pasti kuat dengan keadaan Anaknya, jika bahagia atau tidaknya pasti akan terlihat dari raut wajahnya, namun hal ini tak di sampaikan oleh Bu Irma, Dia menghargai perasaan besannya takut salah bicara.
Tak lama Bu Irma pun pamit pulang karena Papah Lia pasti sebentar lagi pulang dari kerja
"Sayang.. Mamah pulang ya, Papah Kamu sebentar lagi pulang, Mamah harus layani Papah Kamu, Kamu mengerti kan.." ucap Bu Irma dengan tersenyum hangat, lalu Lia mencium pipi Bu Irma dengan rasa cinta
"Mah.. hati-hati ya.. makasih loh untuk masakannya, lain kali kalau Aku ngidam Aku minta sama Mamah gak masalah kan..?"
"Ya gak masalah dong sayang, justru Mamah senang bisa mengabulkan permintaan Cucu Mamah" Lia pun tertawa bahagia dengan Ibunya, lalu Bu Alya bicara
"Terimakasih loh Bu sudah mampir kesini, nanti lain kali deh Saya yang mampir kesana" ucap basa-basi Bu Alya terhadap Bu Irma, dan Bu Irma pun kini pergi dari rumah Makmun.
Lia rasanya ingin tinggal dengan ibunya apalagi saat-saat hamil seperti ini, Dia ingin sekali di manja oleh orang yang Dia cintai.
__ADS_1