
"Bu, aku mau ke klinik dulu ya. Mau periksa kandunganku." pamit Arumi. Ia memcium tangan ibunya sebelum pergi.
Hari ini Arumi berniat untuk memeriksakan kandungannya, karena sampai saat ini ia belum tahu usia kandungannya dan juga apakah bayinya sehat di dalam perutnya itu.
"Uhuk.. Hati-hati ya nak. Obat ibu yang sudah habis jangan lupa beli, ya."
"Iya, Bu. Aku pergi sekarang."
Setelah berpamitan Arumi pun segera pergi. Untung saja klinik yang di tujunya tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya berjarak kurang lebih 200 meter. Dengan mengendarai motor metic milik tetangga yang telah ia pinjam sebelumnya, Arumi pun tiba di tempat tujuan.
Di klinik yang di datangi Arumi ternyata tidak ramai. Disana ada seorang bidan juga seorang dokter dan ada tiga perawat wanita. Setelah mendaftarkan diri, Arumi pun di persilahkan masuk keruangan bidan bernama, Anis. Karena tak ada antrian jadi ia langsung masuk.
"Selamat pagi, bidan." sapa Arumi. Ia langsung duduk di kursi yang telah disediakan.
"Selamat pagi, ibu. Ingin konsultasi atau periksa kandungan?" tanya bidan Anis dengan ramah.
"Saya ingin periksa kandungan."
"Oh. Mari silahkan, langsung naik di tempat tidur dan berbaring disana, saya akan memeriksa."
Seperti intruksi bidan Anis, Arumi naik dan berbaring di atas tempat tidur. Setelah itu bidan Anis melakukan pemeriksaan pada perutnya. Tak berapa lama pemeriksaan itu selesai dan Arumi segera turun, kemudian kembali duduk di kursi yang sebelumnya.
"Bagaimana kondisi janin saya, bidan? Apakah sehat-sehat saja?" tanya Arumi.
"Ibu tadi juga sudah lihat kan pada saat saya melakukan USG, perkembangan janin ibu sangat baik dan juga kondisinya sehat. Usia janin sudah memasuki 4 bulan."
Arumi tersenyum bahagia dan mengelus perutnya. Ia terus mendengarkan semua intruksi dan tips-tips untuk menjaga kesehatan janinnya.
"Nanti saya akan resepkan vitamin untuk memperkuat kandungan anda. Oh iya, jangan terlalu stres dan banyak pikiran karena itu juga mempengaruhi perkembangan dari janin anda."
"Baik saya akan melakukan apa yang anda saran kan. Terimakasih, bidan."
"Ah, iya sama-sama."
__ADS_1
Arumi pun segera pergi setelah ia menebus obat untuk ibunya dan vitamin yang telah di resepkan tadi. Ia kembali melajukan motor meticnya dan segera pulang kerumah.
Setelah tiba dirumah, Arumi segera mencari ibunya untuk memberitahukan hasil pemeriksaannya tadi. "Bu.!" panggil Arumi. Tapi tak ada jawaban. Ia mencari ke kamar ibunya, tapi tak ada. Kemudian ia ke dapur dan tak ada juga. Arumi merasa khawatir karena tak menemukan ibunya, baik dirumah atau diluar rumah.
Namun, kekhawatirannya semakin menjadi saat melihat kaki yang sangat ia kenali terselonjor di pintu kamar mandi. Dengan segera Arumi berlari memasuki kamar mandi. Betapa terkejutnya ia, saat melihat ibunya terbaring lemah disana dan tak sadarkan diri.
Arumi bersimpuh dan mengangkat kepala ibunya. "Huhuhu.. Ibu bangun, Bu."
Airmatanya sudah tak terbendung saat melihat tubuh tua ibunya. Ia sangat takut akan terjadi apa-apa padanya dan sangat takut apa yang di pikirkannya terjadi. Arumi berusaha mengangkat ibunya seorang diri namun dengan kekuatannya yang tak bertenaga itu ia selalu gagal.
"Hiks..hiks.. Ibu tunggu dulu disini, aku cari bantuan dulu." ucap Arumi. Ia segera berlari keluar dan meminta tolong tetangga untuk membantu.
Tok..tok..tok..
"Pak Rahman, Pak?"
Beberapa kali Arumi mengetuk pintu rumah tetangganya dan akhirnya terbuka. "Eh. Nak Arumi, ada apa kok nangis begitu?" tanya Pak Rahman tetangganya. Ia sedikit terkejut melihat airmata Arumi yang mengalir terus
"Hiks.. Pak Rahman tolong bantu ibu saya, Pak. Hiks..hiks."
"Ibu jatuh dikamar mandi, Pak. Saya tidak bisa memindahkan ibu, jadi saya minta tolong bantuan bapak."
"Ya Tuhan. Ayo, ayo kita kerumah kamu sekarang."
Arumi membawa Pak Rahman dengan segera kerumahnya. Saat di jalan mereka bertemu dengan tetangga yang sedang lewat dan meminta bantuan mereka juga.
Ada beberapa orang yang telah Arumi bawa kerumah. Arumi tak henti-hentinya menangis seperti anak kecil, saat melihat tubuh ibunya diangkat dan dibawa ke kamar.
Tubuh Ningrum sudah sangat dingin. Arumi menggenggam tangannya erat dan menangis di sampingnya. "Ibu bangun, Bu. Hiks.. Aku sudah pulang dari memeriksa kandunganku. Ibu mau dengar kan hasilnya bagaimana? Jadi cepat bangun, Bu. Hiks..hiks.."
Sungguh Arumi sangat takut apa yang terjadi akan terjadi. Melihat kondisi tubuh ibunya yang sudah kaku dan dingin, ia masih tak ingin mempercayainya.
Pak Rahman dan beberapa orang yang ikut tadi, merasa sangat prihatin pada Arumi yang terus meraung di samping ibunya. Ayahnya telah lama meninggalkannya dan sekarang ibunya pun meninggalkannya untuk selamanya.
__ADS_1
"Nak Arumi, yang tabah ya. Ikhlaskan kepergian ibunya, agar ibu tenang." ucap Pak Rahman.
Arumi menggelengkan kepala berusaha tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. "Tidak, Pak Rahman. Ibu masih hidup. Huhuhu.. Ibu hanya pingsan saja. Iya kan, Bu? Ibu pasti bangun kan? Huhuhu.."
"Nak Arumi, bapak harap kamu mempercayainya bahwa ibumu telah tiada."
"Tidak, Pak. Bagaimana mungkin ibu meninggal? Jelas-jelas tadi sehat-sehat saja kok. Ibu hanya pingsan saja."
Arumi mendekap tubuh ibunya yang dingin dan terus menangis. Pak Rahman bingun harus berkata apa lagi, akhirnya dia hanya mengintruksikan pada tetangga untuk menyiapkan pemakaman. Melihat kondisi Arumi, tentu ia berinisiatif membantu untuk menyiapkan pemakaman.
Mungkin karena lelah menangis hingga membuat Arumi jatuh pingsan. Untung saja tadi Pak Rahman sudah memanggil istrinya dan menyuruhnya untuk menemani Arumi yang terlihat sangat lemah itu.
Pak Rahman adalah tetangga terdekat Arumi dan sudah di anggap sebagai saudara sendiri. Keluarga Pak Rahman sangat baik pada ibunya dan sering membantu mereka saat kesusahan. Jadi Pak Rahman mewakili Arumi mengumpulkan warga sekitar untuk memakamkan ibunya.
Entah berapa lama Arumi pingsan dan akhirnya ia siuman. Di dekatnya ada Bu Hana, istri Pak Rahman. Ia sedang mengipasi Arumi dengan kipas yang terbuat dari anyaman rotan. Melihat Arumi sudah membuka mata, Bu Hana merasa sangat beryukur.
"Nak Arumi, ini minum dulu." ucap Bu Hana. Ia mengulurkan segelas air putih kepada Arumi.
Arumi menerima gelas itu dan perlahan meminumnya. Setelah itu, ia melihat rumahnya yang begitu ramai oleh banyak orang. Ia merasa bingung kenapa rumahnya begitu ramai, kemudian ia mengingat ibunya. Kembalilah airmatanya jatuh tak terbendung.
Bu Hana memeluk Arumi dan ikut menangis juga. Ia seolah merasakan kesedihan yang Arumi rasakan. "Nak Arumi yang sabar ya. Hiks.. Ikhlaskan ibu, doakan dia agar dilapangkan kuburnya dan diberi tempat yang layak disana."
"Hiks..hiks..hikss.. Ibu nggak mungkin ninggalin Arumi, Bu. Arumi akan sendirian di dunia ini kalau ibu pergi. Apa ibu nggak sayang Arumi sehingga pergi juga meninggalkan ku? Arumi salah, iya Arumi salah. Mungkin karena Arumi selalu menyusahkan dan merepotkan ibu jadi ibu juga pergi kan. Huhuhuhu."
"Tidak sayang ibumu sangat menyanyangimu. Ibu tahu kamu sangat menyanyainya juga tapi Tuhan lebih sayang padanya. Arumi harus sabar ya, ini merupakan ujian dari Tuhan. Tegarkan hati mu sayang. Ingat semua makhluk yang ada di dunia ini pasti akan mati dan kembali ke sisi-Nya."
Semua yang datang melayat ikut merasa sedih dan bersimpati melihat kondisi Arumi yang sekarang tidak lagi memiliki orang tua. Sunggu kasihan. Setelah semua proses telah siap, kemudian jenazah di bawa keperistirahatan terakhirnya. Arumi juga ikut menghantarkan ibunya keperistirahatan terakhir.
Tak ingin mempercayai semua ini, tapi yang terjadi di depan matanya adalah kenyataannya. Jadi Arumi harus bagaimana harus menolak takdir itu. Tentu tak akan bisa, mau tak mau bisa tak bisa ia memang harus menerima semuanya dan mengikhlaskan kepergian ibunya.
"Mengapa? Mengapa semua kesedihan datang silih berganti? Mengapa Orang yang ku sayangi dan ku cintai satu persatu harus pergi meninggalkanku? Aku bahkan belum sempat membahagiakan orang tuaku, dan sekarang telah di tinggal pergi. Ibu, sungguh maafkan anakmu yang belum mengucapkan terimakasih atas pengorbanan dan perjuanganmu selama ini. Maaf pernah membuatmu meneteakan airmata dan selalu menyusahkanmu. Ibu meski ragamu terkubur tapi jiwamu selalu ada di hatiku. Semoga dengan ini engkau tak akan merasakan sakit lagi dan merasakan kerasnya kehidupan saat ini. Ibu terimakasih. I love you ibu."
*
__ADS_1
*
*