
Di dalam mobil Asri dan Andi mengobrol banyak tentang hubungannya dengan Kasih hingga tanggal pernikahan yang Andi sudah siapkan
"Tapi papah Kamu tidak setuju, lalu bagaimana... Kamu tetap akan melaksanakan pernikahan itu"
"Ya Aku akan tetap menikahi Kasih, setelah menikah, Aku baru akan mendatangi Papah jika pekerjaan Aku bisa di mutasi, kemungkinan Aku akan pindah ke area Wonogiri"
"Andi.. Aku hanya bisa memberi Kamu semangat, semoga semuanya lancar keinginan Kamu semua bisa terwujud"
"Amin.. makasih ya Asri, Aku juga berdoa untuk Kamu, semoga Kamu bisa menemukan jodoh yang terbaik dan menerima Kamu apa adanya"
Asri tersenyum mendengar doa Andi untuk dirinya
"Terimakasih Andi"
Setelah sampai Asri turun dan Andi pamit
"Aku duluan ya, sampai bertemu di pernikahan Aku"
"Iya .. hati-hati"
Bu Anita mendegar suara mobil, lalu Bu Anita keluar memastikan siapa tamu yang datang
"Loh Asri.. Kamu sudah pulang, tadi Mamah dengar suara mobil, Kamu pulang dengan siapa?"
"Sama Andi Mah.. Aku masuk dulu ya, ganti baju, baru Aku cerita kenapa Aku sudah pulang jam segini"
dan Mereka pun memasuki rumah, selagi menunggu Asri berganti baju, Bu Anita mendapati pesan dari Tika, jika ada seorang Dokter yang mencarinya
"Dokter"
ucap kebingungan dalam hati Bu Anita
Namun karena Bu Anita sedang malas pergi, Bu Anita pun hanya mengatakan akan datang sore nanti jika ingin bertemu.
Tika Manager toko Anita, Dia menyampaikan pesan Bu Anita kepada Dokter Farhan
"Jadi sore baru bisa bertemu Bu Anita"
"Iya Mas.. karena Bu Anita memang jarang ke toko, paling hanya beberapa jam saja untuk mengecek keadaan toko"
"Baik.. kalau begitu Saya permisi, Saya akan datang lagi nanti sore"
"Mas ini Dokter dari mana?"
"Saya Dokter Farhan, praktik Saya di Bandung, Saya di Jakarta karena sedang ada seminar saja"
Setelah data Dokter Farhan di tulis, Dokter pun pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Ketika Tini sampai di supermarket Ia memilih dan memilah sayuran yang masih fresh dan ikan juga daging, ketika hendak mengambil minuman dingin, ternyata ada tangan lain yang ingin mengambil minuman yang ingin Tini ambil
"Maaf silahkan"
Fahmi dan Tini pun bertatap muka, betapa terkejutnya Tini saat yang Ia lihat adalah seseorang yang memperkosanya tempo hari
"Kamu.."
Fahmi tersenyum jahat ketika melihat wajah Tini
"Kamu.. akhirnya Kita bertemu lagi, sedang belanja?"
Fahmi berbasa-basi bertanya kepada Tini, namun Tini enggan menjawab dan memberikan wajah yang tidak enak
"Dasar lelaki bejat"
lalu Tini memutuskan untuk pergi, namun ketika hendak ingin melangkah pundak Tini di pegang oleh Fahmi
"Buru-buru sekali, bagaimana suami Kamu, sudah bisa memuaskan Kamu"
Tini semakin jijik mendegar ucapan itu
"Lepaskan...!! jangan sentuh Saya"
Tini pun dengan cepat melangkah, sedangkan Fahmi hanya tersenyum-senyum melihat Tini ketakutan seperti tadi, setelah membayar semua belanjaan Tini segera pergi dari supermarket, dan saat sudah berada di dalam mobil, Tini memukul stir mobil dengan tangannya.
"Dasar lelaki bejat, kenapa Aku harus bertemu orang itu lagi, Papah... kenapa belum melakukan rencananya, Aku sungguh ingin melihat Dia menderita"
lalu Tini menghubungi Papahnya dan menceritakan pertemuannya tadi di supermarket
"Apa.. jadi Dia mengatakan itu"
"Iya Pah.. Pah.. cepat lakukan sesuatu, Aku muak melihat wajahnya"
"Sabar dong Tini, Papah sedang mengirim orang untuk mengawasi Fahmi itu, tapi saat ini belum ada kabar"
"Aku tunggu rencana Papah, sudah dulu ya Pah, Aku harus menyetir"
__ADS_1
"Ya Tini.. hati-hati Nak.. kalau bertemu Dia lagi, sebisa Kamu hindari saja dulu"
Tini pun pulang dan ternyata Fahmi mengikutinya dari belakang, saat sudah sampai rumah, Tini memanggil Bu Fatma untuk membantunya membawakan belanjaan
"Sudah belanjanya"
"Sudah Bu... bantu Aku ya Bu"
tak lama Sam datang untuk makan siang
"Loh.. Sam.. Kamu pulang Nak?"
"Aku lapar Bu.. mau makan masakan Ibu"
"Tumben .. ya sudah pas sekali Tini baru saja membelikan Ibu bahan makanan"
Fahmi terkejut melihat kehadiran Sam
"Apa.. Sam.. apa Sam itu suaminya"
Fahmi belum memastikan siapa Sam sebenarnya, tapi Ia kan cari tahu, jika memang benar Sam adalah suami Tini, Fahmi merasa senang karena Fahmi bisa membalas Sam dengan cara seperti ini.
Sementara Bu Fatma akan memasak Tini pun datang menghampiri
"Bu.. Aku saja ya yang masak"
"Tapi Sam..."
"Bu.. jangan bilang Aku yang masak, bilang saja ini masakan Ibu"
Bu Fatma sangat mengerti keinginan Tini yang ingin sekali di perhatikan dan di anggap ada oleh Sam
"Baiklah.. kamu yang masak, Ibu bantu potong sayur saja ya"
Tini pun tersenyum karena permintaannya diikuti oleh Ibu mertuanya.
Tak lama di tengah jalan Fahmi di cegat oleh segerombolan preman
"Heh.. Lo siapa..?"
"Banyak bacot Lo, hajar"
salah seorang preman menyuruh kelompoknya untuk menghajar Fahmi. Fahmi di hajar habis-habisan hingga babak belur, setelah tugasnya selesai segerombolan preman pun pergi meninggalkan Fahmi dalam keadaan sudah tak berdaya
"Mampus.. makanya jangan banyak tingkah"
Sesampainya disana, Fahmi turun dari mobil, dan teman-temannya begitu kaget melihat keadaan Fahmi yang sudah babak belur
"Fahmi.. Lo kenapa, siapa yang melakukan ini"
"Gue gak tahu, tiba-tiba di tengah jalan Gue di hadang segerombolan orang, tapi kelihatannya Dia seperti orang suruhan, karena Gue lihat dari mobil yang Dia bawa, itu mobil plat nomor Jakarta men..."
"Jakarta.. Lo ada urusan apa sama orang Jakarta"
Fahmi pun tak mengerti mengapa ada yang ingin menyerangnya.
Setalah selesai melaksanakan tugas, ketua segerombolan orang yang menghajar Fahmi tadi menghubungi atasannya
"Pak.. sudah Kami lakukan kepada target"
"Bagus.. lalu informasi apa lagi yang Kamu dapat"
"Menurut informasi yang Kami dapat, Fahmi anak seorang pengusaha yang bernama Faris Ardiansyah Dia pemilik perusahaan ternama di Cirebon Pak.."
betapa terkejutnya Herman saat tahu bahwa Fahmi anak dari Pak Faris, orang yang baru saja tanda tangan kontrak dengan Retro
"Faris Ardiansyah..!!"
dalam hati Herman mengatakan,
"Brengsek.. jadi Fahmi adalah anak Faris, kurang ajar, beraninya anak itu menyentuh Putri kesayangan Saya, lihat saja Pak Faris, apa yang akan Saya lakukan dengan perusahaan Anda"
pikiran jahat pun muncul dalam benak Herman, Ia akan memikirkan rencana selanjutnya untuk menghukum orang yang telah menyentuh Putrinya.
"Sekarang Kamu cari tahu properti apa saja yang Faris miliki, cepat beritahu Saya jika sudah dapat informasinya"
"Baik Pak.. secepatnya akan Kami laksanakan tugas itu"
sambil menunggu informasi dari Anak buahnya, Herman pun berniat untuk menemui Andi.
Makanan sudah siap, Sam yang tengah lapar kini memakan dengan lahap makanan Tini yang Dia kira itu masakan Ibunya
"Bu enak banget.. makasih ya Bu"
"Iya Nak..makan yang banyak"
__ADS_1
Bu Fatma hanya tersenyum melihat lahapnya Sam dalam memakan masakan istrinya, dalam hati Bu Fatma berkata,
"Sebenarnya ini masakan Tini, maafkan Ibu ya Sam, Ibu harus berbohong tapi kelihatannya Kamu menyukai masakan Tini"
"Tini sedang apa Bu"
"Tumben Kamu tanya Tini, apa Kamu sudah ingin membiasakan diri dengan kehadiran Tini"
"Ya gak lah Bu.. Aku hanya bertanya, Aku hanya ingin tahu, keseharian Dia ngapain saja di rumah, apa Dia membantu Ibu di rumah atau Dia hanya ongkang-ongkang kaki saja"
Bu Fatma malah tersenyum tak menjawab pertanyaan Sam
"Pasti Dia tidak pernah beres-beres ya di rumah"
"Sudah Sam biarkan saja, yang penting Dia masih mau Ibu suruh gak masalah, Sam.. apa harus Kalian tidur terpisah seperti ini setiap hari"
"Memangnya kenapa Bu..? Aku hanya ingin membatasi diri Aku dengan Tini, Dia punya banyak cara supaya Aku bisa menidurinya"
"Sam.. tapi Dia Istri Kamu, hal itu berhak loh Dia dapatkan"
"Bu.. Aku mohon, urusan rumah tangga Aku, biar Aku yang mengurusnya, jika Tini tidak betah dan merasa tersiksa tinggal disini, silahkan saja jika Dia ingin mengadu pada Papahnya, dan bila perlu Dia yang menggugat cerai Aku, Aku malah justru lebih senang Bu"
"Sam.. Kamu masih belum bisa ya melupakan Asri"
"Tidak usah membahas Asri ya Bu, Aku sudah sangat menyakitinya, Aku merasa bersalah jika membahasnya"
"Ya sudah.. lanjutkan makannya"
Sam makan habis hingga 2 piring, melihat dari kejauhan Tini merasa bahagia, suaminya memakan lahap habis masakannya.
Setelah jam makan siang Andi berada di kantor milik apk Fadli untuk melakukan interview
"Silahkan masuk Pak ruangannya disini"
"Terimakasih Mbak"
Andi memasuki ruangan Pak Fadli, lalu Andi memperkenalkan diri, dan Andi mulai di interview oleh Pak Fadli langsung
"Jadi sebelumnya kamu bekerja di perusahaan Singapura, ini sangat bagus, akreditasi Kamu juga semua nilainya bagus"
tanpa pikir panjang Pak Fadli menerima Andi bergabung dalam perusahaannya
"Serius Pak.. Saya di terima"
"Ya.. Selamat bergabung di PT. Asahi Husada"
Mereka pun berjabat tangan, kemudian Andi pamit karena hari pertama bekerjanya di mulai besok
"Saya permisi Pak.. sekali lagi terimakasih atas kesempatan yang sudah Anda berikan untuk Saya"
"Sama-sama Pak Andi"
baru saja keluar dari gedung Perusahaan Andi di telepon oleh Herman untuk menemuinya sebentar
"Baik Kita bertemu di cafe Solaria ya Om"
"Ya Andi"
Andi segera pergi ke cafe yang sudah di janjikan. Setelah sampai Andi duduk dan menunggu kehadiran Herman.
"Andi..."
Andi menoleh dan tersenyum pada Omnya
"Iya Om.. ada apa ya Om mau bertemu Aku"
"Andi.. Kamu kan sedang bermasalah dengan Papah Kamu"
"Lalu..."
"Begini Andi, Om minta tolong sekali urungkan niat Kamu menikahi gadis desa itu"
belum selesai bicara Andi langsung memotong ucapan Herman
"Om..kalau Om kesini dan ingin bertemu Aku untuk mengatakan hal ini, Aku minta maaf karena Aku sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahan Aku, tanggal juga sudah Aku putuskan"
"Apa...Kamu serius Andi"
Herman merasa tak percaya Andi akan senekat ini melaksanakan pernikahan tanpa restu dari Papahnya
"Andi.. tolonglah Kamu jangan seperti ini"
"Om.. harusnya Papah yang jangan seperti ini, kenapa sih hanya untuk merestui Aku dan Kasih saja Papah tidak mau, padahal itu adalah kebahagiaan Aku Om, artinya Papah gak sayang sama Aku"
"Tidak seperti itu Andi, Papah mu sangat sayang sama Kamu, tapi bukan perempuan itu yang di pilih Papah Kamu"
__ADS_1
"Om.. sudah ya.. Aku masih banyak urusan, tolong beritahu Papah, Aku bisa hidup berdiri sendiri, Aku laki-laki Aku bisa cari pekerjaan apapun untuk menghidupi Aku juga Istri ku nanti"
Setelah mengatakan hal itu Andi pun pergi dari cafe meninggalkan Herman yang gagal membujuk Andi untuk kembali pulang.