
Jingga sudah diperbolehkan pulang dan Gio sudah mempersiapkan inkubator di rumah khusus untuk Ayna. Kepulangan Ayna disambut hangat oleh semua keluarga Aska dan juga Rion. Ayna pun seakan mengerti dia tidak memejamkan mata selama perjalan menuju arah pulang. Dia anteng berada digendongan perawat.
Semua pujian terlontar untuk Ayna. Mereka tidak mengada-ada. Ayna memang sangat cantik sekali. Walaupun terlahir prematur, pipinya terlihat gembil.
"Kok gak mirip kalian?" sergah Arya.
"Muka bayi mah masih berubah-ubah, Bhas," ujar Rion.
Jingga merasa terharu atas sambutan dari keluarga besar suaminya ini. Mereka sudah tahu perihal ketidaksempurnaan Ayna, tetapi mereka seakan tidak peduli. Mereka tetap melihat Ayna seperti anak yang normal. Apalagi Rion dan Arya yang terus memainkan Ayna.
"Cucu gua gak boleh kena kulit kalian dulu," larang Gio. Dua pria paruh baya itupun berdecih. Menatap tajam ke arah Giondra yang sudah tertawa.
Aska membantu istrinya untuk duduk. Dia tidak meninggalkan Jingga barang sedetikpun. Jingga tersenyum ke arah Ghea yang sedang dalam masa menggemaskan. Ingin sekali dia mencium anak cantik itu. Gavin berlari dan ingin memeluk tubuh sang Tante. Namun, Aska melarang dan memberi pengertian kepada sang keponakan. Untungnya, Gavin mengerti.
Ada segelumit rasa iri di hati Jingga. Namun, dia juga harus menerima dengan berlapang dada. Ini adalah takdirnya. Biarlah Tuhan yang mengatur kehidupannya. Dia hanya tinggal mengikutinya saja.
.
Semakin hari kondisi Ayna semakin membaik. Jingga pun merasa sangat senang. Dokter anak yang menangani Ayna sudah memperbolehkan Ayna untuk terlepas dari inkubator. Berat badannya sudah normal. Padahal baru sepuluh hari berada di dalam inkubator.
"Anak Bunda udah sehat. Udah bisa bobo sama Bunda dan Ayah, ya." Jingga menggendong tubuh Ayna. Dia menciumi pipi gembul sang putri.
"Bagaimanapun kondisi kamu, Bunda akan tetap menyayangi kamu. Bunda tidak akan menyia-nyiakan kamu."
Sebuah kalimat yang sangat tulus yang diucapkan oleh Jingga kepada Ayna. Dari balik pintu, Ayanda menyeka ujung matanya. Dia terharu akan kelapang dadaan yang Jingga miliki.
"Mommy selalu berdoa, semoga kamu diberikan kebahagiaan yang tak terkira."
Sebagai seorang ibu dia hanya bisa mendoakan. Doanya tak pernah putus untuk anak, menantu, juga cucunya.
Setiap pagi dan sore Ayanda selalu membantu Jingga dalam memandikan Ayna. Ada rasa sedih di hati Ayanda ketika melihat ketidaksempurnaan sang cucu. Namun, melihat Jingga yang terus tersenyum membuatnya malu.
"Gak apa-apa ya, Nak. Ketika kamu besar nanti Ayah dan Bunda akan memasangkan kaki palsu yang paling bagus untuk kamu. Kamu akan seperti anak normal pada umumnya. Kamu anak kuat. Kamu anak hebat," ujarnya.
__ADS_1
Ayanda menyeka ujung matanya. Hatinya sangat sakit mendengar penuturan dari Jingga. Sekuat inikah menantunya? Apakah tidak ada kerapuhan di hatinya?
"Semakin gendut, ya." Jingga mengangguk.
"Nyusunya kuat, Mom."
Setelah selesai mandi, Jingga memakaikan pakaian untuk sang putri tercinta.
"Jangan malu dengan keadaan kamu ya, Nak. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna," tutur Jingga.
Ayna malah merespon dengan senyum yang mengembang. Sedih yang Ayanda rasakan melebur sudah.
"Mimo, Ayna udah cantik. Mau gendong gak?" Jingga berbicara layaknya anak kecil. Ayanda segera membawa Ayna ke lantai bawah dan menyuruh Jingga untuk mandi.
Setelah kepergian ibu mertuanya, tubuh Jingga luruh ke lantai. Dia sudah tidak sanggup untuk menahan beban yang dia pikul. Beban ini terlalu berat.
"Aku lelah, Tuhan."
Ketika dia merasa sendiri, seperti ada dua tangan yang membantunya untuk berdiri, yakni Dea dan juga bundanya.
"Jangan menyerah, Bunda. Aku sudah tidak sabar berkumpul dengan Bunda." Seulas senyum Dea berikan kepada Jingga. walaupun Jingga bukan ibu kandungnya, tetap saja Dea selalu menganggap Jingga adalah ibunya.
"Bangunlah, Nak. Bangkitlah! Kebahagiaan kamu sudah dekat," ujar sang bunda.
Kalimat demi kalimat itu yang membuat Jingga mampu menghadapi kelelahan hati yang dia derita. Dia harus bangkit, dia tidak boleh cengeng. Banyak orang yang sayang pada Ayna.
Hati Jingga tersentuh ketika dia hendak menghampiri Ayna yang tengah digendong ibu mertuanya. Ada sang keponakan tampan di sana.
"Tidak puna tatu tati tida matalah. Matih bita dalan. Banat olan yan dalan pate tanan. Meleta tak matalah. Tak meneluh, halusna tita beltutul."
"Apa di mata Empin dedek Ayna berbeda?" tanya sang Mimo.
Anak itupun menggeleng. Dia malah menciumi Ayna yang tengah menatapnya.
__ADS_1
"Tama taya Adek."
Jawaban dari Gavin membuat mata Jingga berkaca-kaca. Dia tidak menyangka anak sekecil itu akan berbicara layaknya orang dewasa. Gavin malah menaikkan celana panjang yang Ayna gunakan. Dia melihat kekurangan Ayna dengan sebuah senyuman.
"Ayna mah tuat, ya."
Bulir bening menetes dari pelupuk mata Jingga. Dia benar-benar terharu dengan ucapan sang keponakan yang luar biasa. Bukan hanya dia yang mengakui bahwa Ayna kuat. Banyak orang yang berbicara seperti itu juga.
Ketika malam tiba Aska akan selalu meluangkan waktu untuk menggendong sang putri tercinta. Dia senang sekali menatap mata Ayna yang seperti boneka.
"Anak Ayah udah ngantuk, iya?" Aska membawa Ayna ke arah Jingga yang ada di atas tempat tidur.
"Mau Bunda apa Ayah yang buatin susu?" tanya Aska.
"Bunda aja, Ayna sepertinya merindukan ayahnya." Jingga tersenyum ke arah Askara.
Jika, malam hari dia selalu berbagi peran. Aska akan membantu Jingga dan membiarkan Jingga beristirahat sejenak. Anak ini tahu, jika ayahnya pulang langsung terjaga. Ketika jam sepuluh malam baru terlelap.
"Sama Ayah dulu, ya." Ayna tersenyum dan membuat Aska semakin gemas dibuatnya.
Tadi siang, Aska, Aksa, Fahri, Fahrani, Remon juga Christian berkumpul. Di sana juga ada sang ayah. Aska mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya di hadapan semua orang.
"Sebentar lagi usia Ayna mau sebulan. Ketika empat puluh hari, Ayna pasti akan ditunjukkan ke publik. Jika, Daddy dan yang lainnya keberatan karena kehadiran Ayna di kelurahan Wiguna akan mencoreng nama baik Wiguna grup, Adek gak masalah anak Adek disembunyikan."
Semua orang yang ada di ruangan Gio terkejut mendengar ucapan dari Aska. Mereka menatap Aska dengan tatapan tajam.
"Adek sadar diri, anak Adek tidak sempurna. Adek tidak ingin membuat Daddy juga semuanya malu. Sudah pasti, semuanya akan mencemooh anak Adek. Adek tidak ingin membuat istri Adek bersedih lagi. Sekuat-kuatnya Jingga, tetap saja dalam hatinya rapuh. Hanya saja dia tidak menunjukkan kerapuhannya kepada siapapun." Semua orang terdiam mendengar penuturan dari Askara.
"Keputusan Daddy sudah bulat. Ayna tetap akan Daddy tunjukkan pada khalayak umum. Serta Jingga akan Daddy perkenalkan sebagai istri sah kamu. Jikalau, ada yang berbicara tidak-tidak, berurusan dengan Daddy. Sekalipun itu mertua kamu, Daddy akan memotong kakinya agar dia merasakan bagaimana jadi Dea dan Ayna."
...****************...
Jangan bosan ya ...
__ADS_1