Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
155. Mengikhlaskan


__ADS_3

Mengikhlaskan adalah perihal yang sangat sulit untuk dilakukan. Mudah untuk dikatakan, tetapi sulit untuk dipraktikkan.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, air mata Keysha terus mengalir. Dia masih memeluk erat tubuh sang ibu yang berada di sampingnya. Air mata itu seakan tengah menceritakan kesedihan, kesakitan dan kepedihan yang dirinya rasakan. Hanya dapat menangis, tanpa bisa mengungkapkan dengan kata-kata.


"Za yakin, Kakak akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dia." Enggan sekali Kaza menyebutkan nama Rifal. Dia sudah dirundung kekecewaan yang mendalam. Sebagai seorang adik, Kaza dapat merasakan bagaimana sakit dan terlukanya sang kakak. Dia pun ikut memeluk tubuh Keysha.


"Mulailah hidup yang baru di sana," ujar Kano. Keysha pun mengangguk tanpa melepaskan pelukannya terhadap sang mamih.


"Kamu gak bilang Aska?" Keysha pun menggeleng.


"Biarkan Key menghilang, Pih. Tolong jangan sampai bocor di mana Key tinggal."


Sebuah permintaan dari seorang wanita yang tengah merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia membutuhkan ruang untuk sendiri. Menerima kenyataan yang pahit amatlah sulit.


"Ijinkan Key menenangkan hati dan pikiran Key. Key terlalu ringkih, hati Key hancur dan tubuhku Key lelah."


Tidak ada yang Keysha tutupi kepada ayahnya ataupun keluarganya. Kedua orang tuanya mengajarkan keterbukaan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.


Tibanya di Bandara, Keysha bergantian memeluk tubuh sang ayah tercinta. Dia menangis di dalam dekapan ayahnya.


"Kamu wanita hebat."


Mereka bertolak ke Singapura dan dua hari mendatang Keysha harus terbang ke salah satu negara yang berada di benua Eropa. Negara mana yang akan Keysha tuju?


Tibanya di kediaman Kano di Singapura, Keysha memilih segera masuk ke kamarnya. Pura-pura baik-baik saja di depan orang yang disayangi ternyata perih dan sesak, ya. Begitulah yang Keysha rasakan.


Figura yang ada di atas nakas Keysha ambil. Jarinya menyentuh kaca figura tersebut dan air matanya pun ikut menetes. Tidak ada kata apalagi kalimaya. Hanya air mata yang mengungkapakan semuanya.


"Dia bukan jodoh kamu. Sekeras apapun kamu mengejar, dia tidak akan bisa kamu dapatkan. Hanya buang-buang waktu."

__ADS_1


Figura itu Keysha buang ke dalam tempat sampah. Meskipun berat, tetapi harus dia lakukan. Biarlah dia menangis malam ini, tapi tidak untuk esok dan selanjutnya.


"Terlalu banyak kenangan kita yang harus aku buang," gumam Key dengan nada yang amat lirih.


Dua jam sudah dia membersihkan semua kenangan bersama Rifal yang ada di kamarnya. Kamarnya nampak seperti baru, tidak ada apapun yang terpasang. Sama seperti hatinya, dia ingin mengosongkan hatinya dan mencoba membuka lembaran baru di belahan dunia yang baru.


"Aku hanya ditakdirkan untuk menjaga jodoh orang," gumamnya dengan suara berat.


Hanya satu figura yang masih menempel di sana. Foto dia bersama si kembar, Riana dan juga Beeya.


"Maaf, aku tidak memberi kabar. Biarkan aku berlayar jauh dari kalian. Aku janji, suatu saat nanti aku pasti kembali."


Bulir bening menetes lagi dari pelupuk mata Keysha. Ini adalah pilihannya. Dia harus bisa menjalankan apa yang dia pilih. Kini, dia merasakan apa yang Riana rasakan dulu. Hati kecil Keysha masih berharap jikalau nasibnya seperti Riana. Namun, dia juga sadar diri. Istri dari Rifal bukanlah wanita seperti Ziva. Wanita itu adalah wanita baik-baik.


Jika, hati Keysha jahat ini kesempatan bagus untuk Keysha mendapatkan Rifal kembali. Di mana ayah dari Rifal sudah tiada dan dia bisa menyuruh Rifal untuk menceraikan Elyna. Namun, Keysha tidak sekejam itu. Dia tidak ingin menjelma menjadi seorang pelakor. Dia juga tidak ingin melihat Elyna tersakiti. Biarlah hanya dia saja yang menjadi korban. Biarlah hati dia saja yang hancur tak tersisa.


Luka yang ditorehkan oleh Rifal sangatlah dalam. Sudah pasti sembuhnya pun akan lama. Namun, Keysha percaya, setiap penyakit juga luka pasti ada obatnya. Dia hanya cukup berserah diri kepada sang pemilik semesta. Menyerahkan segala takdirnya kepada sang kuasa. Dia sadar, dia hanyalah pelakon di bumi ini. Tinggal mengikuti apa yang diarahkan oleh sutradara, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.


.


"Aku mohon, Om. Di negara mana Keysha akan tinggal?" Itu Rifal lakukan di depan istrinya setelah acara tahlilan hari ketiga selesai.


Mata Echa dan Nesha menatap ke arah Elyna yang sudah menundukkan kepala. Hati istri mana yang tidak sakit mendengar ucapan itu langsung dari mulut suaminya. Juga tepat di depannya. Elyna hanya menguatkan hati. Mencoba untuk tegar walaupun hatinya sudah bergetar. Ingin menangis dengan sangat keras. Ada, tapi dianggap tak ada.


"Saya tidak tahu, Fal. Kano hanya mengatakan jikalau Keysha akan tinggal di benua Eropa," terang Giondra. "Kalian memang ditakdirkan untuk tidak bersama. Jangan melawan takdir Tuhan. Sekarang waktunya kamu bahagiakan berkat Tuhan, yakni istri kamu."


Jingga tengah ikut melihat ponsel sang suami. Aska berkali-kali menghubungi Keysha, tetapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Dia pun menggelengkan kepala kepada Jingga. Keysha seperti sengaja menghilangkan diri.


"Itu tandanya Keysha sudah mengikhlaskan. Jadi, gak usah lu kejar terus," ucap Aksara yang sedari tadi belum mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Sekarang, waktunya lu buat bisa mengikhlaskan Keysha dan menerima istri lu," lanjutnya lagi. "Sikap lu itu pasti sudah menyakiti hati istri lu yang gak memiliki salah apapun sama lu. Ini bukan salah istri lu, juga bukan salah Keysha, tapi emang sudah tulisan takdir lu kayak gini," paparnya.


Elyna semakin menunduk dalam mendengar ucapan dari Aksara. Ternyata ada juga yang mengerti akan hatinya.


"Gua udah bilang 'kan ke lu. Cukup Keysha yang lu sakiti. Jangan sampai istri lu sakit hati karena sikap bodoh lu itu."


Rifal diserang oleh dua saudara kembar tersebut. Bibirnya terasa kelu. Echa dan Nesha sudah menghampiri Elyna. Mereka mencoba menguatkan Elyna karena sangat menyakitkan ketika tak dianggap oleh suami sendiri.


"Aku gak apa-apa kok, Mbak."


Elyna mampu menyunggingkan senyum. Namun, senyum itu merupakan senyum penuh luka. Jingga yang melihatnya ikut menyeka ujung mata. Memeluk tubuh Aska dari samping.


"Aku ikut sedih."


Hati ibu hamil selalu berubah-ubah. Aska sudah mulai terbiasa dengan hal kecil seperti ini.


.


Di lain ruangan, ada lima anak ABG tengah duduk dalam satu karpet yang sama. Aleena, dia memilih terus mendekat ke arah Rio yang tengah bermain game.


"Kenapa sih, Na?" tanya Rio. Aleena menggelengkan kepala.


Rio mencoba mencari tahu, ternyata Kalfa tengah memperhatikannya sedangkan Aleeya tengah mengajak Kalfa berbicara. Raut wajah Aleeya pun terlihat amat gembira. Rio yang sangat peka akhirnya mengajak Aleena pergi menjauh dengan menarik tangan Aleena.


"Bukannya si Aleeya dulu gak suka banget sama di Kalfa," tanya Rio. Aleena hanya menggedikkan bahunya. Menandakan dia tidak tahu.


"Udahlah, kalian masih kecil. Nanti kalau dewasa rasa itu berubah dengan sendirinya," ujar Rio.


...****************...

__ADS_1


Komen atuh ....


__ADS_2