
Kerinduan bukan hanya milik dari Aska dan juga Gavin. Jingga pun merasakan hal yang sama. Dia merindukan tanah kelahirannya. Sia merindukan orang-orang yang berada di sekelilingnya, memerindukan teman-temannya di perusahaan. Apalagi ipad-iparnya yang baik hati, dia sangat rindu.
Ketika lelah melanda terkadang terbesit dalam benak, dia ingin pulang. Dia lelah dengan keadaan, dengan kegiatan yang setiap hari dilakukan secara monoton. Itu saja dan itu lagi. Dia tidak betah karena hidup di sini masing-masing tidak seperti di negara kelahirannya.
Jingga juga sedih ketika anak-anaknya selalu menanyakan Gavin. Dia bingung harus menjawab apa. sedangkan anak yang ditanyakan oleh si quartet tidak ingin ke sini. Bukan tanpa alasan, dia kecewa terhadap sang pamannya yang terlalu sibuk hingga lupa menjenguknya. Padahal dia sudah janji. Gavin adalah anak yang tidak suka terhadap orang atau siapapun yang ingin janji kepadanya.
Ketika malam tiba, terkadang Jingga melamun sendirian. Suaminya belum pulang dan anak-anaknya sudah tertidur. Dia lelah, dia ingin menyerah. Dia ingin pulang. Namun, dia juga sadar sekarang ini dia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminy pergi. Mengikuti ke mana sang nahkoda
Keempat anaknya sekarang sudah berusia satu setengah tahun. Sekarang sikap mereka jauh tidak seperti ketika di Jakarta. Mereka seakan tengah memendam rindu hingga tidak seaktif dulu. Ledua mertuanya juga menawarkan agar jingga dan anak-anaknya tinggal di Jakarta bersama mereka. Namun, Jingga berat meninggalkan Aska. Walaupun Aska tidak keberatan jika istri dan anak-anaknya tinggal bersama ibunya.
Jenuh dan lelah bukan hanya milik Jingga. Aska pun merasakan hal yang sama. Dia bekerja siang malam tanpa mengenal lelah. Mengabaikan sehat dan mengabaikan sakit. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat perusahaan sang kakek stabil kembali. Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu. Bukan karena ingin bersaing dengan sang Abang, tidak. Dia ingin membuktikan bahwa dia juga memiliki kemampuan yakni dia bisa memimpin perusahaan
Setiap hari Aksa selalu menghubungi Aska menanyakan sampai mana perkembangan perusahaan. Dia juga sering memberikan masukan juga cara agar perusahaan bisa kembali stabil. Aska tidak pelit akan ilmu. Selalu mengajarkan Aska agar menjadi pemimpin yang baik.
Harii berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sudah satu tahun lamanya mereka tinggal di Singapura. Tepat hari ini si kuartet ulang tahun. Anak-anaknya tidak meminta apapun. Namun, terlihat betapa mereka kesepian di sini.
Selalu bermain berempat dan tidak memiliki teman yang lain. Bukannya Jingga melarang, tapi memang kehidupan di sana masing-masing. Ketika keempat anaknya selalu menanyakan Gavin, kakak pertama yang selalu mereka rindukan, atau setiap menonton Ninja Hatori ataupun mendengar lagu Ninja Hatori nama Gavin lah yang akan mereka panggil
"Bun, ulang tahun anak-anak mau dirayakan atau gimana?" tanya Aska. Jingga hanya terdiam dia menatap lurus ke depan. Ingin rasanya dia mengatakan, 'Aku ingin pulang' tapi mulutnya terasa kelu, lidahnya membeku. Dia tidak ingin meninggalakan suaminya sendirian di sini. Masih tersisa 3 tahun dia harus menemani suaminya di sini
Melihat istrinya yang hanya diam saja, Aska pun sedikit menelisik. Dia terus mengorek apa yang diinginkan istrinya. Pada akhirnya Jingga pun menetap penuh hak kearah Aska. Dia berkata, "Bunda ingin ke Jakarta. Bunda merindukan semuanya." Nada itu begitu penuh dengan kerinduan matanya pun berkaca-kaca
"Bukan hanya Bunda yang merindukan mereka pasti mereka juga merindukan Bunda merindukan anak-anak dan juga menemukan ayah," papar Jingga.
Azka terdiam,dia merasa bersalah selama ini dia kira Jingga betah tinggal di Singapura. Pada nyatanya istrinya belum terbiasa dan sekarang mengajaknya untuk kembali ke Jakarta
"Enggak apa-apa, enggak lama juga, Yah. Bunda hanya rindu mereka, rindu mama rindu Daddy, Kakak, Mbak dan semuanya Bunda rindu suasana di sana. Suasana yang ramai penuh gelap tahu dan juga banyak candaan."
"Harus Ayah tahu, hampir 5 bulan ini anak-anak kita seakan menjadi anak pendiam. Mereka seakan tengah menyimpan sesuatu di dalam dada mereka. Selalu memanggil nama kakak pertama mereka".
"Bunda harap Ayah memiliki waktu luang walaupun hanya dua atau tiga hari saja. Kita rayakan ulang tahun anak-anak seperti tahun kemarin, mengundang anak-anak yatim dan panti asuhan serta keluarga dekat saja. Biarkan anak-anak memiliki kenangan dengan keluarga mereka di sana."
Aska terdiam mendengar permintaan Jingga. Selama ini dia telah abai kepada anak dan istrinya. Tidak memperhatikan apa yang diinginkan mereka.
"Tapi, kalau tidak bisa ya sudah tidak apa-apa. Bunda tidak akan memaksa juga tidak akan merengek."
Sang istri mencoba untuk tersenyum.
"Akan Ayah usahakan Bun. Ayah janji."
.
Jakarta.
Echa dan Radit tengah duduk berdua di pinggir kolam renang. Mereka sedang membicarakan perihal empat keponakan mereka. Selama setahun ini mereka berdua belum pernah ketemu dengan si quartet semenjak keluarga Aska pindah ke Singapura.
"Apa ketika mereka ulang tahun kita ke sana saja?" Sebuah ide muncul dari Echa
"Boleh, tapi harus semuanya pergi biar mereka pun senang dan tidak merasa kesepian di negeri orang."
Radit seakan tahu bagaimana kondisi perasaan Jingga, Aska dan juga keempat anak Aska dan Jingha. Biasa hidup ramai kini harus berada di negeri orang hanya satu keluarga. Sepi, Sendiri dan merasa tidak ada teman, pasti itu semua mereka rasakan.
"Masalahnya itu ya si bocah tampan. Dia masih marah sama Aska. Gimana dong?"
"Susah kalau masalah Gavin mah. Tuh anak keras kepala melebihi batu."
__ADS_1
Mereka berdua berdiam sejenak memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Mereka rindu dengan keempat keponakan mereka. Sudah bisa apa mereka sekarang? Apakah masih menggemaskan seperti dulu? Atau sudah ada perubahan. Jujur mereka rindu dengan dengan kekonyolan dan keonaran juga kecentilan dari anak-anak Aska tersebut.
Dii lain tempat.
Gavin tengah berada di dalam kamar, Dia duduk di belakang meja belajar miliknya, menatap sebuah kalender duduk yang memperlihatkan tanggal demi tanggal juga bulan demi bulan. Wajah anak itu nampak kecewa. Matanya nanar, dia tak dapat bicara seperti ada kesedihan yang dia simpan sendirian
"Kalender ini sudah berganti Uncle. Apa Uncle tidak merindukan Mas?" Suara yang teramat lirih dengan nada yang begitu lemah. Dia merindukan seseorang yang menjadi Ayah kedua untuknya
"Kalender ini sudah ganti tahun. Apakah Uncle tidak merindukan Mas? Atau Uncle sudah melupakan Mas."
Anak itu terdiam meresapi apa yang telah dia rasakan. Kini pandangannya lurus ke depan, ke sebuah figura yang berisi dirinya dengan sang ayah. Di mana wajah ayahnya sangat mirip dengan wajah sang Paman. Hanya sikap dan ucapan yang bisa membedakan.
"Kenapa Uncle masih belum datang? Kenapa Uncle tidak meminta maaf kepada Mas?"
Anak itu seperti menahan tangis. Dia menunduk dengan mata yang terpejam seakan membayangkan sedang bertemu siapa dia dalam pikirannya
"Mas, rindu Uncle. Mas, kangen uncle. Kapan Uncle ke sini? Kapan Uncle minta maaf kepada Mas? Umvel yang sudah ingkar janji harusnya Uncle yang meminta maaf bukan mas"
Padahal berkali-kali sang ayah juga sang mommy selalu mengajak Gavin untuk mengunjungi keluarga Aska di Singapura. Akan tetapi, anak itu tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak ingin ke sana, Dia masih marah yang dia inginkan pamannya datang meminta maaf dan memeluknya. Hanya sebuah permintaan kecil. Hanya saja Aska belum bisa menepatinya. Masih sibuk belum ada waktu untuk bersama keluarga. Jangankan untuk keempat anaknya pun waktunya hanya sedikit.
.
Semenjak permintaan sang istri diungkapkan, Aska bekerja keras selama seminggu ini. Bekerja dari pagi hingga ke pagi lagi. Dia mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat tapi benar. Dia ingin memiliki waktu beberapa hari untuk tinggal di Jakarta merayakan ulang tahun bersama keluarganya agar anak-anaknya merasa bahagia dan tidak kesepian.
Jingga sering bertanya kenapa dia pulang malam. Aska hanya tersenyum dia mengusap lembut ujung kepala Jingga. Dia tidak akan menjelaskan. Kenapa dia pulang pagi dia hanya ingin membahagiakan istrinya bagaimanapun caranya.
Dia juga sudah berkonsultasi kepada sang Abang agar ketika ditinggalkan olehnya beberapa.haro ke depan, perusahaan itu akan tetap berjalan seperti biasanya. Contoh saja Aksara akan menyuruh orang untuk mengawasinya perusahaan. Aksa sudah menduga krisisnya Wiguna grup Singapura karena ada tikus-tikus di dalamnya yang sengaja ingin menghancurkan
Tiba sudah Aska dan Jingga berangkat ke Jakarta. Tiga hari sebelumnya mereka sudah mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa. keempat anak mereka pun menunjukkan wajah yang sangat bahagia Mereka seakan mengerti. Mereka akan bertemu saudara-saudara mereka.
"Apa kalian senang?" Jingga sudah bertanya kepada keempat anaknya, keempatnya berteriak menandakan mereka sangat bahagia
Aska pun pulang bukan hanya untuk merayakan ulang tahun keempat anaknya. Dia ingin meminta maaf kepada keponakan tampannya yang selama ini sudah merajuk. Sudah setahun ini Aska tidak pernah melihat wajah Gavin tidak pernah mendengar suaranya. Anak itu seperti menyimpan dendam kesumat terhadapnya
Sang abang pun memperingatkan jikalau Sang putra marah kepada Aska. Katanya Aska sudah ingkar janji. Dia hanya ingin Aska meminta maaf kepadanya. Hanya sebuah hal sepele hal kecil tapi sulit untuk Aska lakukan.
keberangkatan Aska ke Jakarta pun tidak diketahui oleh keluarganya. Aska hanya bilang kepada sang abang juga sang ayah. Dia ingin memberikan kejutan kepada semua orang.
Giondra sudah menyuruh anggota keluarganya untuk berkumpul di rumahnya malam ini. Namun, ketiga cucunya enggan apalagi Aleesa..
"Males lah, Aki. Snggak ada telur gulungnya."
Gio pun tertawa mendengarnya. Ketiga anak Evha tidak akan jauh dari permintaan makanan, dan dengan senang hati Gio akan membelikannya. Tak tanggung-tanggung si tukang telur gulung pun akan dibawa ke rumahnya.
"Mah ,ada acara apa sih? Kenapa kita dikumpulkan?" Echa nampak bingung ketika sang suami menjemputnya pulang, dan mobil sang suami malah menepi di halaman rumah sang ibu.
"Enggak tahu Mama juga." Dahi Echa semakin mengkerut. Dia menanyakan kepada Riana, adiknya pun sama tidak tahu.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Echa. Dia bingung kenapa papanya mengumpulkan mereka di sini. Apakah ada kabar besar lagi setelah Aska pergi?
Gio yang baru saja datang tersenyum melihat mereka semua sudah berkumpul. Arya dan Rion pun ikut serta di sana.
"Mau ngapain sih kita?" tanya Rion.
"Tumben-tumbenan lu ngumpulin semuanya. Apa ada kabar besar lag?" sergahnya.
__ADS_1
"Gua pengen kumpul saja," sahut Gio. Dia tersenyum ketika melihat Gavin pun sudah ada di sana. Anak itu merengut seperti sedang ada yang mengganggunya.
"Mas, Kenapa?" tanya sama kakek.
"Aada apa sih? Kenapa Mas harus ke sini? Mas sedang belajar, Pop." Ternyata sang kakeklah mengganggunya. Dia pun tertawa kecil, anak itu terlihat semakin lucu ketika sedang merajuk.
"Pipo kangen Mas. Apa Mas tidak kangen Pipo?" tanya sang kakek. "sudah lama kan Mas tidak main ke sini." Anak itu terdiam dan tidak menjawab. Piponya tahu alasan kenapa dia tidak mau menginjakkan kaki ke rumah besar ini.
Melihat Gavin yang terdiam, dia mengulum senyum. Anak itu sudah kalah telak. Tidak bisa menolak.
Suara daru mesin mobil terdengar berhenti di luar.
ereka saling pandang, formasi mereka sudah lengkap. Siapa lagi yang datang? kata mereka dalam hati.
Namun, mereka seolah tidak peduli. Bisa saja Gio mengundang teman-teman kerjanya yang lain. Suara langkah kaki pun terdengar. Bukan hanya satu orang, tapi banyak. Ketika mereka sedang berbincang , suara sapaan hangat dari suara yang tidak asing membuat mereka semua menoleh. Mereka berteriak bahagia dan yang diteriaki pun tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Pria dan wanita itu mempercepat langkahnya menuju seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang?" tanya sang ibu dengan sangat antusias. Dia memeluk tubuh Aska dan bergantian memeluk menantunya Jingga. Dia juga tidak bisa menyimpan rasa harunya.
"Kalau bilang nggak surprise dong, Mom," sahut Aska.
Keempat anak Aska dan Jingga sudah tertawa ke arah para orang dewasa juga kakak pertama mereka. Mereka tersenyum sangat lembut ketika tante mereka menghampiri. Riana dan Echa mencubit gemas dan memeluk tubuh si kuartet yang sekarang lebih berisi dan lebih chubby.
"Kalian makan apa sih? Bisa segendut ini sekarang." Riana mencium gemas pipi gembul mereka.
"Ya ampun. Bubu kangen banget sama kalian." Echa menggendong Abdalla si pendiam dan cool. "Kalian kangen Bubu, gak?" Mereka pun kompak mengangguk.
Gavin masih membeku. Dia masih menatap ke arah pria yang sedang dipeluk sang nenek. Pria itu pun mulai menatapnya, menyapanya dengan begitu hangat. Dia juga melambaikan tangan dengan senyum yang begitu tulus. Namun, anak itu diam seribu bahasa. Tidak mengeluarkan satu buah kata. Rasa kecewa masih bersarang di dada.
Pria itu menghampiri Gavin. Anak itu tidak menghindar hanya membeku di tempatnya. "Uncle sudah datang. Apa kamu masih marah sama Uncle."
Davin pakai patung bernafas dia tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh askara yang masih terkejut terlihat dari laut wajahnya antara bahagia dan kecewa menjadi satu.
"Apa kamu enggak mau peluk Uncle?"
Untuk kesekian kalinya anak itu terdiam. Namun, tubrukan dari Ahlam menyadarkan Gavin. Adik sepupunya itu tersenyum dan memeluk erat tubuh Gavin. Putra kedua dari Aksa dan Jingga sangat merindukan sosok Gavin Agha Wiguna.
"M-mas," panggil anak itu.
"Maafkan Ante, ya. Ante baru bisa datang ke sini," tutur Jingga. Dia sudah mensejajarkan diri dengan Gavin. "Uncle sangat sibuk. Jadi, kita tidak bisa menjenguk Mas sesuai dengan janji Umcle yang awal."
Mendengar ucapan sang tante, mata Gavin berkaca-kaca. Wajah tantenya sangat berbeda, Lebih tirus dan tidak secaerah ketika tantenya berada di Jakarta. Refleks anak itu bertanya, "apa dii sana Ante lelah? Lebih baik di sini saja Ante. Jangan pergi lagi."
Hati Jingga mencelos begitu juga dengan Aska. Anak sekecil itu sangat perhatian kepada mereka. Namun, ada tugas yang sedang Aska emban. Tugas Jingga sekarang yaknimenemani suaminya hingga tugas Aska selesai.
"Enggak, Sayang. Ante nggak capek, mungkin ante kurang tidur karena anak-anak ante sudah mulai sangat aktif," dustanya.
Gavin menatap ke arah Ahlam yang tengah memeluk erat tubuhnya. Dia menatap wajah anak itu dengan lekat. Menangkup wajah adik sepupunya agar dia menatap kembali ke arahnya.
"Apa kamu nakal? tanya Gavin dengan sangat garang. Anak itu menggeleng dengan cepat
"Apa si cimol nakal?" tanyanya lagi. Anak itu terdiam sejenak. Kemudian, mengangguk kecil
"Denger ya, selama di sana kalian jangan nakal. Jangan buat bunda kalian capek. Jangan buat Bunda kalian marah, kasihan Bunda kalian." Nasihat dari seorang anak yang belum genap berusia 6 tahun.
"Janji ya, enggak akan pernah nakal selama berada di sana." Ahlam mengangguk. Gavin sudah mengangkat jari kelingkingnya dan Ahlam dia tersenyum dan menautkan jari kelingking miliknya.
__ADS_1
"Dan-di," jawab Ahlam dengan senyum yang teramat manis.
Ucapan Gavin membuat semua orang terdiam. Mereka terharu atas perhatian kecil yang Gavin berikan. Selama mereka ke Singapura, sikap Gavin berubah total. Namun, masih ada kehangatan di hatinya ketika dia bertemu dengan keempat sepupunya juga tante dan omnya. Anak itu kembali seperti Gavin yang dulu