
Iyan terdiam mendengar ucapan dari pria itu. Dia tidak mungkin bercerita kepada Jingga dan Aska. Dia memejamkan matanya sejenak. Mencoba berkomunikasi dengan pria tersebut. Iyan mengangguk kecil. Ada hal yang pria itu ucapkan.
Akhirnya, Iyan membalikkan tubuhnya. Menatap ke arah Aska dan Jingga dengan sorot mata yang berbeda..
"Lebih baik Bang Aska dan Kak Jingga ke rumah om dokter."
Mata Jingga dan Aska melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan. Dada mereka berdua berdegup tak karuhan.
"Ada apa sebenarnya, Yan?"
Iyan hanya terdiam. Mulutnya kelu, dia tidak dapat berbicara. Hanya sorot matanya yang dapat berbicara. Belum juga Iyan berbicara, ponsel Aska berdering. Kedua alisnya menukik dengan begitu tajam.
"Pak Aska ... dokter Eki-"
Deg. Deg. Deg.
Jantung Aska sudah berdetak cepat. Dia takut apa yang dikatakan Aleesa terjadi.
"Kenapa?"
"Beliau meninggal."
Seketika Aksa seperti orang yang sesak napas. Ponsel di telinga turun begitu saja. Sontak semua orang menatap bingung.
"Ayah," panggil Jingga.
"Dek, kamu kenapa?" tanya sang ibu.
Kepala Iyan malah menunduk. Dia tahu ini akan terjadi. Di jam berapa dan menit ke berapa.
"Ayah Eki ...." Aska tak sanggup menjelaskan.
"Kenapa dengan Ayah?" tanya Jingga dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Ayah ... tiada."
Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Jingga. Hatinya sakit, dadanya sesak dan mulutnya tak.mampu berkata.
Ayanda sudah memeluk tubuh Jingga denhan begitu erat. Terus menenangkan sang menantu yang masih membeku.
"Yang sabar ya, Nak. Yang sabar." Begitulah yang Ayanda ucapkan.
"Aku hanya mimpi 'kan, Mom?" Sakit mendengar ucapan Jingga. Begitu juga dengan Aska yang sudah memeluk istrinya.
"Ini mimpi 'kan, Yah. Bunda cuma mimpi 'kan." Mulutnya berkata hanya mimpi, tapi matanya mengalirkan air mata yang sangat deras. Sedangkan keempat anak Aska dan Jingga kini malah terdiam. Tertidur dengan begitu nyenyak.
"Ini nyata, Bun. Ayah telah pergi meninggalkan kita."
Kaki Jingga tak mampu menopang tubuhnya. Jika, Aska tidak sigap sudah pasti Jingga akan terjatuh.
"Bunda!"
Semua keluarga Wiguna sudah datang ke rumah yang ditempati oleh dokter Eki. Tak terkecuali Arya dan Rion..Keempat anak Aska dan Jingga pun diajak ke sana. Iyan menyuruh kepada kedua kakaknya untuk meletakkan si quartet di samping jenazah. Padahal itu sangat berbahaya, apalagi mereka masih bayi. Namun, pada akhirnya Aksa dan Jingga menyetujui keempat anaknya diletakkan di samping jenazah sang ayah.
"Pak Aska, maaf," ujar Akbar sang perawat dokter Eki.
"Kenapa?" tanya Aska yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dia sedang menghubungi pihak pemakaman.
Akbar menyerahkan selembar kertas kepada Aska. Suami dari Jingga itu nampak bingung. Namun, dia meraih surat itu..
"Itu surat yang ditulis oleh Pak Dokter. Katanya untuk Pak Aska dan Bu Jingga."
Aska membuka kertas tersebut. Dia membaca satu per kata yang ditulis di kertas putih tersebut.
Teruntuk Anak dan menantuku.
Terima kasih kalian berdua sudah mau menerima Ayah kembali. Tidak memperdulikan bagaimana ayah dulu. Jahatnya ayah, culasnya ayah tidak kalian pedulikan. Malah kalian memaafkan segala dosa yang pernah ayah perbuat kepada kalian.
__ADS_1
Aska ....
Kamu adalah orang baik. Kamu adalah pria yang benar-benar tulus. Di balik sikap kamu yang terlihat kejam, ada sebuah kelembutan hati yang tidak semua orang miliki. Ayah sangat bahagia memiliki menantu kamu. Ayah juga sangat yakin kamu bisa menjadi imam dan ayah yang baik untuk Jingga anak-anak kalian. Ayah titip Jingga, ya. Sayangi dan cintai dia. Jangan pernah sakiti dia. Jingga sudah banyak merasakan kesakitan dari Ayah. Jangan kamu lakukan itu kepada Jingga.
Jingga ....
Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah salah memperlakukan kamu juga Bunda kamu. Ayah juga sudah sangat jahat kepada Dea dan Ayna. Ayah benar-benar menyesal, Nak. Anak yang dulunya Ayah anggap tak berguna kini malah menjadi penyelamat Ayah. Kamu dan suami kamu mampu memaafkan Ayah. Mau menerima Ayah walaupun Ayah sudah sangat jahat kepada kalian berdua.
Nak, ketika kamu baca tulisan tangan ayah ini berarti Ayah sudah tiada. Ayah sudah pergi dan meninggalkan kamu beserta anak-anak kamu. Jangan sedih, Nak. Jangan buang air mata kamu untuk menangisi seorang ayah yang harusnya kami taruh di panti jompo atau juga jalanan. Supaya Ayah lebih menikmati karma yang Tuhan berikan. Ayah malu, Nak. Ayah tidak pantas menjadi ayah kamu. Kamu terlalu baik untuk ayah.
Ayah harap kalian berdua akan selalu bersama hingga maut yang memisahkan. Kalian berdua adalah orang-orang baik yang akan selalu Tuhan limdungi. Jangan repot-repot memakamkan ayah, Nak. Ayah sudah menyiapkan makam sendiri. Ayah tidak pantas dimakamkan di tempat yang bagus. Tanyakan pada Akbar di mana rumah abadi Ayah. Dia tahu tempatnya.
Satu lagi, Nak. Jangan pernah katakan kepada keempat cucu Ayah kalau dokter Eki Mandala adalah kakek mereka. Ayah orang jahat, tak pantas dipanggil seperti itu oleh keempat anak-anak kamu yang lucu. Biarkan mereka hanya mengenal Giondra Aresta Wiguna sebagai kakek mereka. Ayah tidak layak dipanggil seperti itu.
Sekali lagi, maafkan Ayah. Ayah tidak bisa memberikan apapun. Hanya sebatas luka yang begitu dalam yang kamu terima. Luka yang tak akan pernah ada obatnya. Mungkin juga akan kamu ingat sepanjang usia. Sekali lagi maafkan Ayah, Nak. Dari kamu Ayah mengerti akan ketulusan yang sesungguhnya. Terima kasih sudah memaafkan Ayah. Terima kasih sudah lahir ke dunia untuk membuat Ayah menjadi manusia yang baik.
Ayah sayang kamu, Aska, dan empat anak-anak kamu. Ayah pamit, Nak.
Air mata Jingga mengalir begitu saja. Sedih sudah pasti. Namun, dia harus menerima takdir Tuhan perihal yang namanya kehilangan. Dia harus kuat karena ini sudah biasa terjadi di dalam hidupnya. Sang bunda, Dea, Ayna. Mereka adalah tiga wanita yang sangat Jingga sayangi. Namun, Tuhan lebih sayang kepada mereka. Mengambil mereka dengan begitu cepat. Belum sempat merasakan kebahagiaan yang banyak, tapi mereka harus pergi.
"Kenapa rasanya sakit? Hati Bunda terasa dicabik-cabik," lirih Jingga. Tangannya tak lepas memeluk pinggang Askara.
"Kita harus bisa menerima takdir Tuhan. Ikuti skenario-Nya. Manusia tercipta dari tanah dan kembali ke tanah juga."
Si quartet sengaja tidak diajak ke pemakaman. Jingga sekuat tenaga menahan air mata. Dia harus merelakan ayahnya. Arya dan Rion saling pandang. Pemakaman ini tidak asing bagi mereka berdua, terlebih Rion.
"Seperti mengulang momen, ya," ledek Arya kepada Rion.
"Mungkin ini pemakaman diperuntukkan manusia yang dzalim dan kena karma," jawab Rion dengan begitu ketus.
"Termasuk lu dong."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...