
Senyum mengembang di wajah sepasang suami-istri ini. Dia sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu belum mereka beritahukan kepada keluarga. Untuk saat ini cukup mereka berdua saja yang tahu.
Langkah kaki mereka berdua terhenti di depan ruang perawatan dokter Eki. Terdengar banyak suara orang di dalam. Mereka berdua saling pandang. Takut terjadi sesuatu kepada ayah mereka. Tangan Aska semakin kuat menggenggam tangan istrinya. Tangan sebelahnya mencoba membuka gagang pintu dan helaan napas lega yang keluar dari mulut Aska. Ternyata seluruh keluarga Aska sudah ada di sana.
"Bagaimana cucu-cucu Mommy?" Ayanda menghampiri menantunya. Memeluknya dengan penuh rindu.
"Sangat sehat, Mom." Senyum penuh kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya. Pelukan hangat mertua bagai pelukan ibu kandung. Itulah yang Jingga rasakan.
Dokter Eki yang melihat sikap Ayanda sangat terharu. Mantan pasiennya itu memang sangat baik. Tidak ada kepura-puraan yang dia tunjukkan. Memberikan kasih sayang yang begitu tulus kepada putrinya.
"Mimo, Mas juga cucu Mimo. Kenapa Mimo hanya beltanya keadaan cebong-cebong Uncle." Gavin memprotes sang nenek. Dia merasa cemburu karena diabaikan oleh neneknya. Jika, berada di mode kesal pasti ada saja sebutan untuk anak-anak Aska yang masih berada di dalam perut. Itu semua ajaran Arya. Manusia yang memiliki mulut super lemes tanpa filter.
Bukannya marah Jingga malah tertawa mendengar ucapan dari keponakannya itu. Sepedas apapun mulut Gavin tetap aura ketampanan juga kelucuannya akan membuat semua orang suka dan jatuh cinta.
"Gak boleh gitu dong," ujar sang nenek. Ayanda mendekat ke arah Gavin dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang cucu tercinta.
"Mas akan tetap jadi cucu kesayangan Mimo. Semua cucu-cucu Mimo akan menjadi cucu kesayangan Mimo."
"Benal." Wajah anak itu nampak tidak percaya. Aska hanya menggelengkan kepala. Ayanda mulai mengangkat jari kelingkingnya. Dia juga tersenyum ke arah Gavin.
__ADS_1
"Janji, ya." Ayanda mengangguk dan barulah anak itu menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking sang nenek.
Mata dokter Eki berair melihat keharuan yang tercipta di siang hari ini. Dia tengah membayangkan jika kedua cucunya masih hidup pasti dunianya akan lebih berwarna. Walaupun cucunya mengalami kekurangan fisik.
"Kalau Mimo gak sayang Empin masih ada Bubu yang sayang Empin." Echa memeluk tubuh Gavin dengan begitu erat. Mencium pipi keponakannya dengan begitu gemas.
"Mas pegang ucapan Bubu." Echa tersenyum dan semakin mencium gemas pipi anak itu lebih kencang.
"Kalau pasukan cebong Uncle lahil, Bubu lupain Mas. Mas akan ambil blankas dollal yang ada di kamal Bubu."
"Anak si Aksa mata duitan banget," ujar Radit. Semua orang pun tertawa.
"Kalau sampai udah gedenya kamu gak banyak duit, keterlaluan," lanjut Radit lagi.
"Mimo doakan semoga apa yang Mas ucapkan tadi jadi kenyataan. Semoga ada malaikat yang mencatat ucapan Mas tadi."
"Amin." Gavin menimpali ucapan sang nenek dan mengusapkan kedua telapak tangannya ke arah wajah.
"Cebong, kalau Mas nanti jadi olang besal apapun yang kalian minta akan Mas belikan. Asalkan, kalian itu cewe." Tawa pun keluar dari mulut Gavin.
__ADS_1
"Kalau cowok kenapa?" tanya Aska.
"Cowok mah halus jadi pekelja kelas bukan jadi pemalas."
"Nih anak diempanin apa sama si Aksa ya," ujar Radit.
"Buku motivasi yang tebalnya sejengkal," sahut Fahri dan diikuti tawa renyah semua orang. Dokter Eki yang melihat kehangatan keluarga Aska ikut tertawa karena kehadiran bocah kecil ajaib.
Pintu kamar perawatan terbuka dan anak itu nampak senang sekali.
"Daddy!"
Bukannya sang ibu yang dia sambut melainkan ayahnya. Aksa pun menggendong tubuh gembul sang putra pertama.
"Bang, katanya anak kamu kalau besar akan jadi orang kaya. Lebih kaya dari Daddy, kamu, Echa dan Aska." Aksa hanya tersenyum mendengar aduan sang ayah, dan mencium ujung kepala Gavin.
"Kenapa Engkong gak disebut?" Suara seseorang yang baru datang membuat semua orang menoleh.
"Emang Engkong kaya?" Wajah Gavin meremehkan Rion. "Bukannya Engkong itu pelit makanya kaya."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...