Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
ANCAMAN


__ADS_3

Akhirnya sampai juga mereka di depan ruang Dokter, lalu Chandra memanggil suster


"Sus... Tolong Saya minta kursi roda" suster mengambilkan kursi roda dan Kini Asri sudah duduk di kursi roda agar tak perlu berjalan


"Ya ampun Kamu berat juga ya" Chandra berkata sambil tertawa kecil


"Maaf ya Chan.. Aku ngerepotin Kamu"


"Gak kok Asri, Kamu jangan merasa direpotkan, Aku akan bantu Kamu selagi Aku mampu".


Asri merasa mengapa di saat dirinya sedang susah selalu Chandra yang membantu, padahal yang Dia ingin kan adalah Sam yang mendampinginya, tapi mau bagaimana lagi, memang kondisinya Sam sedang tidak bersama Asri.


Lalu Asri masuk ruang Dokter dan langsung di periksa kakinya setelah Dokter selesai memeriksa, Dokter mengatakan,


"Lukanya sudah membengkak, mengapa baru di obati, harusnya dari kemarin langsung di bawa ke sini" Asri pun meminta maaf karena telah menyepelekan lukanya, dan Asri berjanji akan rutin periksa sampai lukanya sembuh


"Ini Saya kasih resep diolesi saja dengan rutin, lalu rendam air hangat paling tidak sebelum tidur selama 15 menit ya" Asri mengerti dan menganggukkan kepalanya lalu Chandra mengatakan,


"Terimakasih ya Dok, kalau begitu Kami permisi" setelah itu Chandra menuju ruang apotik untuk menebus obat dan membeli tongkat untuk Asri


"Asri, Kamu tunggu disini ya, Aku bayar dulu obatnya" Asri menarik tangan Chandra, dan memberikan sejumlah uang untuk biaya berobatnya, namun Chandra menolak dan berkata,


"Kamu simpan saja uang Kamu, biar Aku yang bayar" ucap lembut Chandra terhadap Asri, setelah itu Chandra membayar resep obat, lalu Chandra membeli tongkat untuk Asri supaya Asri dapat berjalan dengan mudah, Asri pun berkata, "Chandra ini Kamu yang beli, ya ampun Chan Aku jadi ngerepotin Kamu lagi deh" ucap Asri yang tak enak selalu di bantu oleh Chandra, lalu Chandra menjawab, "Kamu bicara apa Asri, Aku hanya bantu Kamu sebisa Aku, dan stop bilang kalau Aku selalu merepotkan kamu, sudah ya sekarang Kita kembali ke kantor" ucap Chandra dengan tegas.


Sam sudah kembali ke kantor sehabis meeting dengan Pak Fadli, namun saat masuk ruangan kerjanya Dia tak melihat ada Asri di dalam.


Sam pun bertanya-tanya kemana Asri, lalu Sam menelpon Asri tapi Asri tak mengangkat karena ponsel Asri di stel dengan mode senyap.


Sam pun jadi gelisah mengapa Asri tak mengangkat telepon darinya, tak lama Chandra dan Asri datang Asri masuk ke dalam ruangan tentu saja Sam kaget saat melihat Asri berjalan menggunakan tongkat


"Ya ampun sayang, Kok kamu pakai tongkat, Kamu kenapa" Sam bertanya dengan wajah serius


"Kamu tenang dong Sam, Aku kemarin terserempet motor habis Kamu antar, lalu gak lama ada motor serempet Aku, untung Aku gak kenapa-kenapa tapi kaki Aku yang luka, semalem Mamah juga mengajak Aku ke Dokter tapi aku Nolak, terus niatnya Aku akan ke Dokter sama Kamu nanti sore, tapi Aku malah gak kuat jalan Sam" Sam menyimak cerita dari Asri dan mendegarnya dengan baik

__ADS_1


"Maaf ya sayang, di saat Kamu butuh Aku seperti ini Aku malah gak ada" Asri pun tersenyum kecil lalu berkata,


"Kamu apaan sih, Kamu kan lagi meeting dan memang gak bisa temani Aku, ya Aku ngerti lah sayang, Kamu jangan khawatir ya, Aku baik-baik saja kok" ucap Asri dengan lembut terhadap Sam


"Kamu sendiri ke Dokternya?" Asri terdiam, Dia harus jujur atau berbohong, tapi hatinya menyuruh untuk berkata jujur


"Aku ke Dokter sama Chandra, tadinya Aku gak mau tapi Aku benar-benar gak bisa tahan rasa sakitnya Sam, Aku minta maaf ya, Kamu jangan Marah" Asri berkata dengan sangat hati-hati.


Sam menatap wajah Asri Dia membayangkan Chandra dan Asri saat berdua, namun perasaan cemburu itu di tepisnya, Dia merasa tak boleh egois hanya karena Chandra adalah mantan kekasih Asri


"Aku gak marah kok, Aku malah berterimakasih sama Chandra sudah antar Kamu ke Dokter" Asri pun tersenyum merasa lega Sam tidak marah padanya


"Alhamdulillah kalau Kamu mengerti, ya sudah Aku buatkan kopi ya untuk Kamu" namun Sam menolak dan berkata,


"Jagan sayang, Kamu kan susah jalan, sudah biar Aku yang buat sendiri" Asri tersenyum lalu duduk di kursi dan mengerjakan tugas sehari-hari nya.


Lia pun sampai di Retro dan Dia bertemu Juvi di koridor, melihat Juvi Lia tersenyum dan menyapa


"Hai Juv" sambil melambaikan tangan, lalu Juvi menghentikan langkahnya dan menjawab,


"Ya lah.. kan Aku hanya cuti 3 hari, ouh ya, bagaimana Retro"


"Ya.. beginilah, oh ya Li Minggu besok perusahaan kita bakalan ada bazar di taman Krakatau, perusahaan kita loh yang buat konsep dan Aku yang buat programnya" mendegar hal itu dari Juvi Lia pun tersenyum dan berkata,


"Sepertinya ada yang ingin dipuji nih" Juvi tertawa dan senyum-senyum sendiri, lalu Lia bertanya soal Asri


"Juv... Asri gimana keadaannya, Aku udah lama banget gak konteks Dia"


"Soal itu lebih baik Lo langsung ketemu orangnya, soal nya akhir-akhir ini, sepertinya hubungan Sam dan Asri semakin rumit"


"Rumit, Mereka ada masalah"


"Lo datangi dan tanyakan langsung saja sama Asri, Kalian kan sama-sama perempuan, Asri pasti akan curhat sama Kamu Li" setelah selesai mengobrol Lia dan Juvi menuju ruang kerja masing-masing.

__ADS_1


Tini datang ke Retro, ingin memastikan bahwa yang dibilang Anak buahnya itu benar jika Asri tak bisa berjalan, Dia pun langsung menuju ruangan Sam.


Tini langsung masuk tanpa mengetuk pintu, lalu Ia melihat Asri yang sedang duduk di kursi kerjanya dan Sam sedang mengetik komputer di meja kerjanya, Sam melihat kedatangan Tini lalu Sam berkata,


"Kamu ada apa kesini, bukan kah obrolan Kita semalam sudah jelas" Tini menatap tajam wajah Asri juga Sam, lalu Ia melihat sebuah tongkat di samping kursi yang diduduki Asri, Dia pun tersenyum kecut seakan memperlihatkan wajah jahatnya


"Aku kesini mau melihat wanita yang tak tahu malu seperti Dia" bicara sambil menunjuk Asri dengan jarinya, lalu Tini melanjutkan ucapan nya,


"Kamu Bisa-bisanya masih bekerja disini, harusnya Kamu tuh di pecat atau tidak Kamu resign dari Kantor ini" bicara sambil mendobrak meja kerja Asri, melihat tingkah Tini yang sangat urakan, Sam langsung menegurnya


"Tini Kamu tuh bisanya hanya buat ulah terus, Asri di bawah perintah Aku, jadi hanya Aku yang bisa pecat Dia, bahkan Papah Kamu gak bisa ikut campur urusan Karyawan, di kantor ini punya aturan Tini" mendegar Sam selalu membela Asri Tini semakin saja membenci Asri "Papah Aku yang punya perusahaan ini, cuma mengeluarkan satu orang ini, Aku rasa bisa kok tanpa harus mint izin dari Kamu, Kamu itu siapa Sam Kamu bukan siapa-siapa disini tanpa bantuan Papah" setelah memaki dan menghina Asri Tini juga menyudutkan Sam, lalu Tini langsung pergi, namun sebelum pergi Tini mengucapkan sebuah kalimat di depan wajah Asri


"Kamu.... Saya pastikan Kamu akan menderita sampai Kamu mati dan tak ada di Dunia ini" Tini mulai mengancam Asri, Asri hanya terdiam mendengarkan ucapan dari Tini.


Setelah itu Tini pun pergi entah kemana, lalu Asri merenungi ucapan Tini sambil menundukkan kepalanya


"Sam... mau sampai kapan Dia terus mengancam Aku, Aku takut Sam, Tini melakukan sesuatu yang buruk, iya kalau hanya Aku tapi kalau semua orang yang Aku sayang, bagaimana?" tanya Asri dengan wajah bersedih


"Aku minta maaf, Kamu terganggu dengan ucapan Tini, sayang Kamu harus sabar dulu ya, paling tidak sampai Anak itu lahir, Aku baru bisa menceraikan Tini" Asri selalu mendegar hal itu berkali-kali dari mulut Sam, Asri pun tak menjawab, lalu Ia mengerjakan lagi pekerjaannya.


Setelah itu Tini keruangan Ayahnya, Dia masuk dan langsung bicara


"Papah, memangnya Papah ga bisa apa pecat Asri dengan kuasa Papah" Pak Herman melihat Tini datang tanpa permisi dan langsung bicara membuat dirinya bertanya-tanya


"Tini Kamu kok ga ketuk pintu dulu mau masuk" Tini pun memalingkan wajahnya lalu mengatakan,


"Pah.. sudah jawab saja kenapa Papah gak bisa pakai kuasa Papah di perusahaan ini untuk pecat Asri"


"Tini, Papah heran sama Kamu, kenapa Kamu selalu membahas Asri di pecat minta di pecat lah, memangnya Asri menggangu Kamu?" pertanyaan itu cukup membuat Tini tegang, Tini merasa bahwa Papahnya tak boleh tahu soal perselingkuhan Sam


"Aku cuma gak suka sama Dia, Kita bisa rekrut karyawan lain Pah" namun Pak Herman tak menanggapi ucapan Tini


"Kalau Dia punya salah yang memang fatal, Papah bisa pecat Dia langsung tanpa harus minta persetujuan HRD, tapi kalau Dia kinerjanya bagus, punya talent, ya Retro butuh orang seperti itu Tin, Kamu harus tahu itu" mendegar hal itu dari Papahnya Tini lagi-lagi kecewa dengan jawabanya.

__ADS_1


Rasanya Ia ingin memberi tahu bahwa Dia berselingkuh dengan Sam, namun Tini masih takut jika nanti Sam di usir lalu pergi meninggalkannya dan menceraikannya, ketakutan itu terus Tini rasakan, seakan Ia tak sanggup jika harus berpisah dari Sam.


Tini pun keluar tanpa pamitan dengan Pak Herman, melihat kelakuan Anaknya Pak Herman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2