
"Ayah, aku da di sini. Bangunlah, Ayah."
Jingga belum bisa mengungkapkan isi hatinya. Hanya bisa berbicara di dalam hati, dan tak akan bisa didengar oleh siapapun. Namun, bulir bening tak bisa berdusta. Cairan itu menetes begitu saja membasahi wajahnya. Untungnya, dia dalam keadaan menunduk. Hingga tak ada seorang pun yang tahu.
Tetesan air mata itu mengenai punggung tangan sang ayah. Itupun tak luput dari pandangan Askara. Pria itu hanya menghela napas pelan.
"Uncle, Kakek ini nangis." Gavin menunjuk ke arah ujung mata dokter Eki.
Aska segera melihatnya. Juga Jingga menyeka air matanya dengan kasar dan mulai menegakkan kepala, menatap sang ayah yang terbaring lemah tak berdaya.
Tombol emergency pun Aska tekan agar dokter yang berjaga memeriksa keadaan ayah mertuanya. Dia juga melihat jikalau Jingga masih berharap yang terbaik untuk ayahnya.
Tak berselang lama dokter dan juga perawat masuk ke dalam kamar perawatan dokter Eki. Mereka memriksanya dan terlihat raut berbeda yang diperlihatkan oleh dokter tersebut.
"Gimana, dok?" tanya Aska. Jingga masih diam saja. Namun, tatapannya masih tertuju pada sosok ayahnya yang terbaring lemah di sana.
"Sedikit demi sedikit sudah mulai menuju ke arah yang lebih baik," terangnya. Aska pun tersenyum dan dia merasa lega.
Dia melihat Jingga dengan ujung matanya. Terlihat sudut bibir istrinya terangkat sedikit. Itu menandakan bahwa dia juga merasa lega sekaligus bahagia.
"Teruslah ajak berbincang," titah dokter. "Dalam kondisi seperti ini hanya tubuhnya yang tidak dapat bekerja juga tidak sadar, tapi otaknya mampu mendengar apa yang kita katakan."
__ADS_1
Jingga pun terdiam. Dia berpikir sejenak. "Apa karena lelehan air mataku yang mengenai punggung tangan ayah? Jadi, Ayah ikut merasakan kepedihanku." Jingga bergumam di dalam hati.
Matanya terus tertuju pada ayahnya. Masa senja ayahnya harus diisi dengan kepedihan juga kesendirian. Beda halnya dengan mertua juga ayah dari kakak iparnya. Masa tua mereka diisi dengan gelak tawa dari cucu-cucu mereka.
"Andai Ayah mau menerima kekurangan Dea dan Ayna, pasti Ayah tidak akan seperti ini." Hanya kata andai yang ada di dalam hati Jingga.
Dokter pun pergi dan hanya tinggal Jingga, Aska juga Gavin di sana. Mereka bertiga terus memandangi dokter Eki yang bertubuh lebih kurus sekarang.
"Hoam!"
Gavin sudah menggisik-gisik matanya. Aska segera menoleh ke arah sang keponakan yang terlihat sudah mengantuk.
"Bawalah Empin ke rumah Kak Echa," ujar Jingga. Dia mengusap lembut rambut Gavin yang berwarna hitam.
"Pulang sama Uncle,, ya. Bobonya di rumah Bubu," ucap lembut Jingga.
"Anteu gak pulang?" tanya anak itu lagi. Dia menutup mulutnya karena sedari tadi terus menguap.
"Bunda gak ikut kita?" tanya Aska juga. Sebuah gelengan menjadi jawaban. Kemudian, pandangannya tertuju pada sang ayah yang masih terbaring lemah.
"Ya udah, kita aja pulang berdua. Anteu mau jagain kakek dulu," tutur Askara kepada sang keponakan.
__ADS_1
Gavin mendekat ke arah Jingga dan memeluk perut sang tente dengan begitu erat.
"Mas pulang dulu ya, adek-adek."
Raut wajah Jingga berubah kembali ketika mendengar ucapan Gavin tersebut.. Apalagi ketika Gavin mencium perutnya yang membukit. Aska mengakui bahwa Gavin adalah pelipur lara untuknya juga Jingga. Dia sangat berterimakasih kepada anak berusia empat tahun tersebut.
Selepas Aska dan Gavin pergi, Jingga yang masih mematung di samping ranjang pesakitan dokter Eki mulai mendekat dan menarik kursi yang ada di sana. Helaan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Matanya sudah basah.
Tangannya mulai dia majukan ke depan. Ada keraguan di sana. Tangannya sejenak menggantung, tetapi mulai meraih apa yang ingin dia raih. Ya, dia meraih tangan dokter Eki dan tangisnya pun pecah.
"Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku." Jingga berkata dengan sangat lirih.
"Jangan tinggalkan aku, Ayah. Cukuplah Bunda yang pergi dengan begitu cepat." Air matanya sudah menetes dengan begitu deras.
"Ijinkan aku untuk meraskan kasih sayangmu walaupun hanya sekejap saja."
***
Komen dong ...
views makin hari makin sedikit. ðŸ˜
__ADS_1