
Rahma sungguh kecewa dengan Chandra, dan Rahma beranggapan jika lelaki sama saja
"Kamu jahat Chan.. kenapa Kamu tega bohongi Aku"
Bu Yanti mendegar suara Isak tangis dari kamar Rahma, lalu Bu Yanti menghampiri Rahma lalu menyapanya
"Sayang Kamu kenapa, kok bersedih"
Rahma mengusap air matanya lalu Rahma mengatakan yang sebenarnya kepada Ibunya
"Apa.. Chandra selingkuh, masa sih Rahma, tapi Mamah lihat hubungan Kalian semakin membaik"
"Itu kan yang Mamah lihat, di dalam kamar ini, Aku sendiri bahkan gak pernah tahu, apakah Chandra menikmati saat-saat berdua dengan Aku"
"Rahma.. Mamah takut ini fitnah, yang hanya ingin merusak hubungan Kamu dengan Chandra, sebaiknya Kamu cari tahu dulu"
"Iya Mah.. Aku juga sedang berusaha mendengarkan dari semua sisi, tapi klo untuk di Bandung itu benar adanya Mah, Chandra memang pergi dengan Asri"
"Mungkin itu urusan pekerjaan Rahma, Kamu harus tanyakan dahulu pada Chandra"
Rahma menganggukkan kepalanya tanda Ia mengerti.
Orang suruhan Herman kini siap beraksi untuk melakukan misinya
"Hati-hati Kamu masuk ke dalam gudang itu bersama para Karyawan supaya tidak ada yang mencurigai Kamu"
"Baik"
Orang itu pun memasuki gudang penyimpanan, tak ada yang curiga, sebab semua bekerja dengan serius, karena jam makan siang sudah waktunya, beberapa karyawan di gudang pergi untuk makan siang, kesempatan yang bagus bagi si orang suruhan untuk melakukan aksinya.
Namun masih ada satu karyawan lagi yang tidak keluar gudang, karena waktu terbatas akhirnya karyawan itu Ia habisi, tak sengaja ada salah seorang karyawan yang melihat pembantaian itu, Ia ketakutan Hinga berkeringat dingin, karena takut Dia pun lari terbirit-birit.
Saat sudah merasa aman si orang suruhan mulai menebar solar, bahan yang di gunakan masih milik pabrik Pak Faris, lalu Ia melemparkan korek api dan jadilah kebakaran besar dalam gudang tersebut, si orang suruhan Herman segera berlari dari jalan yang sudah di siapkan sebelumnya.
Alarm kebakaran berbunyi semua orang kaget melihat api berkobar yang begitu amat besar, semua orang lari menyelamatkan diri masing-masing, orang yang tadi melihat kejadian di gudang pun terkejut
"Kebakaran.. jangan-jangan orang itu sengaja membakar gudang"
Tak lama pemadam kebakaran datang untuk menyelamatkan dan mematikan api tersebut, namun sungguh sayang, barang-barang yang ada di gudang sudah hangus terbakar sebagian, dan karena semua fokus dengan kebakaran yang terjadi, maka ruang mesin dan produksi tak terjaga, hingga misi kedua di lakukan yaitu merusak mesin operasional dengan rapih hingga terlihat seakan-akan mesin yang bermasalah.
Musibah besar pun terjadi di pabrik milik Pak Faris, dengan segera orang kepercayaannya Pak Faris menghubungi dan memberitahukan musibah ini kepada Pak Faris.
"Halo.. ada apa?"
"Pak... pabrik.. pabrik Pak?"
"Pabrik kenapa? ada apa dengan pabrik, Kamu katakan yang benar"
"Pabrik mengalami kebakaran besar, semua barang penyimpanan di gudang hangus terbakar Pak"
"Apa... kebakaran, Astagfirullah..."
Pak Faris sungguh terkejut dengan kabar ini, Ia kini melemah, bagaimana tidak, gudang penyimpanan itu menyimpan banyak bahan hingga ratusan juta, sudah dipastikan Pak Faris akan mengalami kebangkrutan yang luar biasa.
Sam melihat sesuatu yang terjadi pada atasnya, Diapun menanyakan apa yang terjadi hingga membuat Pak Faris menjadi syok
"Sam.. pabrik saya Pabrik tekstil Saya kebakaran Sam"
"Apa.. kebakaran Pak, Lalu barang-barang bagaimana, dan apakah memakan korban"
"Saya belum tahu Sam, Sam sekarang juga Saya harus pulang"
Sam merasa disini sudah tidak nyaman, terlebih Ia mengajak Tini, lalu ada Asri yang sangat membuatnya merasa bersalah terus-menerus, Sam pun memutuskan untuk ikut pulang ke Cirebon.
Sam segera memberitahu Tini jika akan pulang saat ini juga
"Pulang sekarang? gak bisa nanti Sam"
"Tidak bisa, pabrik Pak Faris saat ini mengalami kebakaran besar, jadi Aku harus kesana melihat keadaan pabrik"
"Kebakaran kok bisa Sam?"
"Aku tidak tahu, sudahlah jangan banyak bertanya, Papah Kami harus pulang"
Herman berpura-pura terkejut dan ikut prihatin atas musibah itu
"Papah tidak menyangka perusahaan Pak Faris akan mengalami musibah sebesar ini, Papah ikut prihatin ya, Kalian hati-hati pulangnya"
Sam hanya menganggukkan kepalanya lalu Ia bergegas untuk pulang, namun ketika sudah berada dekat dengan mobil, kunci mobil Sam sepertinya tertinggal di toilet saat membuang air kecil tadi
__ADS_1
"Aduh.. pake acara ketinggalan segala"
"Kenapa Sam?"
"Kunci mobil tertinggal di toilet, sebentar Aku ambil dulu"
Tini pun menunggu di pinggir mobil, Sam berjalan menuju toilet, lalu Ia berpapasan dengan Asri yang baru saja habis dari toilet
"Mual banget ya Allah"
Asri merasakan tubuhnya sudah tidak enak lagi, Ia ingin memutuskan untuk pulang segera, ketika berpapasan dengan Sam, Asri memanggil Sam Ia masih menyimpan banyak pertanyaan mengapa Sam meninggalkannya
"Sam.. "
Sam menghentikan langkahnya
"Sam Aku mau bicara boleh?"
Sangat terlihat jahat jika Sam tidak menerima permintaan Asri, Sam menoleh lalu menjawab,
"Boleh, Kita bicara di luar Aku takut banyak telinga disini"
"Iya.. Aku tunggu Kamu di luar"
Asri segera keluar, namun Chandra datang bertanya,
"Asri.. Kamu mau kemana?"
"Aku keluar sebentar ya, mual Chan.. Aku butuh udara segar"
"Aku antar ya"
"Tidak perlu Chan, Kamu disini saja dulu"
Asri pun pergi tanpa bicara lagi, Sam melewati Chandra, berjalan dengan cepat membuat Chandra curiga, Chandra pun mengikuti kemana Sam pergi, dan tentu saja ternyata Sam pergi menemui Asri diam-diam membaut hati Chandra sedikit cemburu melihat itu.
Sam kini berada tepat di belakang Asri
"Asri, ada apa Kamu ingin bicara apa?"
Asri menoleh dan memberikan wajah sedihnya
"Maksud Kamu?"
"Sam.. Aku masih penasaran alasan apa yang membuat Kamu meninggalkan Aku"
"Asri.. Aku tidak bisa ceritakan itu Aku.."
"Sam.. Aku hanya ingin kejujuran Kamu, tolong Sam cerita dengan Aku apa alasan Kamu?"
Sam mulai mengedipkan mata menahan air matanya, lalu Ia menggenggam tangan Asri dan bicara
"Asri, Kamu gak perlu tahu alasan itu, yang harus Kamu tahu Aku masih sangat mencintai Kamu, Kamu tidak pernah hilang dalam pikiran dan dalam hidup Aku"
Kini mata Asri yang mulai berkaca-kaca
"Aku kehilangan Kamu, itu bagai Aku kehilangan arah Sam, Aku gak mengerti dengan semua ini, Aku mengajak Kamu berbicara, karena Aku ingin meminta satu permintaan"
"Permintaan apa?"
"Peluk Aku Sam, peluk Aku... Aku rindu sekali pelukan Kamu"
Tanpa ragu Sam langsung memeluk Asri dengan erat, rasanya kini Sam dan Asri tak dapat menahan kesedihan atas perpisahan Mereka
"Setidaknya Aku bisa merasakan pelukan ini untuk yang terakhir kalinya"
"Terakhir.. maksud Kamu?"
Asri melepas pelukannya lalu berkata,
"Sam mungkin ini terakhir kalinya Kita bertemu, Aku mungkin akan pergi jauh, jauh dari mata Kamu, dan tidak akan pernah bertemu lagi"
"Kamu bicara apa Asri, Asri Aku sungguh minta maaf, Aku memutuskan meninggalkan Kamu, tapi Aku punya tujuan, yang nanti Aku pasti akan mencari Kamu lagi, dan Kita bisa hidup bersama"
"Cukup Sam.. cukup dengan semua khayalan Kita, Aku ikhlas sekarang melepas Kamu"
Merasa menunggu terlalu lama akhirnya Tini menyusul Sam, saat Ia berjalan Ia melihat Asri yang tengah berbicara dengan Sam di samping gedung
"Jadi ini kenapa Kamu lama sekali, Kamu mencari alasan dengan kunci yang tertinggal di toilet, Sam..Kamu keterlaluan, Aku tidak akan biarkan Kamu leluasa bertemu Asri di belakang Aku"
__ADS_1
Kemudian Asri melanjutkan ucapannya lagi,
"Makanya Aku hanya ingin tahu, alasan Kamu itu saja"
Ucapan Asri sungguh membuat hati Sam takut jika Dia tidak akan bertemu lagi, lalu saat mulut Sam ingin berbicara yang sesungguhnya Tini malah menelpon Sam dengan mengatakan
"Sam Aku tahu Kamu saat ini sedang bicara dengan Asri, Aku bisa lihat dari sini"
Sam langsung menengok kanan dan kiri, lalu Ia melihat Tini yang memang tengah berdiri tak jauh dari keberadaannya
"Kamu mau apa?"
"Sam...Kamu harus ingat perjanjian itu Sam, tidak ada yang boleh tahu, soal ini"
Sam terdiam dan tak jadi ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Asri
"Sam.. katakan Sam"
Asri terus mendesak, Sam tak dapat berbuat apapun, tiba-tiba langit mendung, suara gemuruh mulai terdengar, Sam masih terdiam hanya memandangi Asri
"Sam, tolong katakan kenapa Kamu meninggalkan Aku dan mengingkari janji Kamu"
Tak lama hujan turun dengan deras
"Asri.. hujan deras sebaiknya Kamu masuk ke dalam gedung"
"Tidak.. sebelum Aku mendengar semua alasan Kamu"
"Asri.. sudahlah alasan Aku tidak penting, Kamu masuk ya, nanti Kamu bisa sakit"
"Kalau tidak penting, kenapa Kamu masih perhatian dengan Aku"
Sam kini meneteskan air mata lagi
"Asri.. Aku cinta Kamu, Aku berharap suatu saat nanti Kita bisa bertemu lagi, dan hidup bersama, maafkan Aku.. Aku harus pergi"
"Sam.."
Asri menarik tangan Sam, mencoba menahan Sam, namun Tini lagi-lagi menelponnya, membuat Sam mau tak mau menepis tangan Asri
"Lepaskan, Aku harus pergi"
"Sam...kenapa Kamu tega meninggalkan Aku, Sam..."
Asri tersungkur berlutut sambil menangis
"Aku hamil anak Kamu Sam"
Asri berbicara dengan suara yang begitu pelan, tiba-tiba Asri teriak melampiaskan kekesalannya
"Aaaaaaaa .. kenapa tuhan selalu menjauhkan Aku dengan orang yang Aku cinta"
Chandra merasa harus menyusul Asri, Ia khawatir Asri akan pingsan seperti waktu di rumah sakit, dengan segera Chandra mengambil payung lalu menghampiri Asri yang tengah berlutut menangis.
Sam membuka kunci mobil lalu masuk dan mengelap wajahnya yang basah karena kehujanan, begitupun Tini Iya menyusul Sam dan masuk ke dalam mobil
"Bisa-bisanya Kamu berbohong, dengan alasan mengambil kunci, padahal Kamu ingin bertemu Asri iya kan Sam"
Sam terdiam tak mendengar ucapan Tini, justru Ia memikirkan kondisi Asri yang sedang kehujanan
"Asri.. semoga baik-baik saja"
Ucap dalam hati Sam, lalu Tini mendorong bahu Sam membuat Sam kaget dan marah
"Apa-apaan sih.."
"Aku bicara sama Kamu Sam, Kamu benar-benar keterlaluan membohongi Aku di belakang Aku lagi seperti dulu"
"Bohong apa.. Aku tidak memberitahu Asri soal perjanjian itu, lalu Aku bohong Apa"
"Kamu bohong dengan Aku mengatakan kunci mobil Kamu tertinggal di toilet padahal modus Kamu ingin menemui Asri iya kan"
"Cukup ya Tini, Aku menuruti Kamu meninggalkan Asri dalam keadaan kehujanan tadi, lalu Aku menuruti Kamu untuk tidak memberitahukan soal perjanjian itu, dan sekarang Kamu menuduh Aku berbohong soal kunci mobil, Terserah Kamu".
Saat Asri masih menangis tiba-tiba payung hitam berada di atas kepalanya, Asri melihat ke samping, dan ternyata Chandra lah yang membawa payung tersebut
"Asri Kita masuk ke gedung ya, disini hujan besar, Aku takut Kamu pingsan lagi seperti kemarin dan Kamu bisa sakit jika kelamaan kena hujan"
namun Asri belum bergerak Ia masih terdiam memandangi Chandra.
__ADS_1