
"Bagaimana kondisi anak-anak saya? Sempurnakah atau-"
"Dek," potong sang mommy. Ayanda menggelengkan kepala pelan.
"Tidak, Mom. Adek dan istri Adek harus tahu kondisi anak-anak Adek." Tidak dipungkiri hati Aska dan Jingga berdegup dengan begitu hebat. Mereka takut, mereka cemas.
Dua perawat itu saling pandang. Mereka bingung dengan orang tua baru ini. Kenapa mereka mengatakan hal seperti itu?
"Jangan khawatir, Bu, Pak," ujar salah seorang perawat.
"Si kembar empat Alhamdulillah memiliki fisik dan sempurna juga kesehatan yang bagus. Berat badan mereka pun seperti bayi normal."
Ucapan syukur tak hentinya mereka panjatkan. Aska maupun Jingga menitikan air mata kebahagiaan. Mereka berpelukan dengan rasa bahagia yang terkira. Gio dan Ayanda mendekat ke arah anak dan menantu mereka. Memeluk mereka berdua dengan begitu erat.
"Terima kasih Ya Allah." Aska melakukan sujud syukur kembali. Lelehan air mata terus membasahi pipinya. Hingga suara seseorang membuatnya berhenti menangis.
"Udah gede CENGENG!" Siapa lagi jika bukan Gavin Agha Wiguna. Bocah berumur lima tahun yang bawel dan menggemaskan.
"Boleh Uncle minta pelukan Empin?"
Anak itu terbengong melihat sang paman berbicara dengan begitu lembut. Dia tidak tega melihat sang om yang menitikan air mata. Gavin pun berhambur memeluk tubuh Aska.
"Jangan nangis, Uncle. Mas jadi sedih." Dia yang mengatakan cengeng, dia juga yang sedih. Dasar Gavin.
Keluarga Aska terlihat sangat antusias melihat betapa tampan dan cantiknya anak Aska dan Jingga. Mereka sedari tadi tertidur dengan sangat nyenyak walaupun orang dewasa berisik.
Fahri dan Fahrani datang berbarengan. Juga Christina dan Christian yang rela terbang dari Singapura ke Jakarta hanya untuk menjenguk bayi Askara. Tidak ada satupun orang yang tidak gemas melihat si quartet.
"Dek, satu buat Kakak, ya." Selalu saja kakaknya seperti itu. Tidak boleh melihat bayi merah nan lucu.
"Itu bukan boneka, Kak." Jingga malah tertawa dan memukul pundak sang suami.
Aska malah tertawa dan menatap Jingga dengan penuh cinta. Begitu juga Jingga yang menatap nanar ke arah sang suami.
"Makasih." Mereka berucap secara bersama hingga mereka tersenyum berdua.
__ADS_1
"Sakit, gak?" tanya Aska. Banyak yang mengatakan ketika disuntik di bagian.punghung sakitnya luar biasa.
"Enggak, kok." Aska tidak percaya begitu saja. Dia tidak ingin istrinya berdusta. "Serius."
Aska malah memeluk tubuh Jingga. Berulang kali dia mengucapkan kata maaf juga terima kasih. Mengecup ujung kepala Jingga dengan begitu lembut. Rion yang melihat sepasang suami-istri tak tahu diri itu hanya menggelengkan kepala. Dia mendekat ke arah bayi perempuan cantik. Menowel-nowel pipi merah itu dan akhirnya anak itu menangis.
"Ayah apaan sih?" omel Echa. Semua orang pun menatap tajam ke arah Rion sedangkan duda itu tengah menatap Aska dan Jingga yang hampir ciuman.
"Amankan mata bocil-bocil," titah Aksa. Fahri dan Fahrani pun menghalangi pandangan lima anak di bawah umur.
Sepuluh centi.
Lima centi.
Dan ....
"Anak kalian nangis, nih! Pengen nyusu." .
Aska dan Jingga bagai terciduk satpol PP. Apalagi semua orang kini tengah menatapnya dengan tajam. Aska menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Begitu juga dengan Jingga.
"Bapaknya juga begitu. Pasti nurunlah," sahut Rion.
Giondra hanya berdecak kesal. Ingin sekali dia menyumpal mulut Rion dengan diapers sang cucu. Jarang sekali mantan suami juga suami baru akur seperti ini. Malah menjadi besan. Sungguh jarang terjadi.
Fahri, Fahrani, Christian dan Christina datang tidak dengan tangan hampa. Mereka membawa hadiah untuk anak-anak Aska yang sangat lucu. Apalagi yang laki-laki sangat anteng. Tidak seperti yang perempuan, sedikit rewel.
"Boleh gak sih aku buka kadonya," ucap Jingga. Jiwa ibu-ibunya meronta-ronta. Apalagi semuanya menggunakan kotak.
"Silahkan."
Tangan Jingga membuka hadiah dari si triplets. Empat kotak yang tidak terlalu besar. Jingga mengucapkan terima kasih untuk kesekian kali. Ketika dibuka mata Jingga melebar melihat baju bayi dari merk ternama.
"Masya Allah." Anak umur sepuluh tahun mampu membelikan baju dari merk ternama, GENTONG.
Jingga menatap ke arah sang suami. Aska hanya tersenyum. Dia bilang sudah biasa. Sungguh anak-anak Sultan. Jingga benar-benar tidak biasa. Bukan tanpa alasan, biasanya banyak para ibu-ibu yang meminta kardus bekas susu atau apalah untuk membungkus kado. Di dalamnya palingan berisi dalaman atau juga baju bayi yang paling mahal lima puluh ribu. Itupun hanya memberikan satu setel. Namun, kali ini anak-anak Jingga diberi baju yang harganya di atas lima juta per setel. Sedangkan mereka membelikannya untuk keempatnya. Bisa dihitung sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh anak-anak yang masih berusia sepuluh tahun.
__ADS_1
Fahri dan Fahrani pun memberikan hadiah sepatu-sepatu lucu dan cantik dari merk JARA. Sungguh hadiah yang tidak main-main dari rekan kerja sang suami.
Christian dan Christina kompak memberikan baju dari merk DOIR. Jingga benar-benar tidak menyangka. Anak-anaknya dibelikan baju yang jika dikumpulkan bisa membeli mobil bekas. Belum lagi baju-baju yang dibelikan oleh dua tantenya.
"Nih."
Satu buah kartu Aksa berikan kepada Aska. Aska mengernyitkan dahi. Dia sama sekali tidak mengerti.
"Lima ratus juta isi saldo di dalamnya. Gunakan untuk keperluan anak-anak lu."
Jingga hampir syok mendengarnya. Aska menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar. Sungguh di luar ekspektasinya. Abangnya sungguh tidak bisa ditebak. Radit pun tidak mau kalah, dia memberikan kartu belanja dengan limit yang fantastis di toko kalangan sultan. Sungguh rejeki yang tak terhingga untuk keempat anaknya.
"Mommy, Bubu, Mimo, Wawa Bebeb tolong dong gendong si kembal empatnya."
Omongan anak itu membuat semua orang menoleh. Menatap ke arah Gavin dengan penuh tanya. Anak itu bersikap santai dan melihat satu per satu anak dari pamannya yang katanya berjumlah empat.
"Satu, dua, tiga, empat." Gavin menghitung sepupunya.
"Mas mau apa?" tanya Riana kepada sang putra.
Dia pun merogoh saku celana bagian depan. Mata semua orang melebar dengan apa yang bocah itu keluarkan.
"Ini buat kalian, ya." Gavin meletakkan satu per satu uang lembaran di kening keempat anak Askara. Anak-anak itu awalnya menggeliat dan hendak menangis. Sekarang malah tidak jadi.
"Masih kecil udah tahu dollal." Gavin tertawa. "Calon mata duitan."
Aska menggeleng tak percaya. Kemudian, sang keponakan menatapnya dengan sombong.
"Udah, ya. Selibu dollal, selibu dollal, selibu dollal, selibu dollal," tunjuknya ke arah anak Aska satu per satu.
"Jangan bilang Mas pelit, kalena Mas bukan Engkong yang selalu mengatakan pelit pangkal tajil."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1