
Bandung.
Sepasang suami-istri malah asyik bermain kuda-kudaan. Tanpa sepengetahuan Jingga, Aska meminta obat perangsang yang dulu pernah diberikan oleh Riana kepada istrinya. Di mana Gavin mendengar suara tukang parkir di tengah malam. Ditambah Aska mengajak menonton film ikeh-ikeh yang pastinya membuat tubuh Jingga panas bagai kebakar.
"Gimana, Bun?" Tangan Aska sedari tadi sudah mengusap lembut g-string yang digunakan sang istri. Sekuat tenaga Jingga menahannya, tapi tidak mampu.
Dia segera naik ke atas pangkuan Aska dan meloemat habis bibir Askara. Liar, begitulah Jingga sekarang. Dia benar-benar menyusuri setiap kulit putih sang suami. Aska pun tak mau kalah. Dia sudah merobek penutup tipis bagian perut istrinya.
Mereka bebas berteriak ataupun mengeluarkan suara setan. Mereka benar-benae asyik tanpa harus repot memikirkan anak-anak mereka akan terbangun atau tidak.
Goyangan maut juga sodokan kencang membuat mereka berdua berteriak nikmat. Peluh yang sudah membasahi tubuh mereka tak mereka hiraukan. Tubuh mereka sepuluh kali lebih kuat untuk melakukan kegiatan yang pastinya sayang untuk disudahi dengan cepat.
"Enak gak, Bun?"
"Banget, Yah." Aska semakin menjadi. Mulut dan jarinya sudah mengerjai istrinya habis-habisan. Semakin dikerjai Jingga semakin liar dan malah dia ingin mengeluarkan pipis manisnya di dalam mulut Aska.
Tidak akan pernah mungkin Aska menolaknya. Istrinya lebih liar dari beberapa malam yang lalu.
"Mau udahan?" tanya Aska ketika melihat istrinya sudah ngos-ngosan.
"Enggak, Bunda belum puas."
Durasi mereka kini lebih lama. Malam itu lima jam, sekarang hampir delapan jam dengan waktu jeda setengah jam di setiap mencapai puncak.
"Puas gak, Bun?" Jingga malah memeluk tubuh Aska. Mencium dada Aska dengan begitu lembut.
"Punya Bunda makin jarang dipake makin enak," bisik Aska. Jingga hanya tersenyum.
.
Di kediaman Aksara si triplets sudah tertawa terbahak-bahak. Mendengar cerita dari sang paman membuat si triplets sakit perut.
"Nih si Cireng 'kan emang titisan Om," ujar Aleesa sambil mencubit gemas Ahlam. Bayi itu bukannya menangis malah tertawa.
"Kalau yang cewek ini udah gedenya jadi cewek lenjeh. Bosan sama Uncle, pindah ke Baba," oceh Aleeya.
"Ba-ba-ba-ba."
Wajah Gavin masih ditekuk hingga lipatan terkecil. Aksara sudah duduk di samping putranya itu. Dia mengusap lembut kepala sang putra.
__ADS_1
"Ikut Daddy ke ruang kerja, yuk."
Gavin menatap ke arah sang ayah yang sudah tersenyum ke arahnya. Ada raut bingung dari wajah anak itu, tapi sang ayah sudah menarik tangan Gavin dengan begitu lembut.
"Mau dibawa ke mana?" tanya Echa yang sedang memangku Abdalla.
"Gavin tadi marah-marah terus sama si quartet. Daddy-nya pasti akan memberi pengertian kepada anak itu." Echa tersenyum mendengarnya. Sungguh didikan Aksa luar biasa.
Di ruangan sang ayah, Gavin sudah terduduk dengan kepala menunduk. Jika, sudah masuk ke ruangan ini dia tahu apa yang akan terjadi. Sang ayah memberikannya susu kotak kesukaan Gavin.
"Makasih."
"Mas tahu kenapa Mas ada di ruangan ini?" tanya sang ayah dengan begitu lembut.
"Mas boleh 'kan malah?" Kini, Gavin memberanikan diri menatap sang ayah.
"Tentu, Mas. Boleh." Tidak ada nada tinggi yang Aksa keluarkan. Tidak nampak juga ayahnya marah. Malah senyum hangat yang Aksa tunjukkan.
Ada helaan napas lega yang keluar dari mulut Gavin. Dia pun mulai menusuk sedotan ke dalam susu kotak yang ayahnya berikan. Menyedotnya seperti orang yang sangat kehausan. Aksa mengusap lembut rambut Gavin.
"Mas tahu 'kan kalau Mas ini adalah cucu pertama laki-laki dari Pipo dan Engkong." Gavin mengangguk. Dia masih menyedot susu kotak yang dia pegang.
"Mas juga tahu 'kan kalau si quartet itu sudah menjadi adik-adiknya Mas." Untuk kedua kalinya Gavin mengangguk.
"Sebagai seorang kakak, Mas harus bisa jaga adik-adik. Mas harus bisa negemong mereka. Jangan apa-apa marah. Itu bukan sikap terpuji, Mas."
"Mas, kesal, Dad." Aksara malah tersenyum ketika anaknya sedikit berani menimpali ucapannya. Namun, sedetik kemudian Gavin menutup mulutnya dan kembali tertunduk. "Maaf, Dad."
Aksa segera memeluk tubuh putranya. Inilah sikap asli Gavin yang baru Aksa ketahui. Jikalau, anak itu sudah tidak suka dia akan bersikap ketus dan diam. Juga akan menimpali apa yang dikatakan oleh orang lain.
"Sekarang Daddy tanya, apa Abdalla, Ahlam, Arfan dan Baqis sudah bisa bicara?" Putranya itupun menggeleng. "Apa bisa ketika mereka ingin poop, mereka bilang kepada Mas, atau kepada Daddy dan Mommy?" Lagi-lagi anak itu menggeleng. Aksa pun tersenyum. Dia mengurai pelukannya dan menatap ke arah sang Gavin Agha Wiguna.
"Ahlam poop bukan karena disengaja. Diapers kain dia miring makanya poop-nya berceceran. Mas, tadi lihat sendiri kan?" Anak itu mengangguk.
"Mas, gak boleh marah kepada Ahlam maupun saudaranya yang lain. Dulu, ketika Mas seumuran mereka, Mas juga melakukan hal yang sama. Maafkan mereka jika mereka kentut, poop atau muntah di depan Mas ataupun mengganggu Mas. Mereka belum bisa bicara, jadi harap dimaklumi. Mas adalah panutan untuk adik-adik, Mas. Harus jadi kakak yang baik untuk mereka semua. Yakinlah, jika Mas menyayangi mereka dengan tulus mereka juga akan lebih menyayangi Mas."
Aksa memberikan pengertian kepada Gavin. Dia tidak ingin melihat anaknya tegang terus jika dikerjai oleh si quqrtet. Mengajarkan bagaimana cara mengalah yang baik kepada adik-adiknya.
Anak itu keluar dari ruang kerja dengan sang ayah. Echa dan Riana saling pandang. Sepertinya tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua.
__ADS_1
"M-ma-mas." Ahlam yang melihat Gavin langsung merangkak cepat ke arahnya. Dia tersenyum dan terdengar gelak tawa kecil.
Gavin duduk tepat di mana Ahlam menghentikannya. Bayi laki-laki itu bagai anak kucing. Inginnya bermanja dan bercanda dengan Gavin.
"Kamu itu lucu, tapi kadang ngeselin!" Orang dewasa pun tertawa mendengar ucapan Gavin.
"M-ma-mas. M-ma-mas."
"Awas ya kalau nakal lagi. Mas akan minta kandang kucing ke Wawa Alya buat ngandangin kamu bial gak nakal."
Bayi itu seakan mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Gavin. Dia mulai menundukkkan kepala.
"Mas, gak main-main loh!" Ancaman yang membuat Ahlam ingin menangis.
Aksa segera menggendong Ahlam. Membawanya menjauhi Gavin. Anaknya masih emosi.
.
Pagi hari Gavin sudah merengek ke arah sang ayah agar menghubungi sang paman. Semalaman dia sudah menghitung berapa kerugian yang dialaminya karena ulah jahil Ahlam.
"Masih pagi, Mas. Uncle pasti masih tidur," jawab sang ayah dengan lemah lembut.
"Udah siang, Dad. Tuh si kuamplet aja udah bangun, udah makan, udah mandi." Jika, sudah begini Aksa kalah telak. Akhirnya dia menghubungi adiknya.
Erangan nikmat sudah keluar dari pasutri yang tengah melakukan olahraga pagi penuh keringat walaupun di dalam kamar. Berasa benar-benar honeymoon.
Ponsel berdering ketika mereka tengah melakukan gaya 96. Di mana Aska berada di atas. Sama-sama enak dan puas.
Erangan keluar dari mulut Aska ketika sang istri benar-benar melakukannya dengan sangat ahli. Namun, suara ponsel terus mengganggunya.
"Bun, lepas dulu ya ngemutnya," ujar Aska. "Abang telepon."
"Lagi enak, Yah. Cacing Ayah udah jadi anaconda. Nikmat, Yah."
Aska bimbang, tapi dia putuskan untuk menjawab telepon dari sang Abang dengan tubuh yang turun naik. Matanya melebar ketika sang penelepon bukanlah Aksara melainkan Gavin. Apalagi ada yang sudah tidak tahan ingin keluar.
"Shiiitttt!" umpatnya dalam hati. Bergetarlah tubuh Aska.
"Dad, di Bandung lagi ada gempa, ya?" Polos sekali anak itu bertanya. "Itu tubuh Uncle goyang-goyang."
__ADS_1
...***To Be Continue****...
Komen Dong ...