
Ketika rapat telah selesai, Aska barulah menghubungi kembali Fahri. Fahri segera menjawab telepon dari Aska.
"Lebih baik ke sini sekarang, Pak. Saya sudah memberi tahu Pak Aksara juga Tuan Giondra."
"Apakah ada yang genting?" tanya Askara lagi.
"Ke sini saja, Pak. Dokter Radit pun belum keluar dari ruang perawatan mertua Anda." Terdengar jelas hembusan napas kasar dari mulut Askara.
"Katakan apa yang terjadi?" Fahri tetap menutup mulut dan menyuruh Aska untuk segera ke Bandung.
Tepukan di pundak Aska membuat pria dewasa itu menoleh. Sang ayah menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Ditambah ada sang kakak di belakang sang ayah. Ponselnya masih menempel di telinga.
"Pergilah!" Perintah dari sang ayah. Juga sorot mata sang kakak yang begitu dalam membuat Aska tak bisa membantah.
"Biar semua pekerjaan yang ada di sini gua yang handle." Aksa pun membuka suara.
Aska akan lebih nurut kepada sang kakak ketimbang kepada sang ayah. Dia lebih nyaman berbincang juga bertukar pikiran dengan Aksara dibandingkan dengan ayahnya. Dia terlalu canggung jika harus berbicara empat mata dengan pria yang selalu menjadi panutannya.
Kepala Aska pun mengangguk. Hari ini juga dia akan berangkat ke Bandung. Tanpa membawa apapun hanya baju yang menempel yang dia kenakan. Sepanjang perjalanan dia terus menghubungi istrinya. Namun, Jingga tidak menjawab panggilan dari suaminya sama sekali.
__ADS_1
Itu semua membuat Aska merasa khawatir. Dia takut istrinya kenapa-kenapa. Menghubungi kakaknya pun tidak dijawab juga. Perasaan Aska semakin tak karuhan.
"Ke mana kamu, Sayang?"
Aska benar-benar sudah panik. Ingin rasanya dia yang membawa mobil bagai pembalap profesional agar sampai lebih cepat ke Bandung.
Aska teringat kepada Fahri juga Fahrani. Dia pun menghubungi asisten dirinya juga abangnya. Namun, mereka berdua pun tidak menjawab panggilan dari Askara. Itu semua semakin membuat Aska panik.
Dia terus menyuruh sopir untuk lebih cepat lagi dalam mengemudi. Namun, sang sopir sudah diwanti-wanti untuk mengendarai mobil dengan hati-hati dan jangan dengarkan perintah Aska karena Aksa dan Giondra sudah tahu apa yang akan Aska lakukan. Ditambah Aska adalah pria bengis jika sudah mengendarai mobil. Mengirim pesan kepada sang kakak pun tidak dibaca apalagi dibalas.
"Ke mana kalian semua?" Aska mengerang kesal.
.
Radit menggelengkan kepala ketika melihat kondisi dokter Eki saat ini. Ada rasa sesak di dadanya ketika melihat pria paruh baya itu terbaring di atas ranjang pesakitan dengan tubuh yang semakin hari semakin kurus.
"Apa ini karma?" tanya Radit di dalam hati.
Mulut Radit memang kejam dan pedas, tetapi dia seperti Askara masih memiliki hati. Dia teringat akan kondisi ibu mertuanya dulu, yakni almarhum Amanda sebelum beliau menghembuskan napas terakhir. Dia melihat jelas bagaimana azab Tuhan yang begitu nyata untuk hamba-Nya. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Radit.
__ADS_1
"Kenapa bengong, Dok?" tanya salah seorang dokter yang menangani dokter Eki.
"Enggak," jawab Radit dengan senyumnya yang terlihat terpaksa.
"Apa kita lepas saja?" tanya salah seorang dokter lagi.
"Harus menunggu persetujuan dari pihak keluarga dulu. Tidak bisa seenaknya." Radit mulai menjelaskan.
Dia terus menatap wajah dokter Eki yang pucat. Terlihat siluet penyesalan di wajah pria senja itu. Apalagi jika dia melihat ke arah kaki dokter Eki. Miris, itulah yang dia rasakan.
"Apa dia menunggu Jingga terlebih dahulu? Baru dia pergi menghadap Tuhan," gumam Radit dalam hati untuk kesekian kalinya.
"Hidup manusia itu tidak bisa kita tebak," ujar dokter yang usianya lebih tua dari Radit. "Dulu beliau adalah dokter ternama dan memiliki peranan yang penting di salah satu rumah sakit ternama pula. Belum lama ini muncul ke publik dan kita semua dikejutkan dengan keadaannya yang mengenaskan. Kecelakaan hingga menyebabkan kedua kakinya harus diamputasi."
"Apa mungkin dokter Eki memiliki dosa besar? Hingga beliau diberi peringatan keras oleh Tuhan," timpal yang lainnya.
...****************...
Komen dong ... udah 2 bab nih
__ADS_1