
Sesuai dengan ucapan si triplets, sepulang sekolah mereka pulang ke rumah sang nenek begitu juga dengan Gavin. Dia sedari pulang sekolah dijemput sang nenek juga sang kakek karena Ghea sedang rewel sekali. Jadi, anak itu dititip kepada neneknya.
"Kalian bawa apa?" tanya Ayanda ketika melihat tiga anak perempuan yang akan beranjak remaja itu membawa buket bunga.
"Sekarang 'kan hari ayah, Mimo," ucap Aleena. Ayanda tercengang mendengar ucapan dari Aleena. Dia saja lupa hari ini hari apa.
"Kami akan memberikan ucapan selamat hari ayah untuk Baba, Engkong dan juga Aki," tambah Aleeya.
Hati Ayanda mencelos mendengar ucapan dari ketiga cucunya ini. Dia hanya melihat saja apa yang dilakukan lelah Aleena, Aleesa dan juga Aleeya. Dia juga melihat cucu tampannya sedang menggambar sesuatu.
"Itu apa, Mas?" tanya sang nenek.
"Ini Daddy, dan ini Mas," tunjuknya pada gambar yang dia buat.
Ayanda tidak menyangka keempat anak ini bisa sekreatif ini. Inilah bukti jika mereka semua sangat menyayangi ayah mereka. Ketika mereka sibuk membuat hiasan juga menulis kata-kata indah untuk ayah mereka. Seorang pelayan membawa dus yang berisi cake, katanya diantar oleh Abang ojek online.
"Siapa yang pesan?" tanya Ayanda.
"Katanya triplets."
Lengkungan senyum terukir di wajah Ayanda. Dia mencoba membuka tutup dus cake tersebut. Sebuah kue ulang tahun yang di atasnya dituliskan Happy Father's Day, Baba.
Ayanda benar-benar bangga dengan ketiga cucunya ini. Sungguh luar biasa. Apa yang tidak terpikirkan olehnya, mampu mereka pikirkan. Baru saja Ayanda hendak membawa kue tersebut kepada sang cucu, Tini datang membawa sebuah buket di tangannya. Sontak mata Ayanda memicing karena itu bukanlah buket bunga melainkan buket uang.
"Buat siapa itu, Tin?" tanya Ayanda.
"Ini punya Mas Gavin, Nyonya," jawab Tini. Kedua alis Ayanda menukik dengan begitu tajam.
Buket bunga berisi uang dollar. Dari mana Gavin mendapatkan uang dollar sebanyak itu? Begitulah isi hatinya berkata.
"Ini uang Mas Gavin semua, Nyonya," jelas Tini. "Saya hanya disuruh untuk membuatkan ini. Jumlahnya ada dua puluh lembar."
__ADS_1
Ayanda menggelengkan kepala. Cucunya yang satu ini benar-benar sultan. Dua puluh lembar uang seribu dollar Singapura itu berjumlah fantastis. Bisa untuk membeli sebuah mobil.
"Nyonya jangan khawatir, itu adalah uang tabungan Mas Gavin. Di brangkasnya masih banyak uang dollarnya." Tini tahu jika nenek dari Gavin tengah terheran-heran. Lebih baik dia menjelaskan agar tidak ada kekeliruan.
Penghuni rumah yang lain tengah beristirahat di dalam kamar. Aska tidak mengijinkan Jingga untuk melakukan banyak kegiatan. Cukup bedrest dan bedrest. Jingga pun menjadi istri penurut karena dia ingin anak-anaknya lahir ke dunia dengan selamat. Terlepas sempurna atau tidak, itu tidak jadi masalah untuknya.
Bosan karena hanya rebahan, Jingga membuka sosial media miliknya. Dia terus men-scroll layar ponsel miliknya. Semua postingan berisi tentang hari ayah. Belum lagi banyak foto mereka dengan sang ayah yang membuat Jingga iri. Apalagi, kalimat yang mereka tuliskan begitu menyayat hati.
"Kapan aku memiliki foto seperti ini?" Ucapan sendu keluar dari mulut Jingga. Hatinya pedih jika harus mengingat ayahnya.
"Maafkan anakmu ini, Ayah."
.
Benda pipih tengah dokter Eki genggam. Dia sedang memutar video ulang tahun Melati yang kesepuluh. Putri keduanya itu terlihat sangat bahagia. Namun, video itu membuat dokter Eki meneteskan air mata. Dia dan Melati bisa tertawa, sedangkan Jingga dia tidak tahu bagaimana nasib Jingga sewaktu kecil.
"Nak, apakah ulang tahunmu pernah dirayakan seperti ini?"
Gumaman dokter Eki sangat menyayat hati. Hanya air mata yang menjadi saksi dari penyesalan seorang dokter Eki Mandala. Kali ini, tidak ada kepura-puraan. Bertetangga dengan para kaum difabel membuatnya tersadar akan arti kesempurnaan sesungguhnya.
Penyesalan akan selalu datang belakangan. Inilah yang dirasakan oleh dokter Eki. Hidup di sebuah kontrakan kecil, ingin apapun harus dilakukan sendiri dengan kondisinya seperti ini. Beda halnya dengan tetangganya di sebelah kontrakan. Pria seusianya memang kaum difabel. Dia juga sudah ditinggalkan oleh istrinya, tetapi dia memiliki anak yang mau mengurusnya dengan telaten. Tak pernah mengeluh walau sedikit pun.
Ketika dokter Eki bertanya kepada anak si pria itu, jawabannya hanya satu.
"Saya hanya ingin membalas budi kepada Ayah saya. Ketika kecil, saya dilimpahkan kasih sayang yang luar biasa. Sekarang, waktunya saya membalas kasih sayang Ayah saya walaupun saya sadar jika kasih sayang seorang anak itu hanya sepanjang galah."
Jawaban itu seperti tamparan keras untuknya. Dapat dokter Eki simpulkan anak itu bagaimana orang tua mendidiknya. Jika, penuh kasih sayang kelak anak itu juga akan berbalik melimpahkan kasih sayangnya juga. Apa yang ditanam itulah yang dituai. Pepatah itu yang sangat cocok untuk dokter Eki sekarang.
Apalagi dia menyaksikan sendiri bagaimana ungkapan hati mereka di hari ayah ini. Ucapan yang sangat tulus dan mampu membuatnya menitikan air mata. Hanya kata andai, yang kini bersarang di kepalanya.
.
__ADS_1
Jingga merasa perutnya lapar. Dia memilih untuk turun ke bawah. Memakan buah segar sepertinya enak. Lagi pula sekarang sudah sore. Ketika tiba di anak tangga terbawah, dia melihat empat keponakannya tengah berada di ruang keluarga dengan banyak kertas juga crayon. Dia pun menghampiri si triplets dan juga keponakan tampannya.
"Hai," sapa Jingga.
Keempat anak itu menoleh dan tersenyum ke arah Jingga. Namun, mereka memilih untuk fokus lagi ke arah kertas yang ada di meja.
"Lagi buat apa?" tanya Jingga penasaran. Dia mencoba mengintip apa yang sedang si triplets buat.
"Surat," tanya Jingga kepada tiga ponakannya tersebut. Mereka pun mengangguk pelan.
"Sekalang kan hali ayah, Anteu. Makanya Mas dan kakak kembal tiga mau buat acala buat ayah-ayah kami."
Hati Jingga sedih mendengar ucapan dari keponakan laki-laki Aska tersebut. Anak yang diberikan kasih sayang sempurna oleh ayahnya akan membalas kasih sayang itu Dnegan begitu manis. Bagaimana dengan dia? Apakah dia harus mengucapkan selamat hari ayah kepada pria yang jelas-jelas tidak mengakuinya sebagai anak kandungnya.
Hanya senyum perih yang bisa Jingga ukirkan. Ketika semua anggota keluarga suaminya merasakan kasih sayang seorang ayah, hanya dia yang tidak mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya dari ayahnya.
"Anteu, lihatlah!" Gavin menyuruh Jingga mendekat kepadanya.
Gavin menunjukkan video Aksa dan Aska ketika bermain basket bersama Giondra. Anak Aksara terus menyunggingkan senyum dengan mata yang masih fokus pada video tersebut.
"Pipo sama sepelti Daddy," ujarnya. "Selalu mengajalkan Mas, kalau Mas gak bisa tidak dimalahi. Malah telus disemangati."
Jingga tersenyum ke arah sang keponakan yang terlihat sangat bahagia. Dia mengusap lembut rambut anak itu.
"Kamu sangat beruntung, Mas." Dahi Gavin mengkerut mendengarnya. Apa maksud dari ucapan sang Tantenya ini.
"Ayahmu sangat menyayangi kamu, beda dengan-"
Anak itupun memeluk tubuh Jingga dengan begitu erat. Jingga tak kuasa menahan tangis. Ibu hamil pasti sangat sensitif. Si triplets yang sedang fokus pada lembar kertas pun ikut memeluk tubuh Jingga. Mereka tahu bagaimana perlakuan ayah dari tante mereka itu.
"Jangan sedih Kak Jing-jing. Di sini masih banyak ayah-ayah yang menyayangi Kak Jing-jing dengan tulus."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...