
Chandra pun menjelaskan mengapa Ia tak ingin memberi kontak Sam
"Asri.. Aku bukan gak mau kasih kontak Sam sama Kamu, tapi kalau sampai Tante Anita tahu bagaimana..?"
"Aku akan simpan dengan nama lain Chan" Asri meyakinkan Chandra
Sebenarnya Chandra juga tak ingin menghalangi hubungan Asri dengan Sam, namun justru Chandra sangat mengkhawatirkan keadaan Asri
"Aku gak mau ambil resiko Asri, kalau Tante Anita sampai tahu, bisa-bisa Kamu akan di kurung di rumah, itu malah akan semakin menyusahkan hubungan Kamu dengan Sam" Chandra berusaha meyakinkan Asri agar mengerti Kondisinya.
Asri marah Dia melengos kan wajahnya ke samping sambil cemberut, Chandra hanya menatap Asri dengan wajah serba salah, Rio yang dari tadi menyimak menyahuti ucapan Chandra
"Sory Chan... Gue mau tanya nih, Sam.... Sam itu siapanya Asri dan Sam itu apakah Sam menantunya Pak Herman ya..?" tanya Rio kini penasaran dengan percakapan Mereka tadi.
Asri langsung melihat Rio Dia baru sadar ada orang lain disini mendegar percakapannya kini wajah Asri juga Chandra menjadi tegang, lalu kemudian Chandra menjelaskan kebenaran
"Rio.. Aku akan cerita semuanya, tapi Kamu tolong berhati lapang ya, iya... Asri memang ada hubungan dengan Sam menantu Pak Herman, tapi ini semua gak seperti pandangan orang yang bilang Asri perusak rumah tangga, hubungan Sam dengan Anak Pak Herman itu sudah lama gak membaik, dan Sam sekarang juga sedang menunggu sidang perceraian" Rio hanya terdiam lalu melihat Asri kemudian berkata
"Gue sih gak berfikiran apa-apa, cuma Gue kaget saja, jadi yang di katakan Pak Faris itu benar adanya" Asri pun menundukkan kepala
"Terus Kamu mau benci Aku dan akan bilang sama semua orang Kantor" ucap Asri dengan wajah melas, Rio pun tertawa lalu berkata,
"Asri... ya gak lah Gue bukan tukang gosip, Gue itu hanya ingin tahu kepastian dan kebenarannya, kalau sudah tahu begini ya Gue cukup tahu saja, lagian Gue gak mau tuh ikut campur urusan orang, toh.. dosa Gue juga bejibun, Gue sih saat ini cuma ingin bilang ke Lo, lebih baik Lo tunggu Sam sampai selesai sidang perceraiannya, supaya menjaga nama baik Lo" Rio menjelaskan dengan panjang lebar tentang pendapatnya, lalu Rio berkata lagi,
"Tapi Gue bingung deh... Pak Faris bisa sampai tahu soal ini dari siapa, apa ada yang lain tahu soal ini..?" tanya Rio yang sedang penasaran
"Ya siapa lagi, kalau bukan Tini sendiri yang kasih tahu" Rio menunjukan wajah kagetnya
"Dia yang bilang"
"Iya.. Dia itu memang sudah gak waras menurut Gue, ya tujuan Dia satu sih.. supaya Asri di pecat dari Retro" Rio hanya menyimak persepsi Chandra
"Ya sudah lah... lebih baik Kita makan dulu" ajak Rio kepada semuanya untuk menyantap makan siang.
Lia menyantap masakan makmun dengan lahap, Makmun pun terlihat senang melihat Istrinya memakan masakannya.
"Enak tidak, Aku yang masak loh..."
"Agak Asin sih..." ucap Lia sambil tertawa kecil
"Masa sih.. tapi Aku di bantu Mamah Lo masaknya, memang asin beneran" lalu Makmun mencicipi masakan tersebut, kemudian berkata,
"Iya agak asin, Maaf ya sayang..." ucap Makmun dengan wajah sedih
__ADS_1
"Gak apa-apa sayang, Aku menghargai usaha Kamu, ini kan Kamu buat dengan rasa cinta" lalu Makmun tersenyum mendengar ucapan Lia
"Makasih ya sayang, Sayang nanti malam Kita lakukan itu ya, Aku ingin cepat-cepat punya Anak" Makmun ingin berharap secepatnya Lia hamil
"Ya sayang, oh ya nanti jangan bilang Mamah ya kalau masakannya agak asin, Aku takut Mamah tersinggung nanti" Makmun pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, setelah selesai makan Lia berkata,
"Nanti jemput Aku ya sepulang kerja"
"Ya sayang, ya sudah Aku pulang ya, Kamu pasti mau melanjutkan pekerjaan kan.." kemudian Makmun mencium kening Lia, Lia pun memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang
"Kamu hati-hati ya" ucap Lia dan Makmun pun pergi kembali ke rumah.
Berita menang tender pun tersebar di Kantor, semua orang gembira dengan kabar baik itu lain dengan Pak Herman yang merasa tidak senang, padahal biasanya Pak Herman sangat bahagia Jika perusahaan mendapat banyak proyek
Sekretaris Pak Herman pun masuk ke ruangan Pak Herman membawa berkas penting untuk di tandatangani oleh Pak Herman.
"Pak.. maaf ini ada berkas yang harus di tandatangani" ucap sang Sekretaris lalu Pak Herman mulai bertanya mengenai tender PT. Harum wangi
"Sarah... Saya dengar Pak Chandra memenangkan tender besar" tanya Pak Herman dengan sambil menandatangani berkas
"Iya Pak.. selamat ya Pak.. perusahaan Kita lagi-lagi menang tender" Pak Herman hanya melirik Sarah dengan sinis kemudian Pak Herman berpura-pura senang dengan kabar tersebut
"Ya... terimakasih Sarah, ini sudah semua" Pak Herman memberikan semua dokumen yang sudah ditandatangani, lalu Sarah pun keluar dari ruangan, kini Pak Herman terdiam sambil menggerakkan jari-jari di atas mejanya, di berkata,
"Saya akui kinerja Chandra dan Asri itu sangat bagus, tapi sayang kesalahan Asri adalah menganggu dan mengusik rumah tangga Tini, itu yang membuat Saya tidak suka dengannya" ucap Pak Herman pada dirinya sendiri.
"Rio soal Asri Aku berterimakasih karena Kamu sudah mengerti Kondisinya"
"Ya Chan, sebisa Gue... Gue gak akan ikut campur soal ini, ya sudah Gue balik ke Meja kerja Gue ya" Chandra menganggukkan kepalanya, dalam hati Chandra berkata,
"Berita ini lambat laun pasti akan tersebar, dan saat itulah Asri mungkin akan di keluarkan dari Retro" setelah itu Chandra pergi menuju ruangan Pak Rohman untuk memberikan laporan soal tender PT. Harum wangi.
Chandra pun mengetuk pintu, terdengar suara Pak Rohman untuk menyuruh masuk, Chandra pun duduk lalu memberikan file tersebut.
"Ini Pah.. laporan PT. Harum wangi, Kita baru saja memenangkan tender" ucap Chandra sambil tersenyum bahagia
"Ya.. Papah sudah dengar dari karyawan di kantor, Kamu hebat Chan, baru hari pertama Kamu menggantikan Sam, tapi sudah menunjukan prestasi Kamu, Papah bangga sekali" Pak Rohman sedang memuji menantunya lalu Pak Rohman menanyakan soal kapan launching produk terbarunya
"Mungkin bulan depan Pah, tapi tergantung juga kalau Kita kerjanya cepat cermat rapih, ya paling 2 Mingguan" ucap Chandra memberi penjelasan
Setelah itu Pak Rohman selesai menandatangani berkas penting, lalu Chandra pun berterimakasih atas pujian dari mertuanya, kemudian Dia kembali ke ruang kerjanya.
Di sisi lain Rahma sedang di periksa oleh Dokter, dokter pun tersenyum senang dan berkata,
__ADS_1
"Bagus hasilnya, Bu Rahma sudah boleh pulang ya, tapi ingat kondisinya harus di jaga, jangan mengangkat beban terlalu berat dulu, kemudian rutin untuk periksa setiap seminggu sekali" Dokter menjelaskan semua yang harus Rahma lakukan selama di rawat berjalan
"Terimakasih ya Dok.. pasti Saya akan terus pantau kondisi Anak Saya" setelah itu Dokter pun keluar dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Lalu Bu Yanti langsung menelpon Chandra supaya tak ke terlalu sore untuk menjemput.
Sore pun tiba, kini semua Karyawan Retro bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing, lalu Chandra berkata pada Asri
"Asri... hari ini Rahma sudah boleh Pulang, Kamu mau ikut Aku atau mau naik taksi saja"
Asri senang mendengar berita itu, namun Asri tak enak jika harus ikut bersama Chandra
"Aku naik taksi saja Chan.. Salam dengan Rahma ya" kemudian Chandra dan Asri berjalan bersama keluar gedung.
Lia sudah berada di depan menunggu kedatangan sang Suami Kemudian Asri melihat Lia lalu menyapa
"Lia... sedang nunggu taksi..?"
"Gak Sri... Aku sedang menunggu Makmun"
"Asri.. Aku duluan ya, Kamu kalau butuh bantuan bisa telepon Aku ok" Chandra sebenarnya tak tega jika melihat Asri pulang sendirian, Asri pun tersenyum lalu berkata,
"Ya Chan... Lia Aku duluan ke depan ya, mau tunggu taksi" Asri pun berjalan ke depan dengan perlahan, Lia memandangi Chandra yang sedang memandangi Asri dari belakang
"Kalau gak tega kenapa gak di antar saja Chan" Chandra pun menoleh lalu menjawab,
"Aku harus jemput Rahma, Mamah Yanti bilang jangan telat datang, kalau Aku antar Asri dulu, pasti Aku telat 15 menit, dan pasti Rahma akan bertanya soal itu, kalau Aku ajak Asri ikut jemput Rahma, aku takut membuat Rahma jadi tak nyaman begitu pun Asri, Lo ngerti kan Li" ucap Chandra sambil terus memandangi Asri dari jauh.
Lia pun sangat mengerti dengan apa yang di katakan oleh Chandra kemudian mobil Makmun datang lalu Makmun menekan klakson, Lia pun pamit dengan Chandra lalu masuk ke dalam mobil.
Chandra masih memantau Asri sampai Asri mendapatkan taksi, namun belum ada 5 menit, Rahma menelpon untuk segera di jemput.
"Chan... jangan mampir kemana-mana ya, Aku sudah ingin pulang gerah ingin mandi di rumah"
mau tak mau Chandra pun langsung menuju parkiran dan meninggalkan Asri yang masih berdiri di pinggir jalan menunggu taksi.
Tini berada di mobil posisinya dekat sekali dengan Asri yang sedang menunggu taksi, Tini melihat Asri dengan tatapan yang sangat tajam
"Kamu berhasil lolos hari ini, dan Papah tak jadi memecat Kamu, Kamu memang pandai Asri, tapi kita lihat seberapa pandai Kamu dalam melangkah menghindari mobil Ku" ucap tini berbicara sendiri di mobil
Lalu Tini melihat-lihat di sekitar, sepertinya sepi tak ada orang di rasa sudah aman, Dia pun segera menginjak gas dengan kecepatan tinggi, Asri melihat jam tangannya Dia berkata,
"Mana sih taksi ini, sampai jam berapa Aku harus menunggu lagi"
__ADS_1
ketika Asri menoleh ke samping Dia melihat mobil yang melaju cepat ke arahnya, Asri pun merasa mobil tersebut akan menabraknya, Dia berusaha untuk mundur 4 langkah, namun si mobil berjalan mepet ke pinggir Asri merasa ada yang tak beres dengan mobil itu.
Lalu Ia mengingat kejadian tempo hari hal itu membuat Asri jadi trauma, mobil kini semakin dekat, Asri pun berteriak sejadi-jadinya lalu kemudian seseorang menarik Asri dengan cepat dan akhirnya Asri lolos dari maut.