
Lia sedang bersiap memakai baju dan Makmun menunggu sang Istri di meja makan Bu Alya melihat penampilan Anaknya begitu rapih.
"Mun.. Kamu mau kemana, kelihatannya sudah rapih begini?" tanya Bu Alya sambil menyantap makan malamnya.
Lalu Lia datang sambil tersenyum, Pak Helmi pun penasaran ada apa dengan menantunya ini
"Makmun.. Lia, kalian kenapa Papah lihat Istri Kamu tersenyum terus dari tadi" Makmun pun ikut tersenyum mendengar ucapan Ayahnya lalu Lia duduk dan langsung berbicara,
"Pah.. Mah.. Kita mau kasih tahu kabar gembira untuk Kalian" Bu Alya kini penasaran dengan ucapan Lia
"Kabar gembira apa, apa kabar gembiranya kalau Kamu itu mau resign Lia" Lia yang tadinya tersenyum kini menjadi datar raut wajahnya, Makmun langsung menjawab perkataan Ibunya
"Mah.. bukan itu.." Bu Alya melirik Makmun juga menantunya lalu berkata,
"Lalu apa dong...?"
"Mah.. Pah.. kabar gembiranya itu saat ini Aku sedang hamil, selamat ya untuk Mamah sama Papah Kalian sebentar lagi akan menjadi Kakek dan Nenek" ucap Lia dengan suara riang gembira, Makmun hanya tersenyum melihat raut wajah Lia yang begitu bahagia.
"Mah.. Aku minta tolong ya, Lia kan sekarang sedang hamil, jadi Mamah jangan bicara yang membuat Lia sakit hati ya Mah.." Bu Alya pun langsung mengerutkan keningnya seakan tak terima di bilang seperti itu oleh Anaknya
"Maksud Kamu apa Makmun bicara seperti itu, Lia memangnya Mamah ini bikin Kamu sakit hati, Mamah kan kemarin sudah minta maaf" ucap Bu Alya dengan nada meninggi.
Lia merasa tak enak, Lia pun tak tahu jika Makmun akan bicara seperti itu pada Ibunya, lalu Makmun menjawab,
"Mah.. Jangan salah paham dulu, Aku bicara seperti tadi karena Aku tahu Mamah sama Lia itu suka sindir menyindir, dan Aku bicara seperti tadi, cuma ingin menjaga perasaan Lia, biasanya kan orang hamil itu sensitif Mah perasaannya, jadi Aku harap Mamah mengerti maksud Aku"
Bu Alya terdiam ketika Anaknya bicara seperti itu, sedangkan Pak Helmi pun tak dapat berbicara apa-apa.
"Kamu memikirkan perasaan Istri Kamu, tapi Kamu gak memikirkan perasaan Mamah saat Kamu bicara seperti ini" lalu Bu Alya melihat Lia dan berkata,
"Lia.. ini Pasti Kamu kan yang suruh Makmun bicara seperti itu dengan Ibunya" kini Lia lah yang disalahkan padahal Lia pun tak tahu jika Makmun akan bicara seperti tadi.
Kemudian Bu Alya pergi meninggalkan meja makan, Lia pun merasa tak enak dengan keadaan seperti ini lalu Lia memanggil Ibu mertuanya
"Mamah... Mamah..."
panggilan Lia pun tak di dihiraukannya lalu Lia bangun untuk mengejar Ibu mertuanya, namun pintu kamar Bu Alya tertutup rapat dan di kunci, Lia pun berkata di balik pintu
"Mah.. sumpah Aku gak pernah suruh Makmun untuk bicara seperti itu sama Mamah, Mah.. Aku minta maaf kalau ucapan Makmun membuat Mamah sakit hati"
Bu Alya tak menjawab di dalam kamar Bu Alya menangis kecil sambil duduk di atas kasur Dia pun berkata,
"Mamah belum pernah mendengar Kamu bicara seperti itu Mun.. salah Mamah apa sih.. tega-teganya Kamu nyakitin Mamah" ucap Bu Alya dengan suara pelan berkata pada dirinya sendiri, kemudian Makmun pun menghampiri Lia dan berkata
"Sayang...sudahlah.. nanti biar Aku saja yang jelaskan, sekarang lebih baik Kita pergi ke rumah Mamah Kamu sebelum kemalaman, Kamu pasti merindukan Mamah kan?" ucap Makmun dengan lembut terhadap Istrinya
__ADS_1
"Mun.. Kamu kenapa sih harus bicara seperti tadi di meja makan, Mamah kan jadi salah paham sama Aku" Lia kini moodnya menjadi berubah kesal, kemudian Lia dan Makmun pun berjalan keluar rumah lalu Mereka berpamitan dengan Pak Helmi
"Pah.. Kita ke rumah Mamah Irma dulu ya"
"Ya.. Kalian hati-hati ya.. soal Mamah itu biar jadi urusan Papah, Kamu gak perlu merasa gak enak Lia, Mamah kan memang seperti itu sifatnya" kemudian Mereka pun berangkat menggunakan mobil.
Lia begitu bahagia ketika sudah sampai di depan rumahnya, Dia pun memandangi rumahnya sambil tersenyum lalu dengan cepat Lia mengetuk pintu Rumah
"Mah.. ini Aku Mah.. Lia..." ucap Lia dengan begitu bersemangat kemudian di bukalah pintu tersebut oleh Bu Irma.
Setalah melihat Lia Bu Irma pun tertawa kecil juga tersenyum lalu memeluk sang Putri yang sudah lama tak pernah mampir ke rumah Ibunya
"Ya ampun.. sayang.. Mamah rindu sekali sama Kamu Nak.." ucap Bu Alya dengan suara yang bahagia
"Aku juga kangen banget sama Mamah" Lia pun mencium pipi Ibunya lalu mengajak Ibunya untuk masuk kedalam.
Setalah Mereka ke dalam Bu Irma berkata,
"Makmun apa kabar Kamu.. keluarga sehat semua" tanya Bu Irma mengenai keluarganya
"Alhamdulilah Mah.. sehat semua, Mamah sendiri dan Papah bagaimana Kalian sehat-sehat kan?" lalu Bu Irma tersenyum kemudian mengajak Putri juga menantunya untuk makan bersama, namun karena Mereka sudah makan sebelumnya Lia pun berkata,
"Mah.. Kita sudah makan.. masih kenyang, Aku kesini sama Makmun itu karena ingin memberitahu kabar bahagia untuk Mamah" ucap Lia dengan begitu semangat
"Oh ya.. kabar bahagia apa tuh...?" tanya Bu Irma dengan tersenyum, Lia pun melirik Makmun kemudian Makmun menganggukkan kepalanya setelah itu Lia berkata,
"Wah.. Alhamdulillah Mamah ikut senang Nak mendengarnya" lalu Bu Irma melihat Makmun dan berbicara kepada Makmun
"Makmun tolong ya, jaga Anak Mamah juga cucu Mamah" ucap Bu Irma dengan lembut dan sopan
"Pasti Mah.. Aku pasti jaga Lia dan Anak Aku"
Stelah lama mengobrol tak terasa waktu pun semakin larut malam, dan Mereka pun berpamitan untuk pulang
"Mah.. Aku pulang ya" ucap Lia dengan wajah bersedih, lalu Bu Irma tersenyum berkata,
"Kok wajahnya di tekuk, Kamu kenapa?" tanya Bu Irma dengan suara lembut
"Aku belum sempat ketemu Papah, salam sama Papah ya kalau sudah pulang dari lembur, suruh telepon Aku ya Mah" ucap Lia sambil menggenggam tangan Ibunya, setelah itu Mereka pun bergegas pulang.
Tini saat ini sedang resah menunggu informasi dari orang suruhannya, tak lama orang tersebut menelepon Tini, Tini pun langsung mengangkatnya dan berkata,
"Halo.. bagaimana Kamu sudah dapatkan info tentang Sam"
"Sudah Bu.. informasi yang Saya dapat, Dia sudah bekerja di PT Jaya Abadi, dan Ibunya saat ini baru saja pulang dari Rumah Sakit, dan Ibunya kini masih menunggu kabar donor jantung dari Rumah Sakit hanya itu Bu info yang saya dapatkan"
__ADS_1
"Ok.. kalau begitu besok Kamu terus awasi Sam" lalu telepon pun di akhiri, Tini pun duduk di atas kasur lalu berkata,
"Jadi Ibu Kamu saat ini ingin operasi donor jantung, Sam sepertinya sedang tidak kesusahan, apa Dia punya uang untuk biaya operasi Ibunya" tanya Tini dalam hatinya sambil memutar putar ponselnya, lalu Tini keluar kamar untuk menemui Andi sepupunya,
"Mah.. Andi di mana ya, Aku lihat gak ada di kamar" tanya Tini kepada Bu Heni yang sedang mengemil makanan ringan.
"Andi ada di luar Tin sedang merokok" Tanpa bicara lagi Tini langsung menghampiri Andi di teras rumah
"Andi.. Gue mau tanya sesuatu nih" Andi pun menoleh melihat Tini lalu menjawab,
"Tanya apa..?" ucap Andi sambil menghisap rokoknya, kemudian Tini duduk di sebelah Andi lalu berkata,
"Terus si Asri bagaimana cara Dia menghubungi Sam?" tanya Tini langsung pada intinya, kemudian Andi melirik Tini dan menjawab,
"Kan sudah Gue bilang, Dia gak bisa berhubungan dengan Sam karena Chandra tak membolehkan Asri punya nomor kontak Sam, kata Asri supaya menjaga hubungannya dengan Ibunya, jadi paling Sam telepon Asri lewat Chandra" ucap jelas Andi memberitahu soal hubungan Asri dan Sam.
Tini hanya terdiam namun bibirnya tersenyum, Andi yang melihat hal itu pun berkata,
"Lo senang ya Mereka gak bisa berhubungan dengan leluasa" ucap Andi menyindir Tini secara langsung
"Iya lah.. dan Gue akan lakukan segala cara supaya Gue bisa balik lagi dengan Sam, Gue yakin kok pasti ada celah dimana Sam gak akan mungkin menolak Gue, yang terpenting sekarang Gue hanya harus pikirin cara untuk menjauhkan Asri dari Sam selamanya" ucap Tini dengan mimik wajah yang jahat
"Tini .. Lo gak usah macam-macam, Gue sudah tahu waktu itu Lo menyuruh orang kan untuk bunuh Asri tapi orang suruhan Lo salah sasaran, dan orang suruhan Lo itu sudah kabur ke luar negeri iya kan..?" tanya Andi dengan nada kesal
"Kenapa memang... Lo kalau di posisi Gue pasti Lo bakal lakukan itu juga" Andi menggelengkan kepalanya lalu berkata,
"Tini.. Lo boleh lolos waktu itu, tapi belum tentu rencana Lo kedepannya akan mulus, ingat karma itu ada Tini"
Tini bukanya merenung ketika di nasihati oleh sepupunya Dia malah tertawa seperti orang gila dengan berkata,
"Apa... karma... yang harus dapatkan karma itu Asri, bukan Gue, lawak Lo ya.. sudah ah.. Gue mau masuk kamar, satu pesan buat Lo Andi, Lo jangan berharap deh Asri akan suka sama Lo, tapi kalau sampe Dia suka ya bagus juga sih.. itu bisa jadi bumerang untuk Dia sendiri" ucap Tini sambil tertawa kecil.
Kemudian Tini pun pergi meninggalkan Andi yang masih merokok, Andi hanya memandangi Tini dari belakang sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah sampai di rumah Lia mencoba mendekati kamar Ibu mertuanya, Lia ingin mengetuk pintu, tapi di halau oleh Makmun
"Jangan... sudah lebih baik besok lagi Kita selesaikan urusan Mamah, Kamu istirahat ya, Kamu kan sedang hamil, harus banyak istirahat apalagi Kamu masih kerja" ajak makmun dengan lembut kepada Istrinya, Lia pun mengiakan permintaan Makmun lalu Mereka berdua beristirahat.
Bu Alya belum tidur begitu juga dengan Pak Helmi, rasanya kalau belum bicara untuk menasihati Istrinya Pak Helmi tak bisa tidur kemudian Pak Helmi bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar dan berkata,
"Mah.. Papah tahu Mamah belum tidur iya kan" ucap Pak Helmi sambil melirik Istrinya, namun Bu Alya masih belum bersuara, kemudian Pak Helmi melanjutkan ucapannya
"Mah.. sudahlah jangan seperti anak kecil, Marah dengan Anak dan Menantu, gak baik Mah musuh-musuhan, ingat loh.. Menantu Kita itu sendang hamil saat ini, cucu Kita Mah.." ucap Pak Helmi dengan nada lembut supaya tak menyinggung perasaan Bu Alya yang saat ini sedang bersedih karena hal tadi, tiba-tiba Bu Alya berbicara
"Mamah cuma bingung kenapa Makmun tega bicara seperti itu sama Mamah, padahal dulu Makmun selalu lembut setiap bicara dengan Mamah" ucap rasa keluh Bu Alya terhadap suaminya
__ADS_1
"Mah.. menurut Papah Makmun masih sopan dalam bicara, kenapa Dia meminta Mamah untuk melakukan yang Makmun minta karena di rumah ini yang sering sekali salah paham itu Mamah sama Lia, Kalian bentar akur, nanti kumat lagi sindir menyindir, jadi Makmun hanya meminta untuk Mamah menjaga perasaan Lia" ucap nasihat Pak Helmi untuk sang Istri.