Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
204. Lipensetik


__ADS_3

Jingga ikut serta membantu empat keponakannya itu dalam mendekor halaman samping. Dia sangat senang karena bisa bergerak bebas kembali. Walaupun sang mertua sudah berkicau terus menerus, tetapi Jingga tak menghiraukan. Anak-anaknya yang berada di dalam perut seakan bahagia diajak bekerja sama dengan mereka.


"Udah sih, Mimo," kata Aleesa. "Gak baik juga ibu hamil rebahan Mulu," lanjutnya lagi.


Jika, sudah berbicara dengan si triplets jangan harap bisa menang. Mulut mereka tidak ada remnya. Juga banyak pengetahuan yang mereka peroleh. Maka dari itu mereka menjelma menjadi anak serba tahu.


Semua surat cinta yang ditulis si triplets tidak diketahui oleh yang lain. Mereka menulis seindah mungkin agar mengena ke hati sang ayah. Begitu juga dengan Gavin yang membuat Jingga ngiler akan buket bunga yang sudah dia siapkan untuk ayahnya.


Dua puluh lembar uang dollar yang masing-masing bernilai seribu dollar. Berapa jumlah nol yang menggelinding di belakanganya? Sungguh tidak terhitung. Dari anak-anak kecil itu Jingga belajar bahwa kebaikan yang ditanam, maka kebaikan itu yang akan kita tuai. Dia terus mengusap lembut perutnya yang terbilang sudah membukit berdoa di dalam agar kelak anak-anaknya seperti keempat keponakannya.


Bukan hanya Jingga, sang nenek pun ikut membantu. Apalagi ketiga anak Echa meminta bantuan kepada Ayanda untuk menyuruh anak-anak dan menantu-menantunya juga besannya makan malam bersama. Semua biaya makan malam ditanggung oleh si triplets. Mereka sudah membongkar celengan mereka yang berjumlah tidak sedikit.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Jingga segera ke kamarnya, sudah pasti banyak panggilan dari suaminya. Jingga meraih ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Benar dugaannya, dua puluh panggilan tak terjawab dari suami tercinta.


Lengkungan senyum terukir di wajah Jingga. Tangannya mengusap lembut perutnya yang katanya ada empat calon bayi di dalam sana.


"Ayah sepertinya merindukan kalian. Sedangkan kalian tidak merindukan Ayah," kelakar Jingga.


Biasanya perut Jingga sering sakit dan akan sembuh jika melakukan video call dengan suaminya. Namun, kali ini berbeda. Kehadiran keempat keponakannya membuat rasa sakit itu tidak ada.


"Sepertinya kalian menyukai Kakak triplets dan Mas Gavin." Jingga masih bergumam.


Berada di rumah besar ini membuat Jingga merasa disayangi dan dicintai. Meskipun dengan cara yang berbeda, tapi mampu membuat Jingga merasa memiliki orang tua yang sesungguhnya.


Jingga menghubungi balik sang suami. Aska yang tengah meeting dengan Aksa, Gio, Remon, Fahri dan Fahrani pun segera menggeser layar ke arah gagang telpon berwarna hijau. Dia memindahkan kamera menjadi kamera belakang dan menyorot semua orang yang ada di ruangan Aksara.


"Ayah lagi sibuk, ya. Ya udah Bunda tutup."


Tanpa aba Jingga mengakhiri sambungan videonya. Dia tidak akan mengganggu jika Aska sedang sibuk seperti ini. Ponsel Jingga bergetar. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi pesan miliknya.


"Aku lagi meeting. Nanti aku hubungi lagi."


Jingga tersenyum dan membalas dengan kata ok. Setiap hari dia akan seperti ini, Aska pun tidak risih dengan sikap Jingga yang bisa dibilang manja.


"Kita mandi dulu ya, Nak."


.


Keluarga Harimau Putih.


Induk Harimau : "Makan malam di rumah besar semuanya."


Induk Harimau : "Gak ada penolakan. HARUS, KUDU, MESTI."

__ADS_1


Aksa yang pertama kali membuka pesan di grup keluarga membuatnya berdecak kesal.


"Ada acara apa Mommy ngajak makan malam bersama?" tanyanya ke arah sang ayah yang berada di sampingnya.


Gio mengerutkan dahi, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang putra. Aksa pun menunjukkan ponselnya dan bahu Gio pun terangkat menandakan tidak tahu.


Kini, Aska dan Gio membuka pesan di grup pesan keluarga tersebut. Echa, Radit dan juga Riana sudah bergabung.


Ipar Gendeng : "Radit absen Mah, masih banyak kerjaan."


Kakak Garang : "Echa juga, harus lembur, Mah."


Ipar Kalem : "Ghea lagi rewel, Mom."


Induk Harimau : "Berani ngebantah dan nolak."


Induk Harimau : "Mau dikutuk kalian!"


Tiga pria yang sedang berada di kantor Wiguna Grup tertawa. Mereka lebih baik cari aman. Bahaya jika sang induk harimau marah, yang tidak salah pun akan disalahkan.


Duda Karat : "Berisik amat sih?"


Duda Karat : "Makan malam gratis mah gak bakal nolak lah."


Seorang Rion Juanda sudah ikut nimbrung ke dalam grup tersebut. Gio hanya menggelengkan kepala.


Induk Harimau : "ECHAA!" 👿👿


Duda Karat : "Pawang @Harimau Jantan muncul lu."


Duda Karat : "@Abang kembar @Adek kembar ke mana kalian?"


Duda Karat : "@Induk Harimau ngamuk nih."


Tiga pria itu malah tidak muncul sama sekali walaupun sudah di tag. Membiarkan duda karat dimarahi induk harimau yang sudah mengeluarkan tanduk.


"Sempatkan datang, Bang," ucap Gio ke arah sang putra.


"Mungkin Mommy lagi pengen berkumpul," tambah Aska.


"Bahagiakan orang tuamu, Bang. Selagi mereka masih ada." Remon pun angkat bicara.


"Iya."

__ADS_1


Fahri hanya tersenyum tipis melihat sang atasan yang tidak berkutik diceramahi oleh tiga pria sekaligus. Baru kali ini dia melihat Aksa menundukkan kepala kepada orang lain.


.


Ketiga anak Echa sudah didandani oleh Jingga dan mereka sangat terlihat cantik. Lagi-lagi dia mengusap lembut perutnya dan berdoa di dalam hati agar kelak jika anak-anaknya perempuan akan secantik si triplets.


Suara langkah kaki terdengar dan Gavin sudah sangat terlihat tampan dengan pakaian yang dia gunakan. Sungguh menggemaskan dan membuat Jingga terus menciuminya.


"Anteu, lipensetiknya nempel di pipi Mas." Gavin melihat wajahnya di cermin, ada tanda bibir sang Tante di pipi putihnya.


"Lipensetik Anteu melek apa sih?" sergah Gavin, sambil mengusap-usap pipinya yang ternoda oleh bibir sang Tante.


"Pasti lipensetik mulah," lanjutnya lagi. Jingga melebarkan mata mendengar apa yang dikatakan Gavin.


Jingga meraih lipstik yang ada di meja rias yang biasa dia gunakan. Merk ternama yang harganya di atas rata-rata lipstik lokal. Lipstik itupun diklaim dari luar negeri.


"Jangan didengerin omongan si bocah sotoy itu Kak," ujar Aleeya.


"Enak dong kalau soto mah," sahut Gavin.


"Itu soto, Pinokio," geram Aleeya.


"Nama aku Agha atau Gavin, bukan Pinokio," protesnya.


Jingga menggelengkan kepala jika sudah mendengar Aleeya juga Gavin berdebat. Mereka bagai kucing dan anjieng jika bertemu.


"Udah jangan ribut, sesama saudara harus saling menyayangi." Jingga melerai kedua keponakannya.


Sedangkan Aleeya dan juga Gavin masih saling menatap tajam. Jingga hanya menggelengkan kepala. Ponsel Jingga berdering dan sang suami sudah menghubunginya.


"Hai, Ayah."


Wajah Jingga sudah sangat berseri ketika menjawab panggilan video dari sang suami tercinta. Beda halnya dengan Aska yang menatap bingung istrinya.


"Bunda mau ke mana?" Sekarang malah Jingga yang mengerutkan dahinya.


"Gak ke mana-mana. Emangnya kenapa?" Jingga malah balik bertanya.


"Itu bibir kaya orang yang abis makan orok." Ternyata kelakuan suaminya sama percis dengan kelakuan Gavin.


"Uncle, anteu beliin lipensetik yang mahal dong bial gak luntul," teriak. bocah empat tahun, dan Aska mampu mendengar ucapan dari keponakan tampannya.


"Masa beli lipensetik yang mulah, gak modal!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2