Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
250. Quartet


__ADS_3

Suara itu membuat Jingga terbangun. Dia sangat jelas mendengarnya. Dia mencri suara itu ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada siapa-siapa. Semua orang pun sudah terlelap. Jingga mencoba membangunkan sang suami yang sudah tidur dengan nyenyak.


"Ada apa, Bun?" tanya Aska. Bukannya mejawab, Jingga malah memeluk erat tubuh Aska. Sang suami pun nampak terkejut.


"Kenapa, Bun?" Aska membuka suara dengan sangat pelan. Dia tidak ingin membangunkan yang lain.


"Bunda dengar suara Ayah." Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan sang istri. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jingga.


"Ayah Eki mengatakan akan pergi." Aska menghela napas kasar. Dia mengusap lembut rambut sang istri.


"Bunda itu tengah merindukan ayah. Makanya, seperti itu. Sudah biasa jika orang rindu akan terngiang suara orang yang kita rindukan." Jingga hanya terdiam. Apa iya? Begitulah batinnya.


"Bunda sekarang istirahat, ya. Sebentar lagi anak-anak kita pasti akan bangun."


.


Si quartet sangat senang membuat semua orang begadag. Mereka akan terbangun di tengah malam. Terjaga satu sampai dua jam barulah mereka akan tidur lagi. Bukannya merasa kesal, semua orang yang berada di rumah Gio malah menanti waktu itu. Keempat anak Aska seperti kalong. Jika, siang hari mereka susah untuk membuka mata. Namun, jika tengah malam mereka seakan mengajak semua orang bermain. Ayanda akan selalu bersemangat jikalau mereka bangun. Nenek sembilan cucu itu akan mengajak bermain keempat cucunya yang lucu dan sudah mulai terbiasa meminum susu formula.


Aska terus menguap. Dia benar-benat tidak kuat. Apalagi jam sebelas malam dia baru sampai rumah karena harus lembur.


"Ayah tidur aja," ujar Jingga, Dia pun tidak tega melihat suaminya seperti itu. Hari ini Aska sudah msuk kerja seperti biasa. Jadi, Jingga di rumah hanya dengan Ayanda dan juga Riana. Dia juga dibantu Tini. Sepertinya TIni akan ditarik Jingga lagi.


"Kapan mau diberi nama anak-anak kamu?" tanya sang ibu mertua. Aska sudah terlelap sambil memeluk pinggang Jingga.


"Aku mah ikut apa kata ayahnya si quartet aja," jawab Jingga.


"Mau pengajian atau ke panti asuhan?"


"Terserah Mommy aja."


Ayanda harus membicarakan hal ini dengan anak-anaknya yang lain. Dia juga harus bicara dengan sang suami. Lebih baik sekalian mengadakan aqiqah, memberi nama sekaligus memperkenalkan kepada publik.


Ketika akhir pekan tiba rumah Ayanda akan dipenuhi oleh cucu-cucunya. Mereka seakan ingin bermain dengan si quartet. Apalagi Gavin yang senang sekali menciumi pipi tiga anak laki-laki sang paman.

__ADS_1


"Dedek ceweknya dong cium," pinta Aska.


"Gak mau!" tolaknya. "Bosan cewe telus."


Semua orang pun tertawa mendebgar ucapan dari bocah yang sebentar lagi akan berulang tahun.


"Pusing Mom kepala Abang," adunya kepada sang ibu.


"Kenapa?" tanya sang ibu yang sudah membawakan putranya secangkir kopi panas.


"Pengen dibuatkan lapangan futsal yang ada Ninja Hatorinya." Ayanda malah tertawa. Cucunya ini ada-ada saja. Tetap Ninja Hatori jadi andalan.


Ayanda sudah membicarkan perihal si quartet kepada anak-anak juga para menantunya. Juga kepada suaminya. Mereka memutuskan minggu depan akan mengadakan acara aqiqahan sekaligus memberi nama. Serta memperkenalkan si quartet kepada khalayak umum.


"Nama anaknya siapa sih, Dek?" Echa sudah mendesak Aska dan Jingga. Sedangkan mereka berdua hanya tersenyum. Mereka juga masih gamang untuk memberi nama si bungsu, anak perempuan satu-satunya. Mereka sudah menyiapkan nama-nama anak mereka sesuai dengan prediksi dokter. Ternyata prediksi itu meleset. Tuhan lebih berkuasa dari segalanya.


"Nanti aja, Kak. Ketika waktunya tiba Kakak akan tahu."


.


"Ayo dong melek, ini Mimo sudah menyiapkan acara aqiqahan kalian. Jangan tidur aja gak seru." Jingga malah tertawa. Ibu mertuanya sangat gemas kepada anak-anaknya.


"Mas, Abang, Kakak, Adek, disuruh bangun tuh sama Mimo. Kalian gak asyik tidur aja," kelakar Jingga.


"Iya, nih. Giliran tengah malam Mimo lagi nyenyak tidur malah melek." Lagi-lagi Jingga tertawa melihat mertuanya mengajak bicara keempat anaknya yang terlelap.


Jingga malah merekam tingkah sang ibu mertua yang tengah bermain dengan si quartet. Jingga sangat merasa bahagia. Dia bisa menemukan sosok ibu yang baru dari ibu mertuanya. Kata orang mertua wanita itu lebih cerewet dan banyak yang tidak akur dengan menantu perempuannya. Namun, Jingga merasakan hal yang berbeda. Mertuanya ini sangat baik. Malah seperti ibu kandungnya sendiri.


.


Di hari yang spesial itu Jingga sangat bahagia karena semua anggota keluarga suaminya hadir. Termasuk sang ayah. Jingga bisa melepas rindu dengan ayahnya.


"Ayah sehat 'kan." Jingga benar-benar khawatir. Hampir dua Minggu tidak bertemu dengan ayahnya membuat Jingga selalu berpikir jelek.

__ADS_1


"Ayah sehat, Nak." Dokter Eki berkata dengan senyum yang merekah. "Ayah rindu cucu-cucu Ayah."


Jingga mendorong kursi roda sang yah menuju anak-anaknya. Baru dua minggu keempat anak Jingga sudah banyak berubah. Dokter Eki tersenyum bahagia ketika melihat perkembangan cucu-cucunya dengan sangat baik.


"Tampan-tampan dan cantik sekali cucu-cucu Opa." Dokter Eki terharu sekali.


"Si Adek perpaduan Dea dan juga Ayna."


Senyum dokter Eki luntur seketika mendengar nama dua cucunya yang sudah tiada. Jika, teringat akan dua anak itu dia merasa sangat bersalah dan ingin menebus segala dosanya. Dia sudah sangat jahat. Dia melebihi binatang.


Acara sudah akan dimulai. Jingga dibantu dua kakak iparnya juga sang mertua menggendong di quartet. Mereka berempat dibawa ke acara pengajian.


Jingga merasa sangat bersyukur karena anak-anaknya sangat Soleh dan juga Solehah. Tidak menangis sama sekali ketika rambut mereka dipotong untuk simbolis. Masih anteng tertidur. Padahal ibu-ibu pengajian sibuk mengambil foto juga ingin menyentuh pipi gembil keempata anak Jingga dan Aska.


Acara aqiqhan selesai. Jingga dan Aska juga berbagi kepada anak yatim piatu panti asuhan di mana Rangga tinggal di sana. Keluarga besar pun tengah menikmati makanan yang banyak juga nikmat.


Ba'da Dzuhur akan ada acara konferensi pers Wiguna Grup. Keempat cucu Giondra pun harus berganti pakaian lagi. Jingga dan Aska hanya menggelengkan kepala.


Semua anggota keluarga Wiguna sudah duduk di ruang konferensi pers. Jingga, Echa, Riana dan Ayanda menggendong si quartet dengan mengenakan baju yang senada. Begitu juga dengan para pria yang sudah duduk di samping Giondra.


"Hari ini saya akan memperkenalkan anggota keluarga baru dari Wiguna. Telah lahir dengan selamat dan juga sempurna empat orang anak yang menggemaskan dari rahim menantu saya, Jingga Andhira istri dari Ghattan Askara Wiguna. Mereka akan menjadi penerus dari perusahaan Wiguna Grup juga Wguna corp."


"Siapa nama cucu-cucu Anda, Pak?" tanya salah satu wartawan.


"Anak pertama saya ada digendongan ibu saya. Berjenis kelamin laki-laki dan saya beri nama ... GHALDAN ABDALLA WIGUNA." Nama yang sangat indah.


"Anak kedua saya ada di Kakak pertama saya, berjenis kelamin laki-laki juga dan saya beri nama GAMAIL AHLAM WIGUNA."


"Anak ketiga saya ada pada istri dari Abang saya. Masih berjenis kelamin laki-laki dan saya beri nama GAMIL ARFAN WIGUNA, dan yang digendong oleh istri saya itu adalah anak saya yang nomor empat. Alhamdulillah jenis kelaminnya perempuan dan saya beri nama BALQIS LALITA BANIA LAILA."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2