
Hampir satu jam Sam menunggu kepulangan Bu Fatma, akhirnya Bu Fatma dan Arif pulang juga.
"Ibu.. bagaimana cek kesehatannya..?"
"Sam.. Kamu sudah di rumah, Astagfirullah.. wajah Kamu Nak.. kenapa sampai seperti ini..?" Bu Fatma terkejut melihat kondisi wajah Sam yang masih memar
"Aku gak apa-apa Bu.. lalu Dokter bicara apa Bu mengenai operasi Ibu"
"Alhamdulillah.. Ibu sudah siap katanya untuk operasi, jadwalnya lusa Nak.. pagi sekitar jam 10" Sam sangat senang mendengar berita baik ini
"Alhamdulillah ya Bu.. setelah ini, Ibu akan sehat terus" Bu Fatma tersenyum bahagia
"Iya amiin... lalu bagaimana dengan sidang perceraian Kamu?" Sam mengatakan jika harus mediasi terlebih dahulu sekitar satu Minggu, setelah itu baru sidang pemutusan.
"Ibu berharap semoga urusan Kamu cepat selesai, dan Ibu bisa melihat Kamu dan Asri orang yang Kamu cintai itu, bisa segera menikah" Sam pun tersenyum haru mendengar ucapan Ibunya
"Pasti Bu.. Aku akan segera menikahi Asri, jika Aku sudah benar menyandang status singel, Ibu akan melihat semua itu" lalu Bu Fatma memeluk Sam sebagai bentuk kasih sayangnya.
"Mas.. Bu.. Aku berangkat kuliah dulu ya, Oh ya Mas.. lusa nanti Aku ada koas di Rumah Sakit Jakarta selama 1 Minggu, Aku sepertinya gak bisa temani Mas dan Ibu selama operasi, Ibu gak masalah kan..?"
"Ya gak apa-apa Rif.. Kamu fokus saja sama kuliah Kamu" lalu Sam menyahuti ucapan Arif tadi
"Kamu butuh uang berapa untuk biaya hidup Kamu di Jakarta"
"Terserah Mas saja mau memberi Ku berapa" Arif memang Anak yang baik, Dia tak pernah menuntut banyak pada Kakaknya, bahkan jika ada biaya tambahan dalam kuliahnya, Arif tak selalu minta pada kakaknya, Dia akan cari pekerjaan freelance semampunya.
"Ya sudah besok Mas beri ya" Arif pun berangkat kuliah bersaliman pada Ibu juga Kakaknya.
Sehabis berbicara dari hati ke hati dengan Andi, Kasih pun pulang ke rumah Makmun, namun saat Ia mengetuk pintu rumah, Ternyata tak ada seorangpun yang membuka.
"Mereka kemana ya, sepertinya tidak ada orang di rumah" lalu Kasih berusaha untuk menghubungi Bu Alya melalui telepon
"Halo Bu.. Aku sudah berada di depan rumah, tapi sepertinya rumah kosong Bu"
"Iya Kasih Kami sedang ada di Rumah Sakit"
"Rumah Sakit, siapa yang sakit Bu..?" tanya kasih dengan rasa khawatir
"Lia.. Dia habis jatuh dari kursi dan Dia mengalami pendarahan saat ini"
"Astagfirullah...lalu bagaimana keadaan Mbak Lia Bu..?"
"Ibu juga belum tahu, dokter masih memeriksa keadaan Lia, karena Lia tadi sudah pingsan duluan saat di jalan"
Kasih merasa khawatir Ia pun memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Lia.
"Kalau begitu Aku kesana ya Bu" Kasih pun bergegas pergi menjenguk Lia.
Sementara Asri Juvi, Chandra juga Rahma saat ini sedang mengobrol diiringi dengan bercandaan sehingga obrolan tak terasa kaku, tiba-tiba datang seseorang mengucap salam dan masuk dalam ruangan.
"Assalamualaikum.." Semua menengok ke arah suara dan menjawab salam tersebut
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Andi..." ucap Asri merasa terkejut dengan kedatangan Andi, kemudian Andi tersenyum ramah kesemuanya
"Lo mau apa kesini..?" Chandra berkata begitu sinisnya dengan Andi
"Gue ingin jenguk Asri, memang kenapa gak boleh"
"Boleh.. tapi kalau hanya untuk memantau, lebih baik Kamu bilang dengan Tini, usaha Kamu sia-sia" Chandra sepertinya tak suka dengan kedatangan Andi disini
"Chan.. Lo kenapa sih, selalu saja berpikiran negatif sama Gue, berapa kali sih Gue jelaskan Gue bukan suruhan Tini apalagi mata-mata Dia" Andi dan Chandra mulai memanas, sedangkan semuanya hanya menyimak percakapan Mereka.
"Asri.. Aku sudah jelaskan bukan waktu itu dengan Kamu, Aku membatu Tini hanya sekedar bantuan saudara"
Asripun menjelaskan kepada Chandra untuk jangan su'udzon dengan orang lain
"Kamu membela Dia..?" pertanyaan macam apa yang Chandra ucapkan
"Chan.. sudah dong.. Aku gak masalah kok kalau Dia ingin jenguk Aku" Chandra pun terdiam ketika Asri membolehkan Andi datang kesini.
Lalu Asri bertanya pada Andi apakah Tini benar-benar sudah di tangkap polisi
"Sudah .. Dia saat ini sedang berada di sel, tapi Aku gak tahu Pak Herman sepertinya merencanakan sesuatu untuk membebaskan Tini" lalu Chandra langsung menyahuti ucapan Andi
"Masa Lo gak tahu rencana Om Lo, bukanya Kalian semua sama ya, berkomplot.." kali ini ucapan Chandra benar-benar membuat Andi emosi
"Berapa Kali Gue bilang Gue bukan orang suruhan om Herman, apa lagi komplotannya paham Lo" Andi berbicara dengan suara tinggi lantang.
Juvi adalah seseorang yang tak suka keributan apalagi yang di depan matanya adalah sahabatnya, akhirnya Juvi ikut bicara untuk melerai perdebatan Chandra dengan Andi.
"Chandra ... sudah.. tahan emosi Kamu" Rahma pun ikut bicara berusaha menenangkan amarah Chandra.
Jika Mereka terus bersama seperti ini, sudah pasti perdebatan tak akan ada habisnya, lalu Rahma pun mengajak Chandra keluar ruangan
"Chan.. lebih baik Kita keluar saja, biarkan Andi berbicara dulu dengan Asri" Chandra pun mengiakan permintaan Rahma
"Ok.. Aku juga malas lama-lama bersama orang munafik seperti Dia"
Andi hanya terdiam menatap wajah Chandra dengan serius, setelah keluar ruangan Asri pun berkata,
"Kamu jangan di ambil hati sikap Chandra yang seperti itu, Dia seperti itu hanya ingin melindungi Aku dari kejahatan Tini" Andi sangat mengerti dengan apa yang di ucapkan Asri.
Merasa tak nyaman menjadi orang ke tiga, Juvi pun pamit keluar ruangan
"Asri.. Aku ke depan sebentar ya" Asri menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian Andi memperhatikan seluruh kondisi tubuh Asri, Dia pun ikut prihatin dengan keadaan Asri
"Asri.. Aku ikut prihatin ya dengan keadaan Kamu saat ini, jadi sekarang kaki Kamu patah, dan gak bisa berjalan..?" Asri hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya
"Maafkan Aku ya Asri, jika Aku tahu rencana Tini, pasti akan segera Aku halangi, tapi sumpah Aku benar-benar tidak tahu" Asri pun tertawa kecil di hadapan Andi
"Kamu tuh ya, minta maaf terus, dan berusaha meyakinkan Aku terus, sudah Andi.. sudah..Aku percaya Kamu kok" kemudian Asri bertanya lagi pada Andi soal rencana Pak Herman yang ingin membebaskan Tini
__ADS_1
"Aku gak tahu soal itu, karena Om Herman gak ingin memberitahu Aku, mungkin karena Om Herman tahu, jika Aku menyukai Kamu, jadi Dia merahasiakan itu dari Aku" Asri terdiam ketika Andi mengatakan hal itu.
Chandra masih merasa emosi dengan kedatangan Andi disini
"Chan.. sudah lah Kamu kenapa sih, biarkan saja jika Andi ingin bicara sama Asri, apa Kamu cemburu melihat Mereka" Chandra langsung menatap Rahma dengan rasa bersalah
"Gak.. bukan itu.. Aku hanya khawatir Dia saat ini sedang mencari tahu sesuatu tentang Asri, lalu Pak Herman akan melakukan sesuatu yang Kita gak tahu apa itu baik atau buruk" Rahma menyimak ucapan Chandra, tapi yang Rahma lihat dari mata Chandra, sangat menunjukan Ia cemburu jika Asri dekat dengan Andi.
tak sengaja Juvi melihat Makmun yang sedang duduk di kursi tunggu pasien sambil mengigit jari tangannya seperti sedang gelisah.
"Chan... itu kan Makmun, Dia sedang apa ya disini..?" Chandra pun melihat ke arah yang Juvi tunjuk, dan iya benar saja itu adalah Makmun
"Iya.. itu Makmun, coba Lo..." belum selesai bicara, Juvi sudah pergi menghampiri Makmun berjalan dengan cepat
"Chan.. Kita lihat kesana yuk.." Chandra dan Rahma pun berjalan menghampiri Juvi dan Makmun.
"Makmun.. Lo sedang apa disini..?" tanya Juvi, Makmun menoleh dengan wajah bersedih
"Lia Juv.. Dia jatuh perutnya sakit dan tadi Dia berdarah" Juvi terkejut mendengar Lia dalam keadaan tidak baik
"Apa... kenapa bisa Mun..? lalu sekarang bagaimana keadaannya?" Makmun hanya menggelengkan kepalanya lalu mengatakan,
"Aku sendiri gak tahu, dokter belum keluar ruangan dari tadi, dan itu semakin membuat Pikiran Gue kacau Juv" Makmun resah dan gelisah Ia mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangan.
tak lama Dokter pun keluar
"Keluarga pasien..?" Makmun langsung berdiri dan menjawab,
"Saya Dok.. Saya Suaminya, bagaimana Istri Saya, bagaimana mana keadaannya Dok..?" tanya Makmun yang semakin gelisah
"Ibu Lia saat ini mengalami koma" semua orang yang mendengar hal itu dibuat diam dalam keadaan tegang
"Apa Dok.. koma jadi Lia tidak sadarkan diri"
"Iya Pak.. dan Kami juga memohon maaf, kandungan Ibu Lia tidak bisa Kami selamatkan, pendarahan yang begitu besar membuat janinnya meninggal" Bu Alya kaget sejadi-jadinya, Dia pun kini merasa sangat bersalah, lalu Dia mengingat ketika Lia berkata bahwa kursi itu goyang saat di pijak, tapi Bu Alya tak percaya, malah terus memaksa Lia tetap naik di atas kursi.
Tiba-tiba Makmun berbicara,
"Ya Allah Lia.. maafkan Aku yang tidak bisa menjaga Anak Kita" lalu dokter mengatakan jika pasien sudah boleh untuk di jenguk maksimal 2 orang agar ruangan tetap stabil kebersihannya.
Setelah dokter pergi Makmun terus merengek merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Lia dengan baik, lalu Bu Alya mengelus pundak Makmun bermaksud ingin menenangkan Anaknya, namun tiba-tiba Makmun malah berkata,
"Puas... Mamah sekarang puas kan.. Lia sudah keguguran Mah.. dan ini semua karena Mamah yang sering menyuruh Dia mengerjakan hal-hal berat"
Bu Alya diam tak bergeming, matanya terbelalak seakan tak percaya Anak kesayangan kini menyalahkan dirinya atas kejadian ini, tak terasa air mata menetes di pipi Bu Alya.
"Kamu menyalahkan Mamah Nak.. ini sudah takdir Nak.. ok Mamah salah karena sering menyuruh Lia, tapi Mamah tidak pernah punya niat untuk membunuh cucu Mamah sendiri, Kamu sungguh tega Makmun menyalahkan Mamah atas kejadian ini" Makmun terus bersedih, hatinya melemah Dia pun tak berniat menyalahkan Ibunya, namun kejadian ini berawal dari perintah Ibunya.
"Kalau saja Mamah gak suruh Lia untuk memasang gorden itu, ini semua gak akan terjadi Mah.. logikanya itu Mah.." merasa di salahkan terus menerus, bu Alya pun pergi dari Rumah sakit.
Makmun berusaha memanggil untuk meminta maaf atas ucapannya, namun Bu Alya terus berlari, hingga Bu Alya menabrak Kasih yang sedang berjalan ingin menjenguk Lia.
__ADS_1
"Bu Alya.. Ibu kenapa..?, kok menangis Bu?" namun Bu Alya tak menjawab, Dia menangis terisak, lalu tiba-tiba Bu Alya memeluk Kasih, membuat Kasih menjadi iba.